Married thing (Marcha)

87 8 2
                                        

Marcha bergerak pelan turun dari tempat tidur setelah memastikan Deven benar-benar terlelap. Ia duduk di tepi ranjang beberapa detik, menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit ia jelaskan sendiri, rambut Deven jatuh menutupi dahinya. Marcha tersenyum samar lalu dengan hati-hati menyingkirkan helai-helai rambut itu. Ujung jarinya berhenti di kening Deven kemudian tanpa sadar telunjuknya menelusuri garis wajah itu perlahan, melewati alis, hidung, hingga akhirnya berhenti di bibirnya.
Bibir Deven yang tanpa lipstik sudah tampak merah alami, seolah memang diciptakan untuk menggoda. Marcha menahan napas sesaat, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri, ia tak pernah seperti ini sebelumnya, tak pernah ada dorongan untuk sekadar mencuri kecupan atau ingin terus berada dalam pelukan seseorang tapi bersama Deven, rasanya berbeda. Setiap bertemu, ia ingin disentuh, ingin dikecup, entah di kening, pipi, atau... ya, bibir. Dan sepertinya Deven pun merasakan hal yang sama. Mereka selalu menemukan alasan untuk bersentuhan.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Marcha melirik layar dan mendesah pelan. Mami.
Ia berjalan keluar kamar menuju balkon agar tidak membangunkan Deven, lalu mengangkat telepon itu.
"Halo, Mi," sapanya pelan.
"Halo, Cha. Kamu di mana?" suara mami terdengar tegas seperti biasa.
"Di apart Deven. Kenapa, Mi?"
"Kamu jangan tidur terus di apart Deven, ya. Apa kata orang nanti? Kalian kan belum menikah."
Marcha memutar bola matanya walau mami tak bisa melihat. "Ini baru juga dua kali, Mi."
"Jadi hari ini kamu pulang?"
"Mungkin enggak. Marcha ada ketemu klien dan proyek di dekat apart Deven beberapa hari ini, jadi lebih praktis di sini."
"Hm. Kapan kamu pulang?"
"Sekitar tiga atau empat hari."
"Papi kamu sudah nanyain," lanjut mami. "Kamu tahu kan, meskipun Deven sudah bantu papi sampai kesehatannya pulih, papi kamu masih belum terlalu suka sama dia."
Marcha menghela napas pelan. "Marcha tahu tapi Marcha sama Deven bakal berusaha sampai bisa diterima papi. Mami tenang saja."
"Kalau kalian serius, tentu ada rencana menikah, kan?"
Marcha terdiam sesaat. "Hmm... belum sampai ke sana, Mi. Kami belum ngomong soal pernikahan."
Dan entah kenapa itu terasa aneh, mereka tak pernah benar-benar membahasnya... terlalu sibuk menikmati kebersamaan yang akhirnya kembali.
"Kamu sudah enggak muda lagi, Cha... kamu harus ajak Deven ngomong serius."
"Iya, Marcha ngerti tapi yang penting papi bisa terima Deven dulu, kan?"
"Kalau begitu, atur supaya Deven makan keluarga sama kita di rumah."
"Mi... kami benar-benar belum bahas nikah," ulang Marcha, kali ini dengan nada sedikit putus asa.
"Ya dibahas."
Marcha menutup mata sejenak. Mereka baru saja balikan. Deven bahkan baru gagal bertunangan. Apa ini waktu yang tepat? Ia yakin Deven butuh waktu, ia sendiri juga butuh waktu meski ia yakin dengan cintanya, tetap saja ada banyak hal yang harus mereka pikirkan... tempat tinggal, pekerjaan Marcha, pekerjaan Deven... siapa mengalah, siapa menyesuaikan?
"Cha, kamu paham kan maksud mami?" tanya mami lagi, lebih lembut.
"Paham, Mi nanti coba Marcha bahas sama Deven."
"Deven lagi apa?"
"Lagi tidur. Kemarin shift malam, baru pulang."
"Ya sudah, salam buat Deven.... kamu cepat pulang, dicari papi sama Ingvar."
"Iya, Mi. Oke, bye."
"Bye."
Telepon terputus. Marcha menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menghela napas panjang kalau sudah punya pacar, topik mami selalu sama... pernikahan dan pernikahan, bukan berarti ia tak ingin menikah dengan Deven, ia ingin, sangat ingin tapi mereka baru saja menemukan kembali manisnya rasa pacaran yang dulu sempat hilang. Ia masih ingin menikmati fase ini tanpa tekanan.
Marcha menoleh ke arah kamar dan tersenyum kecil saat melihat Deven masih tertidur pulas. Dokter terbaik di Indonesia itu tampak jauh lebih damai saat tidak sedang menyelamatkan nyawa orang.
Sebelum membahas pernikahan, mereka harus membahas realita. Soal tempat tinggal. Soal pekerjaan. Soal masa depan yang tidak sesederhana "aku cinta kamu".
Mungkin mereka akan bertengkar. Tapi bukankah lebih baik bertengkar sekarang daripada nanti? Setelah makan sedikit dan menyelesaikan meeting online dengan Deca serta beberapa direksi dan investor perusahaannya, Marcha kembali ke kamar. Ia menyelinap masuk ke dalam selimut dan berbaring di samping Deven tanpa sadar, tangannya mencari lengan Deven dan memeluknya pelan.
"Belum nikah juga sudah kayak lem," gumamnya lirih pada diri sendiri.
Beberapa menit kemudian, Marcha ikut tertidur, dengan segala pertanyaan tentang masa depan yang untuk sementara ia biarkan menunggu.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang