Kevin turun dari mobilnya, udara sore menyusup dingin. Ia merapatkan jaket sebelum melangkah masuk. Panggilan dari Betrand dan Ruben datang mendadak, tanpa penjelasan yang jelas. Tapi dari riuh media sosial beberapa hari terakhir, Kevin sudah bisa menebak—ini pasti ada hubungannya dengan Anneth dan tebakan itu benar.
"Gue nggak mau tau," suara Betrand meledak. "Pokoknya gue mau nuntut Anneth." nada marahnya nyaris bergetar. "Dia ngebatalin kontrak seenaknya sendiri. Padahal kontraknya masih jalan enam bulan lagi!"
Kevin menerima map yang disodorkan Betrand, membuka sekilas, lalu menatapnya lagi.
"Secara hukum, lo bisa nuntut, Nyo," kata Kevin pelan tapi tegas. "Tapi lo harus siap kalau urusannya jadi panjang. Pihak Anneth juga punya celah buat nuntut balik."
"Gue nggak peduli," potong Betrand. "Berapa pun duit yang harus gue keluarin, gue harus menang."
"Betul," Ruben yang sejak tadi menahan diri akhirnya ikut bicara. "Nama baik Onyo dipertaruhkan di sini."
Kevin mengangguk kecil. "Gue bakal coba urusin."
"Kalau gitu ayah pergi dulu," kata Ruben sambil berdiri. "Nyo, kalau ada apa-apa, telepon ayah."
Betrand mengangguk, pandangannya mengikuti punggung ayah angkatnya sampai menghilang di balik pintu, begitu ruangan tinggal mereka berdua, emosinya seperti tumpah tanpa saringan.
"Anneth itu emang nggak bener jadi cewek," katanya kesal. "Gue udah serius, Vin. Tulus. Gue bahkan udah ngelamar dia tapi ditolak cuma karena alasan 'nggak siap'?" ia tertawa pendek, pahit "Padahal dia udah punya rencana buat mutusin gue. Lo bayangin, Vin... gimana sakitnya gue digituin."
Kevin menarik napas. "Mungkin dia emang belum siap, Nyo. Bisa jadi dia butuh waktu, atau—"
"Kalau dia mau waktu, gue kasih," potong Betrand. "Tapi jangan caranya gini, gue ini manusia, Vin, gue punya hati."
Kevin menghela napas kecil. "Cewek emang ribet, Nyo. kadang maju, kadang mundur maunya apa juga nggak jelas."
Betrand bersandar, menatap kosong ke depan. "Sekarang media malah sibuk ngulik hubungan gue sama Anneth padahal menurut gue, berita batalnya tunangan Deven sama Shannon itu jauh lebih heboh."
Kevin diam. Ia memilih tidak berkomentar.
"Gue denger," lanjut Betrand, suaranya lebih rendah, "Anneth mutusin gue karena Deven."
Kevin mendongak.
"Katanya batalnya tunangan Deven sama Shanna itu gara-gara Anneth, itu bener, Vin?"
"Lo dapet gosip ngaco dari mana?" Kevin mendengus. "Jangan percaya omongan murahan."
"Ada yang ngomong," sahut Betrand cepat. "Bahkan ada yang bilang ngeliat Anneth keluar dari ruang ganti Deven, tempat yang sama sama Shanna sebelumnya."
"Stop," Kevin langsung memotong. "Deven sama Shanna putus karena faktor keluarga bukan Anneth."
"Lo tau dari mana?" tanya Betrand tajam.
"Gue temennya Deven," jawab Kevin. "Lo juga kenal dia, masa iya dia setega itu nusuk lo dari belakang?"
"Gue sama Deven nggak deket," ujar Betrand lirih. "Dan gue bukan nggak percaya Deven... gue nggak percaya Anneth."
"Kita nggak pernah bener-bener tau isi kepala orang," kata Kevin tenang. "Tapi gue yakin Anneth punya alasan sendiri buat mutusin lo."
Betrand terdiam beberapa detik. "Gue juga sebenernya nggak nyangka dia bakal mutusin gue," katanya pelan. "Apa yang gue punya sama dia itu tulus tapi kenapa harus berakhir cuma karena orang tuanya nggak setuju? Selama ini keluarga Anneth baik sama gue, maminya juga baik banget."
Kevin tak menjawab.
Di kepalanya, potongan-potongan lama tersusun rapi. Kisah Anneth dan Betrand ini terlalu mirip dengan yang dulu—Anneth dan Deven dan ujungnya selalu sama, orang tua Anneth terutama maminya. Kevin tak butuh firasat atau indra keenam untuk melihat polanya, ini pengulangan, pertanyaannya cuma satu: untuk apa?
Betrand lelaki baik. Bertanggung jawab. Mapan. Tampan. Populer, bukankah itu semua kriteria yang selama ini Anneth cari? Atau... justru kriteria yang dicari oleh maminya?
"Ya udah," kata Kevin akhirnya sambil berdiri. "Gue balik dulu, Nyo. Nanti gue kabarin kalau berkasnya udah gue masukin ke Polda."
"Secepatnya ya, Vin."
"Rencananya besok," jawab Kevin. "Hari ini gue masih ribet pindahan kantor."
"Oh iya," Betrand nyengir tipis. "Gue lupa sekarang lo punya firma sendiri. Congrats, Vin. Alamatnya di mana?"
Kevin menyebutkan alamat kantornya. Mereka sempat berbasa-basi sebentar sebelum Kevin benar-benar pamit, meninggalkan ruangan dengan kepala yang jauh lebih berat daripada saat ia datang.
Kevin mendesah kecil ketika ponselnya berbunyi dan terlihat nama Marcha di monitor, ini pasti nanyain Deven.
"Hallo, Cha," katanya sambil menekan speaker.
"Lo di mana, Vin?" suara Marcha langsung nyelonong tanpa basa-basi.
"Di jalan. Baru balik dari rumah Betrand," jawab Kevin.
"Hah?" Marcha langsung siaga. "Ngapain lo ke rumah Betrand?"
"Ngurus kasusnya dia sama Anneth."
"Loh?" Marcha bengong. "Betrand ada kasus sama Anneth? Bukannya mereka pacaran dan mau tunangan?"
"Bu," Kevin mendengus, "sesekali nonton medsos, jangan video call sama Deven mulu, itu lagi rame banget."
"Ya gue mending video call Deven daripada ngikutin gosip orang," balas Marcha santai. "Tapi gue bingung aja kenapa lo ke rumah Betrand."
"Karena gue pengacara, Cha," kata Kevin. "Gue nggak mungkin dateng ke rumah orang cuma buat numpang minum."
"Ya gue paham," Marcha berhenti sebentar, lalu nadanya berubah sok serius, "tapi lo harus ke apartemennya Deven."
Kevin mengerling ke kaca spion. "Ngapain lagi cowok lo?"
"Bukan ngapain-ngapain," kata Marcha cepat. "Dia kan lagi sakit. Gogo sama Friden gue telepon nggak bisa, gue mau nelpon Deven tapi takut dia lagi tidur, terus kebangun gara-gara gue."
"Chat aja, Cha," saran Kevin. "Kalau takut bangunin."
"Udah," jawab Marcha lirih. "Nggak dibaca, nggak dibales, gue khawatir banget padahal dia janji hari ini udah mendingan tapi tadi pagi masih bilang kepalanya pusing, panasnya juga belum turun."
Kevin geleng-geleng. "Cha, cowok lo itu emang dokter, tapi dokter juga sembuhnya butuh waktu, dia tuh manusia, bukan Google."
Marcha terkekeh. "Ya gue cuma bercanda kok sama Deven."
Kevin mendengus. "Bercanda versi lo itu levelnya bikin orang masuk IGD."
"Udahlah," Marcha langsung to the point. "Tolongin gue cek keadaan Deven, ya, ntar lo telepon gue kalau udah ketemu dia."
Kevin menghela napas panjang, banyak mau, tapi dia juga tahu—kalau nggak diturutin, Marcha bisa ribut sepanjang hari.
"Ya udah," katanya akhirnya. "Gue ke apart cowok lo sekarang. Ntar gue kabarin."
"Thank you banget, Vin," suara Marcha langsung ceria. "Lo tuh penyelamat hidup gue."
"Lebay," Kevin tertawa kecil. "Gue nyetir dulu. Bye."
"Bye!"
Telepon ditutup. Kevin kembali fokus ke jalan. Apartemen Deven memang nggak jauh dari rutenya. Lagi pula, Kevin punya firasat bagus—biasanya kalau Deven sakit, Gogo atau Friden ninggalin makanan. Dan Kevin... belum makan.
Beberapa menit kemudian, Kevin tiba di apartemen Deven. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju lobi—lalu langkahnya melambat.
Anneth.
Wanita yang beberapa jam lalu mau digugat Betrand. Ngapain dia di sini? Kevin refleks memperlambat langkah, menjaga jarak. Anneth berjalan cepat ke arah lift dan menekan tombol naik. Kevin sengaja menunggu sampai pintu lift tertutup, baru ikut masuk ke lift berikutnya. Jangan-jangan... Pikiran itu membuat perut Kevin terasa nggak enak.
Sesampainya di lantai apartemen Deven, firasat itu berubah jadi kenyataan. Anneth berdiri tepat di depan pintu apartemen Deven, mengetuk, sekali , dua kali, tidak dibuka.
Kevin tahu—Deven nggak akan sembarangan buka pintu apalagi buat mantan.
Marcha, lo beruntung banget.
"Kita perlu ngomong, Dev," suara Anneth terdengar tegang. "Tentang semuanya. Shanna... dan semuanya."
"Nggak ada yang perlu dibahas," jawab Deven dingin dari balik pintu. "Pertunangan gue sama Shanna batal udah berbulan-bulan lalu. Ngapain lo ke sini sekarang?"
"Setidaknya biarin gue masuk."
"Gue nggak bisa," kata Deven tegas. "Kalau sampai ada media lihat, nggak lucu."
"Gue nggak bawa media."
"Lo nggak bawa," sahut Deven, "tapi mereka ngikutin elo."
Kevin refleks menoleh ke sekitar. Dan benar saja—di ujung koridor, ada seseorang pura-pura main ponsel, tangan satunya nyelip di jaket. Tonjolan kecil di sana... kamera. Kevin langsung paham, dia kenal betul alat-alat kayak gitu.
"Dan lagi," lanjut Deven, suaranya lebih rendah tapi tegas, "gue udah punya pacar. Gue jaga perasaannya. Gue nggak bisa ngebiarin cewek lain masuk ke apart gue. Kecuali cewek gue."
"Lo baru putus sama Shanna," Anneth terdengar tak percaya. "Nggak mungkin lo udah punya pacar, siapa cewek lo?"
Di dalam hati, Kevin langsung berdoa, jangan sebut nama, jangan sebut nama. Jangan—entah siapa orang di ujung lorong itu, entah dia ngikutin Anneth... atau justru sengaja dibawa ke sini.
Kevin cuma tahu satu hal: kalau Deven menyebut nama pacarnya sekarang, semuanya bisa berantakan, pertanyaannya tinggal satu—apakah Deven akan menyebutkannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
