Pengadilan (Kevin)

64 9 7
                                        

Kevin berdiri diam, menatap ke arah Anneth. Sepupu Shanna itu tampak berbeda hari ini, kemeja rapi, rambut tertata, dan tatapan... tajam, dingin. Di sampingnya, sang ibu berdiri dengan aura yang bahkan lebih menekan.
Kevin menghela napas pelan.
Dia nggak nyangka... Anneth—atau lebih tepatnya, ibunya—akan sejauh ini melawan Betrand, dia tau alasannya, nama baik, gengsi, ego tapi...apa itu benar-benar yang Anneth mau? Atau ini semua... hanya keinginan ibunya?

Di sisi lain, Betrand berdiri dengan tenang, terlalu tenang, malah. Seolah dia sudah tau... arah kasus ini akan ke mana dan Kevin juga tau, bukti-bukti sudah jelas. Dukungan publik pun condong ke Betrand, Ya... jumlah fans juga berbicara.
Dulu karier Anneth naik karena dekat dengan Betrand, sekarang? Netizen berbalik arah dan di dunia seperti ini...opini publik sering jadi bahan bakar tambahan.
Sidang hari itu akhirnya ditunda.
Suasana mulai mencair, Betrand terlihat puas, dia mendekat ke Kevin, tersenyum lebar.
"Vin, ini kerja bagus. Makasih banyak."
Kevin menjabat tangannya, tetap tenang "Kita lihat dulu hasilnya minggu depan, Bet."
Betrand mengangguk. "Gue percaya sama lo."
Di belakangnya, Ruben ikut menepuk pundak Kevin "Nak Kevin, besok kita ketemu lagi ya. Makasih."
"Iya om, sama-sama," jawab Kevin sopan.
"See you besok, bro," tambah Betrand.
Mereka bersiap pergi—tapi langkah Betrand terhenti. Anneth dan ibunya sudah berdiri di depan mereka
"Cuma karena gue mutusin lo... perlu ya lo besar-besarin masalah kayak gini, Bet?" kata Anneth tajam.
Betrand langsung menatapnya "Ini bukan cuma soal kita. Ini soal kontrak. Jangan asal ngomong."
Nada suaranya mulai naik.
Kevin langsung menahan tangan Betrand, memberi isyarat, Jangan.
Betrand menarik napas... lalu diam.
Ibunya Anneth menatap Kevin dari ujung kepala sampai kaki "Oh... jadi ini pengacara yang katanya lagi deketin Shannon, Neth?"
Anneth langsung menoleh. "Mi, jangan libatin Kevin."
"Jangan libatin?" ibunya tertawa kecil. "Kalau dia jadi sama Shannon, dia bakal jadi keluarga kita." tatapannya tajam "Kamu rela? Kalau sampai kamu masuk penjara... yang masukin kamu itu suami dari sepupu kamu sendiri."
Kevin langsung berdiri tegak "Jangan libatkan Shannon dalam masalah ini," katanya tegas. "Dia nggak ada hubungannya dengan kasus ini."
Ibunya Anneth langsung menatap tajam "Enak kamu bilang nggak ada hubungan. Shannon itu keponakan saya." nada suaranya dingin "Dan saya nggak akan izinin keponakan saya berhubungan dengan laki-laki seperti kamu."
Hening.
Kevin belum sempat menjawab—mereka sudah berbalik pergi, Anneth sempat melirik sekilas...tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Jadi bener lo deketin Shannon?" tanya Betrand, setengah heran.
Kevin melirik ke arah media yang masih menyorot mereka.
"Nanti gue jelasin," katanya pelan.
Betrand ikut melirik ke arah kamera lalu tersenyum tipis.
"Oke. Sampai besok."
Dia dan Ruben pun pergi.
Kevin berdiri sendiri beberapa detik lalu berbalik... masuk lagi ke dalam gedung pengadilan, masih ada satu kasus lagi yang harus dia tangani hari ini dan sepertinya... nggak kalah rumit
Beberapa saat kemudian...Kevin melihat jam tangannya.
