Hp Marcha tergeletak begitu saja di atas meja, sunyi tanpa bunyi notifikasi apa pun. Sudah tiga hari. Tiga hari Deven menghilang tanpa kabar. Sampai akhirnya Marcha sendiri yang datang ke rumah sakit hanya untuk memastikan lelaki itu masih hidup dan tidak tiba-tiba berubah jadi pasien UGD.
"Dokter Deven izin, katanya ada acara keluarga ke Lombok, mbak," kata salah satu suster yang mengenal Marcha.
Marcha sempat bengong.
"Izin?" ulangnya pelan. "Ke Lombok?"
Suster itu mengangguk polos "Iya, mendadak sih kayaknya."
Marcha hanya tersenyum tipis meskipun di dalam kepalanya sudah penuh tanda tanya, ke Lombok dan Deven sama sekali tidak bilang apa-apa padahal kalau dipikir-pikir, Marcha tahu kemungkinan besar Deven pulang untuk membicarakan soal mereka. Soal lamaran. Soal syarat dari papi nya. Soal semua kekacauan yang beberapa hari ini bikin hubungan mereka rasanya kayak benang kusut tapi tetap saja...Apa harus sampai menghilang begini?
Marcha menghela napas panjang sambil keluar dari rumah sakit. Ia mulai lelah menebak-nebak isi kepala Deven. Sebenernya maunya apa sih? Butuh waktu? Atau memang mau putus tapi gak enak ngomong?
"Kalau mau putus ya ngomong aja kali..." gumam Marcha pelan sambil membuka pintu mobilnya. "Jangan ngilang kayak abis utang pinjol."
Ucapan itu malah bikin dirinya sendiri tertawa hambar.
Capek, Ia benar-benar capek.
Sesampainya di rumah, Marcha kembali duduk di depan laptopnya. Berusaha mengalihkan pikiran dengan pekerjaan yang setidaknya masih masuk akal untuk dihadapi dibanding perasaan manusia, tak lama kemudian suara notifikasi email terdengar. Marcha membuka email itu dengan malas namun beberapa detik kemudian matanya langsung melebar.
Surat persetujuan, Pemerintah Prancis akhirnya menyetujui izin pembukaan sekolah seni miliknya.
"Finally..." bisik Marcha tidak percaya.
Mood yang tadi gelap seperti langit mau hujan mendadak berubah terang benderang. Ia bahkan sampai duduk tegak lagi membaca isi email itu dua kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. Sekolah seni itu adalah salah satu mimpi terbesar Marcha selama bertahun-tahun dan sekarang akhirnya benar-benar disetujui.
Marcha tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu tapi senyumnya perlahan memudar ketika membaca bagian bawah email tersebut, ia diminta kembali ke Paris untuk menyelesaikan administrasi dan beberapa pertemuan penting.
Marcha terdiam.
"Balik... Paris?" gumamnya pelan.
Di saat hubungan nya dengan Deven sedang seperti ini? Marcha menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu memejamkan mata, kepalanya terasa penuh, dia harus pergi tapi dia bahkan tidak bisa menghubungi Deven dan lebih menyebalkan lagi... Deven seperti memang sengaja tidak mau dihubungi.
Marcha melirik ponselnya, chat terakhirnya ke Deven masih ada di sana.
kamu dimana?, bukan nya kemaren bilang kalau gak ngehindar ya?, ini apa?
Dibaca tapi tidak dibalas. Marcha menghela napas lagi kalau dipikir-pikir lucu juga. Orang lain putus biasanya teriak-teriakan, nangis, lempar barang.
Dia? Digantungin sama dokter yang tiba-tiba berubah jadi hantu rumah sakit.
"Hebat banget dokter satu itu," gumam Marcha sambil menatap langit-langit kamar. "Pas dicari ilang. Giliran bikin stres muncul di kepala terus."
Marcha menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya kembali mengetik pesan baru, ia sudah malas menelepon... toh teleponnya kemungkinan besar juga tidak akan diangkat.
aku balik Paris besok pagi
Marcha menatap pesan itu beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Selesai.
