ketulusan (Marcha)

85 3 0
                                        

Gaun berwarna pink gradasi putih—hasil rancangan Marcha untuk koleksi musim panas brand fashion-nya tahun depan—terlihat begitu indah ketika membalut tubuhnya.

Potongannya mengikuti lekuk tubuh Marcha dengan elegan, membuatnya terlihat anggun tanpa kehilangan kesan modern.

Marcha berdiri di depan cermin, memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.

Kemudian pandangannya berhenti pada tangannya.

Senyum kecil muncul di wajahnya ketika ia menyentuh cincin yang masih tersimpan di dalam kotak perhiasannya.

Cincin itu adalah cincin pertunangan dari Deven.

Selama mereka berpisah, Marcha tidak pernah benar-benar membuangnya. Ia sempat menggantungkannya di leher, bukan karena mereka masih bertunangan, tetapi karena ia belum sanggup menganggap cincin itu hanya sebagai bagian dari masa lalu.

Sekarang, cincin itu masih berada di sana.

Tidak di jarinya.

Namun untuk pertama kalinya, Marcha tidak merasa perlu memaksakan apa pun.

Ia dan Deven memang belum kembali menjadi pasangan.

Mereka hanya kembali menjadi dua orang yang saling mengenal terlalu baik untuk berpura-pura menjadi orang asing.

Mereka berteman.

Teman baik.

Dan meskipun tidak pernah ada pembicaraan serius tentang masa depan, ada satu hal yang diam-diam mereka pahami.

Kalau suatu hari nanti mereka sudah sama-sama siap...

Dan kalau memang mereka berjodoh...

Mereka akan saling menunggu.

Tidak ada janji yang diucapkan.

Tidak ada batas waktu.

Tidak ada kepastian.

Hanya sebuah kemungkinan yang sama-sama mereka simpan.

Marcha mengambil kotak cincin itu dan memasukkannya kembali ke laci.

"Belum waktunya," gumamnya pelan.

Tok. Tok. Tok.

"Cha, Deven udah datang."

Suara mami terdengar dari balik pintu.

"Ya, Mi. Sebentar."

Marcha mengambil clutch-nya, lalu menatap dirinya sekali lagi di cermin.

"Oke."

Ia menarik napas kecil.

"Let's go."

Ia kemudian keluar dari kamar.

Begitu sampai di ruang tamu, Marcha langsung mencari sosok yang ditunggunya.

Tidak ada.

Keningnya berkerut.

"Deven mana?"

Belum sempat maminya menjawab, pintu kamar papi terbuka.

Ingvar keluar dari sana.

"Nyari Kak Deven, Kak?"

Marcha mengangguk.

"Iya. Deven mana?"

"Di kamar Papi."

Marcha semakin bingung.

"Di kamar Papi?"

"Iya. Lagi periksa Papi."

"Periksa Papi?"

Wajah Marcha langsung berubah khawatir.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang