The Ego (Shanna)

89 8 15
                                        

Berita itu ada di mana-mana.
Media sosial, portal gosip, artikel hiburan—semuanya menampilkan hal yang sama: Deven di Bali, bersama Marcha dan keluarga Deven. Liburan keluarga. Santai. Hangat.
Di setiap foto, Deven tertawa. Bukan senyum sopan, bukan senyum basa-basi kamera. Tawa lepas—mata menyempit, bahu sedikit condong ke depan, wajah yang benar-benar... bahagia.
Shanna menatap layar ponselnya lama. Ia berusaha mengingat. Kapan terakhir kali ia melihat Deven tertawa seperti itu? Ia mengulik ingatannya, mundur jauh, sampai ke momen pertunangan mereka. Hari ketika ia mengenakan gaun tunangan yang mahal, sempurna, dan dipuji semua orang tapi  bahkan hari itu... Deven tidak tertawa seperti ini.
"Kayaknya... gak pernah," gumam Shanna pelan.
Namun yang benar-benar membuat dadanya sesak bukan sekadar tawa Deven. Melainkan tulisan-tulisan di artikel itu. Judul-judulnya kejam, tanpa ampun: Deven diduga selingkuh. Sudah dekat dengan wanita lain sebelum bertunangan. Hubungan Deven–Marcha bukan kebetulan.
Tapi ada juga suara lain. Suara yang lebih menusuk harga diri Shanna.
"Lelaki baik-baik tidak akan berpaling tanpa alasan."
"Kalau seorang pria nyaman dengan wanita lain, berarti ada yang salah dengan wanitanya."
Dan lagi... Biodata Marcha mulai bermunculan.
Putri cilik. Mantan grand finalis Miss Universe. Karier internasional. Aktif di dunia fashion. Terlibat dalam kegiatan sosial global. Nama Marcha langsung dibanding-bandingkan, dengan Shanna, dengan Anneth dan kali ini, Shanna tidak bisa menyangkalnya. Ya... jelas saja mereka kalah.
Marcha adalah definisi perfect woman.

Ia memang tidak populer di Indonesia—karena ia hidup di luar negeri namun justru di sanalah namanya melambung tinggi. Prestasi, pengaruh, koneksi internasional. Marcha bahkan tercatat sebagai pendonor bantuan tetap di organisasi dunia seperti FAO dan UNICEF.
Organisasi apa itu? Semua orang tahu—atau setidaknya, semua orang bisa mencarinya di Google.
Sementara Shanna dan Anneth? Mereka "hanya" penyanyi Indonesia. Terkenal, iya. Didengar di beberapa negara Asia, iya tapi untuk disandingkan dengan Marcha?
Siapa mereka? Shanna mengepalkan tangannya. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas: Begitu Deven benar-benar lepas dari genggamannya, Deven pasti akan mengejar Marcha dan Marcha... Shanna yakin, meskipun Marcha dikelilingi banyak lelaki hebat di luar sana, Deven adalah lelaki yang selalu punya tempat di hatinya.
Keyakinan itu membuat Shanna semakin sesak, namun... apakah itu berarti ia akan menyerah?
Tidak.
Kalau ia tidak bisa memiliki Deven, maka tidak ada siapa pun yang boleh memilikinya. Tidak juga Marcha. Shanna tidak sanggup melihat Deven tertawa bahagia sementara dirinya masih tenggelam dalam duka, masih menanggung rasa kalah, masih merasa ditinggalkan dengan rahang mengeras dan napas tertahan, Shanna meraih ponselnya.
Ia menelepon manajernya.
"Siapkan konferensi pers," katanya dingin "Aku akan klarifikasi semuanya."
Tentang hubungannya dengan Deven. Tentang pertunangan yang batal dan tentu saja— versi ceritanya sendiri

Tanpa didampingi pengacara, tanpa sahabat, tanpa siapa pun—Shanna berdiri sendiri di depan media. Satu-satunya orang di sisinya hanyalah manajernya. Dengan suara yang bergetar tapi terkontrol, Shanna mengatakan bahwa memang ada pihak ketiga di antara dirinya dan Deven. Ia tidak menyebut nama. Tidak perlu. Berita tentang Marcha—yang sedang berada di Bali bersama Deven—sudah lebih dari cukup. Media tidak bodoh. Publik bahkan lebih tajam. Shanna tahu apa yang ia lakukan.
Dengan cara ini, Deven pasti akan meneleponnya. Shanna bisa membayangkan reaksinya. Deven akan marah—tapi Deven bukan tipe pria yang bisa marah lama. Ia akan menghela napas, menurunkan nada suara, lalu mencoba bicara baik-baik. Begitu skenario itu berputar di kepalanya namun yang menelepon justru Kevin.
"Apa maksud lo bikin konferensi pers kayak gitu hari ini?" suara Kevin tajam, tanpa basa-basi.
"Gue cuma pengin Deven ngerespons gue," jawab Shanna datar.
"Dengan cara bikin Marcha dibenci satu Indonesia?" Kevin meninggi "Pikiran lo ke mana, Shan?"
"Dia ngerebut Deven dari gue."
"Marcha gak pernah ngerebut Deven dari elo," potong Kevin cepat "Marcha ke Bali buat urusan bisnis. Dia lagi deal proyek hotel bintang tujuh. Dia bahkan gak tahu Deven ada di Bali."
"Tapi—"
"Lo bikin masalah kecil jadi bom waktu," lanjut Kevin "Dan lo pikir setelah lo nyerang Marcha, Deven bakal nelepon lo? Iya, mungkin—buat maki elo. Itu yang lo mau?"
Shanna terdiam sesaat.
"Enggak," suaranya melemah "Gue cuma mau dia hubungi gue. Gue... gue gak tahu cara lain."
Kevin menarik napas panjang "Gue udah hubungi Deven. Sebelumnya dia janji mau ketemu elo setelah liburan, nyelesain semua baik-baik. Tapi sekarang—" Kevin terdiam "Gue gak tahu apa yang ada di kepala dia."
"Dia gak mungkin marah sama gue cuma gara-gara Marcha," Shanna bersikeras "Kita baru putus sebulan lebih dikit. Mana boleh dia deket sama cewek lain secepat itu?"
"Itu keputusan Deven," jawab Kevin dingin. "Dan satu lagi—cewek yang dia cintai itu Marcha, bukan elo. Jadi wajar kalau sekarang dia mendekat ke dia. Lo juga harus sadar... hubungan lo sama Deven itu mustahil."
"Tarik omongan lo, Vin!" Shanna meninggi.
"Yang mana?"
"Yang bilang gue sama Deven mustahil!"
Kevin mendengus, lalu tertawa pendek—tanpa humor "Lo mau nyangkal fakta?" katanya "Lo, Anneth, keluarga lo—lo itu sepupu Anneth. Itu gak akan pernah disetujui keluarganya. Dari awal aja sebenarnya udah gak ada jalan keluar!"
"Deven sama Anneth cuma salah paham," Shanna memotong "Begitu itu selesai, gue bakal balikan sama Deven."
"Lo gak kepikiran," suara Kevin menajam "kalau salah paham itu selesai tapi yang balikan sama Deven justru Anneth?"
"Salah paham selesai bukan berarti mereka bisa bareng lagi!" Shanna hampir berteriak "Anneth udah lama gak ada hubungan sama Deven!"
"Kalau cuma salah paham biasa," Kevin menekan "hubungan mereka udah membaik dari dulu. Tapi sekarang? Nasi udah jadi bubur, Shan, Lo udah ngomong ke pers. Lo nyudutin Marcha, Gue... gak bisa nolong elo lagi."
"Vin... gue—"
Klik. Telepon terputus.
Shanna menatap layar ponselnya kosong. Apa itu tadi? Kenapa Kevin semarah itu? Apa salahnya ia hanya ingin kembali dengan Deven? Ia hanya ingin menikah dengan pria yang ia cintai. Apa itu salah?, tapi Kevin bukan satu-satunya.
Clarice dan Anastasia pun menjauh. Pesan Shanna dibaca—tanpa balasan. Teleponnya diangkat, lalu segera ditutup. Akhirnya Clarice menjawab.
"Lo tahu gak yang bikin lo sama Deven pisah itu bukan Marcha?" suara Clarice dingin "Tapi lo bikin semua orang percaya itu salah Marcha.
Lo tahu arti persahabatan gak, Shan?"
"Marcha yang gak tahu arti persahabatan," Shanna membalas cepat "Dia ngerebut Deven dari gue!"
"Ngerebut?" Clarice tertawa getir "Kalau Deven bukan punya lo, ya bukan punya elo. Selama ini Marcha jaga jarak demi elo. Balasan lo apa?" Nada suaranya bergetar "Gue malu punya sahabat kayak lo."
Klik.
Shanna tidak menelepon Anastasia. Ia sudah tahu—makian yang sama akan terulang namun yang paling menyakitkan... Meski media ramai. Meski Marcha dihujat. Meski nama Deven diseret ke mana-mana, tidak ada satu pun pesan dari Deven.
Sampai beberapa hari kemudian. Ponselnya berdering. Nama yang muncul membuat napas Shanna tertahan.
Marcha.
"Halo, Shan," suara Marcha pelan.
"Hei... Cha," Shanna ragu memilih nada.
"Kita bisa ketemu?" tanya Marcha.
"Deven ikut?" Shanna refleks bertanya.
Marcha menghela napas "Deven masih di Bali. Besok dia balik ke Lombok."
"Oh..." Shanna menelan ludah "Terus... lo mau ketemu gue kenapa?"
"Omongan lo di media," jawab Marcha tegas.
"Oh. Kapan?"
"Sekarang bisa?"
"Bisa... tapi gue telat ya."
"Gak apa-apa. Di kantor gue," Marcha menyebutkan alamat, lalu menutup telepon.
Namun yang Shanna temui bukan percakapan dua sahabat. Di kantor Marcha, Kevin sudah duduk di sana.
"Eh... gue pikir kita ngomong berdua," Shanna gugup.
"Kevin pengacara gue," jawab Marcha tenang. "dan gue berhak ketemu elo dengan pendamping hukum."
"Jadi maksud lo apa?" Shanna menahan emosi "Gue kira kita mau bahas Deven."
"Vin," kata Marcha singkat.
Kevin mengeluarkan map merah "Pencemaran nama baik," katanya dingin "Klien saya akan menggugat Anda kecuali Anda mengklarifikasi pernyataan Anda ke media."
"Gue gak nyebut nama elo!" Shanna membentak.
"Anda tidak menyebut nama," Kevin menekan tombol alat perekam. Suara Shanna terdengar—menyebut nama Marcha, meski menggantung "Ini cukup sebagai bukti di pengadilan."
"Lo mau apa?" Shanna gemetar "Lo udah ngerebut Deven, sekarang mau bikin gue masuk penjara? Kita ini temen, Cha!"
Marcha menggebrak meja "Gue ngerebut Deven dari mana?!" suaranya pecah "Masalah lo sama Deven itu masalah keluarga!, Kenapa nama gue lo seret?" Matanya berkaca-kaca "Gue salah apa sama elo, Shan? Gue pikir lo temen gue!"
"Deven lebih cinta elo daripada gue!" Shanna menjerit "Itu salah lo! Kenapa lo balik ke Indonesia?! Kalau lo tetap di Paris, semua ini gak bakal ada!"
Marcha berdiri "Gue balik atau enggak," suaranya bergetar tapi tegas "hubungan lo sama Deven cuma tinggal nunggu waktu hancur." Ia menatap Shanna lurus "Yang ngehancurin hubungan lo sama Deven itu bukan gue...tapi lo sendiri dan ego lo."

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang