Real Problem (Kevin)

66 11 5
                                        

Kevin mendorong pintu bar dan melangkah masuk. Lampu redup, musik pelan, dan aroma alkohol bercampur dengan suara tawa orang-orang yang sedang melepas penat dari kejauhan ia sudah bisa melihat tiga temannya duduk di meja langganan mereka.
Deven.
Gogo.
Friden.
Tempat yang sama seperti biasa namun Kevin langsung menangkap sesuatu yang berbeda. Dari tiga orang itu, hanya satu yang wajahnya tampak seperti habis menanggung beban hidup.
Deven.
Gogo dan Friden? Hidup mereka terlalu santai untuk terlihat stres, paling mentok mereka pusing kalau kerjaan lagi sepi atau saham lagi turun sementara Deven...hidupnya memang selalu terasa lebih "normal". Ada kerjaan serius, keluarga, hubungan, tanggung jawab jadi kalau sesekali wajahnya terlihat lelah seperti sekarang, Kevin tidak heran.
Kevin mendekat lalu menepuk pundak Deven.
"Hallo dokter," katanya santai. "Kenapa muka lo capek banget? Kayak habis operasi sepuluh pasien sekaligus."
Deven menoleh, lalu tersenyum tipis ketika melihat Kevin.
"Hei, Vin. Lo baru dateng?" Ia memberi ruang di kursi sebelahnya. "Sibuk?"
Kevin duduk sambil melepas jaketnya "Lumayan sibuk gue," katanya. "Kasus baru banyak. Belum lagi gue lagi ngurus kasusnya Betrand." Ia menoleh menatap Deven dengan curiga. "Lo kenape, Pon?"
Seorang pelayan datang. Kevin memesan bir, lalu kembali melirik Deven yang sejak tadi hanya memutar gelasnya pelan. Es batu di dalamnya berdenting setiap kali gelas itu berputar. Deven lalu meneguk minumannya. Friden yang duduk di seberang mereka berdeham pelan.
"Mungkin tengkar sama Marcha," gumamnya.
Kevin langsung menoleh... mana mungkin. Tadi siang Kevin baru saja bertemu Marcha, wajah wanita itu cerah seperti biasa bahkan terlihat bahagia, walau memang ia tidak sempat membahas Deven atau hal-hal pribadi tapi Kevin tahu pasti—Marcha sedang baik-baik saja.
"Jangan gosip yang aneh-aneh, Den," kata Deven akhirnya. "Gue sama Marcha gak tengkar."
"Terus kenapa dari tadi muka lo kayak orang sakit?" tanya Gogo polos.
Deven menghela napas pendek. "Gue emang gak tengkar sama Marcha," katanya. "Tapi bukan berarti kita gak punya masalah."
"Nah kan!" Friden langsung menunjuk Deven. "Gue tau pasti masalah cewek, lo mana pernah pusing soal duit."
"Den..." Kevin menegur pelan.
Deven terkekeh kecil "Jujur aja ya," katanya sambil meneguk bir lagi. "Gue mending punya masalah sama duit daripada masalah sama cewek."
"Kenapa?" tanya Gogo.
"Duit bisa dicari."
"Cewek juga bisa dicari," sahut Friden cepat.
"Iya," kata Deven datar. "Tapi kalau yang dicari itu kayak Marcha, susah."
Meja itu langsung hening sebentar, Kevin menggeleng pelan.... romantis juga ternyata si dokter ini.
"Jadi kalau bukan tengkar," kata Kevin lagi, "masalahnya apa?"
Deven diam sebentar sebelum menjawab. "Keluarganya Marcha."
"Waow..." Friden bersiul pelan.
Deven langsung mengangkat telunjuknya "Kalian jangan sampai ngomong ini ke Marcha ya," katanya serius. "Gue gak mau dia jadi ada masalah sama bokapnya."
"Bokapnya lagi?" Gogo menggeleng. "Dia gak suka banget ya sama elo, Pon?"
Deven langsung menggeleng. "Bukan begitu, Go," katanya pelan. "Sebenernya ini juga salah gue."
Kevin mengernyit. "Maksud lo?"
Deven menghela napas lagi. "Masalah Shanna sama Marcha itu... sedikit banyak kebawa ke hubungan gue sama Marcha," katanya. "Terutama buat keluarga Marcha." Ia menatap gelasnya. "Marcha sendiri gak mau nambah masalah sama Shanna tapi berita Shanna nampar Marcha di depan umum... itu bikin keluarga Marcha gak seneng."
Kevin mengangguk pelan. "Wajar sih."
"Iya," kata Deven. "Dan mereka nyalahin gue."
"Lo kan gak nampar," kata Gogo.
"Gue tau," jawab Deven. "Tapi gue juga gak bisa sepenuhnya membela diri. Orang luar lihatnya tetap ada hubungannya sama gue." Ia tersenyum pahit "Gue mantan tunangannya Shanna."
Meja itu kembali hening beberapa detik.
"So..." kata Gogo akhirnya. "Keluarga Marcha ngomong apa ke lo?"
Deven mengusap wajahnya sebentar "Sebenernya mereka tetap setuju gue sama Marcha," katanya. "Bahkan... mereka udah mulai ngomongin soal pernikahan."
Friden langsung tegak "Serius?"
"Tapi..." lanjut Deven, "ada syarat."
"Nah tuh," kata Friden. "Udah pasti syaratnya gak gampang."
"Sebenernya... gampang," kata Deven. "Cuma gue gak yakin keluarga gue bisa nerima."
"Wah, masalah keluarga nih," kata Gogo. "Jangan bilang Marcha sama Anneth ternyata saudara juga."
Kevin langsung menoleh tajam "Ngaco lo," katanya. "Marcha dari Surabaya. Anneth dari Manado."
Gogo mengangkat bahu "Ya siapa tau, tadi Klepon bilang masalah keluarga."
"Gak sampai kayak gitu juga kali," kata Deven sambil tertawa kecil. "Ini bukan masalah besar... tapi ya... entahlah."
Kevin menyandarkan punggungnya "Cerita aja, Pon. Siapa tau kita bisa bantu mikir."
Deven menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Kemarin papi-nya Marcha bilang... kalau gue mau nikah sama anaknya..." Ia berhenti sebentar. "Setelah nikah, gue harus tinggal di rumah keluarga Marcha. Di rumah mereka."
Friden hampir menjatuhkan gelasnya. "What the—?!"
"Serius?" Gogo melotot.
"Serius."
Friden langsung menggeleng keras. "Ini syarat macam apa itu? Dia pikir lo gak punya duit? Rumah? Apart? Apa gimana sih?"
Deven mengangkat bahu "Sebenernya papi-nya Marcha punya alasan yang cukup masuk akal."
"Alasan apa?" tanya Kevin.
Deven menatap mereka satu per satu.
"Marcha itu... kalau pulang ke Indonesia selama bertahun-tahun ini... paling cuma dua kali," katanya pelan "Dan hampir gak pernah benar-benar tinggal di rumahnya sendiri."
Gogo dan Friden mulai diam.
"Waktu pertama pulang, dia memang tidur di rumahnya," lanjut Deven. "Tapi dia jarang banget ketemu papinya karena sibuk di kantornya sendiri sementara papinya di rumah sakit." Ia meneguk birnya lagi "Yang kedua... dia malah hampir terus nginep di apart gue."
Kevin tersenyum tipis. Ia ingat cerita itu.
"Padahal gue udah nyuruh dia pulang ke rumahnya," kata Deven. "Tapi ya... gimana ya." Ia mengangkat bahu lagi. "Kita nanti LDR lagi, gue juga seneng dia ada di apart gue." Deven menatap meja. "Tapi itu juga berarti... Marcha hampir gak punya waktu sama keluarganya sendiri jadi... kalian ngerti kan sekarang kenapa papi-nya pengen setelah nikah gue sama Marcha tinggal di rumah mereka?"
Gogo, Friden, dan Kevin terdiam, mereka benar-benar memikirkan itu... Kevin sendiri tahu cerita keluarga Marcha cukup dalam. Marcha memang tidak dekat dengan keluarganya dan ada alasan yang kuat untuk itu. Alasan itu...sebetulnya adalah Deven
Deven dan masa SMA juga masa kuliah nya, Kevin sebenarnya tahu satu hal lagi, keluarga Marcha memang ingin lebih dekat dengan anak perempuan mereka dan itu membuat Kevin kembali melirik Deven, sulit juga posisi temannya yang satu ini.
"Alasannya sih masuk akal," kata Gogo sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tapi lo gimana, Pon? Maksud gue... ini bukan hal yang sulit, tapi juga bukan hal yang gampang."
Friden langsung ikut nimbrung "Cewek aja ribet kalau harus tinggal satu rumah sama mertua," katanya. "Lah lo? Cowok? Gimana ceritanya?"
"Den, jangan nakut-nakutin Deven," kata Kevin sambil menatap Friden "Gimanapun juga nanti papi-nya Marcha bakal jadi keluarga Deven juga kalau mereka nikah."
"Iya sih," Friden mengangkat bahu. "Tapi tinggal bareng tuh... gesekannya banyak, Pon. Hal kecil aja bisa jadi ribet."
Kevin mengangguk pela "Dan Marcha bakal ada di tengah-tengah," lanjut Kevin. "Kalau ada masalah antara lo sama keluarganya, dia yang paling bingung." Ia memutar gelas birnya "Banyak pernikahan yang akhirnya cerai gara-gara hal sepele kayak gini. Mertua, tinggal serumah, ego kecil-kecil yang numpuk."
Friden langsung menunjuk Kevin. "Nah tuh! Lo yang nakutin Klepon, Vin. Payah lo."
Kevin terkekeh kecil. "Gue cuma ngomong kenyataan aja." Ia lalu menatap Deven dengan lebih serius. "Lo pikirin baik-baik syarat dari bokapnya Marcha, Pon. Apa ini hidup yang lo mau? Nikah terus tinggal sama keluarga Marcha, bisa aja semuanya lancar. Siapa tahu malah adem-ayem tapi dari pengalaman klien gue... biasanya harus ada satu pihak yang ngerem ego, ngerti kapan harus ngalah, Itu doang kunci rumah tangga bisa jalan lama."
Deven mengangguk pelan "Semua hubungan juga cara kerjanya gitu, Vin," katanya. "Gue sama Marcha juga begitu. Apalagi kita sering LDR."
"Ya kalau lo udah siap sama konsekuensinya," kata Kevin, "dan lo bisa sabar juga ngalah... gue rasa gak ada masalah lo tinggal di rumah mertua."
Deven menggeleng kecil. "Gue gak terlalu mikirin gimana hidup gue di rumah Marcha nanti," katanya. "Gue bisa ngalah." Ia berhenti sebentar lalu menghela napas "Yang gue pikirin justru keluarga gue."
"Bokap lo?" tanya Gogo.
Deven mengangguk. "Bokap gue orangnya emang pendiam," katanya. "Tapi kalau soal prinsip laki-laki... dia keras." Ia menatap meja. "Gue gak yakin dia bakal setuju anaknya tinggal di rumah keluarga istri."
Gogo langsung menatap Deven dari atas sampai bawah "Ya... kalau dipikir-pikir sih masuk akal," katanya. "Gue juga bisa lihat sifat bokap lo nurun ke lo, Dev."
Kevin tersenyum tipis. "Kalau lo jelasin alasannya dengan baik, gue rasa bokap lo bakal ngerti," kata Kevin. "Lagipula yang jalanin pernikahan ini lo sama Marcha, bukan bokap lo."
Deven terdiam beberapa detik lalu akhirnya ia tersenyum tipis.
"Iya juga ya," katanya pelan. "Ntar gue coba ngomong sama keluarga gue."
Gogo langsung menyeringai. "Wah... ini berarti kita bentar lagi datang ke acara tunangan Klepon lagi nih."
Deven langsung tertawa kecil. "Kayaknya... gak bakal ada acara tunangan lagi deh."
Kevin mengernyit "Lho?"
"Yang kemarin itu aja ribet banget gara-gara Shanna," kata Deven sambil menggeleng. "Gue gak mau ngalamin drama kayak gitu lagi."
"Terus?" tanya Kevin bingung.
Deven hanya tersenyum misterius "Hmmm."
Friden langsung menunjuknya "Wah, sok misterius dan romantis lo sekarang, Pon."
Gogo ikut tertawa "Pantes aja si Marcha klepek-klepek."
Kevin baru saja mau ikut menimpali ketika tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja "Wah ini—" Ia melihat layar ponselnya. Nama yang muncul membuat alisnya sedikit terangkat.
Betrand.
Ada apa lagi?
"Bentar, gaes," kata Kevin sambil berdiri. "Betrand."
Ia berjalan keluar dari bar agar tidak terlalu bising, lalu mengangkat teleponnya.
"Halo, Bet," sapa Kevin.
Suara Betrand terdengar agak tegang di seberang sana.
"Vin, lo bisa ke rumah gue sekarang?" katanya cepat. "Anneth mau ketemu gue. Dia mau ngomong soal tuntutan gue ke dia."
Kevin menghela napas pelan jadi Shanna benar-benar sudah bicara dengan Anneth.
"Dia minta jalan damai," lanjut Betrand.
Kevin menatap ke arah jalan sebentar.
"Okay," katanya akhirnya. "Gue ke tempat lo sekarang. Lima belas menit lagi gue sampai."
"Okay. Thanks, Vin."
Telepon pun terputus. Kevin kembali masuk ke dalam bar dan menatap tiga temannya. Baru juga datang... eh malah dia yang pulang duluan tapi mau bagaimana lagi.... Kerja tetap kerja.
"Gue cabut dulu," kata Kevin sambil mengambil jaketnya. "Ada urusan."
"Baru dateng udah pergi?" kata Gogo.
"Nasib orang penting," sahut Friden.
Kevin mendengus "Nasib orang kerja," koreksinya.
Lalu ia melambaikan tangan sebelum berjalan keluar dari bar.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang