Sekali seumur hidup (Shanna)

72 5 4
                                        

"Apa?!" Shanna menatap Deven dengan mata membesar. "Gue gak salah denger kan...?"
Deven mengangkat bahu santai, seolah ini hal biasa. "Kamu mau kan?"
Shanna tersenyum lebar, hatinya berdebar kencang. Tanpa pikir panjang, ia menempelkan bibirnya ke bibir Deven, pelan tapi penuh arti. Lepas ciuman itu, matanya menatap Deven dengan serius.
"I do," kata Shanna.
Deven hanya tersenyum, canggung tapi lega. "Sorry ya... gak ada cincin. Kita bisa beli bareng nanti."
"Iya, gak apa," kata Shanna sambil tetap tersenyum, matanya berbinar. "Yang penting kamu jadi suamiku. Kita harus kasih tau ortu kita nih."
Deven mengangguk. "Ya, mereka pasti pengen kita bikin pesta pertunangan dan..."
"Lamaran dulu, Dev!" potong Shanna dengan semangat, hampir loncat-loncat kegirangan.
Deven menghela napas, nyengir. "Ya, aku telepon keluarga aku biar kesini dan ketemu keluarga kamu."
Shanna mengangguk cepat. "Om sama tante sama kak Amel... gak kaget ya?"
"Mungkin enggak," kata Deven santai. "Mama pengen aku cepet-cepet nikah sama kamu."
Shanna mendongak, sedikit terkejut. "Oh... jadi kamu nikah sama aku karena tante yang nyuruh?"
"Eh, salah satu alasannya iya," kata Deven nyengir aneh. "Kenapa nanya begitu?"
Shanna mendesah. "Baru beberapa hari lalu kamu bilang belum siap... kok tiba-tiba gini?"
Deven tersenyum tipis, senyumnya aneh tapi hangat. "Well... aku pikir aku udah siap sekarang."
Shanna tau... jauh di lubuk hatinya, Deven punya alasan sendiri. Alasannya pasti ada hubungannya dengan Marcha. Tapi kali ini ia memutuskan: tak penting. Yang penting, Deven sekarang miliknya.
Deven melepaskan pelukannya. "Kamu udah makan, Non?"
"Belum," kata Shanna polos.
Deven merangkul pundaknya, menariknya ke dapur. "Aku masak soto, mau makan?"
"Owww wow... kamu masak soto?" Shanna kaget, matanya berbinar. "Gak biasa nih."
"Ya tadi lapar... pengen makan yang berkuah, jadi aku masak aja," kata Deven, berdiri di depan panci sambil mengaduk.
Shanna tersenyum manis. "Hhmm, aku ambil sendiri aja, yang penting kamu nemenin."
Deven mengangguk, lalu mencium kening Shanna. "Hati-hati ya, masih panas."
Shanna benar-benar senang. Deven mesra banget, dan ia merasa... seperti menjadi istrinya sekarang juga.
Ia membawa mangkuk, duduk di depan Deven. "Jadi... kapan rencana nikah nih?"
"Akhir tahun mungkin," jawab Deven santai.
"Desember?" Shanna terkejut. Setengah tahun lagi?
"Ya, kalau kamu mau. Kita nikah akhir tahun," kata Deven.
Shanna merenung sebentar. "Hhmmm... mau aja, tapi kan nikah itu harus pesan dekor, gedung, semuanya... stengah tahun cukup?"
Deven tersenyum lembut. "Aku sih pengen nikah private aja, Non. Keluarga dan teman dekat kita saja. Sederhana tapi hangat."
"Dev... nikah kita pasti bakal jadi headline di mana-mana," kata Shanna. "Aku bisa dapat vendor, sponsor, semua..."
"Private aja, Non. Aku gak mau media ngeliput atau bikin pernikahan kita jadi gosip orang," kata Deven serius.
Shanna menghela napas. "Tapi... Dev... nikah sekali seumur hidup. Sekali ini aja kita publish hubungan kita ke publik, apalagi kabar bahagia gini."
Deven diam sejenak, menatap Shanna.
"Dev?" panggil Shanna lembut.
"Biar aku pikir dulu," katanya singkat.
Shanna mengerti. Ia sudah banyak mengalah demi Deven. Kali ini, hal kecil ini bukan untuk Deven, tapi sekali seumur hidup untuk dirinya sendiri. Ia yakin Deven akan mengerti. Setelah itu, Deven mengangkat ponsel, menghubungi ibunya dan keluarga di Lombok, mengatur mereka datang ke Jakarta untuk proses lamaran. Shanna tersenyum tipis, penuh kemenangan kecil tapi bahagia. Meski tahu keputusan ini egois, ia tak peduli—yang penting sekarang, Deven miliknya sepenuhnya.

Shanna duduk di ruang sidang, napasnya masih cepat. Pak Budi dan Bu Lestari akhirnya mengajukan gugatan, dan Shanna kembali bertemu Kevin. Mereka tidak berada di pihak yang sama, tapi Shanna tahu—hatinya Kevin tetap berada di pihaknya. Sidang berakhir, dan hasilnya jelas: pihak Shanna menang. Uang ganti rugi didapat, tapi anak-anak panti harus pindah. Kevin berdiri di sampingnya, membantu mengurus berkas tuntutan, bahkan memberi saran cara berbicara di depan hakim.
"Saya minta maaf," kata Edwin, menatap Shanna, Pak Budi, dan Bu Lestari. "Anak saya butuh uang untuk membayar hutang..."
"Gak apa, Pak Edwin," kata Shanna tenang. "Terima kasih atas tempat yang bapak sediakan untuk anak-anak selama ini."
"Saya malu sekali," gumam Edwin, menundukkan kepala.
"Jangan malu," balas Shanna lembut. "Apa yang bapak lakukan selama ini adalah kebaikan."
"Ya... kamu wanita yang baik, Shanna," kata Edwin. "Pak Budi dan Bu Lestari beruntung punya sukarelawan seperti kamu."
Shanna tersenyum, menunduk sedikit.
"Ya udah, kalau begitu... sampai jumpa lagi di lain kesempatan," kata Edwin, menjabat tangan Shanna, Pak Budi, dan Bu Lestari.
Kevin menatap Shanna sebentar, matanya berkilau dengan ide nakal. "Ntar lo ada waktu?" bisiknya.
"Mau ngapain lo?" tanya Shanna, menoleh.
"Ajak lo makan," kata Kevin, tersenyum lebar, setengah bercanda.
Shanna menatapnya sebentar, ragu. Sebetulnya ia ingin berbagi kabar bahagia tentang Deven yang akan menikah dengannya. Tapi... apakah bijaksana memberitahu Kevin sekarang? Tapi Kevin akan mendengarkan. Selalu.
"Ya udah," katanya akhirnya.
"Yesss!" Kevin menjerit pelan, bersemangat seperti anak kecil. "Nanti gue chat elo ya, Shan."
Shanna tersenyum tipis, sedikit geli melihat Kevin semangat. "Iya."
Kevin mengikuti Edwin keluar dari ruang sidang, tetap sibuk nyengir sendiri.
"Kevin itu pengacara yang baik ya, Shan," kata Lestari, menepuk pundak Shanna.
"Iya, Tan," jawab Shanna singkat.
"Seandainya... kalau nggak ada Deven, tante senang kalau kamu bisa bersama pemuda yang baik seperti Kevin," kata Lestari.
Shanna tersenyum tipis, tapi hatinya berat. Ia tahu Kevin... tidak jauh berbeda dari Deven. Baik, bertanggung jawab, tapi cintanya hanya untuk Deven. Shanna mengantar Pak Budi dan Bu Lestari ke panti, sebelum akhirnya Kevin menjemputnya di mobil.
"Lo mau makan di mana, Shan?" tanya Kevin saat mobil melaju.
"Yang ngajak makan kan elo, Vin. Kok nanya gue?" balas Shanna, setengah tersenyum.
"Ya gue menghormati yang gue ajak makan," kata Kevin, pura-pura serius.
"Mcd aja yuk. Gue pingin makan McD," kata Shanna santai.
"Jauh-jauh ke Bogor makan McD," Kevin terkekeh.
"Lo tadi tanya, gue jawab lo protes... mau gimana sih?" Shanna menatapnya, setengah kesal.
"Iya, iya... okay, tancap boss," kata Kevin nyengir, menekan gas.
Sebelum Kevin sempat bicara lagi, ponselnya berdering. Shanna melirik layar.
Marcha.
"Eh... sebentar ya. Biasanya kalau Marcha nelpon, penting," kata Kevin.
"Okay," jawab Shanna, penasaran.
Kevin mengangkat telepon. "Hallo, Cha."
"Vin... lo bisa ke kantor gue sekarang?" suara Marcha terdengar tegas.
"Eh... gue lagi di Bogor, baru aja pulang dari pengadilan. Kenapa?" kata Kevin, sedikit heran.
"Oh... ya udah deh. Gue cuma pengen ngobrol aja ama lo," kata Marcha.
Kevin tertawa kecil. "Woaw... apa gerangan ini? Marcha Sharapova Rusli ngajak gue ngobrol, dan bukan masalah kerjaan?"
"Ya, lo tau nasib kita 11-12. Jadi gue ngajak ngobrol," kata Marcha.
"Wait... nasib lo sama gue sama? Cha, lo salah satu pengusaha cewek paling sukses, duit lo berjibun, dari mana nasib kita 11-12?" Kevin melotot, setengah bercanda.
"Gue gak ngomongin materi, Vin. Gue paling gak suka ngomongin materi. Itu cuman duit," kata Marcha kesal.
"Oh... kalau gitu maksud lo masalah cinta?" Kevin menatapnya serius.
"Iya... kita..." Marcha mulai menjelaskan, tapi Kevin memotong, setengah shock.
"Wow... sebentar, itu juga kita beda. Deven cinta ama lo, sedangkan Shannon ke gue enggak," kata Kevin, melirik Shanna. Wajah Shanna memerah, setengah malu, setengah kesal. Shanna menatap Kevin, geleng kepala, dahi berkerut. Tidak setuju dengan apa yang Kevin katakan tapi kata-kata Marcha selanjutnya benar-benar membuat Kevin dan Shanna terdiam.
"Cinta itu gak bisa cuma kata-kata kalau buktinya gak ada," kata Marcha. "Shannon sama Deven mau nikah. Itu baru bukti nyata dari cinta, kan?"
Shanna menatap ekspresi Kevin—kecewa, sedikit sakit hati, tapi diam saja. Shanna sadar sekarang. Ia bahkan tidak perlu bersusah payah memberi tahu Kevin tentang pernikahannya dengan Deven. Marcha... entah dari mana, sudah memberitahu. Apakah Deven yang ngasih tau Marcha? Shanna bertanya-tanya dalam hati.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang