Presure (Shanna)

87 8 23
                                        

Saat chat dari Deven masuk, Shanna sebenarnya sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit—tempat Deven bekerja. Ia ingin memberi Deven kejutan. Sebuah niat sederhana, meski ia tahu betul lelaki itu tidak pernah menyukai hal semacam ini. Apalagi kejutan di tempat kerja. Bagi Deven, batasnya selalu jelas: kerja adalah kerja, personal adalah personal.
Ia tak pernah ingin memamerkan hubungannya—baik ke rekan kerja sendiri, ke rekan Shanna, apalagi ke media. Kecuali jika media itu yang lebih dulu tahu. Namun beberapa hari terakhir, Shanna gelisah. Sangat gelisah.
Sejak kedatangan Marcha.
Deven memang bilang mereka hanya bertemu sekali selama Marcha di Indonesia. Itu pun karena Marcha selalu datang malam hari—setelah pulang kerja—untuk menjenguk papinya.Shanna tidak tahu kenapa...Ada sesuatu tentang Marcha yang membuat Shanna merasa ia sedang menghadapi sesuatu yang belum selesai—sesuatu antara Marcha dan Deven.
Marcha terlihat menjaga jarak. Terlalu menjaga jarak. Mungkin itu bentuk sportivitas. Mungkin Marcha memilih tidak mengganggu hubungan mereka dan bukankah dulu... Shanna juga melakukan hal yang sama saat Deven masih bersama Marcha?
Sampai—Langkah Shanna terhenti.
Di kejauhan, ia melihat Deven memeluk Marcha. Marcha menangis.
Dada Shanna terasa seperti ditarik ke dalam. Sesak, tapi sunyi. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi ia tahu satu hal: Deven tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Bahkan saat ia memeluk Marcha. Shanna sadar—untuk urusan kebahagiaan, mungkin bukan dia yang bisa memberi Deven rasa seperti yang Marcha berikan tapi ia bisa menjadi pacar yang mengerti. Yang memilih percaya, meski hatinya bergetar.
Shanna menggigit bibir bawahnya, menahan rasa getir yang naik ke tenggorokan lalu ia melangkah mendekat.
"Dev... Cha," sapa Shanna pelan.
Deven melepaskan pelukannya perlahan dan menoleh.
"Kamu bukannya di rumah?" tanyanya, bingung. Dan seperti yang sudah Shanna duga—tidak ada rasa bersalah di wajah Deven.
"Maaf ya, Shan," ujar Marcha di sela isaknya. "Gue nggak bermaksud apa-apa... Deven cuma nenangin gue."
Shanna melihat mata Marcha yang merah. Marcha bukan tipe yang menangis di depan orang lain dan justru karena itu, Shanna tahu: inilah alasan Deven memeluknya.
"Gue tahu," kata Shanna sambil tersenyum tipis. "Gue percaya kok sama Deven."
Kebohongan kecil yang terasa pahit di lidah. Shanna meraih tangan Deven dan menggenggamnya. Deven menghela napas pelan. Terlihat tidak nyaman—entah karena sentuhan itu, atau karena Marcha menyaksikannya. Shanna memang sengaja. Ia ingin Marcha tahu: Deven sekarang bersamanya.
"Kalau gitu... gue balik dulu ke kamar bokap," kata Marcha sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Mau gue temenin?" tanya Deven refleks.
Alis Marcha terangkat. Senyumnya masam "Shanna aja udah baik banget, Dev. Toleransi bolehin gue nangis di pelukan elo. Kalau lo anterin gue juga, cewek lo bisa ngambek."
"Gue nggak apa-apa kok, Cha," kata Shanna, tersenyum—lagi-lagi senyum yang terasa dipaksakan.
"Jangan nyakitin diri sendiri," balas Marcha nyengir tipis. Ia menoleh ke Deven. "Thanks ya, Dev."
"Lo yakin nggak apa-apa?" tanya Deven, jelas khawatir.
Marcha menggeleng pelan. Lalu berbalik dan berjalan menjauh. Shanna menatap punggung itu. Sekilas, memorinya kembali ke bandara—hari saat Marcha pergi meninggalkan mereka berdua. Rasanya sama. Bedanya kali ini, Marcha tidak pergi jauh. Ia hanya sejauh beberapa langkah dari Deven. Tapi hatinya—Entah sejauh apa
"Marcha... kasihan banget," kata Deven pelan. Suaranya turun, seperti menahan sesuatu di dadanya.
"Kenapa?" tanya Shanna.
"Tadi gue baru ngasih tahu dia dan keluarganya," lanjut Deven lirih, "bokapnya kena kanker sumsum tulang belakang."
"Apa?" Shanna terkejut. "Om kena kanker sumsum tulang belakang? Kamu yakin, Dev? Jangan-jangan salah diagnosis?"
"Aku harap aku salah," jawab Deven jujur. "Tapi ini bener. Makanya tadi Marcha sampai nangis."
Shanna terdiam sejenak "Aku pikir Marcha sama bokapnya nggak akur."
"Memang," Deven mengangguk pelan. "Tapi seburuk apa pun hubungan anak sama orang tuanya... kalau orang tua sakit, nggak mungkin nggak sedih. Marcha itu cuma pinter nutupin. Dia kelihatan cuek, tapi sebenernya hancur."
Shanna menghela napas. "Ya... aku tahu itu berat. Tapi dia kan bukan satu-satunya. Pasien kamu yang lain juga ngalamin hal kayak gini tiap hari."
Deven menoleh cepat ke arah Shanna. Matanya jelas kaget "Non... Marcha itu temen kita. Sahabat kamu. Masa kamu nggak punya sedikit pun simpati?"
"Aku peduli," Shanna buru-buru menjawab. "Tapi—"
"Jangan cuma gara-gara aku," potong Deven, nadanya meninggi, "kamu jadi dingin sama sahabat kamu sendiri. Dulu, waktu Marcha masih sama aku, dia tetap peduli sama kamu."
"Dev," suara Shanna melembut tapi tegang, "dulu sama sekarang beda. Aku sama Marcha udah lama nggak ngobrol. Kita udah jauh dan—"
"Kamu ngapain sih sebenernya ke sini?" potong Deven tajam.
"Hah?" Shanna menatapnya bingung.
"Gue udah bilang berkali-kali," lanjut Deven, jelas marah, "ini tempat kerja. Bukan tempat pacaran. Gue nggak suka kejutan, apalagi di sini. Kalau dilihat dokter lain... gue nggak enak. Apalagi lo artis."
"Dev, aku tahu," Shanna mencoba menahan emosinya. "Aku cuma pengin ketemu pacarku sendiri. Emang salah?"
Deven menarik tangannya dari genggaman Shanna "Berapa kali harus gue ulang?" katanya dingin. "Kerja ya kerja. Pacaran ya pacaran. Bedain waktunya. Dan buat apa tadi kamu pegang tangan gue pas ada Marcha? Sengaja?"
"Dev, bukan gitu—" Shanna kaget, suaranya bergetar. "Kamu bilang lagi istirahat, makanya aku ke sini..."
"Istirahat?" Deven tertawa pendek, tanpa humor. "Kamu sadar nggak kita ada di mana? Ini rumah sakit. Tempat gue kerja. Tolong, Shan... jangan bawa kebiasaan kerjaan kamu ke kerjaan gue."
"Maksud kamu apa?" Shanna menatapnya tak percaya. "Kebiasaan kerjaan aku?"
"Gimmick," jawab Deven tajam. "Kamu udah biasa kan?"
"Tarik omongan lo," suara Shanna meninggi. "Gue bukan artis gimmick."
"Semua artis itu gimmick!" bentak Deven. "Apa yang di TV itu kebanyakan udah diset. Gue pernah di dunia itu—gue tahu!"
"Dev..." Shanna terdiam, shock.
Deven berbalik dan berjalan pergi.
"Deven!" Shanna mengejarnya. "Lo kenapa sih? Marah nggak jelas gini? Gue salah apa sampai lo segitunya?"
Deven menoleh dengan mata tajam "Lo masih nanya... lo salah apa?"
Shanna membeku. Harusnya dia yang marah. Kenapa justru Deven? Deven kembali melangkah pergi, meninggalkannya. Shanna sebenarnya paham. Setiap kali mereka kencan, selalu ada kamera. Selalu ada foto di media sosial keesokan harinya. Akun gosip berlomba-lomba membuat cerita.
Dan semua orang tahu—Deven benci hubungan pribadi mereka diumbar ke publik.
Di awal pacaran, Deven pernah bilang, "Aku nggak mau hubungan kita kayak hubunganku sama Anneth dulu. Kamu terkenal, aku ngerti. Tapi privasi tetap privasi. Nggak semua harus dipamerin."
Shanna setuju waktu itu tapi dia artis dan sekarang sangat terkenal. Gerak-geriknya selalu diawasi. Hubungannya dengan Deven—yang tak disengaja terekam media—jadi konsumsi publik. Menutupi semuanya hampir mustahil namun Deven justru makin menutup diri bahkan saat media mengabarkan mereka putus karena jarang terlihat bersama, Deven tampak... biasa saja.
Seolah tak peduli dan sekarang—Marcha datang. Shanna tahu Marcha bukan tipe yang menusuk dari belakang dan Deven bukan pria yang mengkhianati janji. Mereka sudah sepakat untuk setia. Tapi Shanna juga paham—LDR bukan soal jarak atau waktu. LDR... soal hati.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang