Marcha meraih kacamata hitamnya dan mengenakannya perlahan. Bukan untuk gaya semata, tapi untuk menyamarkan lelah yang gagal ia sembunyikan setelah berjam-jam mencoba tidur di pesawat. Ia memang sempat terlelap. Sebentar. Terlalu sebentar.
Langkahnya mantap saat keluar dari area kedatangan. Rambutnya terurai rapi, posturnya tegak, aura percaya diri melekat alami—seolah kelelahan perjalanan panjang tak pernah singgah di tubuhnya. Marcha mengedarkan pandangan ke arah kerumunan, menilai satu per satu wajah yang menunggu. Tatapannya tenang, sedikit dingin, dengan sorot mata yang terbiasa berada di tempat-tempat eksklusif.
Lalu—sebuah tangan melambai. Marcha langsung tersenyum. Senyum tipis, anggun.
Ingvar.
Ia melangkah lebih cepat begitu melihat adik kembarnya itu, koper kecil ditarik tanpa tergesa, seolah bandara ini adalah ruang tunggu pribadinya.
"Udah lama nunggu, Var?" tanya Marcha ketika sudah berdiri di depannya.
"Enggak," jawab Ingvar ringan sambil mengambil koper Marcha. "Baru sekitar lima belas menit." Ia menoleh. "Kakak mau pulang dulu, makan, atau langsung ke rumah sakit lihat Papi?"
Marcha mendengus pelan, lalu nyengir. "Pulang dulu, deh. Makan di rumah aja." Ia mengikuti langkah Ingvar. "Gue tidur bentar, abis itu baru ke rumah sakit ketemu Papi."
"Okay," Ingvar mengangguk sambil tersenyum. "Capek, Kak?"
"Lumayan," jawab Marcha jujur saat mereka tiba di depan mobil yang terparkir. "Gue gak bisa tidur di pesawat."
"Hm... iya," kata Ingvar sambil membantu sopir memasukkan koper ke bagasi. "Kemarin lusa gue juga ngerasain hal yang sama."
Marcha mengangguk singkat lalu masuk ke dalam mobil. Ia menyandarkan tubuhnya ke jok dengan anggun, kacamata hitam masih bertengger rapi di wajahnya tak lama kemudian Ingvar menyusul duduk di sampingnya.
"Gimana kondisi Papi?" tanya Marcha, suaranya lebih rendah sekarang.
"Hm... udah sadar," jawab Ingvar hati-hati. "Tapi ngomongnya agak kurang lancar."
Marcha menoleh. "Kurang lancar gimana maksud lo?"
Ingvar terdiam sejenak. "Eh... nanti Kakak tanya langsung aja sama dokternya."
Marcha menyilangkan tangan di depan dada. "Deven, kan, dokter Papi?"
Ingvar langsung menoleh, kaget. "Eh—Kak Marcha udah tau kalau dokter Papi itu Kak Deven?"
"Tau," jawab Marcha singkat, datar. Nada suaranya tenang, tapi ada jarak yang jelas. "Ya udah. Nanti gue tanya sendiri sama Deven."
Marcha kembali menatap lurus ke depan.
Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya nanti menghadapi Deven. Bertahun-tahun berlalu, jarak, waktu, dan kesunyian Paris seharusnya cukup untuk mengubur semua kenangan itu tapi kenyataannya, tidak. Apa pun yang terjadi, ia harus menghadapinya. Deven—dokter Papi-nya. Ia tidak punya pilihan lain.Padahal, Marcha tak pernah bermimpi akan kembali ke Indonesia. Apalagi dengan alasan seperti ini. Apalagi... harus bertemu Deven lagi.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Marcha masuk dan beristirahat sejenak, melepas lelah yang sejak tadi ia tahan dengan anggun.
Tak lama kemudian, ia bersiap pergi ke rumah sakit—tempat Mami sedang menjaga Papi dan tempat tak terelakkan di mana masa lalu menunggunya.
Sore hari.
Marcha berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan ekspresi menilai—bukan mengagumi, lebih ke memastikan.
Cantik. Seperti biasa. Ia tahu ke rumah sakit sebenarnya tak perlu dandan. Tapi masalahnya...dia akan bertemu Deven.
Deven.
Marcha mendengus pelan. Seolah mengolok dirinya sendiri. Tetap saja, tangannya meraih lipstick pink lembut dan mengoleskannya tipis di bibir. Sedikit saja. Cukup untuk mengingatkan seseorang tentang apa yang pernah ia lewatkan.
"Overdressed? Enggak," gumamnya dalam hati. "Ini namanya profesional."
Ketukan terdengar di pintu.
"Kak, udah siap belom?" suara Ingvar terdengar dari luar. "Kita gantian sama Mami jagain Papi."
"Okay, bentar, Var," jawab Marcha.
Ia menatap cermin sekali lagi, mengangkat dagunya sedikit—pose khas yang bahkan tak ia sadari.
"Siap tempur," gumamnya, lalu melangkah keluar kamar.
⸻
Di rumah sakit, suasana kamar Papi mendadak penuh pelukan.
Mami, om, tante—semuanya memeluk Marcha seolah ia baru kembali dari perang panjang. Marcha kaku sejenak. Tangannya terangkat, lalu ragu-ragu membalas pelukan itu. Ada sesuatu yang menahan dadanya. Hubungannya dengan keluarga sudah lama berjarak. Terlalu lama.
Kecuali Ingvar—satu-satunya yang masih rutin hadir dalam hidupnya.
Paris selalu ia jadikan alasan. Kerja selalu jadi tameng dan sekarang mereka memeluknya sambil menangis.
Ini kenapa ya? Jangan-jangan ada udang di balik rempeyek...
Marcha tidak pernah benar-benar percaya cinta. Sampai—Ketukan terdengar di pintu dan orang yang dulu membuatnya percaya pada cinta itu muncul di ambang pintu.
Deven Christiandi Putra.
Kemeja hitam, jas putih. Rambut cepak rapi. Langkahnya tenang. Dewasa. Terlalu dewasa. Aura Deven menghantam Marcha seperti badai salju tanpa jaket.
"Hallo, Cha," sapa Deven lembut, sopan, sambil tersenyum. "Apa kabar?"
Oksigen di ruangan seolah menghilang. Marcha lupa cara bernapas normal. Serius. Ini ilegal. Deven tampak... lebih. Lebih matang. Lebih tenang. Lebih menyebalkan karena masih sama memikatnya.
"Hallo, Dev," jawab Marcha singkat, senyumnya setengah hati. "Gue baik."
Deven mengangguk, alisnya terangkat tipis.
"Okay. Gue periksa om dulu ya. Cek rutin."
"Gue boleh di sini?" tanya Marcha cepat—lalu menyesal.
"Tentu."
Saat Deven melangkah, tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Dan—ZAAAP. Marcha merinding dari ujung jari sampai tengkuk. Astaga. Ini rumah sakit, bukan sinetron.
"Lo kenapa, Kak?" bisik Ingvar bingung.
Marcha langsung menempelkan jari telunjuk ke bibirnya "Shhh."
"Kamu kenapa?" tanya Deven lembut.
Marcha menoleh. Tatapan itu. Ya Tuhan, kenapa tatapannya masih begitu? Ini cowok atau hipnotis keliling?
"Gue gak apa-apa," jawab Marcha dingin. "Lo periksa aja Papi gue."
"Yakin?" Deven masih menatapnya.
Marcha mengangguk cepat lalu menunduk, menatap lantai. Ia tak sanggup menatap mata Deven terlalu lama. Takut pingsan atau lebih parah—jatuh cinta lagi. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya fokus pada Papi.
Dia cuma dokter. Cuma dokter.
Tapi tetap saja—wajah itu, suara itu, cara dia bergerak...Marcha memalingkan wajah. Ia wanita yang punya harga diri. Ia mengulang kalimat itu di kepalanya seperti mantra.
⸻
Belum selesai Deven memeriksa Papi, ponsel Marcha bergetar.
Deca.
Lebih penting.
"Sebentar," katanya pelan sambil menepuk pundak Ingvar. "Gue keluar dulu."
"Bonjour, madame," suara Deca terdengar.
"Ada apa, Deca?" jawab Marcha cepat
Di koridor rumah sakit, Marcha bicara dengan nada tegas. Isu majalah MSR La Mode—foto model yang bentrok dengan media lain. Saat ia berjalan, ia melihat rombongan teman-temannya datang.
Gogo. Friden. Sharon. Joaquine. Antasia. Clarice. Kevin. Shanna.
Marcha melambaikan tangan sambil tersenyum tipis, lalu menatap Kevin tajam "Kita perlu ngomong."
Tanpa suara. Kevin mengacungkan jempol.
Shanna mengernyit. Marcha membalas dengan senyum samar—tajam tapi sopan. Telepon dengan Deca berlangsung lama. Bukan cuma majalah—bisnis yang tertunda, proyek yang dibatalkan. Ya, rugi dikit. Hidup bukan cuma soal untung. Akhirnya, ia kembali ke kamar.
Deven sedang bicara serius dengan Ingvar dan Mami.
"Sebetulnya om sudah stabil dan membaik," kata Deven, melirik Marcha. "Tapi tetap perlu terapi karena ini jamur, bukan bakteri atau virus."
"Bisa dirawat di rumah?" tanya Mami.
"Bisa, tapi om perlu pemeriksaan lanjutan," jawab Deven. "Untuk memastikan penyebabnya."
"Kenapa harus periksa yang lain?" potong Marcha dingin.
"Meningitis jamur biasanya muncul karena sistem imun lemah," jelas Deven sabar. "Bisa karena kanker, atau—"
"Lo bilang Papi gue kena penyakit itu?" suara Marcha meninggi.
"Enggak," jawab Deven tenang. "Gue bilang itu kemungkinan penyebab. Makanya perlu dicek."
Marcha menghela napas tajam. "Analisa lo ini bener? Atau lo cuma ngarang penyakit Papi gue?"
"Cha," Shanna langsung menyela, "ngomong yang sopan. Deven ini dokter—"
"Gue cuma nanya," potong Marcha tajam sambil menatap Shanna. "Gak usah sewot."
"Udah," kata Deven sambil menahan lengan Shanna.
Dada Marcha langsung nyeri. Dulu... tangan gue tapi Deven segera melepas pegangan itu dan menatap Marcha.
"Kalau lo gak percaya sama gue," katanya tegas tapi tenang, "lo boleh bawa bokap lo ke rumah sakit lain. Tapi sekarang itu gak bijak. Stabil bukan berarti kuat."
Marcha terdiam. Ia melipat tangan, menatap Papi yang tertidur. Berapa lama ia harus terus menghadapi Deven kalau pemeriksaan ini berlanjut? Marcha menarik napas panjang. Gue harus ngelakuin sesuatu dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Indonesia, Marcha sadar—melarikan diri bukan lagi pilihan
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
