"Vin, ini kamu makan lagi." Papi menatap Kevin sambil menambahkan lauk ke piringnya tanpa aba-aba.
"Pi... itu ayam ketiga." Kevin tertawa kecil, tapi tetap menerima sendok nasi tambahan dari papi.
"Cowok kerja kayak kamu harus banyak makan," sahut papi santai.
"Makanya tinggal di rumah. Badannya jadi kurus begitu," timpal mami dari seberang meja.
Kevin nyaris tersedak "Mami, ini badan ideal," protesnya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Pengacara kalau gendut nanti susah lari dari wartawan."
"Memang sekarang sering dikejar wartawan?" tanya mami polos.
Kevin langsung diam.
Papi malah tertawa kecil. "Pasti gara-gara kasus artis itu lagi."
Kevin baru mau menjawab ketika ponselnya bergetar di meja makan. Nama Deven muncul di layar. Kevin langsung mengangkat telepon itu.
"Halo."
"Halo Vin," terdengar suara Deven di seberang.
"Nape lo telepon gue, Pon?" tanya Kevin santai sambil bersandar di kursi.
"Lo ada di mana?"
"Di rumah keluarga gue," jawab Kevin. "Hari ini mami gue ulang tahun."
"Oh..." Deven terdengar sedikit salah tingkah. "Salam buat mami lo ya. Selamat ulang tahun."
Kevin melirik maminya sebentar lalu tersenyum kecil "Ya, thanks Dev."
"Lo lagi makan?" tanya Deven.
"Iya lah. Masa ulang tahun mami gue gue disuruh puasa."
Papi melirik Kevin heran karena tiba-tiba anaknya nyengir sendiri.
"Elo telepon gue ada masalah apa?" lanjut Kevin.
Deven menghela napas pelan "Gue mau tanya tentang Marcha."
Kevin langsung mengangguk kecil sendiri "Hmmm... udah gue duga."
"Dia ada di Paris, Dev," lanjut Kevin.
"Gue tau Marcha di Paris," sahut Deven cepat. "Dia ada hubungi elo?"
"Setengah jam yang lalu baru telepon gue." Kevin mengambil gelas minumnya. "Kenapa?"
Deven diam sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan "Gue gak bisa hubungi dia... kayaknya kali ini Marcha marah beneran sama gue."
Kevin langsung menurunkan gelasnya "Kalian tengkar?" tanyanya kaget.
"Emang Marcha gak cerita sama lo?"
"Gue sama dia tadi cuma bahas kerjaan," jawab Kevin. "Masalah personal jarang banget dia ceritain."
Deven terdengar menghela napas lagi.
"Gue pikir dia ngomongin gue ke elo."
"Enggalah," kata Kevin santai. "Marcha itu orangnya jaga privasi banget. Mau lagi bahagia, lagi nangis, lagi ngamuk... mukanya tetep kayak dosen killer."
Papi yang duduk di sebelah Kevin melirik heran "Siapa dosen killer?" bisiknya ke mami.
Mami mengangkat bahu.
"Emang kalian ada masalah apa?" tanya Kevin lagi.
"Masalah sepele sih..." jawab Deven pelan. "Tapi kayaknya gue udah keterlaluan."
Kevin langsung menyeringai jahil "Wah... putus nih?"
"Hush!" Deven langsung protes. "Gue gak putus sama Marcha. Enak aja lo ngomong."
Kevin tertawa kecil "Dia gak angkat telepon lo?"
"Dia marah," jawab Deven. "Tapi kita gak putus."
"Hmmm..." Kevin mengangguk pelan sambil mengambil minum lagi. "Lo mau nanya ini doang?"
"Enggak sih," kata Deven cepat. "Ada hal lain yang mau gue tanya, tapi gue perlu ketemu elo."
"Nanya apa?"
"Bisnis keluarga Marcha."
Kevin langsung berhenti mengunyah, keningnya berkerut.
"Kenapa lo tiba-tiba nanya masalah sensitif beginian, Dev?" tanyanya serius. "Maksud gue... bisnis keluarga Marcha itu urusan keluarga mereka."
"Gue mau tau sesuatu," jawab Deven pelan. "Dan gue yakin cuma elo yang tau."
Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melirik keluarganya yang masih sibuk makan "Masalah hukum?" tanyanya hati-hati.
"Kurang lebih."
"Lo bikin gue takut, Pon."
"Makanya gue gak bisa ngomong di telepon."
Kevin menghela napas pendek "Kapan lo mau ketemu?"
"Kalau bisa malam ini."
Kevin menatap jam di dinding lalu melirik maminya yang sedang sibuk memotong kue ulang tahun "Hmmm..." Kevin berpikir sebentar. "Ya udah. Nanti gue cabut habis acara keluarga selesai."
"Thanks Vin."
"Tapi kalau ternyata lo cuma mau curhat cinta lagi..." kata Kevin datar, "gue tagih konsultasi per jam."
Deven tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak menelepon "Anjir. Temen sendiri dipalak."
"Pengacara, bro," jawab Kevin santai. "Apa pun bisa jadi duit."
Kevin berdiri di tepi pagar pembatas pelabuhan kecil itu, menatap hamparan laut yang memantulkan cahaya lampu kota malam hari. Angin berembus cukup kencang sampai jas hitamnya bergerak pelan. Di belakangnya terdengar derap langkah kaki mendekat. Kevin melirik sekilas lalu mendengus kecil saat melihat Deven datang dengan tangan masuk ke saku celana.
"Lo napa ngajak gue ke sini, Vin?" tanya Deven bingung. "Lo pikir kita lagi ada di film mafia?"
Kevin langsung tertawa pelan "Imajinasi lo tinggi banget." Ia menoleh ke arah laut lagi. "Gue ajak lo ke sini supaya lo gak minum dan gak mabok. Gue yang repot ntar kalau lo tumbang lagi."
Deven ikut tertawa kecil sambil berdiri di sebelah Kevin "Gue pikir lo mau nyuruh gue buang mayat."
"Nanti aja kalau lo udah nikah sama Marcha," balas Kevin santai.
"Halah."
Angin malam kembali berembus di antara mereka sebelum Kevin akhirnya menoleh.
"So," katanya, "lo mau nanya apa tentang Marcha?"
Deven langsung berubah serius "Lo ada telepon dia lagi hari ini?"
"Gak ada," jawab Kevin. "Dia lagi sibuk sama investor. Katanya ada proyek di Alaska."
Deven langsung menoleh cepat "Dia ke Alaska? Kapan balik Paris?"
Kevin memicingkan mata "Lo khan cowoknya. Kok malah tanya gue?"
Deven menghela napas panjang "Gue tengkar sama Marcha," katanya pelan. "Sampai sekarang dia gak mau ngomong sama gue."
"Lo telepon lah," kata Kevin santai. "Lo cowok, Dev."
"Gak diangkat, Vin." Deven menatap laut lagi. "Gue tiap hari telepon dia."
Kevin mulai merasa situasinya serius "Udah berapa hari?"
"Dua hari."
"Hooo..." Kevin mengangguk pelan. "Lumayan. Itu udah masuk level bahaya."
"Thanks banget bikin gue makin tenang."
Kevin tertawa kecil sebelum kembali bertanya, "Emang kalian tengkar karena apa sih?"
Deven akhirnya menceritakan semuanya. Mulai dari pertengkaran soal pekerjaan Marcha, tentang dirinya yang merasa bukan prioritas, sampai telepon terakhir yang diputus sepihak oleh Marcha, begitu selesai mendengar, Kevin langsung menatap Deven seperti melihat pasien aneh.
"Lo aneh banget ya," katanya akhirnya.
"Hah?"
"Lo bandingin karier dia sama karier lo." Kevin menggeleng pelan. "Ya jelas dia marah."
"Tapi dia juga gak harus ngediemin gue kayak gini," protes Deven. "Kita bisa ngobrol baik-baik."
"Lo juga ngilang duluan waktu dia butuh jawaban."
Deven terdiam sebentar.
"Iya sih..." gumamnya pelan. "Gue juga kepikiran itu."
"Nah."
"Tapi ini udah dua hari, Vin."
Kevin melirik Deven yang wajahnya mulai kelihatan stres lagi "Lo minta bantuan gue apa sekarang?"
"Lo bisa bantu gue telepon Marcha?"
Kevin langsung menyipitkan mata "Bisa sih bisa..." katanya pelan. "Tapi gue gak mau bikin Marcha ngamuk sama gue juga."
"Gue janji bakal sabar," kata Deven cepat.
"Kalimat kayak gitu biasanya diucapin orang sebelum bikin masalah."
"Vin..."
"Iya iya."
Kevin akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari kontak Marcha. Namun sebelum sempat menekan tombol telepon—
"Vin," panggil Deven tiba-tiba.
"Hm?"
"Bisnis keluarga Marcha... pernah ngelakuin pencucian uang gak?"
Jari Kevin langsung berhenti. Ia perlahan menoleh ke arah Deven "Kenapa lo tanya beginian?"
Deven tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ombak yang bergerak pelan di bawah cahaya malam.
"Well..." Ia menarik napas. "Kalau gue nikah sama Marcha, gue bakal dapet lima belas persen saham keluarga mereka."
Kevin diam.
"So gue perlu tau," lanjut Deven, "apa bisnis keluarganya pernah ngelakuin hal kriminal atau enggak."
Kevin tiba-tiba nyengir tipis. "Sebenernya lo ngajak gue keluar buat nanya ini khan?"
Deven ikut tersenyum kecil "Ya masa gue ganggu pengacara terkenal cuma buat disambungin telepon sama pacar."
"Nah gitu dong jujur."
Kevin memasukkan lagi ponselnya ke saku sebelum bersandar ke pagar "Dulu..." katanya pelan, "memang pernah ada masalah kayak yang lo bilang."
Mata Deven langsung melebar.
"Tapi," lanjut Kevin cepat, "itu bukan bokapnya Marcha yang ngelakuin."
"Maksud lo?"
"Omnya Marcha." Kevin menghela napas. "Dan bokapnya Marcha waktu itu gak tau."
"Om yang mana?" tanya Deven bingung. "Gue kenal semua omnya."
Kevin terkekeh pelan "Karena yang masuk penjara bukan omnya."
Deven langsung menoleh cepat "Hah?"
"Mereka nyari kambing hitam," jawab Kevin datar. "Pegawainya yang dipenjara."
Wajah Deven langsung berubah tegang "Anjir..."
"Tapi dengar dulu," potong Kevin cepat. "Itu dulu. Sebelum Marcha sama Ingvar ambil alih banyak urusan bisnis keluarga."
Deven masih diam mendengarkan.
"Sekarang semua bisnis mereka bersih," lanjut Kevin. "Dan gue berani jamin itu."
"Lo yakin?"
Kevin langsung melirik tajam "Lo gak percaya sama Marcha?"
"Bukan gitu..."
"Dev." Kevin memotong serius. "Marcha itu mungkin keras kepala, sibuk, nyebelin kalau lagi kerja... tapi dia bukan tipe orang yang bakal nyentuh hal ilegal."
Deven menghela napas pelan.
"Gue percaya sama dia," katanya akhirnya. "Gue cuma harus mikir kalau nanti nikah... setidaknya hidup gue gak hancur gara-gara masalah hukum."
Kevin menatap Deven beberapa detik lalu tertawa kecil "Kalau Marcha denger lo ngomong begini, dia pasti sakit hati."
"Makanya jangan bilang."
"Tenang aja." Kevin mengangkat tangan. "Gue masih pengen hidup."
Deven ikut tertawa kecil.
"Tapi..." lanjut Kevin lebih serius, "lo emang harus hati-hati sama keluarga besarnya Marcha."
Deven menoleh.
"Mereka bukan orang jahat," kata Kevin. "Cuma... kadang keserakahan bikin orang lupa batas."
Deven mengangguk pelan.
"Apalagi nanti lo punya saham lima belas persen," lanjut Kevin. "Lo itu orang luar yang masuk ke lingkaran keluarga mereka."
Deven menghela napas panjang "Yeah..." katanya pelan. "Masalah keluarga kayaknya emang gak bisa dihindarin."
"Welcome to marriage life."
"Lo ngomong kayak orang udah nikah aja."
"Gue pengacara." Kevin mengangkat bahu. "Tiap hari gue ngurusin orang nikah, cerai, rebutan harta, rebutan anak, rebutan sendal juga mungkin bentar lagi ada."
Deven akhirnya tertawa beneran.
"Nah gitu ketawa," kata Kevin. "Mukanya tadi kayak pasien gagal operasi."
"Anjir."
Kevin akhirnya kembali mengeluarkan ponselnya "So..." katanya sambil membuka kontak Marcha. "Lo jadi mau telepon dia?"
Deven langsung mengangguk "Iya... coba lo telepon."
Kevin menekan tombol panggil lalu mengaktifkan speaker, tak lama kemudian sambungan tersambung.
"Halo Cha," sapa Kevin santai.
"Vin, urusan gue di sini belum selesai," jawab Marcha cepat dari seberang. "Nanti kalau udah selesai gue telepon lo lagi dan—"
"Ini gue sama Deven," potong Kevin. "Dia mau ngomong sama lo."
Hening sesaat. Lalu—
"Ngapain lo sama Deven?" tanya Marcha curiga.
Kevin menahan senyum.
"Bisa kita ngomong?" tanya Deven hati-hati.
"Mau apa lo, Dev?" tanya Marcha dengan nada tinggi.
"Cha..." Deven menarik napas pelan. "Gue minta maaf. Masalah kemarin itu gue salah."
Dan sebelum Kevin mendengar jawaban Marcha lebih lanjut—Deven sudah berjalan menjauh sambil membawa ponselnya. Kevin mendengus pelan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Yaelah," gumamnya sendiri. "Disuruh jadi operator cinta."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