Setidaknya dia pamit. Setidaknya dia masih cukup waras untuk tidak menghilang tanpa kata seperti Deven. Marcha meletakkan ponselnya kembali di meja lalu menatap keluar jendela, ia tidak bisa terus memikirkan Deven, ada terlalu banyak hal dalam hidupnya yang membutuhkan perhatian selain seorang lelaki keras kepala yang tiba-tiba memutuskan jadi misterius. Marcha langsung menelepon Kevin setelah menatap layar laptopnya beberapa saat selain ingin membantu Shanna, ada beberapa urusan pekerjaan yang juga ingin ia bahas dengan pengacara itu, tak butuh waktu lama sampai wajah Kevin muncul di layar ponselnya.
"Halo Vin," sapa Marcha.
Kevin terlihat masih memakai jas kerja, dasi nya bahkan masih rapi meskipun ekspresinya sudah seperti orang yang habis ditagih cicilan lima bank sekaligus.
"Lo gak usah ikut campur urusan gue sama Shannon," kata Kevin tanpa basa-basi. "Gue tau lo sama dia barusan baikan, tapi masalah ini gak ada urusannya sama elo."
Marcha langsung menghela napas panjang "Vin, waktu gue sama Shannon bermasalah, lo tuh orang paling vokal nyuruh gue maafin dia," kata Marcha. "Sekarang giliran kalian ribut, masa gue harus pura-pura budeg?"
"Itu beda."
"Bedanya dimana?"
"Dia mainin gue, Cha."
Marcha menggeleng pelan. "Dia gak mainin elo," katanya sabar. "Dia cuma bingung sama perasaannya sendiri. Dan itu wajar."
Kevin mengernyit "Wajar apanya?"
"Hubungan lo sama Shannon itu beda sama gue sama Deven," jelas Marcha. "Gue sama Deven dari awal memang saling suka. Sedangkan lo sama Shannon mulai dari temenan. Shannon terlalu nyaman sama hubungan kalian sekarang, jadi dia takut kalau status itu berubah."
Kevin tertawa pendek sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi "Friendzone," gumamnya. "Seriously?"
Marcha malah ikut tertawa kecil "Ya kurang lebih begitu."
"Bilang sama Shanna," kata Kevin sambil berdiri dan membetulkan jasnya, "gue juga gak mau temenan terus. Gue udah cape jadi cowok 'nyaman'. Ujung-ujungnya dipake buat curhat doang."
"Vin..."
"Lo tau rasanya gak sih?" potong Kevin. "Udah nunggu bertahun-tahun, jagain dia, nemenin dia nangis, eh pas gue maju dikit malah dia bingung."
Marcha memandang Kevin beberapa detik, sebetulnya ia paham kenapa Kevin marah. Shanna memang terlalu takut kehilangan Kevin sampai tidak sadar kalau Kevin juga punya batas kesabaran.
"Dia takut kehilangan elo," kata Marcha pelan.
"Dan gue takut kehilangan waktu gue sendiri," balas Kevin cepat.
Marcha terdiam.
Kevin mengambil ponselnya lalu menghela napas "Gak perlu repot-repot datengin gue buat bahas Shanna kalau cuma mau ngomongin ini," katanya lalu sambungan telepon langsung mati.
Marcha melotot menatap layar ponselnya "Ya ampun... galak banget sih," gumamnya. "Pantes aja masih jomblo lama."
Marcha baru saja mau menelepon Kevin lagi ketika ponselnya kembali berdering. Nama di layar membuat napasnya tertahan.
Dep, Deven.
Marcha langsung mengangkat telepon itu.
"Hallo Dev."
"Kamu mau balik Paris? Besok?" tanya Deven cepat. "Kenapa mendadak?"
Marcha langsung bersandar ke kursinya "Kamu pulang ke Lombok bukannya lebih mendadak?" balasnya.
"Tuh kan," kata Deven kesal. "Kamu balas dendam."
"Aku gak balas dendam," kata Marcha. "Aku gak akan kayak anak kecil yang tiba-tiba ngilang cuma karena masalah pernikahan ditunda."
"Apa kamu bilang?" suara Deven langsung naik.
"Ya kan memang gitu," balas Marcha mulai emosi. "Ada masalah dikit langsung ngilang."
"Bonyok lo yang maksa kita nikah!" kata Deven. "Gue ke Lombok juga buat ngebujuk keluarga gue supaya setuju nikah sama lo!"
"Bonyok gue mau kita nikah, iya," kata Marcha. "Tapi bukan berarti besok juga harus ke gereja dan peresmian."
"Cha..."
"Lo yang maksa gue terima lamaran lo," lanjut Marcha. "Sekarang giliran ada masalah, lo ngilang."
Deven menghembuskan napas keras di seberang sana "Lo pikir gue gak capek?" tanya Deven tiba-tiba. "Lo bolak-balik Paris, Amerika, Indonesia... lo pikir gue gak capek LDR sama lo?"
Marcha terdiam. Nah. Akhirnya keluar juga isi hati Deven yang sebenarnya dan anehnya, justru kalimat itu yang paling membuat dada Marcha sesak kalau sekarang saja Deven sudah kelelahan menghadapi ritme hidupnya... bagaimana nanti setelah menikah?
"Kalau sama-sama capek," kata Marcha pelan, "buat apa diterusin?"
"Cha, maksud gue bukan—"
"Lo gak perlu susah-susah lagi ngomong ke keluarga lo soal nikah kita."
"Ya ampun..." Deven langsung terdengar panik. "Cha, jangan ngomong kayak gitu."
"gue capek, Dev," kata Marcha jujur. "Setiap ada masalah, lo ngilang, gue tuh pasangan lo, bukan customer service yang cuma dapet notif 'sedang sibuk, coba lagi nanti'."
Deven langsung terdiam. Marcha sendiri sampai menarik napas panjang karena kesal dengan analoginya sendiri.
"Tuh kan," gumamnya pelan. "gue ngomong serius malah jadi kayak ngeluh paket internet."
Deven malah terkekeh kecil di seberang sana meskipun terdengar lelah "Masih sempet becanda lo."
"Kalau gak becanda gue nangis."
Sunyi beberapa detik lalu suara Deven melembut.
"Cha... sorry," katanya lirih. "Gue bingung. Gue cuma pengen semuanya jalan baik-baik. Gue pengen keluarga kita saling nerima."
"gue tau."
"Dan gue juga gak mau kehilangan elo."
Marcha memejamkan mata sejenak "Aku juga gak mau kehilangan kamu," katanya pelan. "Makanya aku minta kita break dulu."
"gue gak mau break."
"Dev..."
"gue serius," potong Deven cepat. "Gue gak mau putus."
"Siapa yang bilang putus?" tanya Marcha kesal.
"Tadi lo ngomong kayak orang mau putus."
"Karena gue lagi emosi."
"Ya jangan bikin gue jantungan juga."
Marcha sampai menghela napas sambil memijat pelipisnya "Dev, kita butuh waktu buat mikir."
"Aku gak butuh mikir," jawab Deven keras kepala. "Aku cinta sama kamu."
"Ya, tapi menikah itu gak cukup cuma modal cinta."
"Gue akan perjuangin semuanya."
"Aku tau," kata Marcha lembut. "Tapi sekarang aku cuma pengen sendiri dulu."
Deven diam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan "Jadi... lo janji gak akan mutusin gue?"
Marcha tersenyum tipis mendengar nada suara Deven yang tiba-tiba terdengar seperti anak kecil takut ditinggal ibunya di mall "gue janji," katanya. "Kecuali lo yang mutusin gue"
"Gue gak akan mutusin elo," jawab Deven cepat. "Kita bakal nikah. Lo pegang omongan gue."
Marcha memejamkan mata pelan "Okay..."
"Tapi besok kamu pergi jam berapa?"
"Jam sembilan pagi."
"Kamu tungguin aku ya," kata Deven cepat. "Pesawatku nyampe jam delapan lebih."
Marcha menggigit bibir bawahnya "Kamu pulang besok?"
"Iya. Aku pulang buat ketemu kamu."
Marcha terdiam cukup lama.
"Aku gak tau, Dev..."
"Maksudnya gak tau?"
"Aku harus sampai tepat waktu di Paris. Ada kerjaan yang gak bisa ditunda."
"Ya..." suara Deven langsung berubah pelan. "Aku tau."
Marcha bisa mendengar nada kecewa di suaranya.
"Aku emang gak pernah jadi prioritas kamu ya."
Marcha langsung memejamkan mata sambil menghela napas panjang, kadang Deven benar-benar menyebalkan tapi kadang lelaki itu juga terdengar begitu sedih sampai Marcha ikut merasa bersalah.
"Sorry, Dev..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