Jam 8 malam.
Dia menghembuskan napas panjang. Capek.
Hari ini panjang banget, dia merogoh saku, mengambil HP.
Seperti biasa...notifikasi penuh.
Marcha.
Shanna.
Deven.
Gogo.
Friden.
Dan tentu saja... klien-kliennya.
Kevin membuka pesan dari Marcha dulu, seperti biasa langsung ke kerjaan, Izin pembangunan theme park di Kalimantan—yang sekarang jadi ibu kota.
Kevin tersenyum tipis "Kerja terus nih orang..." gumamnya.
Lalu mulai membalas pesan Marcha.
Kevin menutup chat kliennya satu per satu.
Satu lagi.
Satu lagi.
Baru setelah itu... dia buka chat dari Shanna, pesannya langsung bikin dia berhenti.
Non: kamu sama si Net kenapa?, maminya marah sama gue Vin
Kevin menghela napas panjang, Ya ampun... kejadian juga, dia bahkan nggak sempat mikir panjang langsung ditelepon.
"Hallo," suara Shanna terdengar agak panik.
"Maksud kamu apa, Shan?" tanya Kevin, alisnya berkerut.
"Mami Anneth sama Anneth baru aja pulang... dan mereka marah-marah ke gue tentang elo," kata Shanna cepat.
Kevin mengernyit "Karena gue jadi pengacaranya Betrand?"
"Iya. Mereka bilang gue nggak seharusnya pacaran sama pengacara yang bikin sepupu gue bisa masuk penjara, lo bilang ke mereka kita pacaran?"
"Enggak," jawab Kevin cepat. "Gue nggak bilang apa-apa."
"Terus kenapa berita kita jadi rame banget?" suara Shanna naik. "Lo nggak lihat?"
Kevin menarik napas "Gue baru keluar dari pengadilan, gue belum buka apa-apa."
"Coba lihat medsos," kata Shanna. "Postingan gue penuh... tentang kita. Fans gue nggak suka."
Kevin diam sebentar "Terus?" tanyanya pelan.
"'Terus' gimana maksud lo?" balas Shanna.
Kevin menatap kosong ke depan "Fans lo nggak suka gue sama elo..." suaranya mulai berubah. "Terus lo juga jadi nggak suka gue?"
Hening.
"Kita belum jadian, Vin," kata Shanna. "Dan gue bahkan belum pernah ngomong soal perasaan gue ke lo."
Kevin terkekeh kecil "Jadi... gue harus nunggu sampai kapan?" tanyanya. "Sampai Indonesia turun salju?"
"Vin, ini lagi sensitif," kata Shanna. "Media lagi bahas gue sama Anneth, kita saudara. Lo pengacaranya Betrand. Kita—"
"Gue juga manusia, Shan," potong Kevin. Nada suaranya turun... tapi justru lebih sakit "Gue punya perasaan. Punya batas."
Shanna terdiam.
"Gue nggak bisa jadi cowok sandaran lo... yang lo datengin cuma pas butuh," lanjut Kevin.
"Vin, gue nggak bermaksud—"
"Udah cukup," potong Kevin pelan.
Ada jeda.
"Dari masalah ini... gue jadi jelas lihat posisi gue di hidup lo."
Hening lagi.
"Ya udah," katanya singkat. "Bye, Shan."
"Vin, tunggu—"
Tut, Kevin menutup telepon.
Beberapa detik... dia cuma berdiri diam. Rahangnya mengeras, sialan... dia ketawa kecil.
Miris.
Setelah semua usaha... setelah nunggu selama itu...hasilnya? Dia kalah sama... fans.
HP-nya berdering lagi.
Shanna.
Kevin lihat layarnya.
Lalu...reject.
Belum sempat dia narik napas panjang—muncul chat lain.
Dokter Klepon
Vin, lo ada waktu gak? Gue lagi di Bart
Kevin menatap layar. Timing lo keren banget, Pon.
