Teman (Shanna)

71 10 8
                                        

Begitu Shanna tiba di Grand Indonesia dan mendorong pintu kaca kafe langganan mereka, aroma kopi dan suara tawa langsung menyambutnya. Ia tersenyum kecil—sampai matanya menangkap satu meja di pojok.
Clarice. Anastasia. Azalea. Nadine dan di tengah-tengah mereka... Marcha, tau itu terasa seperti tamparan pertama. Dunia Shanna seolah mengecil, menyisakan satu pertanyaan yang berdengung di kepalanya, kenapa mereka tidak mengajaknya? Bukankah semua orang sudah tahu dari berita dan media sosial siapa yang jadi korban? Bukankah ia yang disakiti? Bukankah Marcha yang "jahat"? Lalu kenapa... mereka duduk bersama Marcha? Kenapa semua orang selalu memilih Marcha? Deven sudah direbut. Sekarang teman-temannya juga? Dada Shanna terasa sesak. Pikirannya kalut, emosinya meledak tanpa rem, ia berjalan cepat, hampir berlari, kursi -kursi bergeser saat ia sampai di meja itu, tanpa sepatah kata pun, ia menarik lengan Marcha hingga gadis itu berdiri.
PLAK!
Tamparan keras menggema di antara denting sendok dan suara mesin espresso. Bekas kuku Shanna meninggalkan garis merah tipis di pipi Marcha yang putih dan mulus.
"Cha... ya ampun!" Clarice langsung meloncat berdiri.
Marcha tidak membalas. Ia hanya memegang pipinya, keningnya berkerut, napasnya tertahan. Anastasia, Clarice, Azalea, dan Nadine spontan mengelilinginya, seperti tameng hidup.
"Puas lo?" suara Shanna bergetar antara marah dan patah. "Habis ngerebut Deven, sekarang ngerebut temen-temen gue juga?"
"Ngerebut temen lo?" Anastasia berdiri tepat di depan Marcha, menatap Shanna tanpa gentar.
Azalea menyilangkan tangan. "No one wants to be friends with you again."
Nadine menggeleng, suaranya tajam. "Why you do this to Marcha? Gak cukup apa lo ngomong semua fitnah itu buat jelekin nama dia di medsos?"
Shanna terdiam. Rasanya seperti ditampar balik—bukan dengan tangan tapi dengan kenyataan, mereka... membelanya? Mereka berdiri di depan Marcha, seolah berkata tanpa kata: kalau mau menyentuh dia lagi, hadapi kami semua dulu.
"Gue yang ajak mereka jalan, gue yang gak ngajak lo," Clarice mendorong bahu Shanna keras. "Kalau lo mau gampar Marcha, lo gampar gue dulu."
"Hei! La, jangan gitu!" Kevin akhirnya berdiri di antara mereka, berusaha meredakan suasana yang nyaris meledak lagi.
"Jangan, La," suara Marcha pelan tapi tegas. Ia memegang pergelangan tangan Clarice yang sudah terangkat.
"Tapi Cha, muka lo..." Clarice hampir menangis melihat bekas cakaran itu.
Marcha menarik napas panjang. "Gue bisa sembuhin ini tapi kekerasan gak akan nyelesain apa-apa."
Shanna tertawa sinis, meski matanya mulai memerah. "Lo mau pura-pura sok baik, kan? Lo—"
"Shan, diem lo!" Kevin memotong keras.
Shanna menoleh tajam. "Vin? Lo bahkan belain Marcha?"
"Gue gak belain siapa-siapa," jawab Kevin tegas. "Tapi lo nampar orang di tempat umum itu salah, dia bisa laporin lo ke polisi kalau dia mau, gue gak mau masalah lo makin gede dari sekarang."
Kata-kata itu seperti air dingin yang disiramkan ke kepala Shanna, untuk pertama kalinya sejak masuk kafe, ia sadar napasnya terengah, tangannya gemetar, emosi aneh menguasainya—cemburu, marah, takut... dan mungkin, malu.
"Tenang aja," suara Marcha memotong hening yang tegang. "Gue gak akan laporin Shanna ke polisi, Vin."
Semua mata menoleh padanya.
"Tapi bawa dia pergi dari depan gue," lanjut Marcha, tatapannya kini dingin dan tegas. "Gue gak mau liat dia ada di mana pun gue noleh."
"Cha, kita bisa—" Kevin mencoba lagi.
"Vin. Kita udah ngomong ini tadi." Nada Marcha tak memberi ruang debat.
Sunyi turun seperti tirai, Kevin akhirnya menggenggam pergelangan tangan Shanna. Tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuatnya sadar bahwa ini bukan lagi tempatnya. Shanna menoleh sekali lagi, mereka semua berdiri di sekitar Marcha, melindungi, memilih dan untuk pertama kalinya, Shanna benar-benar merasa sendirian. Kevin membawanya menjauh, meninggalkan aroma kopi, tawa yang sudah padam, dan satu meja yang tak lagi menjadi miliknya.
Mereka sudah cukup jauh dari kafe. Suara mesin kopi dan bisik-bisik orang tertinggal di belakang. Di depan hanya lorong mall yang panjang dan dingin. Kevin masih menggenggam pergelangan tangan Shanna. Bukan keras tapi tegas. Shanna menarik tangannya.
"Lo kenapa nurutin dia?" suaranya serak, campuran marah dan harga diri yang tersayat.
Kevin menghembuskan napas kasar. "Lo jangan bikin masalah lagi sama Marcha."
"Dia yang ngerebut temen-temen gue!" Shanna membalas cepat, matanya masih panas.
"Shan," Kevin menatapnya serius, "Marcha itu nggak ngerebut temen lo, tadi gue dari kantor Marcha, gue denger sendiri Clarice yang ngajak dia pergi bukan dia yang ngajak mereka."
Shanna langsung menoleh. "Lo dari kantor Marcha? Ngapain?"
"Ngurusin kerjaan."
Shanna mendengus tajam. "Kerjaan, Deven, temen-temen... sekarang lo juga, semua ke Marcha."
Kevin mengernyit. "Maksud lo apa sih?"
"Ya lo!" suara Shanna meninggi. "Lo pergi sama gue, deketin gue tapi lo masih ada hubungan sama Marcha!"
"Marcha itu temen gue dan bos gue, Shan." Nada Kevin mulai naik. "Masa iya gue nggak boleh temenan sama dia cuma karena lo musuhan sama dia? Lo jangan kayak anak kecil."
"Tapi lo deketin gue," bisik Shanna, lebih pelan sekarang, tapi lebih menyakitkan.
Kevin mengangkat alis. "So?"
Shanna terdiam. Dadanya terasa kosong. Ia sendiri tidak tahu jawaban yang ia mau.
Kevin menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, lebih rendah tapi lebih tajam, "Lo tadi nggak perlu nampar dia."
Shanna mengangkat wajahnya. "Lo nggak denger dia ngomong apa?"
"Gue denger." Kevin mengangguk. "Tapi sebelum lo nampar dia, dia bahkan nggak marah sama lo. Habis lo tampar? Ya wajar dia marah, wajar anak-anak yang lain marah, mereka lagi nongkrong santai, terus lo datang, narik salah satu dari mereka dan lo tampar, gimana mereka nggak berdiri di depan dia?"
Shanna menggigit bibirnya.
"Jadi lo mau gue balik dan minta maaf?" tanyanya akhirnya, nada suaranya getir.
"Kalau lo minta maaf tapi nggak tulus, buat apa?" Kevin balik bertanya. "Lo pikirin dulu, apa yang lo lakuin barusan itu ada gunanya nggak? Bikin lo dapet temen lo lagi? Bikin Deven balik? Bikin semuanya bener?"
Shanna menunduk. "Gue cuma kesel..." suaranya melemah. "Gue kehilangan semuanya karena dia."
Kevin menggeleng pelan. Ia lalu memegang kedua lengan Shanna, memaksanya menatap langsung ke matanya.
"Kalau lo masih mikir lo kehilangan semuanya karena Marcha, gue udah nggak bisa nolongin lo lagi."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari tamparan tadi.
"Berhenti nyalahin orang lain, Shan," lanjut Kevin pelan tapi tegas. "Coba lihat diri lo sendiri, kenapa semuanya berantakan kayak gini? Jangan cuma fokus cari salah orang lain. Lihat lo."
Mata Shanna mulai berkaca-kaca. "Jadi menurut lo... gue salah?"
Kevin tidak menghindar. "Iya, lo salah."
Hening beberapa detik.
"Kenapa lo ngomong gitu?" suara Shanna bergetar. "Lo bilang lo suka gue."
Kevin menelan ludah, lalu menjawab tanpa ragu, "Gue suka lo tapi gue harus jujur kalau lo salah, gue bilang lo salah kalau lo bener, gue bilang lo bener karena gue mau lo jadi lebih baik." Ia menatap Shanna dalam-dalam "This is my way to love you."
Shanna terdiam. Ia tahu Kevin baik. Ia tahu Kevin tulus, tatapan laki-laki itu tidak pernah penuh tipu daya seperti yang sering ia tuduhkan pada orang lain tapi untuk pertama kalinya, Shanna bertanya dalam hati—Apakah dicintai dengan cara seperti ini... adalah yang ia mau?
"Jadi kita ke mana sekarang?" tanya Shanna pelan. Nada suaranya sudah jauh lebih turun, lelah setelah ledakan tadi.
"Kita cari tempat makan lain," jawab Kevin santai, seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Shanna menoleh ke arah kafe tempat semuanya terjadi. "Gue bisa balik ke Olivier sekarang... minta maaf sama Marcha."
Kevin menggeleng pelan. "Kalau lo mau minta maaf, jangan hari ini."
"Kalau Marcha berhati besar, dia pasti maafin gue," gumam Shanna, setengah berharap, setengah menantang.
"Gue nggak peduli soal Marcha-nya," kata Kevin jujur. "Gue mikirin yang lain, gue nggak tau karakter masing-masing dari mereka meskipun mereka baik, pasti ada satu yang nggak bisa nerima maaf lo semudah itu kalau udah kebawa emosi lagi, masalahnya bisa lebih gede dari tadi."
Shanna diam, ia tahu maksud Kevin. Clarice tadi benar-benar marah... tatapannya tajam, seperti ingin menelan Shanna hidup-hidup. Clarice tidak pernah memandangnya seperti itu sebelumnya dan tatapan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata Azalea atau Nadine.
"Ya udah..." Shanna akhirnya mengangguk kecil. "Kita cari tempat lain aja."
Kevin nyengir ringan, berusaha mengembalikan suasana. "Ke sebelah situ aja," katanya sambil menunjuk sebuah kafe yang lebih sepi, agak jauh dari Olivier.
Shanna berjalan di sampingnya kali ini tidak ada yang menarik atau didorong hanya dua orang yang sama-sama mencoba menenangkan diri, mereka memilih duduk di kafe kecil yang lebih tenang. Lampunya hangat, musiknya pelan dan jauh dari meja yang barusan terasa seperti medan perang. Selama makan, Kevin tidak menyinggung Deven, tidak juga Marcha, tidak Anneth, tidak siapa-siapa dari lingkaran konflik itu. Shanna tahu itu disengaja.
Mereka bicara soal kerjaan Shanna, soal klien Kevin yang menyebalkan, soal jadwal yang padat. Obrolannya ringan, hampir seperti dulu—sebelum semuanya terasa rumit.
"Jadi lo sekarang jadi pengacara Betrand juga?" tanya Shanna kaget, sendoknya berhenti di udara.
Kevin mengangguk. "Lebih tepatnya keluarga Onsu."
"Oh... waow." Shanna mengerjap. "Itu kerjaan besar dong, Vin?"
"Besar," Kevin tersenyum tipis. "Dan mereka selalu berharap menang. Soal Betrand dan Anneth..."
Shanna langsung mengangkat alis. "Lo tadi bilang nggak bahas ini."
Kevin tertawa kecil. "Gue cuma mau kasih gambaran. Masalah Anneth ini berat, dia... bisa dipenjara."
Shanna terdiam. "Tapi kan itu cuma masalah asmara..." suaranya melemah. "Maksud gue—"
Kevin menggeleng pelan. "Nggak sesederhana itu. Kontrak kerja mereka banyak dan itu dibatalin sepihak sama Anneth. Masih syukur kalau cuma Betrand yang nuntut kalau label dan pihak lain ikut masuk... Anneth bisa bahaya."
Shanna menggigit bibirnya. "Nggak bisa diselesaikan secara kekeluargaan aja, Vin? Dulu mereka pernah bareng..."
"Shan," Kevin menatapnya lembut tapi realistis, "itu tergantung Anneth sebetulnya Betrand masih cinta sama dia tapi kalau Anneth yang nggak mau baikan, gue bisa bilang apa?"
"Nanti gue coba ngomong ke Anneth," kata Shanna cepat, naluri melindungi sepupunya muncul.
"Ya. Sebelum berkasnya masuk pengadilan."
"Kapan?"
"Bulan depan. Paling lama dua bulan lagi."
Shanna menghela napas panjang. Ia tahu Anneth mungkin salah atau mungkin bukan Anneth—mungkin orang-orang di sekitarnya yang terlalu suka drama dan gimmick murahan sampai nama Anneth makin jatuh tapi jatuh itu relatif, berita negatif memang banyak tapi nama Anneth juga makin populer. Apa ini strategi marketing? Atau benar-benar bencana? Shanna tidak tahu yangia tahu, Anneth sepupunya, ia harus menolongnya namun ironisnya, hidup Shanna sendiri sedang berantakan, masalahnya belum selesai—justru makin melebar.
Keesokan harinya, sebelum sempat menata pikirannya, ponselnya berdering. Nama Deven muncul di layar.
Shanna bahkan belum sempat mengucap "halo".
"Lo nyari masalah sama gue aja!" suara Deven meledak dari seberang sana. "Ngapain lo nampar cewek gue?! Kita selesai ya selesai! Hubungan kita nggak ada hubungannya sama Marcha, brengsek!"
Shanna terdiam, suaranya tercekat... hangatnya makan malam semalam seketika hilang, digantikan dingin yang menjalar pelan ke seluruh tubuhnya.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang