Marcha membuka pintu kamarnya pelan, begitu pintu tertutup di belakangnya, seluruh tenaga yang sejak tadi ia paksa bertahan seolah ikut runtuh. Ia berjalan beberapa langkah menuju sofa putih di dekat jendela, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana, kepalanya terasa berat, berdenyut seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam.
Marcha memejamkan mata sambil menekan dahinya dengan kedua tangan, rasanya ingin pecah, semua bercampur jadi satu.
Papi.
Mami.
Ingvar.
Deven.
Pernikahan.
Masa depan.
Semua berputar-putar tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas kalau menangis bisa membuat semuanya selesai, mungkin ia sudah menangis sejak tadi tapi Marcha tidak menangis, ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menangis karena dirinya sendiri.
Masalah pekerjaan? Itu mudah.
Setidaknya bagi Marcha, Miliaran dolar. Perusahaan. Krisis. Negosiasi. Investor, semua itu masih bisa ia hadapi dengan kepala dingin tapi cinta dan keluarga... Dua hal itu tidak bisa diselesaikan dengan laporan keuangan atau rapat direksi, tidak ada rumusnya, tidak ada strategi yang pasti berhasil dan itulah yang membuat Marcha kelelahan tadi ia berdebat cukup keras dengan Ingvar, adiknya bersikeras Berto harus menjalani operasi sementara Marcha tidak setuju, bukan karena ia tidak mencintai papinya... justru karena terlalu mencintai. Ia tidak sanggup membayangkan papinya harus menanggung rasa sakit yang lebih besar hanya demi membeli beberapa tahun tambahan sedangkan Mami...Maminya sendiri terlihat kebingungan, terjebak di antara dua anak yang sama-sama ingin memberikan yang terbaik.
Marcha mengembuskan napas panjang kalau bisa memilih...Tentu saja ia ingin papinya hidup lebih lama.
Sepuluh tahun.
Lima belas tahun.
Dua puluh tahun.
Selamanya kalau bisa tapi kenyataan tidak bekerja seperti itu lalu ada Deven dan entah kenapa, memikirkan Deven saat ini justru membuat kepalanya semakin sakit.
Marcha membuka mata, tatapannya jatuh pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pertunangan dari Deven.... cantik, sangat cantik, sama seperti cinta yang selama ini diberikan Deven padanya, tidak pernah setengah-setengah, tidak pernah main-main, tidak pernah membuat Marcha meragukan perasaannya tapi...Marcha memejamkan mata lagi.
Apakah cinta saja cukup? Karena beberapa hari terakhir, yang ia lihat bukan hanya cinta, ia melihat keras kepala, ego, gengsi, rahasia yang tidak diceritakan, keputusan-keputusan yang dibuat sendiri dan sekarang...
Sebuah pertengkaran yang bahkan belum benar-benar selesai yang paling membuatnya marah bukan karena Deven membentaknya kemarin, bukan yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa Deven membiarkannya pergi sendirian. Deven tahu ia sedang kesal, tahu ia sedang sedih tapi tetap membiarkannya pulang sendiri dan itu terus mengganggu pikirannya.
Marcha mengusap wajahnya pelan, ia lelah tapi menyerah bukan pilihan, mereka sudah bertunangan tapi untuk pertama kalinya sejak menerima cincin itu...Marcha mulai bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar siap menikah? Atau mereka hanya terlalu mencintai satu sama lain sampai lupa bahwa pernikahan bukan cuma soal cinta?
Ponselnya tiba-tiba bergetar, Marcha melirik layar dan tentu saja.
Deven.
Dep:
km udah sampe rumah?
Marcha menatap layar beberapa detik sebelum membalas.
Marcha :
udah. kamu masih di rumah sakit?
Balasan datang hampir seketika.
Dep :
ak lagi perjalanan ke rumah km
Marcha langsung mengernyit. Apa lagi sekarang?
Marcha:
kenapa ke rumahku? ini udah malem. besok bukannya kamu shift pagi?
Beberapa detik kemudian.
Dep:
ak mau ngomong sama km
Marcha menghela napas, ia sedang tidak ingin bicara, tidak malam ini, tidak saat kepalanya terasa seperti akan meledak.
Marcha:
besok juga bisa kan? gak harus hari ini
Titik tiga muncul, hilang, muncul lagi lalu pesan berikutnya masuk.
Dep:
ak udah di depan rumah km
Marcha menatap layar beberapa saat "Ya Tuhan..." gumamnya pelan. Separuh dirinya ingin menyuruh Deven pulang, separuh lainnya tahu laki-laki itu tidak akan pergi sebelum bertemu dengannya karena Deven memang seperti itu, keras kepala, menyebalkan dan terkadang terlalu mencintainya.
Marcha menghela napas panjang lalu berdiri, dengan langkah berat ia keluar dari kamar, turun melewati tangga, melewati ruang keluarga yang sudah sepi sampai akhirnya tiba di depan pintu utama.
Saat pintu dibuka... Deven benar-benar ada di sana, masih mengenakan kemeja rumah sakit. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah tapi yang paling membuat Marcha terdiam adalah tatapan mata itu, tatapan seseorang yang sudah menyesal selama berjam-jam.
"Cha..." Deven memanggil pelan.
Marcha berdiri di ambang pintu, tidak mempersilahkannya masuk, tidak juga menyuruhnya pergi hanya diam dan diamnya Marcha malam itu jauh lebih menakutkan daripada semua kemarahannya selama ini. Deven menelan ludah, jujur saja, ia lebih suka Marcha berteriak, lebih suka Marcha memukul lengannya, lebih suka Marcha marah besar karena setidaknya itu berarti Marcha masih mau melampiaskan perasaannya padanya tapi sekarang...Marcha terlihat sangat lelah dan itu membuat Deven takut, benar-benar takut.
"Aku tahu kamu marah."
Marcha tertawa pendek "Bukan marah."
"Cha..."
"Aku capek, Dev."
Kalimat itu keluar begitu saja, pelan tapi langsung menghantam dada Deven.
Marcha menggeleng perlahan "Aku capek banget."
Deven merasa tenggorokannya mendadak kering.
"Capek ngurus papi, capek debat sama Ingvar, capek mikirin pernikahan." Marcha mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu dan untuk pertama kalinya malam itu Deven melihat luka yang selama ini ditahan Marcha "Aku juga capek sama kita."
Deven langsung membeku "Cha, jangan bilang gitu."
"Aku gak bilang aku mau putus tapi aku capek." Suara Marcha mulai bergetar "Beneran capek."
Deven melangkah mendekat "Maaf."
Marcha tertawa kecil lagi "Kamu tahu gak? Hari ini aku berharap banget kamu nyusul aku."
Deven terdiam.
"Tapi kamu enggak."
"Cha..."
"Aku pulang sendiri, aku lagi pusing, aku lagi marah, aku lagi sedih." Marcha menatapnya "Dan kamu tetap gak nyusul."
Setiap kalimatnya terdengar tenang tapi justru itu yang membuat Deven semakin hancur karena tidak ada amarah di sana hanya kekecewaan dan kekecewaan jauh lebih sulit diperbaiki.
"Aku salah." Deven mengakuinya tanpa membela diri "Aku keras kepala, aku marah tapi aku gak pernah berhenti mikirin kamu satu detik pun sejak kamu keluar dari kafe."
Marcha diam.
"Aku takut sekarang."Suara Deven melemah. "Sumpah aku takut."
Marcha mengernyit "Takut?"
"Iya." Deven tersenyum pahit. "Aku lihat kamu di rumah sakit tadi, kamu sopan, kamu baik, kamu ngomong normal tapi rasanya kayak kamu mau menjauh sejauh-jauhnya dari aku."
Marcha tidak menjawab karena sebagian dari dirinya memang melakukan itu, bukan karena tidak cinta tapi karena ia terlalu lelah untuk bertengkar dan itu jauh lebih berbahaya.
Deven melangkah satu langkah lagi "Marah aja sama aku kalau memang marah, jangan kayak tadi, jangan dingin." Suara Deven mulai serak "Karena aku gak tahu harus ngapain kalau kamu mulai ngabaikan aku."
Marcha memejamkan mata sesaat dan untuk pertama kalinya malam itu, di balik semua kekesalannya, di balik semua ego dan keras kepala Deven, ia bisa melihat satu hal yang tidak pernah berubah, laki-laki itu benar-benar takut kehilangan dirinya
Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Angin malam berembus pelan dari halaman depan.
Marcha memalingkan wajahnya lebih dulu kalau ia terus menatap mata Deven, ia tahu pertahanannya akan runtuh lebih cepat dari yang ia inginkan.
"Aku gak suka kalau kita kayak gini," kata Deven akhirnya.
Marcha tertawa pelan "Aku juga gak suka."
"Tapi aku yang bikin jadi begini."
Marcha tidak membantah karena memang benar.
Deven mengembuskan napas panjang "Kalau aku bisa muter waktu ke sore tadi, aku bakal nyusul kamu."
"Ya jelas sekarang ngomongnya gitu."
"Aku serius."
Marcha menatapnya sekilas. Deven tampak benar-benar menyesal bukan sekadar ingin masalahnya selesai tapi benar-benar menyesal.
"Aku marah karena aku ngerasa harga diriku diinjek."
"Aku tahu."
"Tapi aku lupa kalau kamu juga lagi berjuang." Suara Deven melemah "Aku lupa kalau hari itu bukan cuma tentang aku."
Marcha menggigit bibir bawahnya.
Deven mengusap wajahnya kasar "Aku bahkan gak bisa bayangin gimana rasanya ada di posisi kamu sekarang, papi sakit, keluarga lagi ribut tapi aku malah nambah masalah."
Marcha menunduk karena itulah yang membuatnya paling lelah, bukan satu masalah besar tapi banyak masalah kecil dan besar yang datang bersamaan dan semuanya meminta perhatian di waktu yang sama.
"Cha..." Suara Deven terdengar hati-hati "Sekali ini aja."
Marcha mengangkat alis "Apa?"
"Ego aku kalah."
Marcha berkedip "Apa?"
Deven mengangkat kedua tangannya menyerah "Aku salah."
"Kamu udah bilang."
"Aku mau bilang lagi."
"Dev..."
"Aku salah."
Marcha mulai menahan senyum.
Deven melanjutkan dengan wajah serius "Aku keras kepala."
"Iya."
"Aku nyebelin."
"Iya."
"Aku gengsian."
"Banget."
"Aku juga kadang gak mikir."
"Nah, itu."
Deven mengangguk "Makanya aku minta maaf."
Marcha akhirnya menghela napas panjang, untuk pertama kalinya sejak sore tadi, dadanya terasa sedikit lebih ringan, melihat Deven seperti ini selalu sulit karena laki-laki itu jarang sekali merendahkan egonya tapi kalau sudah melakukannya, biasanya benar-benar tulus.
"Aku juga salah."
Deven langsung menggeleng "Enggak."
"Aku juga salah."
"Cha—"
"Aku tahu maksud omonganku bukan itu."
"Tapi aku juga tahu kenapa kamu sakit hati."
Deven terdiam.
Marcha menatapnya "Aku seharusnya lebih hati-hati ngomongnya."
Kali ini Deven yang tidak bisa berkata apa-apa karena jujur saja, kalimat itu lebih dari cukup.... mereka berdua sama-sama salah dan mereka berdua akhirnya mengakuinya.
Tidak ada yang menang.
Tidak ada yang kalah.
Yang ada hanya dua orang yang terlalu mencintai satu sama lain sampai sama-sama terluka.
Deven melangkah mendekat, pelan... seolah memberi kesempatan kalau Marcha ingin mundur tapi Marcha tidak bergerak.
"Jadi..." Deven berdeham "Kamu masih marah?"
Marcha menyipitkan mata "Masih."
Wajah Deven langsung jatuh.
"Tapi udah gak pengen lempar kamu ke laut."
Deven menghela napas lega "Syukur."
"Cuma pengen jitak."
"Nah itu masih bisa dinegosiasikan."
Marcha akhirnya tertawa, benar-benar tertawa dan suara itu membuat Deven merasa seperti baru bisa bernapas lagi setelah berjam-jam menahan napas tanpa berpikir panjang, Deven meraih tangan Marcha. Menggenggamnya erat.
"Aku sayang kamu."
Marcha memejamkan mata sesaat, kalimat itu sederhana tapi malam ini terasa berbeda karena setelah semua yang terjadi, setelah semua pertengkaran dan ketakutan... Deven masih berdiri di sini, masih memilih dirinya, masih berusaha memperbaiki semuanya.
"Aku juga sayang kamu." Suara Marcha hampir seperti bisikan.
Detik berikutnya Deven langsung menariknya ke dalam pelukan, erat... Seolah ingin memastikan Marcha benar-benar ada di sana. Marcha membalas pelukan itu perlahan lalu semakin erat dan saat kepalanya bersandar di dada Deven, untuk pertama kalinya hari itu ia merasa tidak harus kuat sendirian.
Deven mengusap punggungnya lembut "Aku janji bakal lebih baik."
Marcha mendengus pelan "Kamu udah bilang itu berkali-kali."
"Iya sih."
"Terus ngulang lagi."
"Namanya juga manusia."
Marcha tertawa kecil di dadanya. Deven ikut tersenyum.
"Aku gak sempurna, Cha."
"Aku tahu."
"Tapi aku bakal terus belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar jadi suami yang layak buat kamu."
Marcha langsung memukul dada Deven pelan "Gombal."
"Bukan gombal."
Deven mencium puncak kepalanya "Aku serius."
Marcha tidak menjawab. Ia hanya memeluk Deven lebih erat karena malam ini, di tengah semua ketakutan tentang papinya, tentang keluarganya, tentang masa depan mereka... Untuk beberapa menit saja, ia ingin berhenti memikirkan semuanya dan membiarkan dirinya merasa aman di tempat yang paling ia rindukan, di dalam pelukan Deven
Keesokan paginya, Marcha, Ingvar, dan mami berdiri mengelilingi ranjang Berto di rumah sakit.
Semalam mereka sudah berdebat panjang, hari ini Marcha memutuskan satu hal daripada terus beradu pendapat dengan Ingvar dan mami, lebih baik mereka mendengar langsung apa yang diinginkan papi, secara bergantian mereka menjelaskan kondisi Berto, hasil pemeriksaan dokter, serta pilihan yang ada: operasi atau tidak.
Berto terdiam cukup lama, tatapannya kosong menembus jendela kamar rawat "Papi nggak nyangka kondisinya ternyata sejauh ini," katanya pelan sambil mengembuskan napas panjang.
"Pi..." Marcha menggenggam tangan ayahnya. "Ini memang jalannya. Kita cuma bisa berusaha dan berserah sama Tuhan."
Berto mengangguk pelan lalu ia menoleh ke arah putrinya "Kalau dipikir-pikir, yang paling papi pikirkan sekarang justru bukan soal operasi."
Marcha mengernyit "Bukan?"
"Pernikahan kamu sama Deven."
Marcha langsung menatap ayahnya bingung "Pi, pernikahan itu nggak mendesak kok. Marcha—"
Berto mengangkat tangan, menghentikannya "Sebetulnya papi nggak mau kamu nikah secepat ini."
Ruangan mendadak hening.
"Papi..." gumam Marcha.
"Bukan karena papi nggak suka Deven," lanjut Berto. "Justru karena papi tahu dia laki-laki baik." Berto tersenyum tipis "Tapi papi juga sadar, setelah menikah hidup kamu akan berubah. Kamu punya suami, nanti punya anak, punya keluarga sendiri."
"Marcha nggak akan ninggalin papi," bantah Marcha cepat.
"Papi tahu." Berto mengusap punggung tangan putrinya "Tapi bertahun-tahun papi sudah kehilangan banyak waktu sama kamu."
Mata Marcha perlahan melembut.
"Sejak kamu sekolah dan tinggal di Paris, hubungan kita nggak pernah sama lagi. Kita tetap dekat, tapi... nggak sedekat dulu."
Marcha menunduk, ia tidak bisa membantah itu.
"Papi kangen anak perempuan papi," lanjut Berto pelan. "Dan sekarang waktu papi mungkin nggak sebanyak yang kita kira." Suara Berto tetap tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat dada Marcha terasa sesak "Papi mungkin egois." Berto tersenyum kecil "Tapi kalau boleh jujur, papi berharap kamu dan Deven jangan buru-buru menikah."
Marcha membeku.
"Papi ingin kamu punya lebih banyak waktu sama papi."
"Waktu seperti apa?" tanya Marcha lirih.
"Temenin papi."
"Temenin?"
"Jalan-jalan. Makan bareng. Nonton film. Hal-hal biasa yang selama ini nggak sempat kita lakukan." Berto menatap putrinya hangat "Dan kalau bisa... jangan balik ke Paris lagi."
Marcha terlihat semakin bingung "Tapi kalau Marcha nikah sama Deven, Marcha juga tinggal di Indonesia, Pi. Deven bahkan setuju tinggal di rumah kita."
Berto menggeleng pelan "Beda, Cha."
Marcha terdiam.
"Papi nggak minta seluruh waktumu tapi papi ingin sebagian waktumu jadi milik papi."
Kalimat itu membuat suasana kamar kembali sunyi. Ingvar dan mami bahkan tidak ikut menyela.
"Waktu papi tinggal sedikit, Cha," lanjut Berto. "Papi cuma ingin lebih banyak waktu bersama keluarga. Terutama kamu."
Marcha menelan ludah, dadanya terasa berat, ia memahami keinginan ayahnya karena kalau ia berada di posisi Berto, mungkin ia juga akan meminta hal yang sama.
Setelah beberapa detik, Marcha akhirnya mengangkat wajah "Jadi..." Suaranya pelan. "Artinya papi nggak mau operasi?" tanyanya hati-hati
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
