Di studio musik milik James Adams, Shanna dan Anneth duduk berdampingan di sofa panjang dekat ruang rekaman. Headphone masih melingkar di leher mereka. Shanna menatap layar ponselnya lama, lalu menghela napas berat.
"Jadi... Deven nggak bisa jemput?" tanya Anneth, menoleh.
Shanna menggeleng. "Shift malam. Dunia malam memanggil dia lebih dulu daripada gue."
Anneth mendengus pelan. "Betrand harusnya bisa, tapi entah kenapa cowok-cowok tuh kalau soal karier langsung amnesia. Kita selalu nomor dua."
"Eh, jangan gitu," Shanna menimpali, lebih kalem. "Cowok tanggung jawabnya gede, Neth. Nggak cuma mikirin pacar. Kalau udah punya keluarga—"
"—iya, iya, aku tau. Cowok selalu punya pembelaan," potong Anneth sambil memutar mata.
"Hei kalian."
Suara itu. Shanna langsung memutar bola mata, malas tapi refleks, lalu menoleh. Kevin berdiri santai di depan mereka, satu tangan di saku celana, gaya sok penting.
"Lo ngapain di sini, Vin?" tanya Anneth curiga.
"Ketemu klien," jawab Kevin ringan.
"Klien?" Mata Anneth langsung membulat. "Siapa? Ada yang mau cerai?"
Kevin menarik napas panjang, menatap Anneth dengan ekspresi campur aduk antara lelah dan tersinggung "Neth... serius? karir gue nggak isinya kawin-cerai doang."
"Terus klien apaan?" kejar Anneth polos.
"Rahasia," kata Kevin sambil mendekat dan menurunkan suara. "Profesional ethics."
Shanna terkekeh. "Padahal nggak mau diceritain."
Kevin mendecak. "Terus kalian ngapain di sini?"
"Habis rekaman single duet," jawab Shanna. "Sekarang mau ke ulang tahunnya Dylan."
"Dylan Bradley?" alis Kevin terangkat. "Lo kenal Dylan?"
"Lo juga kenal?" Shanna balik kaget.
"Ya iyalah. Siapa sih yang nggak kenal Dylan?" Kevin nyengir. "Gue juga mau ke sana."
Anneth langsung sigap. "Kita boleh ikut lo nggak?"
Kevin menyipitkan mata, lalu sengaja menatap Shanna. "Cowok-cowok kalian ke mana?"
Shanna dan Anneth saling pandang.
"Deven shift malam," jawab Shanna.
"Betrand ada acara keluarga," sambung Anneth.
Kevin langsung tertawa kecil. "Pacaran rasa jomblo. Rasa asem, pahit, getir."
"Daripada beneran jomblo," balas Shanna tajam.
"Oh, sekarang nyerang?" Kevin pura-pura tersinggung.
"Gue cuma ngomong fakta."
"Fakta juga kalau lo jomblo," Shanna nyengir.
"Gue punya pacar!" bantah Kevin cepat.
"Buktiin!" Shanna tertawa.
Kevin mendengus. "Ntar juga gue buktiin." Lalu menoleh ke Anneth. "Jadi... ikut gue ke pestanya Dylan atau nggak?"
"Emang nggak apa-apa?" Anneth ragu.
"Ngapain nggak?" kata Kevin santai. "Sekarang kan?"
"Iya, mau kapan lagi?" Shanna ikut tertawa.
"Siapa tau kalian mau ke salon dulu," celetuk Kevin.
Shanna menaikkan alis. "Menurut lo kita kurang pantas datang ke pesta Dylan kayak gini?"
"Bukan gitu," Kevin cepat-cepat membela diri. "Kalian cantik natural... gue jadi bingung, ini udah salon atau belum."
Shanna tertawa lepas. "Alasan lo makin ngaco."
"Makanya jangan ditanya," balas Kevin.
"Ya udah," kata Shanna sambil berdiri. "Yuk."
Kevin melangkah lebih dulu, nyengir puas "Tenang aja. Malam ini, gue yang jadi cowok paling bisa diandalkan."
Shanna mendengus. "Sementara."
Kevin tertawa.
Di dalam mobil
Sebenarnya Kevin sempat bilang Shanna duduk di depan. Bukan karena Anneth nggak boleh, tapi... ya karena Kevin lebih kenal Shanna. Lebih dekat. Lebih nyaman tapi Shanna malah mendorong Anneth ke kursi depan dan memilih duduk di belakang. Kevin nggak protes. Tapi dari spion, matanya sempat melirik—sedikit heran, sedikit kecewa, tapi ditelan sendiri. Keheningan di dalam mobil akhirnya pecah.
"Jadi," Anneth membuka suara, "lo beneran tadi bukan ngurusin kawin-cerai artis?"
"Enggak lah," jawab Kevin cepat. "Gue pengacara apaan ngurus kerjaan receh begitu."
"Kawin cerai itu bukan receh, Vin," bantah Anneth. "Ada hak asuh anak, harta gono-gini—"
"Iya, iya," potong Kevin. "Tapi orang sekarang tuh nggak buta hukum. Nikah udah tau artinya apa. Perjanjian pra nikah udah disiapin dari awal. Jadi kalau akhirnya ribut, buat gue mah... teknis doang."
"Sombong amat," komentar Anneth.
"Emang," sahut Shanna dari belakang. "Makin kenal, makin sombong."
Kevin nyengir, melirik ke spion. "Tapi lo masih mau temenan sama gue."
"Emang kita temen?" Shanna balik nanya santai.
Kevin berhenti setengah detik. "Emang bukan?"
"Udah Shan," Anneth menengahi, "ntar kita diturunin di lampu merah kalau lo nggak ngakuin dia temen."
"Lo sebaper itu, Vin?" Shanna terkekeh.
Kevin angkat bahu. "Menurut lo?"
Shanna dan Anneth langsung ketawa.
"Asik juga ya temen lo," kata Anneth ke Shanna.
Kevin langsung protes. "Hei, gue bukan temen lo?"
"Kita belum kenal," jawab Anneth polos. "Dulu SMA juga cuma satu tongkrongan. Gue taunya lo dari TV. Pengacara kawin-cerai artis."
Lampu merah. Kevin berhenti, lalu menoleh ke Shanna dengan wajah pasrah.
"Harus ya temen lo nyebelinnya kayak lo gitu, Shan?"
"Harus," jawab Shanna sambil ketawa. "Gue sama Anneth satu spesies."
"Kenalan ulang dong," kata Anneth, mengulurkan tangan. "Gue Anneth."
"Gue tau," kata Kevin nyengir, sama sekali nggak menjabat tangan itu "Dan gue juga tau elo dari TV. Jadi nanti kalau suatu hari lo mau cerai sama suami, hubungi gue ya."
"Pala lo peang!" Shanna langsung nyundul kepala Kevin dari belakang.
"Lah salah gue?" Kevin membela diri. "Wawasan dia tentang gue kan itu."
Belum sempat Shanna balas, klakson di belakang meraung. Lampu hijau. Kevin kembali fokus nyetir.
"Ngomong-ngomong," katanya santai, "Neth... lo mantannya Deven, kan?"
"Ini ghibah basi baru mau diangkat sekarang?" Anneth mendengus.
"Gue bukan ghibah," bantah Kevin. "Gue cuma pengen tau rasanya temenan sama pacarnya mantan."
"Lo pengacara atau admin lambe?" Anneth menyindir.
"Side job," celetuk Shanna sambil ketawa.
"Gue nggak nanya elo," kata Kevin. "Jadi gimana, Neth?"
"Eh, gue yang lagi digibahin," Shanna protes. "Kok pendapat gue nggak dihitung?"
"Ssst. Berisik," kata Kevin santai.
"Biasa aja sih," jawab Anneth akhirnya. "Gue sama Deven temenan."
"Ooh... temen," Kevin melirik spion ke Shanna. "Lo nggak masalah?"
"Sekarang lo inget nanya gue?" Shanna menyipitkan mata.
"Kalau nggak mau jawab juga nggak apa," kata Kevin terkekeh. "Gue cuma nanya."
"Udah," Shanna mendesah. "Lo nyetir aja. Jangan manasin."
Kevin tertawa kecil dan mobil kembali melaju di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
⸻
Pesta ulang tahun Dylan Pestanya ramai. Wajar—Dylan Bradley siapa sih yang nggak kenal? Pengusaha sekaligus aktor baru yang namanya naik cepat, kayak orang menang panjat pinang tanggal 17-an. Shanna langsung diseret suasana. Banyak wajah lama.
"Shan!"
"Eh, La! Sia!"
Shanna memeluk Clarice dan Anastasia.
"Cieee," goda Clarice. "Udah ada Deven, masih gandeng Kevin juga."
"Mulut dijaga," Shanna tertawa. "Gue sama Kevin temenan. Tadi ketemu nggak sengaja, barengan ke sini sama Anneth."
"Deven ke mana?" tanya Anastasia.
"Shift malam."
"Jagain bokapnya Marcha?" Clarice menebak.
"Pasien Deven nggak cuma bokap Marcha," jawab Shanna. "Eh, Marcha kenal Dylan juga kan? Kok dia nggak datang?"
"Bokapnya sakit, Shan," kata Clarice. "Mana mungkin dia pesta-pesta."
"Wah bahaya," Anastasia nyeletuk. "Jagainnya bareng Deven dong. Bisa CLBK."
"Ngomong tuh mikir," Shanna mendengus. "Gue percaya sama Deven dan Marcha."
Clarice dan Anastasia tertawa.
"Anneth mana?" tanya Clarice.
Shanna menoleh. Anneth sedang ngobrol dengan Kevin. Dan... Kevin tertawa. Akrab banget. Entah kenapa, dada Shanna terasa agak sesak.
"Waow," Clarice berkomentar. "Anneth sama Kevin."
"Betrand ditaruh mana nih?" Anastasia ikut menggoda "Tapi Kevin macho sih. Wajar kalau Anneth kepincut."
Shanna mengambil gelas di meja terdekat dan meneguk isinya tanpa lihat.
"Hueeek!" Shanna langsung memeletkan lidah. "Apaan ini?!"
"Cocktail," kata Clarice ketawa. "Blue Sky."
"Nggak enak."
Clarice mencoba. "Enak kok. Lo aja nggak biasa."
"Gue mau!" Anastasia ikut nyomot.
Shanna cuma geleng-geleng.
"Hei gaes," sapa Anneth, mengambil gelas Shanna dan meneguknya "Huekkk! Oke, ini nggak enak."
"Nah!" Shanna tertawa puas. "Akhirnya ada yang sepaham."
"Kevin mana?" Shanna baru sadar.
"Keluar," jawab Anneth. "Katanya mau ngerokok."
"Kevin... ngerokok?" Shanna terkejut.
"Iya."
Shanna mengernyit. Kevin dulu nggak ngerokok. Entah mana yang lebih mengganggu pikirannya sekarang—Marcha di rumah sakit bareng Deven, Anneth yang terlihat terlalu dekat dengan Kevin,atau fakta kecil bahwa Kevin sekarang merokok. Yang jelas, dari semua kekacauan itu, satu nama terus muncul di kepalanya.
Kevin.
Shanna menghela napas pelan. Ini kenapa, sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
