"Iya, Pak... baik. Nanti saya coba bicara sama pengurus pantinya," ujar Kevin ke telepon dengan nada profesional. "Tenang saja, semuanya akan beres. Iya, Pak. Sampai nanti."
Telepon ditutup.
Kevin menghela napas panjang sambil mengusap wajah. Separuh perhatiannya masih tertinggal di layar ponsel. Sebenarnya ini bukan kasus yang sulit. Ambil alih panti asuhan, urus legalitas, lalu jual. Titik.
Masalahnya, Kevin paling nggak suka urusan yang berbau sosial. Ironis, mengingat dia sendiri cukup aktif di kegiatan sosial. Tapi ya... namanya kerjaan. Kliennya, Eddy, sebenarnya yang ingin ambil alih panti ini. Tapi karena ribet, urusan itu dilempar ke papinya—dan ujung-ujungnya ke Kevin. Kesal? Banget tapi mau gimana.
Beberapa saat kemudian, Kevin sudah sampai di panti asuhan dan di situlah ia bertemu Indah Risna.
"Sek ta, Mas... tak telepon sek," kata Indah gugup. "Aku gak eroh urusan koyok ngene."
Kevin menatapnya kosong. "Hah? Lo ngomong apaan sih? Gue nggak ngerti. Bisa pakai bahasa Indonesia nggak?"
"Maaf, Mas. Tunggu pengurus yang lain aja, ya," kata Indah cepat. "Saya juga nggak ngerti masalahnya."
"Kapan datangnya?" tanya Kevin, sedikit lega.
"Katanya satu jam lagi," jawab Indah. "Kalau Mas nunggu kelamaan, bisa main sama anak-anak dulu."
"Satu jam?" Kevin refleks meninggi. "Lama banget!"
"Semua orang sibuk, Mas," kata Indah datar. "Nggak cuma Mas aja. Kalau mau pulang juga nggak apa-apa."
"Pulang?" Kevin mendengus. "Lo kira Jakarta–Bogor berapa menit? Gue nggak mungkin pulang dengan tangan kosong."
"Yo wes to, Mas. Lek gak gelem muleh, entenono," jawab Indah santai.
Kevin mengerutkan kening.
Ia memilih diam. Karena jujur... dia nggak ngerti harus nanggepin apa.
"Mau minum apa, Mas?" tanya Indah lagi, sopan. "Kopi atau teh?"
"Kopi."
"Pahit atau manis?"
"Pahit."
"Pantes," gumam Indah. "Raine pait."
Kevin kembali mengernyit. Instingnya bilang itu bukan pujian. Indah pergi ke belakang, meninggalkan Kevin yang bengong sendirian. Ia mengeluarkan ponsel, berniat mengabari Ridwan soal kekacauan ini. Belum sempat menelepon, layar ponselnya menyala.
Marcha. Ini anak mau ngapain lagi?
"Halo, Cha," sapa Kevin.
"Vin, lo nggak usah titipin kontrak itu ke Friden," kata Marcha cepat. "Besok pagi gue nyampe Jakarta."
"Iya, gue tahu," jawab Kevin. "Deven yang ngasih tahu."
"De—Deven?" suara Marcha terdengar kaget. "Itu anak tahu dari mana gue pulang?"
"Nyokap lo ngomong. Deven kan dokter papi lo."
"Oh." Marcha terdengar mikir. "Gue terakhir nelpon mami cuma bilang mau balik Indo doang."
"Terus?" tanya Kevin.
"Terus apanya?"
"Deven dokter papi lo," ulang Kevin.
"Ya udah, berarti dia dokter papi gue," jawab Marcha santai. "Gue mau ngapain? Lagi pula dia sama Shannon. Gue nggak mau ganggu. Kayak dulu Shannon juga nggak ganggu gue sama Deven."
"Yakin lo?" Kevin sengaja memancing.
"Vin," suara Marcha langsung dingin, "gue tutup telepon ya kalau lo ngomong hal nggak penting."
Terdengar pintu berderit. Kevin menoleh. Indah datang membawa kopi.
"Iki Mas kopi'e. Temenan gak njaluk gula?" katanya.
"Lo di mana sih, Vin?" tanya Marcha sambil ketawa. "Kok ada orang ngomong Jawa?"
"Lo ngerti?" Kevin kaget.
"Lo lupa gue pernah tinggal di Surabaya?" sahut Marcha santai.
"Dia barusan ngomong apaan?" bisik Kevin.
"Dia nanya, kopinya beneran nggak pakai gula."
"Wow. Impressive," Kevin nyengir. "Terus gue jawabnya gimana, bahasa Jawa?"
"Vin," Marcha mendengus, "lo ini pengacara, bukan peserta lomba pidato Jawa."
"Gue nggak mau keliatan bodoh," bisik Kevin. "Harga diri, Cha."
"So?"
"Bantuin gue lah."
"Lo mau gula apa nggak?"
"Dikit."
"Yow wes, Mbak. Sitik ae gulo'e," kata Marcha lancar.
Kevin mengulang ragu-ragu, "Yow wes, Mbak... sitik ae gulo'e."
Indah menatap Kevin heran. "Eh Mas'e iso bohoso Jowo to? Ngono kok ngomong gak ngerti, Mas?"
Marcha ngakak. "Lo jawab aja, koncoku sing iso."
"Koncoku sing iso," ulang Kevin patuh.
Indah mengangguk. "Tak pikir kon pinter, Mas."
Kevin langsung panik. "Itu artinya apa? Pintar, kan? Pintar itu positif, kan?!"
Marcha tertawa makin keras. "Udah Vin, jangan ditanya. Nggak kelar-kelar ini telepon."
"Ya udah," lanjut Marcha. "Ntar aja kita ngobrol kalau gue udah di Indo."
"Okay. See you tomorrow, Cha."
"Tomorrow apaan? Emang kita ketemu besok?"
"Anak-anak mau jenguk papi lo."
"Oh... oke."
"Siapin hati lo aja ketemu Deven," goda Kevin.
"Gue pasti ketemu dia kalau dia dokter papi gue," sahut Marcha santai. "Jangan lebay deh, Vin." Ia lalu menambahkan, "Udah ya. Gue mau take off. Nyampe Indo kita lanjut ribut lagi."
Kevin tersenyum kecil "Okay. Bye, Cha."
Telepon ditutup—dan Kevin menatap kopi pahit di depannya, merasa hari ini rasanya... makin pahit juga
Indah bertanya pada Kevin tentang alasan kedatangannya ke panti. Kevin menjelaskan sebisanya—panjang, formal, dan jelas ala pengacara—meski ia sendiri ragu Indah benar-benar paham. Ternyata... Indah mengangguk-angguk.
"Nanti Mas ngomong sama Mbak'e," kata Indah mantap. "Pasti gak isa ngomong. Pintar... lan menakutkan."
"Menakutkan?" Kening Kevin langsung berkerut. "Emang gue bakal ngomong sama monster atau hantu, gitu?"
"Ih, Mas," Indah langsung menegur. "Gak boleh gitu ngomongin orang."
"Loh, tadi Mbak yang bilang menakutkan," protes Kevin.
Indah belum sempat menjawab ketika bel pintu berbunyi.
"Iku wes teko," kata Indah cepat. "Matèk kon, Mas."
Kevin menatapnya bengong. Ia memilih diam dan begitu pintu terbuka—
Shanna.
Kevin mengedip. Sekali. Dua kali. Oh. Pantesan.
"Si medok?" ulang Shanna bingung, menatap Kevin. "Maksud lo Indah?"
"Iya," jawab Kevin santai sambil berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Indah ini medok. Terus katanya pengurus panti itu pintar dan menakutkan." Ia menyeringai. "Tapi lo nakutin dari mana, Shan? Dari Hong Kong?"
Shanna menghela napas panjang. "Gue gak mau bahas hal-hal yang gak gue pahami." Ia menatap Kevin lurus. "Lo ke sini sebagai pengacaranya Pak Ridwan?"
Kevin mengangguk. "Oh iya, hampir lupa." Ia meraih tasnya, mengambil sebuah map, lalu menyodorkannya ke Shanna. "Tinggal tanda tangan di sini, urusannya selesai."
Shanna membuka map itu dan membaca isinya. Wajahnya perlahan berubah. Kevin memperhatikan. Shanna masih cantik—bahkan lebih dewasa sekarang. Tapi tatapan itu... sama seperti dulu. Tegas. Keras kepala.
"Gak bisa," kata Shanna akhirnya. "Pak Budi dan Bu Lestari pasti gak setuju. Diambil alih lalu dijual?" Ia mengangkat kepala. "Nasib anak-anak di sini gimana?"
"Itu bukan urusan gue," jawab Kevin jujur. "Gue cuma menyampaikan. Dan gue butuh tanda tangan salah satu pengurus panti."
"No way," Shanna tertawa pendek, sinis. "Lo pikir gue bodoh, Vin? Anak-anak ini hati gue. Dan yang lo mau ambil ini tempat tinggal mereka."
"Bukan gue yang mau ambil," balas Kevin. "Pemilik gedungnya."
"Pak Edwin gak bakal melakukan ini," Shanna menggeleng. "Gak mungkin."
"Pak Edwin sudah terlalu tua buat ngurus hal-hal begini," kata Kevin enteng.
"Tapi gedung ini atas nama Pak Edwin, bukan Pak Ridwan," bantah Shanna.
"Pak Ridwan itu anaknya," jawab Kevin.
"So?" suara Shanna meninggi.
"So, pada akhirnya gedung ini jadi milik Pak Ridwan," lanjut Kevin, "dan—"
"Lo tanya dulu klien lo," potong Shanna tajam. "Suruh dia ngomong baik-baik sama bokapnya. Enak aja ambil gedung bapaknya sendiri."
"Kalau surat ini sudah keluar," Kevin menunjuk map di tangan Shanna, "artinya dia sudah—"
Belum selesai kalimat itu—Krek.
Shanna merobek map beserta seluruh dokumen di dalamnya. Kevin terdiam. Matanya membelalak Itu... dokumen asli. Surat kontrak yang ia urus berhari-hari di pengadilan.
"Lo ngapain, sih?!" bentak Kevin, suaranya naik, matanya melotot. "Lo tau gak butuh berapa lama gue dapet kertas itu?"
"Gue gak peduli," jawab Shanna dingin. "Kalau mau ambil alih gedung ini, suruh Pak Ridwan datang sama Pak Edwin. Kita bicarakan baik-baik." Ia menatap Kevin tanpa gentar "Gue gak peduli siapa pemiliknya. Anak-anak di sini harus punya tempat tinggal. Kalau mau ngusir mereka dengan cara kayak gini—gue gak terima."
"Tapi lo gak perlu ngerobek juga," desis Kevin kesal.
"Yang gue peduli cuma satu," kata Shanna tegas. "Anak-anak di sini."
Kevin menarik napas dalam-dalam "Gue cuma kerja, Shan," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. "Dan lo gak perlu semarah ini ke gue... kecuali marah lo sebenarnya bukan cuma soal panti." Ia menatap Shanna tajam "Lo marah karena urusan lain, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
