About things (Kevin)

48 8 3
                                        

Sial memang. Bisa-bisanya kehujanan tepat sebelum sampai panti. Padahal Kevin sudah niat tampil serapi mungkin. Kemeja rapi, jas disiapkan, sepatu disemir. Sekarang? Semua rencana itu gugur di bawah hujan. Alih-alih jas, Kevin berdiri dengan sweater kebesaran milik Budi, pemilik panti. Sweater yang kalau dipakai Kevin, bahunya kelebaran dan lengannya kepanjangan—jelas bukan size "lawyer sukses". Selesai makan, Kevin melangkah ke teras. Udara masih lembap, hujan baru saja reda. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam-dalam.
Belum sempat nikmat, sebuah suara menyusul dari belakang.
"Hei... gue gak tau lo sekarang ngerokok, Vin."
Kevin menoleh. Deven berdiri di ambang pintu, menenteng gelas plastik. Aroma kopi hitam pekat langsung tercium—wangi pahit yang khas dan sedikit menenangkan.
"Yeah," Kevin menghembuskan asap, "it's been a while."
"Waktu kuliah atau waktu kerja?" tanya Deven santai.
"Kerja," jawab Kevin sambil nyengir. "Gue stres, Dev."
Deven tertawa kecil. "Ya gue tau. Kerjaan lawyer tuh gak ramah mental. Apalagi kalau bos lo satu kayak—Marcha."
Kevin ikut tertawa. "You know her better."
"I guess." Deven duduk di sebelahnya, menyeruput kopi. "Ehm... Vin, gue boleh nanya sesuatu gak?"
"Jez, Dev." Kevin mendecak. "Kalau mau nanya ya tanya aja. Who are you? Polisi moral?"
"Ya gue takut lo marah," kata Deven setengah bercanda.
"Masalah apa sih yang bisa bikin gue marah?" Kevin terkekeh.
"Shanna."
Tawa Kevin berhenti seketika. Rokok di tangannya menggantung, asapnya mengambang tipis.
"Tuh kan," Deven nyengir kecil. "Gue tau lo ada masalah sama Shanna."
"Well," Kevin menghela napas, "basically ini bahkan bukan masalah besar. Dan gak penting."
"Tapi lo nyuekin dia," Deven mengangkat alis. "Lo marah karena dia sama gue?"
"Dev," Kevin menoleh, menatap serius. "Gue gak sepicik itu. Gue dukung hubungan kalian kalau itu bikin kalian bahagia. Masalah gue sama Shanna bukan soal itu."
"Terus?" Deven tampak waspada.
"Gue kecewa."
"Kecewa?" Deven mengulang, kaget.
"Iya." Kevin mengusap wajahnya sebentar. "Ternyata dia gak seperti yang gue kira."
"Maksud lo?" Deven mengernyit.
"Shannon berubah, Dev." Nada Kevin rendah tapi tegas. "Dan gue gak suka sama pribadi dia yang sekarang. Bukan Shannon yang gue kenal waktu SMA."
"Wow..." Deven terkekeh, lebih karena heran. "Lo orang pertama yang ngomong gitu. Semua orang suka Shannon. Gue juga ngerasa dia gak berubah sama sekali dari SMA sampai sekarang." Ia mencondongkan badan. "Lo yakin yang lo omongin ini Shanna Shannon Siswanto? Cewek gue ini?"
"Ya iya," potong Kevin. "Kita ngomongin cewek lo." Kevin menghembuskan asap perlahan "Kalau lo bener-bener kenal dia waktu SMA," lanjutnya, "lo bakal sadar ada sisi Shanna yang berubah dan gue... gue gak suka. Gue kecewa setengah mati."
Sunyi jatuh di teras itu, cuma diisi bunyi hujan sisa yang menetes dari atap—dan kopi Deven yang sudah dingin tanpa disadari. Deven terdiam. Alisnya sedikit berkerut, jelas masih mencerna ucapan Kevin barusan. Belum sempat ia bicara, sebuah suara menyela dari arah dalam rumah.
"Hei! Gue nyariin kalian!"
Deven dan Kevin menoleh bersamaan. Gogo dan Friden berdiri di pintu, wajah mereka kompak antara kesal dan capek. Tatapan Gogo paling niat—seolah Kevin dan Deven baru saja kabur dari tanggung jawab negara.
"Kita barusan mundur gak tampil," kata Gogo sambil berkacak pinggang, "karena orang-orang udah laper. Sekarang udah pada selesai makan... eh kalian malah ngilang. Yang bener dong, gaes. Ini acara panti, bukan acara menghilang."
"Iya, iya..." Deven nyengir lebar. "Sorry Go, gue lupa."
"Lupa atau pura-pura lupa?" Friden nyeletuk datar.
Deven berdiri, menepuk pundak Kevin. "Ayo Vin."
Kevin menghela napas panjang—napas orang dewasa yang capek mikir hidup—lalu ikut berdiri. Mereka berjalan menyusul Gogo, tapi baru beberapa langkah, Kevin tiba-tiba menarik lengan Deven.
Deven berhenti dan berbalik "Ada apa, Vin?"
Kevin menggaruk tengkuknya. "Hmm... soal Shanna tadi."
Deven langsung pasang wajah siaga.
"Itu cuma opini gue," lanjut Kevin cepat. "Jangan sampai lo ngelihat dia beda gara-gara omongan gue. Gue gak mau suatu hari dituduh penyebab lo batal nikah."
Deven tertawa kecil. "Santai." Ia menepuk dada sendiri. "Gue tau itu pendapat pribadi lo dan itu gak akan ngubah pandangan gue soal Shanna—atau alasan kenapa gue mau nikah sama dia."
Kevin mengangguk, lega. "Oke."
Belum sempat mereka lanjut jalan—
"Hei kalian berdua!" Suara Gogo menggema lagi.
Deven dan Kevin menoleh. Wajah Gogo sekarang sudah di level kesal stadium akhir.
"Ayooo dong!" serunya. "Jangan jadi pangeran solo! Lambat banget sumpah. Ini acara amal, bukan sinetron jam sembilan."
Kevin dan Deven langsung tertawa. Mereka berjalan mendekat ke arah Gogo.
"Pangeran solo?" Deven terkekeh geli. "Istilah dari mana lagi itu, Go?"
Gogo mendengus. "Dari kepala gue yang kelaparan dan capek nungguin dua manusia drama."
Friden menimpali santai, "Untung belum dia bilang raja galau."
Tawa mereka pecah, menutup obrolan berat tadi—setidaknya untuk malam itu
Kevin, Deven, Gogo, dan Friden menutup sore itu dengan penampilan band kecil-kecilan untuk anak-anak panti. Deven berduet dengan Shanna. Suara mereka menyatu, sederhana tapi hangat. Anak-anak panti bersorak, bertepuk tangan, beberapa melompat kegirangan.
Saat lagu terakhir selesai, ruangan dipenuhi tepuk tangan dan teriakan bahagia, lelah—tapi bahagia.
Kegiatan berlanjut dengan melukis bersama. Marcha, Shanna, Anastasia, dan Clarice mengajari anak-anak menggambar. Tangan-tangan kecil belepotan cat warna-warni, dinding penuh kertas, dan tawa pecah tanpa beban. Sementara itu, Kevin, Deven, Gogo, Friden, dan Rey membantu pengurus panti memindahkan perabot. Meja digeser, kursi diangkat, lemari dipindahkan. Keringat bercampur debu, tapi tak ada yang mengeluh tanpa terasa, sore berubah menjadi malam. Lampu-lampu menyala satu per satu.
Kevin melirik jam tangannya. Sudah malam. Tubuhnya terasa remuk. Kepalanya penuh. Besok ia harus ke pengadilan—dan berkas-berkas masih menunggu. Ia ingin pulang. Sekarang.
"Vin."
Kevin menoleh. Marcha berdiri beberapa langkah darinya.
"Ya, Cha?"
"Lo langsung pulang?" tanya Marcha.
"Iya," jawab Kevin jujur. "Besok gue sidang. Malam ini gue harus siapin berkas." Ia berhenti sejenak. "Kenapa?"
Marcha ragu sepersekian detik "Ehm... kita bisa ngobrol bentar?"
Kevin mengernyit. "Ini soal kerjaan?"
"Bukan."
Itu yang aneh. Marcha jarang—nyaris tidak pernah—mengajak ngobrol kalau bukan urusan kerja.
"Ya udah," kata Kevin akhirnya. "Tapi gue gak bisa lama."
"Gak lama," jawab Marcha sambil nyengir kecil.
Mereka berjalan ke halaman belakang. Dan di sana—Shanna berdiri. Langkah Kevin langsung terhenti.
Ia menoleh ke Marcha. "Lo mau ngobrolin ini?" tanyanya dingin, menunjuk Shanna.
Marcha tidak menjawab. Shanna justru melangkah mendekat.
"Vin," kata Shanna, suaranya bergetar. "Marcha aja gak marah soal gue sama Deven. Dia juga gak marah sama Deven. Kenapa lo marah sampe nyuekin gue?"
Kevin menatapnya lurus "Lo pikir gue marah karena gue gak suka lo nikah sama Deven?"
"I-iya... kan?" Shanna menjawab ragu.
Kevin menghela napas panjang, lalu menggeleng. Ia menoleh ke Marcha "Cha, kalau lo gak tau masalahnya, gak usah ikut campur," katanya tajam, ini sama sekali bukan soal gue nerima atau nggak nerima mereka. Lo tau perasaan gue. Gue juga tau perasaan lo."
Kevin berbalik, hendak pergi tapi Shanna menahan lengannya.
"Vin... gue minta maaf kalau gue bikin lo marah atau—"
"Lo gak salah apa-apa," potong Kevin cepat "Buat apa lo minta maaf? Gue cuma gak suka sama lo. Sama sikap lo."
Mata Shanna berkaca-kaca. Kevin melihatnya—dan ia tidak ingin berurusan dengan air mata.
"Cukup," katanya dingin "Mulai sekarang, lo gak usah ganggu gue. Gak usah minta tolong siapa pun buat maksa kita ngobrol." Suaranya meninggi. "Gue udah gak tertarik punya hubungan apa pun sama lo. Bahkan buat berteman." Ia menatap Shanna tajam "Jangan muncul lagi di depan gue, Shan."
Kevin pergi. Mungkin kata-katanya keterlaluan tapi Kevin sudah tidak sanggup. Shanna bukan perempuan yang dulu ia cintai setengah mati. Segalanya berubah. Dunia berputar. Waktu berjalan. Orang berubah hanya satu yang tidak pernah ikut berubah—kenangan.
"Vin! Tunggu, Vin!" Marcha menyusulnya sampai ke parkiran.
Kevin hampir membuka pintu mobil saat tangan Marcha menarik lengannya.
"Hei, Vin!"
"Apa lagi, Cha?" bentaknya.
"Apa lagi?" Marcha marah. "Lo minta maaf sama Shanna. Lo bikin dia nangis."
"Enggak," jawab Kevin tegas "Gue gak salah. Gue cuma gak mau temenan sama dia. Itu salah?"
"Gue gak tau masalah lo apa sama Shanna," kata Marcha, suaranya bergetar, "tapi kata-kata lo barusan itu nyakitin banget."
"Bodoh amat," Kevin mendecak, mengeluarkan kunci mobil.
Marcha mencengkeram tangannya. Pegangannya kuat—sakit sampai ke tulang.
"Cha, lepasin."
Marcha menoleh. Shanna berdiri di dekat pagar. Air mata masih membekas di pipi dan matanya.
"Tapi Shan—"
"Lo denger kan dia?" Kevin membentak. "Lepasin, Cha."
"Urusan kita belum selesai," kata Marcha tajam.
"Kalau kerjaan, memang belum," balas Kevin sambil berusaha melepaskan tangannya "Tapi kalau ini—"
"Gue gak ngomongin kerjaan," potong Marcha. "Gue ngomongin sahabat gue yang lo bikin nangis."
Kevin tertawa sinis "What the fuck, Cha?, Dia ngambil cowok lo dan lo masih punya nyali nyebut dia sahabat?" Nada suaranya pahit "She's not a good person. Don't be so naive."
Marcha terdiam. Kaget. Mungkin Deven bukan pacarnya tapi bagi Kevin, Shanna tetap terlihat seperti mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Kevin akhirnya berhasil membuka pintu, masuk ke mobil, dan melajukannya kencang—meninggalkan Marcha dan Shanna di belakang. Entah mereka akan bertengkar atau tidak. Kalau iya, itu wajar karena menurut Kevin, Shanna memang sudah keterlaluan.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang