All the stories (Shanna)

76 7 1
                                        

Shanna menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar pelan.
Berita tentang Anneth terus bermunculan tanpa henti. Judulnya makin lama makin liar, makin tajam, seolah sengaja ingin menyeret semua orang ke dalam satu lubang yang sama, awalnya Shanna pikir kabar itu cuma hoaks murahan yang bakal hilang sendiri setelah beberapa hari tapi ternyata tidak... semakin lama, berita itu justru berubah seperti potongan puzzle yang mulai tersusun satu per satu menjadi kenyataan, tentang Deven, tentang Anneth, tentang pertunangannya yang hancur dan yang paling membuat dada Shanna sesak... semua itu dibongkar sendiri oleh Anneth dengan surat tulisan tangan. Shanna bahkan masih ingat bagaimana dulu ia mati-matian percaya kalau pertunangannya dengan Deven gagal hanya karena kesalahpahaman media karena framing karena rumor tapi sekarang? Sekarang Anneth sendiri yang mengakui semuanya.
Shanna menatap layar ponselnya lama sekali sampai matanya terasa panas, bukan Anneth yang paling membuatnya terluka tapi tante Debby, mami Anneth, wanita yang baru beberapa tahun terakhir diakui kembali sebagai bagian keluarga mereka... ternyata selama ini justru menjadi orang yang diam-diam menghancurkan hidupnya.
"Ma..." suara Shanna pelan, nyaris pecah. "Apa maksud tante Debby sebenarnya?"
Mama yang duduk di sampingnya langsung memegang tangan Shanna pelan, mencoba menenangkan.
"Shan—"
"Dia gak pernah niat ngakuin Shannon ya?" potong Shanna dengan mata berkaca-kaca. "Dia cuma mau hancurin hubungan Shannon sama Deven?"
"Shan, jangan ngomong kayak gitu..." kata mama lirih.
"Kenapa gak boleh?" suara Shanna mulai bergetar. "Pertunangan Shannon hancur, hubungan Shannon sama Deven selesai, Shannon dijauhin banyak orang, tengkar sama Marcha, sekarang Kevin juga..." napasnya tercekat. "Semua gara-gara mereka, Ma."
Mama mengusap tangan Shanna pelan "Bagaimanapun mama Anneth itu keluarga kita."
Shanna tertawa kecil, hambar, sakit.
"Keluarga?" ulangnya lirih. "Ada ya keluarga yang sengaja ngerusak kebahagiaan keluarga lain?"
Mama terdiam.
"Shannon ini keponakannya sendiri, Ma..." suara Shanna makin lirih. "Tapi kenapa dia tega banget?"
"Shan, mama yakin tante Debby punya kesusahan sendiri," bela mama pelan. "Dan lagi, itu cuma omongan media, gak semua bisa dipercaya."
"Ini bukan media!" kali ini Shanna meninggikan suaranya. "Ini Anneth sendiri yang ngomong! Dia nulis semua kesalahan dia sendiri!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Shanna menatap mamanya dengan mata merah.
"Anneth gak mungkin ngejelekin mamanya sendiri di depan publik kalau semuanya gak udah kelewatan, Ma..."
Mama memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
"Kalau semua itu benar... terus kamu mau apa?"
Shanna terdiam.
"Mau tante kamu masuk penjara juga?" tanya mama. "Apa itu bakal bikin Deven balik lagi? Apa keluarga Deven bakal langsung nerima kamu lagi?"
Kalimat itu seperti menampar Shanna tepat di dada karena jawabannya... Tidak, tidak ada yang akan kembali seperti dulu tapi tetap saja sakit.
"Setidaknya..." suara Shanna melemah, "setidaknya Shannon gak perlu nge-frame down Marcha sampai Shannon kehilangan semuanya."
Air matanya jatuh.
"Shannon sekarang gak punya siapa-siapa, Ma..." bisiknya lirih. "Pertemanan Shannon hancur... hubungan Shannon sama orang-orang juga hancur... Kevin pergi..." Mama memalingkan wajah sebentar tapi Shanna belum selesai "Dan semua masalah ini awalnya dari tante Debby!" suaranya pecah. "Bahkan Anneth masuk penjara juga karena dia!"
"PLAK!"
Tamparan itu membuat Shanna membeku, ia memegang pipinya perlahan dengan mata melebar tidak percaya, mama juga terlihat kaget dengan tangannya sendiri.
"Shannon... mama—"
"Mama nampar Shannon?" suara Shanna lirih. "Karena tante Debby?"
"Karena kamu gak boleh ngomong sembarangan tentang tante kamu!" bentak mama dengan mata mulai berkaca-kaca juga. "Dia tetap keluarga kita!"
Shanna tertawa kecil lagi tapi kali ini tawanya benar-benar terdengar menyakitkan.
"Selama dua puluh tujuh tahun..." katanya pelan, "Shannon bahkan gak pernah tau dia ada."
Air matanya jatuh semakin deras.
"Terus sekarang dia datang... dan pelan-pelan ngancurin semua yang Shannon punya."
Karier.
Pertunangan.
Persahabatan.
Hubungannya dengan mama.
Semuanya.
"Mama tau gak..." suara Shanna bergetar hebat, "yang paling bikin Shannon capek itu bukan berita media."
Mama menatapnya diam.
"Tapi kenyataan kalau setiap kali Shannon jatuh... mama selalu pilih belain mereka."
Sunyi.
Shanna menghapus air matanya kasar lalu membalikkan badan.
"Shan!" panggil mama panik.
Tapi Shanna tetap berjalan keluar rumah, langkahnya cepat, berantakan, sementara air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan lagi dan untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini dimulai... Shanna benar-benar merasa sendirian.
Shanna bahkan tidak tahu harus pergi ke mana, ia hanya berjalan tanpa arah di trotoar yang mulai sepi, sementara pikirannya terasa penuh dan kosong di saat yang sama, ia tidak ingin pulang, tidak ingin kembali melihat mama nya lalu bertengkar lagi soal tante Debby.
Hidupnya sekarang terasa seperti mimpi buruk yang datang terlalu cepat dalam hitungan bulan, semuanya runtuh satu per satu.
Kariernya.
Pertunangannya.
Persahabatannya.
Orang-orang yang dulu selalu ada di sekitarnya.
Shanna menatap layar ponselnya lama, tidak ada nama yang bisa ia hubungi.
Marcha? Bisa saja. Tapi Marcha sedang di luar negeri dan lagi pula... setelah semua yang Shanna lakukan padanya, bagaimana mungkin ia tega menangis minta ditemani sekarang? Shanna masih ingat jelas bagaimana ia pernah menghancurkan nama Marcha di media. Bahkan menamparnya, rasa bersalah itu masih ada sampai sekarang.
Kevin? Semua jalur komunikasi ke Kevin sudah diblokir total. Shanna tertawa kecil pahit sambil menengadah ke langit malam, lucu juga. Dulu ia merasa punya begitu banyak orang di sekelilingnya, sekarang... bahkan untuk sekadar mencari tempat menangis saja ia bingung harus ke siapa.
Langkahnya terus berjalan tanpa arah sampai akhirnya—
"Shannon."
Shanna membeku.
Suara itu, Suara yang selama berbulan-bulan memenuhi kepalanya... kadang hadir sebagai kenangan manis, kadang berubah jadi penyesalan paling menyakitkan.
Perlahan Shanna menoleh dan di sana ada Deven.
Berdiri beberapa langkah darinya dengan kening berkerut bingung.
"Deven..." panggil Shanna lirih.
"Lo ngapain disini?" tanya Deven heran. "Muka lo pucet banget, serius... kayak zombie kurang tidur seminggu."
Biasanya Shanna pasti akan kesal dibilang zombie tapi sekarang ia bahkan tidak punya tenaga untuk membalas.
"Gue..." Shanna membuka mulut lalu kembali diam. Ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Deven langsung berubah serius.
"Shan..." katanya pelan. "Lo gak apa-apa?"
Dan entah kenapa...Pertanyaan sederhana itu justru menghancurkan pertahanan Shanna tanpa berpikir panjang, Shanna melangkah mendekat lalu memeluk Deven erat, tangisnya langsung pecah.
Deven kaget setengah mati.
"Eh—Shan?" tanyanya bingung sambil refleks memeluk balik. "Lo kenapa?"
Tapi Shanna tidak menjawab. Ia hanya menangis semakin keras di dada Deven, seolah semua yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh begitu saja.
Orang-orang mulai melirik ke arah mereka.
Deven mengusap pelan rambut Shanna sambil menahan canggung "Shan..." katanya hati-hati. "Ke apart gue aja ya? Gue takut bentar lagi ada yang ngira gue habis mutusin lo lagi di pinggir jalan."
Shanna tertawa kecil di sela tangisnya, tangisannya yang terdengar makin menyedihkan, ia perlahan melepaskan pelukannya sementara Deven mengusap air mata di pipi Shanna menggunakan tisu dari sakunya.
"Yuk," kata Deven lembut.
Deven merangkul pundak Shanna dan membawa gadis itu masuk ke apartemennya.
Di apartemen, suasana jauh lebih tenang. Shanna duduk diam di sofa sambil memegang cangkir teh hangat kesukaannya. Deven memang masih ingat hal-hal kecil tentang dirinya.
"Gue minta maaf..." kata Shanna lirih.
Deven duduk di depan Shanna sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Gue udah maafin elo," katanya santai. "Marcha juga udah maafin elo."
"Tapi masalah Anneth..." suara Shanna mengecil. "Tentang pertunangan kita."
Deven menghela napas pelan.
"Well..." katanya pelan. "Sebenernya gue sempat ketemu Anneth sebelum semua berita ini meledak."
Shanna menatap Deven kaget.
"Dia udah minta maaf ke gue," lanjut Deven. "Karena udah ngerusak acara pertunangan kita."
Shanna menunduk.
"Itu bukan salah Anneth sepenuhnya," katanya lirih. "Dia juga korban dari mamanya dan manajemennya."
"Ya, gue tau." Deven mengangguk pelan. "Gue gak nyalahin dia."
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan,
"Tapi Shan... sekalipun waktu itu Anneth gak muncul di hari pertunangan kita, hubungan kita tetap bakal selesai."
Shanna menatap Deven diam-diam.
"Keluarga gue gak akan pernah bisa nerima keluarga Anneth," lanjut Deven jujur. "Cepat atau lambat hubungan kita emang bakal kandas."
Kalimat itu menyesakkan karena Shanna tahu Deven benar.
"Ya..." Shanna tersenyum tipis pahit. "Gue juga tau selama ini lo selalu cinta sama Marcha."
Deven tidak langsung menjawab.
"Gue gak mau bohong sama elo," katanya akhirnya. "Selama kita bareng, perasaan gue ke Marcha memang gak pernah hilang."
Shanna menahan napasnya.
"Tapi bukan berarti gue gak sayang sama lo."
Shanna tertawa kecil hambar "Sayang sebagai sahabat?"
"Sebagai adik," jawab Deven cepat.
Shanna menatapnya.
"Karena Marcha nganggep lo kayak saudara sendiri," lanjut Deven. "Dan lama-lama gue juga ngerasa kayak gitu."
Shanna menunduk sambil tersenyum kecil "Gue saudara yang buruk ya," katanya lirih. "Nampar saudara sendiri."
Deven langsung nyengir.
"Yaelah..." katanya santai. "Kalau semua dosa nampar orang dicatet terus, mungkin gue udah masuk daftar hitam Tuhan gara-gara sering dijitak Kevin."
Shanna tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.
Deven ikut tersenyum lega melihatnya tertawa "Masalah yang udah lewat biarin lewat," kata Deven lembut.
Shanna mengangguk pelan.
"Thanks ya, Dev..." katanya pelan. "Oh ya... gue boleh minta tolong sesuatu gak?"
"Minta tolong apa?"
"Kevin."
Nama itu langsung membuat Deven menghela napas kecil.
"Ah..." katanya sambil mengangguk. "Gue udah denger cerita lo dari Marcha sama Kevin."
Shanna menggigit bibirnya gugup.
"Gue gak mau kehilangan dia," katanya jujur. "Gue takut kalau gue terima dia terus hubungan kita gagal... terus semuanya jadi lebih buruk."
Deven memperhatikan wajah Shanna beberapa detik.
"Shan," katanya pelan, "cinta itu memang resiko."
Shanna diam.
"Kalau lo gak mau ambil resiko, jangan berharap dapet cinta."
Kalimat itu membuat Shanna terdiam makin lama.
"Kevin tau resiko waktu dia milih suka sama elo," lanjut Deven. "Dia tau kalian bisa aja tengkar, bisa aja putus, bisa aja hubungan kalian berubah tapi dia tetep maju karena dia yakin bisa bikin elo bahagia."
Shanna menunduk.
"Lo tau kenapa dia marah banget sekarang?" tanya Deven pelan.
Shanna menggeleng
"Karena buat dia... elo bukan sekadar temen."
Hening.
"Dia sayang sama lo, Shan." Deven tersenyum tipis. "Dan menurut gue, lo juga sayang sama dia."
"Ya tapi..." Shanna menggantung kalimatnya ketika tiba-tiba ponsel Deven berbunyi.
Deven melirik layar ponselnya lalu menatap Shanna.
"Sebentar..." katanya sambil mengangkat ponsel. "Marcha nelepon."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang