The Worst (Marcha)

86 9 4
                                        

Waktu berjalan cepat atau setidaknya... beberapa hari sudah berlalu sejak pertunangan Deven batal dan berubah jadi bahan gosip nasional dunia hiburan. Hoaks dan rumor bertebaran ke mana-mana. Aneh, liar, dan nyaris semuanya salah tapi baik Shanna maupun Deven memilih diam. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada pernyataan dramatis.
Ini urusan keluarga dan menurut Marcha, hal-hal seperti ini terlalu sensitif untuk dijadikan tontonan publik. Marcha tahu satu hal: Shanna belum menyerah. Ia masih mencoba menghubungi Deven. Masih berharap ada jalan pulang tapi Marcha juga tahu Deven.
Bukan karena Shanna tidak cukup, melainkan karena keluarga—Deven tidak akan pernah bisa memilihnya.
Di sisi lain, Marcha bolak-balik ke rumah sakit menemani papinya. Untungnya, hasil pemeriksaan terakhir cukup melegakan. Sel kanker papinya tidak menyebar seperti yang sempat ditakutkan Deven dan tim dokter. Itu sebabnya Marcha ingin mengucapkan terima kasih.
Hari itu, ia berdiri di depan pintu kantor Deven.
Dari balik kaca, Marcha melihat Deven duduk melamun. Jas dokternya tergantung rapi, tapi wajahnya jelas sedang tidak di mana-mana. Entah pikirannya berantakan, atau hatinya yang belum selesai.
Marcha menghela napas kecil. Kalau ia ada di posisi Deven, mungkin keadaannya juga tidak jauh berbeda. Ia melirik dua gelas kopi di tangannya. Satu pahit—kopi kesukaan Deven. Satu... seharusnya manis, tapi jujur saja, Marcha tidak yakin dirinya menaruh gula dengan benar.
Ia ingin menghibur Deven. Sebagai teman. Bagaimanapun, dulu Deven juga pernah melakukan hal yang sama untuknya tapi... apakah ini waktu yang tepat? Marcha tidak mau Deven salah paham. Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang mengambil kesempatan di tengah kekacauan. Meski Deven sekarang technically pria bebas—bersamanya tetap sesuatu yang mustahil.
Tok-tok.
Marcha mendongak, di balik kaca pintu, Deven sudah berdiri dengan senyum kecilnya yang khas.
Pintu terbuka.
"Hai, Cha," sapa Deven sambil meraih jas dokternya. "Ada apa? Bokap lo kenapa?"
"No, nothing," jawab Marcha cepat—sedikit salah tingkah. "Gue cuma..."
Ia mengangkat dua gelas kopi. Deven mengikuti arah pandangannya lalu nyengir.
"Oh, Thanks, Cha." Ia mengambil satu gelas dan langsung minum—lalu tertawa kecil "Eh... ini kopi elo. Sorry."
Marcha ikut tertawa. "Santai. Gue sekali-kali pengin nyoba kopi kesukaan elo."
Ia menyeruput espresso itu... dan langsung membletkan lidah.
Deven tertawa. Yang ini beneran. "Kepahitan ya?"
"Dev," Marcha mengibas-ngibaskan tangan, "ini bukan pahit. Ini hukuman."
"Ya hidup emang pahit," jawab Deven sok bijak.
"Gak sepahit ini juga kali," balas Marcha. "Lo punya gula gak di kantor?"
Deven mengernyit. "Lo kira kantor gue dapur? Masa gue nyimpen gula di laci berkas pasien?"
"Ya siapa tau," Marcha tertawa. "Oke, gue ke kantin aja minta gula—"
Belum sempat melangkah, tangan Deven sudah menggenggam tangannya dan menariknya pergi.
"Eh, kita ke mana?" Marcha bingung.
"Ruang istirahat dokter," jawab Deven santai. "Di situ gulanya segudang. Lebih deket."
"Tapi gue kan bukan dokter."
"Gue dokter," sahut Deven cepat.
Marcha kalah. Bukan karena logika—tapi karena senyum kecil Deven yang selalu berhasil melumpuhkannya. Senyum favoritnya. Mereka sampai di ruang istirahat. Marcha refleks menarik lengan baju Deven.
"Dev... gue bukan dokter. Ambilin aja gulanya, gue nunggu di luar."
"Gak apa-apa," kata Deven. "Temen-temen gue sering bawa—Shann..." Ia terdiam
"Gak apa," potong Marcha cepat. "Gue ngerti."
Deven menghela napas panjang, lalu tersenyum masam "Gue yang sorry. Yuk masuk."
Ruangan itu luas dan nyaman—sofa empuk, meja makan, TV menyala pelan. Jauh lebih enak dari kantin. Terus kenapa Deven masih sering ke kantin ya? pikir Marcha heran.
Beberapa dokter menyapa Deven. Ia membalas ramah. Ada juga yang melirik Marcha penasaran.
"Ini siapa, Dev?"
"Temen gue," jawab Deven singkat. "Keluarga pasien juga."
Cukup. Tidak lebih. Tangan Deven masih menggenggam tangan Marcha saat mereka berhenti di depan mesin kopi.
"Lo mau gula berapa banyak?" tanya Deven.
"Sebanyak sampai gue bisa percaya hidup gak isinya pahit doang," jawab Marcha.
Deven menyerahkan satu sachet gula.
Marcha melotot. "Tega lo."
"Lo minta pendapat gue," Deven nyengir. "Lagipula... muka gue kan manis."
Marcha tertawa sambil memukul dada Deven pelan "Di indra pengecap gue, gula tetap menang."
Ia menaburkan satu sachet. Lalu dua. Lalu tiga.
Deven terkekeh. "Oke, oke. Hidup elo emang butuh banyak manis."
"Banget."
Deven terdiam sebentar. Lalu berkata pelan, "Thanks ya, Cha."
Marcha menoleh. "Thanks buat apa?"
"Udah jadi temen yang baik," jawab Deven. "Dan... berusaha ngehibur gue."
"Hah?" Marcha bingung. "Gue gak ngapa-ngapain."
"Ngeliat elo ketawa aja udah cukup," kata Deven. "Perasaan gue jadi mendingan."
Marcha terdiam. Deven... Bagaimana caranya ia tetap berpegang pada prinsipnya...kalau satu senyum Deven saja masih sanggup menghangatkan hatinya—karena cinta yang belum benar-benar mati?
"Dev..." Marcha membuka suara, ragu, seperti sedang mengetuk pintu yang ia tahu berbahaya untuk dibuka.
"Tapi tentu aja," Deven mendahuluinya, tersenyum tipis, "gue sadar nemenin gue tiap hari juga bukan solusi." Ia menghela napas. "Gue egois kalau berharap lo terus ada. Jadi... besok lusa gue balik ke Lombok."
"Balik ke Lombok?" Marcha spontan melotot. "Buat apa? Ini bukan selamanya, kan? Jangan-jangan lo pensiun dini, buka warung kelapa?"
Deven terkekeh kecil. "Enggak. Bentar aja. Liburan sama keluarga. Udah lama juga gue gak pulang."
"Berapa lama?" Marcha menyipitkan mata, gaya interogasi ala sinetron.
"Gue gak tau," jawab Deven jujur. "Gue gak pernah ambil cuti sejak kerja di sini. Mungkin dua minggu... mungkin sebulan."
"Dev," Marcha mencondongkan badan, "kalau lo mikir kabur ke Lombok bisa nyelesain semua ini—spoiler alert—itu gak akan."
"Gue gak kabur," balas Deven tenang. "Gue cuma mau nenangin diri. Refreshing. Introspeksi. Pas balik nanti, gue tetap harus hadapin semuanya."
Marcha mengangguk pelan. Ia paham. Ia selalu paham soal Deven tapi itu juga berarti... waktu mereka makin sedikit.
Sebulan lagi Marcha harus kembali ke Paris. Urusan pembelian jet ternyata ribetnya kebangetan—cek mesin, negosiasi, nyari pilot dengan jam terbang absurd. Semua butuh waktu. Dan kalau urusan itu belum selesai, tiket pulang ke Paris sudah menunggu.
"Lo kenapa, Cha?" tanya Deven, menangkap perubahan ekspresinya.
Marcha menatapnya. Benar-benar menatap. Wajah lelaki yang hanya bisa ia cintai diam-diam, tanpa hak, tanpa masa depan yang jelas.
"Gue balik ke Paris sebulan lagi," katanya akhirnya.
Deven terdiam. Marcha melihat warna wajahnya sedikit memucat.
"Bokap lo gimana?" Deven cepat-cepat bertanya, mengalihkan.
"Ada Ingvar sama mami."
"Lo gak balik Indo?"
"Balik... tapi mungkin jarang," jawab Marcha. "Gue—"
"Lo bisa tinggal di sini gak, Cha?" potong Deven.
Marcha tertegun. "Dev... kerjaan gue di Paris. Dan gue gak punya alasan buat tinggal di Indo."
"Gue."
"Apa?" Marcha mengernyit.
"Gue bisa jadi alasan lo," ucap Deven lirih. "Gue cinta sama lo. Lo tau itu."
Marcha tertawa kecil—tawa konyol yang terdengar lebih seperti tameng "Dev, ini bukan film romantis jam sembilan malam. Kita gak bisa bareng. Gue gak bisa. Shanna—"
"Gue sama Shanna udah putus," potong Deven. "Dan apa pun alasannya, itu udah selesai."
"Shanna sahabat gue," balas Marcha cepat. "Dan lagi... lo ke Lombok juga buat nenangin diri gara-gara Shanna. Kalau lo bilang lo cinta sama gue, lo gak butuh jeda segala."
"Oke," kata Deven tiba-tiba. "Kalau gitu gue gak balik Lombok."
"Dev—"
"Kalau lo meragukan hati gue," lanjutnya, suaranya mulai bergetar, "gue buktiin. Sekarang. Ke elo."
Marcha terdiam. Otaknya rasanya penuh notifikasi error.
"Dev..." Ia mengacak rambutnya sendiri frustasi. "Lo bikin gue pusing. Ini udah kayak ujian matematika tanpa rumus."
"Sampai kapan, Cha?" tanya Deven lirih. "Sampai kapan tembok persahabatan ini jadi penghalang kebahagiaan kita? Sampai kapan?"
Marcha menatapnya lama. Ia ingin melangkah. Ia ingin menyerah pada perasaan itu tapi ada hal-hal yang tidak bisa ia hancurkan demi cinta—meski cinta itu terasa begitu dekat.
Ia tidak tahu... apakah bertahan adalah keberanian, atau justru menyerah adalah bentuk keberanian yang lain dan untuk pertama kalinya, Marcha tidak yakin keputusan mana yang paling menyakitkan.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang