"Ini yang terbaik," ujar mama Deven pelan ketika mobil melaju meninggalkan hotel, menembus kerumunan Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.
Deven diam. Ia bahkan tak yakin harus berkata apa. Kepalanya masih berdengung oleh kejadian barusan—wajah-wajah terkejut, bisik-bisik wartawan, kamera yang terangkat terlalu cepat. Memalukan. Bukan—memilukan.
Besok, semua berita TV dan media sosial akan penuh dengan satu kalimat yang sama: Pertunangan Deven dan Shanna batal.
Kalau hanya sebatas pembatalan, mungkin Deven masih bisa bernapas lega tapi bagaimana jika alasan di baliknya ikut terkuak? Masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam akan digali lagi. Luka lama—yang sudah ia kunci rapat—dibongkar, dipamerkan, diadili ulang dan Deven tahu... rasa perih itu akan kembali.
Ia hampir berhasil melupakan Anneth. Itu sudah bertahun-tahun lalu, dan ia lelah—muak—dengan kisah itu. Terlebih jika ia harus kembali berurusan dengan mami Anneth. Alasan utama hubungannya dengan Anneth hancur bukanlah mereka berdua. Itu maminya Anneth.
"Itu tadi... Marcha ya, dek?" Mama Deven akhirnya membuka suara, mencoba mengalihkan topik. Matanya menatap Deven yang sejak tadi memandang keluar jendela.
Deven hanya mengangguk kecil.
"Cantik banget ya," lanjut mama, seolah berbicara ringan.
Deven tetap diam.
"Bukannya dia di Paris? Udah pulang ke Indonesia?" tanya mama lagi. "Kamu gak pernah cerita sama mama."
Masih tak ada jawaban.
"Sebetulnya Kak Amel udah bilang ke mama beberapa minggu lalu," potong Amel hati-hati. "Kalau Marcha udah balik ke Indo, kan, Ma?"
"Iya," sahut mama pelan, "tapi mama gak tau itu Marcha... cewek yang dulu pernah jadi pacar adek."
Deven akhirnya menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia mengusap rambutnya kasar, membuatnya semakin berantakan.Ia tahu—ia tidak mencintai Shanna tapi bohong besar kalau ia tidak menyayanginya. Shanna memberi kasih yang tak pernah benar-benar bisa ia balas dan Deven tidak pernah—tidak pernah—bermimpi menyakitinya seperti ini.
"Dek..." Mama Deven akhirnya memegang pundaknya. "Mama minta maaf."
Deven menarik napas panjang, lalu menoleh "Adek gak nyalahin mama," katanya pelan. "Adek tahu mama cuma gak mau adek sakit lagi... kayak dulu."
Mama mengangguk, matanya berkaca-kaca "Bagus kalau adek bisa paham. Mama cuma mau yang terbaik buat kamu."
"Iya," Deven mengangguk kecil. "Tapi adek juga mau mama paham... Shanna bukan orang jahat. Sama kayak Anneth juga bukan orang jahat." Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, suaranya berat "Anneth cuma salah ambil keputusan dan orang yang pernah salah gak bisa dihakimi seumur hidup seolah dia bakal terus salah. Anneth udah minta maaf. Adek udah maafin. Harusnya... selesai sampai di situ."
"Tapi kamu gak bisa nikah sama Shanna," jawab mama tegas tapi lelah, "dengan keluarganya yang masih sedeket itu sama keluarga Anneth. Mama gak sanggup."
Deven mengangguk "Iya. Deven paham." Ia tersenyum tipis. "Mama tenang aja. Deven gak nyalahin mama."
Amel menoleh menatap adiknya "Lo maafin Anneth. Tapi... lo bisa maafin mami-nya Anneth?"
"Itu satu paket, Kak," jawab Deven tanpa ragu. "Gue maafin semuanya." Ia menatap lurus ke depan. "Kalau kita terus hidup di masa lalu, kita gak bakal pernah maju. Gue gak mau hidup gue habis cuma buat ngelap debu masalah lama."
Mobil hening beberapa detik.
"Jadi sekarang gimana?" tanya papa Deven akhirnya.
Deven menghela napas "Gue cuma bisa mengakhiri hubungan sama Shanna." Ia tersenyum pahit. "Emang gue punya pilihan lain? Gue pasti milih keluarga."
Mama Deven kembali menggenggam pundaknya "Sekali lagi... maafin mama ya, dek."
Deven menggeleng pelan "Adek gak nyalahin mama. Mungkin... emang bukan jodohnya."
"Dek—"
Belum sempat papa, mama, atau Amel melanjutkan, ponsel Deven bergetar.
Layar menyala. Rumah Sakit.
Jantung Deven berdegup lebih kencang. Ia mengangkat telepon.
"Hallo..."
Ternyata papi Marcha kambuh lagi.
Sebenarnya, Deven tidak harus datang ke rumah sakit. Ada dokter-dokter kompeten, ada prosedur, ada sistem yang berjalan tanpa perlu kehadirannya secara personal tapi Deven tetap datang. Ia ingin memastikan. Benar-benar memastikan—bahwa kondisi papi Marcha terkendali. Bahwa Marcha juga baik-baik saja dan itu yang paling penting.
Meski hatinya sedang berantakan, pekerjaannya tetap pekerjaan. Tanggung jawab tak menunggu perasaan selesai. Deven melepas dasi yang melilit lehernya, melonggarkannya sembarangan, lalu berlari kecil ke arah UGD.Di sana, papi Marcha sudah ditangani oleh Mona dan Tito.
"Gimana keadaannya?" tanya Deven, matanya tak lepas dari tubuh pria tua yang terbaring itu.
"Untuk sekarang stabil," jawab Tito. "Tapi gue rasa kita perlu pemeriksaan lanjutan. Gue khawatir sel kankernya menyebar, Dev."
"I'm afraid so," sahut Deven pelan. Ia menatap papi Marcha yang tertidur pulas. "Efek kemo emang berat. Rasa sakitnya bisa bikin trauma, apalagi buat pasien yang gak terbiasa..."
"Kita gak akan tahu sebelum pemeriksaan menyeluruh," potong Mona tenang.
"Mona bener," sambung Tito. "Kita harus ngomong ke pihak keluarga buat tes lanjutan."
"Nanti gue yang ngomong," kata Deven singkat.
"Untuk sekarang, sebaiknya pasien dipindahkan ke ruang rawat biasa," kata Mona. "Kondisinya cukup stabil."
"Ya," Deven mengangguk. "Tolong urus ya. Gue ke kantin bentar, beli minum."
"Oe, Dev," panggil Mona sebelum Deven melangkah. "Kita denger beritanya di medsos. I'm so sorry."
Deven hanya nyengir tipis, canggung. Sejauh ini, media belum mengungkap alasan di balik batalnya pertunangannya dengan Shanna. Hanya satu kalimat dingin yang beredar: pertunangan dibatalkan. Kalau mereka tahu alasan sebenarnya...Deven sudah siap menerima perundungan lagi. Sama seperti bertahun-tahun lalu. Ia seharusnya kebal tapi nyatanya, kata-kata yang salah tetap bisa menyakiti—meski ia berpura-pura tak peduli.
Setelah membeli minum, Deven kembali ke ruang VIP tempat papi Marcha dipindahkan.
"Kak Deven."
Deven menoleh. Ingvar berdiri di samping mami mereka.
"Hai, Var," sapa Deven dengan senyum samar.
"Gimana keadaan papi gue, Kak?"
"Udah stabil," jawab Deven.
Ingvar dan maminya menghela napas lega.
"Oh iya, soal Om Berto—" Ucapan Deven terhenti saat pintu kamar terbuka.
Marcha masuk.
Ia masih mengenakan pakaian pesta yang sama. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat. Mata mereka bertemu. Marcha terlihat kaget. Deven justru tersenyum masam.
"Hei, Cha."
"Kok lo di sini, Dev?" tanya Marcha bingung. "Lo gak pulang?"
Deven menggeleng "Tadi di jalan gue dapet telepon. Dibilang bokap lo masuk rumah sakit, jadi gue langsung ke sini."
"Tapi elo—" Marcha terdiam.
"Gak apa-apa," potong Deven lembut. "Yang remuk hati gue, bukan badan gue."
Marcha tak menjawab. Ia menoleh ke arah papi-nya.
"Keadaan papi gue gimana?"
Deven menjelaskan kondisi papi Marcha sekali lagi—tentang stabilnya keadaan, juga perlunya serangkaian tes lanjutan.
"Kita harus tinggal di rumah sakit lagi?" tanya mami Marcha cemas.
"Tante," kata Deven cepat, "Marcha sama Ingvar pulang aja dulu. Biar Deven yang jaga Om di sini."
"Lo gak harus jagain bokap gue," sela Marcha. "Lo punya urusan lain yang lebih penting—"
"Gak ada yang lebih penting dari kesehatan pasien gue," jawab Deven tegas tapi tenang. "Udah, lo pulang aja, Cha."
"Tapi Dev—"
"Ini tanggung jawab gue sebagai dokter," lanjut Deven. "Dan bokap lo pasien gue."
"Gue temenin," kata Marcha mantap.
"Lo capek nanti."
Marcha menggeleng "Gue gak capek. Gue temenin lo jagain papi gue."
Ingvar melirik mereka bergantian "Ya udah, Kak. Gue sama mami pulang dulu. Besok gue gantiin Kak Marcha."
"Okay," kata Deven pelan. "Tapi sebaiknya lo pulang dulu, Cha. Ganti baju."
Marcha menunduk, menatap pakaiannya sendiri, lalu tertawa kecil "Iya juga."
Deven tersenyum tipis "Kalian pulang dulu. Gue jagain Om Berto baik-baik."
Marcha melangkah mendekat, menggenggam tangan Deven dengan lembut. Ia menarik napas dalam.
"Thanks ya, Dev... and I'm so sorry."
Deven menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pahit "I'm okay," jawabnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak yakin apakah kalimat itu benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
