"Hei, Cha." Suara Kevin bikin Marcha yang lagi bengong langsung nyentak. Dia menoleh cepat, matanya membesar.
"Eh, elo Vin? Kok gue nggak tau lo masuk?" katanya sambil ngerjap-ngerjap kayak orang baru bangun tidur.
Kevin nyengir. "Yang bener aja lo, gue udah di sini dari tadi. Dari sebelum lo melamun sampe hampir pindah alam."
"Masa sih?" Marcha masih kelihatan nggak percaya.
"Iya... lo ngeliat tembok kayak lagi nonton drama 40 episode, gue sampe mikir lo lagi komunikasi batin sama Deven."
Marcha cuma senyum tipis.
Kevin langsung nyender santai di kursi. "Wah, akhirnya kalian tengkar juga."
Marcha langsung melotot. "Apaan sih lo?"
"Iya lah, gue bingung liat kalian adem ayem terus... gue pikir hubungan kalian tuh level dewa gitu ternyata manusia biasa juga ya, bisa ribut."
"Gue nggak tengkar sama Deven," bantah Marcha cepat.
Kevin mengangkat alis. "Oh? Waow kalau bukan gara-gara Deven, terus kenapa muka lo kayak abis dikhianatin mantan sama sahabat sekaligus?"
Marcha menghela napas pelan. "Ini masih ada hubungannya sama Deven... tapi gue nggak tengkar sama dia."
Kevin langsung condong ke depan. "Oke... ini mulai menarik, lo mau cerita?"
Marcha langsung geleng. "Nope. Gue nggak yakin ini hal yang bisa gue ceritain ke orang lain apalagi ke elo."
Kevin nyengir. "Kenapa? Karena gue ganteng?"
"Karena elo temennya Deven," jawab Marcha datar.
Kevin langsung diem tapi dia tetap natap Marcha lama, ada yang beda... biasanya Marcha kalau lagi kesel bakal ngomel kayak komentator sepak bola sekarang malah terlalu tenang.
Marcha mengalihkan pandangan. "So... lo ngapain ke sini, Vin?"
Kevin menarik napas panjang. "Memperbaiki hubungan lo sama Shanna."
Marcha langsung menutup mata sebentar, kayak orang yang baru dengar berita buruk. "Ini maunya lo atau maunya Shanna?"
"Shanna," jawab Kevin, nggak sepenuhnya bohong sih... tapi juga nggak sepenuhnya jujur.
Marcha tertawa kecil, tapi dingin. "Oke, dia mau ngapain lagi kali ini? Nampar gue lagi? Atau sekalian nendang biar lengkap?"
"Cha, kemarin dia cuma emosi," kata Kevin pelan. "Dia juga ngerasa salah habis nampar lo."
Marcha langsung menatap Kevin, kali ini serius. "Nampar gue di depan umum kayak kemarin itu bukan cuma soal malu, Vin. Itu bikin masalah besar antara gue sama keluarga gue... sama Deven juga."
Kevin diam.
"Lo mau tau kapan gue tengkar sama Deven?" lanjut Marcha. "Waktu Shanna nampar gue."
Kevin langsung kehilangan kata-kata.
"Cha... kalian sahabat waktu SMA," katanya akhirnya.
Marcha tersenyum kecil, tapi bukan senyum bahagia. "Gue tau Shanna sahabat gue waktu SMA tapi itu dulu sekarang dia ngusir gue dari Indonesia, ngefitnah gue, terus nampar gue di depan orang banyak."
Kevin menunduk pelan.
"Dan gue bukan nggak pernah kasih dia kesempatan buat baikan," lanjut Marcha. "Gue bahkan yang nyuruh Deven buat maafin dia tapi ada batasnya juga, Vin... gue manusia, bukan tempat sampah emosi."
Kevin terdiam lama, dia tau kesalahan Shanna ke Marcha nggak sedikit dan Marcha punya hak buat marah tapi dia juga tau Shanna sekarang sendirian.
"Cha... gue tau Shanna kebangetan tapi gue mohon lo pikirin lagi tentang persahabatan kalian dulu," katanya pelan.
Marcha bersandar ke kursi. "Bukan soal gue maafin dia atau nggak, gue cuma... nggak mau hidup gue ada Shanna lagi di dalamnya, masalah gue udah cukup banyak. Kerjaan, keluarga, cinta... gue nggak butuh bonus drama persahabatan juga."
Kevin menarik napas panjang. "Pikirin dulu, Cha. Gue yakin Shanna berubah dan kali ini dia bener-bener sadar."
Marcha diam.
"Lo nggak kangen sama dia?" lanjut Kevin pelan. "Momen kalian dulu, persahabatan kalian dulu."
Marcha tetap diam dan Kevin tau, meskipun sekarang Marcha punya Clarice, Anastasia, Azalea, dan yang lain... ada satu tempat yang sampai sekarang belum pernah bisa diganti siapa pun karena dulu, di SMA, mereka duduk satu bangku dan semua kenangan paling konyol, paling bahagia, paling memalukan... mereka lewatin bareng.
"Lo maunya gimana sih, Vin?" tanya Marcha sambil melipat tangan di dada.
Kevin langsung jawab tanpa mikir lama. "Kita pergi makan bareng. Lo, gue, Deven, sama Shanna."
Marcha menatap dia beberapa detik, lalu mengangkat alis. "Double date gitu?"
Kevin langsung nyengir. "Gue sama Shanna belum pacaran."
Marcha langsung ketawa kecil. "Ah, lo lambat banget sih."
"Ya gue masih usaha deketin dia," kata Kevin sambil garuk tengkuk, agak malu.
"Pdkt maksud lo?" tanya Marcha sok polos.
"Iya itu... ya gitu deh," kata Kevin sambil ketawa, keliatan banget nggak pede tapi maksa pede.
Marcha menggeleng pelan. "Kasian Shanna."
"Eh, kenapa jadi kasian?"
"Karena dideketin sama lo."
Kevin langsung melempar tisu ke arah Marcha. "Kurang ajar lo."
Marcha ketawa puas, lalu akhirnya menarik napas pelan. "Nanti gue tanya Deven dulu, gue sih nggak masalah... tapi Deven belum tentu mau."
"Deven nggak bakal masalah kalau lo nggak masalah, Cha," kata Kevin yakin.
Marcha menatap dia datar. "Vin... lo tuh kadang terlalu optimis. Dunia nyata nggak sebaik itu."
Kevin cuma nyengir. "Tapi Deven baik."
Marcha diam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Iya sih..."
"Jadi?" tanya Kevin.
"Ya ntar gue ngomong dulu sama dia," kata Marcha. "Kalau dia oke, ya udah kalau dia nolak, lo yang jelasin ke Shanna bukan gue."
"Deal," kata Kevin cepat.
Marcha langsung berubah mode serius. "So... tentang universitas itu sekarang pembangunannya udah mulai, kan? Kita harus mulai bahas divisi internasionalnya juga."
Kevin langsung duduk tegak. "Iya. Gue juga mau bahas itu. Kalau kita mau buka program luar negeri, kita harus siap dari sekarang."
Dan obrolan mereka langsung berubah total dari yang tadinya bahas cinta yang ribet, tiba-tiba pindah ke kerjaan yang lebih ribet lagi, mereka ngobrol cukup lama. Dari pembangunan kampus, kerja sama luar negeri, sampai rencana tim yang bakal dibentuk sampai akhirnya semuanya selesai.
"Woi bro," kata Deven sambil nyender di sofa. "Lo nggak salah nyuruh gue sama Marcha ketemu Shannon?"
Kevin yang lagi nyemil keripik langsung berhenti. "Marcha udah bilang?"
"Ya udahlah, dia udah bilang," kata Deven. "Pertanyaan gue sekarang: Shanna mau ngapain lagi? Mau bikin Marcha celaka lagi?"
Di sudut ruangan, Gogo lagi duduk santai sambil metik gitar hitam milik Deven, lagu yang dia mainin setengah romantis, setengah ngawur.
Sementara Friden lagi serius banget main PS sepak bola, teriak-teriak sendiri kayak komentator.
"PASS WOI! PASS! IH BODOH BANGET NIH PLAYER!"
"Dev, jangan mikir jelek dulu," kata Kevin. "Dia cuma mau minta maaf."
"Gue nggak yakin biarin Marcha sama Shannon ketemu lagi," kata Deven pelan. "Gue nggak mau kejadian kemarin keulang, gue aja sakit hati liat muka Marcha lecet gitu... apalagi keluarganya."
Kevin langsung duduk tegak. "Gue jamin nggak bakal keulang lagi."
Deven langsung menatap dia. "Lo jamin pake apa, Vin? Kalau Shanna sampe nampar Marcha lagi?"
Kevin langsung jawab tanpa mikir. "Lo boleh mukul gue."
Gogo langsung berhenti metik gitar, Friden berhenti main PS dan dua-duanya langsung ketawa bareng.
"WAH kesempatan, Pon!" kata Gogo. "Lo bisa mukul Kevin sampe masuk UGD!"
"Shanna yang salah, kok gue mukul elo?" tanya Deven bingung.
"Karena gue yang minta kalian ketemu Shanna," kata Kevin serius. "Kalau sampai ada apa-apa sama Marcha, ya gue yang tanggung jawab."
Deven menarik napas panjang. "Gini deh Vin, gue bukan nggak mau ketemu Shanna tapi masalah cewek biarin jadi masalah cewek."
Kevin mengerutkan kening.
"Kalau dia tulus mau minta maaf sama Marcha, dia chat Marcha, ajak ketemu. Kenapa gue sama elo harus ikut jadi bodyguard?"
"Lah elo belum maafin dia, Pon," kata Kevin.
"Kalau Marcha bisa maafin dia, gue juga bakal maafin dia," jawab Deven. "Dia yang nyakitin Marcha, bukan gue."
Kevin langsung menghela napas panjang. "Ya udah... ntar gue coba ngomong lagi sama Shanna tapi kalau mereka berdua udah baikan... lo sama Marcha mau kan double date sama gue?"
Mata Deven langsung menyempit. "Ohh... jadi ini tujuan utama lo."
Kevin langsung pura-pura polos. "Tujuan apaan?"
"Udang di balik bakwan," kata Deven.
Gogo langsung menoleh. "Hah? Makanan apaan itu? Kok kayak enak?"
"Go, gue lagi ngomong serius sama Kevin," kata Deven.
"Oke, lanjut tapi kalau itu makanan, gue ikut," kata Gogo santai.
"Jadi lo mau kan bantuin gue, Pon?" tanya Kevin.
Friden yang lagi main PS tiba-tiba ikut nimbrung. "Bukannya kemarin lo bilang nggak butuh bantuan kita, Vin?"
Kevin langsung menunjuk Deven. "Kalian beda, ini Klepon."
Gogo dan Friden langsung saling pandang.
"Apa yang salah sama kita berdua?" tanya Gogo tersinggung.
"Kalian tuh nggak serius, kalian kalau ada cewek langsung jadi badut," kata Kevin.
"Klepon juga badut," kata Gogo santai. "Cuma versi mahal."
Deven langsung ketawa. "Ngaca dulu lo, Go. Lo mah badut gratisan yang paling parah sih Iden."
"Eh gue tersinggung ya," kata Friden tanpa melepas controller. "Tapi bener sih."
Kevin langsung mengangkat tangan. "Pokoknya gue cuma mau Shanna, Marcha, sama Deven baikan dulu. Setelah itu baru kita bikin... kwartet date."
Gogo langsung duduk tegak. "Nah itu baru topik yang menarik."
"Gue tungguin lo Vin," kata Gogo.
"Iya, iya Go," kata Kevin. "Eh tapi serius deh... nggak biasanya lo nggak pergi sama Marcha, Pon. Tengkar lo?"
Deven langsung melotot. "Apaan sih lo? Jangan asal nuduh kita tengkar melulu napa."
"Ya soalnya jam segini biasanya lo lagi sama dia," kata Kevin.
"Jam segini tuh jam rawan Marcha meeting," kata Deven. "Di Paris pagi."
"Ohh... pantes," kata Friden. "Kemarin gue ke kantornya... dia agak murung. Gue pikir ada masalah sama lo."
Deven langsung menoleh cepat. "Murung? Marcha?"
"Iya tapi dia juga bilang kalian nggak tengkar," kata Kevin. "Mungkin dia lagi mikirin hal lain. Kerjaan dia juga lagi gila-gilaan kan."
Deven diam sebentar, lalu menghela napas pelan. "Gue nggak mau dia kerja sekeras itu, buat apa sih? Itu cuma uang."
Friden langsung nyeletuk, "Ya tanpa uang kita mati, Pon."
"Lo nggak tau berapa banyak uang yang Marcha hasilin dalam sehari," kata Deven pelan.
Gogo langsung menoleh. "Emang lo tau?"
"Tau, gaji dokter gue tuh nggak ada apa-apanya," kata Deven.
Kevin mengerutkan kening. "Lo tau dari mana? Marcha ngomong ke lo?"
"Nggak sih tapi gue liat bisnis dia di Eropa sama Amerika, gue bisa ngitung," kata Deven santai.
Kevin cuma nyengir. "Lo bener... sekarang dia lagi mau nyerang bisnis Asia juga. Beberapa bulan lagi ada proyek baru di Jepang."
Deven langsung menoleh. "Proyek apa?"
Kevin langsung nyengir lebar. "Lo pacarnya Marcha, tapi gue tetep nggak bisa cerita. Masih rahasia tapi yang pasti... ini bakal bikin Marcha tambah kaya."
Deven langsung menyandarkan kepala ke sofa. "Tambah kaya berarti tambah sibuk."
"Yup," kata Kevin.
"Gue nggak mau dia sesibuk itu," kata Deven pelan. "Kayaknya gue harus ngomong sama dia soal ini."
Kevin cuma menatap Deven, dia pengen bilang sesuatu kalau semua bisnis itu bukan cuma soal uang buat Marcha... tapi soal hidupnya tapi akhirnya Kevin cuma diam karena ini bukan lagi urusan dia, ini urusan mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