Kevin: sama siapa lo? Gogo, Iden?
Dokter Klepon
gue sendirian. Gogo sama Iden lagi manggung di Surabaya
Kevin melirik jam. Capek. Kesel dan... jujur aja, butuh pelarian.
Kevin
ya udah, tungguin gue ya. Gue otw
Dokter Klepon
ok boss
Beberapa saat kemudian...Kevin sudah duduk di mobil, mesin menyala dan dia melaju ke Bart.

Dari jauh, dia langsung lihat Deven, Duduk sendirian di bar, nunduk, tatapannya kosong ke gelas bir di tangannya, Dia angkat gelas itu pelan... lalu minum.
Ekspresinya? Sama kayak Kevin, lagi kacau.
Kevin mendekat. Menepuk pundaknya "Hoi dok... sendirian doang lo?" Dia langsung ke bartender "Bang, satu botol."
Deven nengok "Lo dari mana, Vin? Rapi banget."
"Pengadilan," jawab Kevin singkat.
"Oh iya... gue liat lo di TV," kata Deven. "Kasus Betrand sama Anneth."
Kevin duduk di sampingnya "Bukan itu doang tapi iya, tadi pagi itu."
Deven menghela napas panjang. "Untung gue udah selesai urusan sama tuh cewek," gumamnya. "Kalau nggak... panjang lagi." dia nyengir tipis "Sebenernya sih... sama cewek mana aja juga masalah. Cuma beda jenis aja."
Kevin ngangkat alis.... bir nya datang, dia tuang ke gelas.
"Nape lo tiba-tiba bijak banget soal cewek?" tanya Kevin. "Lo tengkar sama Marcha?"
Deven langsung nyengir... tapi lemes "Masalah sih ada tapi gue rasa... kita nggak tengkar." Dia nyodorin gelas Kevin "Eh, gue minta lagi dong."
Kevin menatapnya "Lo udah minum berapa?"
"Lima," jawab Deven santai.
Kevin langsung noleh "WOY?! Lima botol?!"
"Gue lagi nganggur, Vin," kata Deven. "Tadi sore udah kelar kerjaan. Besok off. Jadi ya..."
"Jadi lo mabok?" Kevin geleng-geleng. "Keren banget solusi lo, dokter."
"Lebih murah daripada terapi," jawab Deven datar.
Kevin nyengir tipis "Iya sih... tapi efek sampingnya lo jadi beban temen."
"Temen gue kan lo," kata Deven santai.
"Najis," gumam Kevin, tapi tetap tuangin bir lagi.
"Udah, mending lo pulang terus tidur," kata Kevin. "Atau kencan sama Marcha kek."
"Hah, jangan bahas Marcha..." Deven langsung pegang kepala. "Pusing gue."
lagu heather conan gray berkumandang, HP Deven bunyi.
Kevin ngelirik.
Marcha.
Deven cuma lihat layarnya lalu... merem.
"Nggak lo angkat?" tanya Kevin.
Deven geleng "Lagi males ngomong sama dia," katanya... sambil ketawa kecil.
Kevin melotot "Lo? Males ngomong sama Marcha? Dunia mau kiamat ya?"
Deven nyengir "Liat aja kayak nada dering itu..."
"Apa maksud lo?"
"Ditunggu aja... nanti juga berhenti sendiri."
Kevin bengong "Gue nggak paham."
"Gue juga nggak paham hidup gue," jawab Deven santai.
Kevin menatap dia "Pon... lo mabok ya?"
Belum sempat Deven jawab—kepalanya langsung jatuh ke meja.
DUK.
Diam.
Kevin langsung berdiri "Pon? ...Pon?!"
Nggak ada respon, Kevin tepok pipinya pelan tetap nggak gerak, Kevin menarik napas panjang lalu mendongak ke langit-langit.
"...Sialan." Dia pegang kepala "Satu ditolak cewek... satu tumbang kayak karung beras." Kevin menatap Deven "Gue salah nongkrong hari ini kayaknya."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang