"Lo ketemu Betrand ini gak izin nyokap lo, Neth?" tanya Shanna sambil melirik Anneth yang duduk di sebelahnya.
Mereka lagi di mobil, dalam perjalanan menuju rumah keluarga Onsu. Suasana di dalam mobil agak tegang, tapi tetap terasa akrab seperti biasa.
"Enggak. Gue memang gak boleh ketemu sama Betrand," jawab Anneth santai. "Katanya nanti bikin Deven cemburu."
Shanna langsung memutar bola matanya, cemburu dari mana? Deven aja udah kelihatan gak peduli sama Anneth bahkan Shanna sendiri udah lama gak komunikasi sama dia.
"Jadi lo ketemu Betrand diam-diam?" tanya Shanna lagi. "Kalau ketahuan media gimana? Ketahuan nyokap lo juga kan ujung-ujungnya, Neth?"
"Gue yakin gak bakal ada yang nge-follow gue ke rumah Betrand," jawab Anneth yakin.
Shanna mendengus pelan. "Lo ketemu Deven aja kemarin ketahuan dan langsung rame di medsos."
Anneth tersenyum tipis. "Well... yang itu emang sengaja, gue yang ngatur."
"What???" Shanna langsung menoleh cepat. "Lo sengaja ngejebak Deven?"
"Deven gak kena jebakan gue," jawab Anneth santai. "Dia tau sifat mami gue."
Shanna mengerutkan dahi. "Maksud lo?"
Anneth menarik napas pelan sebelum menjawab "Kemarin gue berharap Deven bukain pintu buat gue jadi wartawan gadungan yang gue bayar itu bisa foto gue pas masuk apartemen dia kalau dia beneran ngebolehin gue masuk... boom, media langsung mikir kita balikan."
Shanna terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan. "Tapi rencana lo gak berhasil, Deven gak ngebolehin lo masuk."
"Iya," jawab Anneth singkat. "Gue tau Deven itu susah, dia ngerti banget sifat mami gue tapi gue juga gak bisa ngelawan mami gue."
Shanna menatap Anneth sebentar. "Tapi lo masih berharap sama Deven, kan?"
Anneth tertawa kecil, tapi terdengar agak pahit "Ya... siapa tau, kan."
Mobil mulai melambat, rumah keluarga Onsu sudah kelihatan di depan.
Anneth langsung menatap ke arah halaman. "Eh, ada Kevin."
"Ya pasti ada Kevin," kata Shanna. "Dia kan pengacara Betrand."
"Iya, tapi gue maunya ini diselesaiin secara kekeluargaan," kata Anneth pelan. "Gue gak mau sampai ke pengadilan."
"Gue yakin Kevin bisa bantu bikin suasana lebih tenang," jawab Shanna.
Anneth mengerutkan bibir. "Hmm... tapi tetep aja bawa pengacara."
"Neth," kata Shanna sabar sambil menepuk tangan Anneth pelan, "kita ngomong dulu aja, pelan-pelan."
Anneth menghela napas panjang, lalu menatap Shanna sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya deh."
Pintu dibuka oleh pembantu dari ambang pintu, Shanna langsung bisa melihat ruang tamu, Betrand sudah duduk di sana... Kevin ada di sampingnya, dan Ruben juga terlihat duduk dengan wajah serius.
Shanna melirik Anneth, wajah Anneth langsung pucat.
"Take it easy, Neth," bisik Shanna pelan.
Anneth tidak menjawab, dia cuma menarik napas panjang, lalu melangkah masuk... mereka berdua berjalan ke ruang tamu dan duduk di hadapan Ruben, Betrand, dan Kevin.
"Kalian mau minum apa?" tanya Betrand dengan nada ramah. "Teh? Kopi?"
"Teh," jawab Shanna.
"Kopi," kata Anneth pelan.
"Okay. Satu teh, satu kopi," kata Betrand sambil menoleh ke arah pembantunya.
Pembantu itu langsung pergi ke dapur. Ruangan kembali hening beberapa detik.
"So..." kata Betrand akhirnya, langsung to the point. "Kalian ke sini mau ngomongin kontrak yang batal, kan?"
"Iya," jawab Anneth. "Gue harap lo ngerti posisi gue, Bet. Gue gak mau masalah ini sampai ke pengadilan, ini sebenarnya bukan masalah besar."
"Bukan masalah besar kalau kontraknya lo selesain, Neth," jawab Betrand datar.
"Gue gak bisa selesain kontrak itu, bukan gue yang gak mau," kata Anneth cepat. "Tapi manajemen gue."
"Itu urusan lo sama manajemen lo," kata Betrand. "Gue gak mau harus ganti rugi ke sponsor, label, dan yang lain. Gue juga masih bisa selesain kontrak itu."
"Lo gak bisa ganti kontraknya jadi lo sendiri aja?" tanya Anneth.
Tiba-tiba Ruben langsung menyela "Lo pikir dunia ini punya bapak lo?" katanya dengan nada tinggi. "Ini bukan masalah kecil. Deal kontrak itu nilainya ratusan juta sampai miliaran!"
Shanna langsung diam, dia tahu Ruben tidak berlebihan... kontrak, sponsor dan label memang bukan jumlah kecil, membatalkan kontrak sepihak itu bisa jadi masalah besar.
"Neth," kata Kevin dengan suara lebih tenang. "Gue di sini memang sebagai pengacara keluarga Onsu. Tapi saran gue, lo harus ngomong langsung ke manajemen lo."
Anneth menatap Kevin.
"Gue tahu lo sama Betrand mungkin bisa bayar ganti rugi," lanjut Kevin. "Tapi kalau masalah ini dianggap pelanggaran kontrak yang disengaja, lo bisa kena masalah hukum bahkan bisa masuk penjara."
Anneth menghela napas panjang.
"Kita coba ngomong ke nyokap lo lagi," kata Shanna pelan.
"Nyokap gue gak mau gue ada hubungan apa pun sama Betrand," jawab Anneth. "Sama kayak dulu gue gak boleh ada hubungan apa pun sama Deven."
"Lo harus ngelakuin sesuatu, Neth. Kalau enggak, lo yang bakal rugi," kata Kevin.
"Lo udah bilang ke nyokap lo kalau kontrak ini nilainya besar banget?" tanya Shanna.
"Udah, Shan. Gue udah ngomong."
"Terus apa kata nyokap lo?" tanya Kevin heran. "Gak sayang uang segitu hilang gitu aja?"
Anneth menatap meja beberapa detik sebelum menjawab "Nyokap gue bilang... lebih baik uang hilang daripada masa depan gue yang hilang."
Betrand langsung menatap tajam "Maksudnya apa?" katanya. "Nyokap lo nganggep kalau sama gue, lo gak punya masa depan?"
"Suruh mami lo lihat keluarga gue," tambah Ruben, ikut emosi. "Keluarga gue bukan keluarga gak mampu!"
Anneth tersenyum tipis, tapi nadanya malah makin dingin. "Well... Betrand cuma anak adopsi," katanya. "Dia juga gak bakal mewarisi apa pun dari om kalau om meninggal."
Shanna langsung kaget. Ucapan itu terlalu sensitif, Ruben langsung berdiri setengah.
"Apa yang lo bilang tadi?" suaranya naik.
Betrand menatap Anneth dengan wajah kecewa "Jadi ini semua cuma soal harta, Neth?"
"Bukan harta tapi kerjaan," jawab Anneth. "Lo cuma penyanyi, Bet. Gue gak bisa menggantungkan hidup gue sama cowok yang penghasilannya gak pasti tiap bulan."
"Gue bisa kasih Betrand bisnis!" kata Ruben marah.
"Neth," Kevin akhirnya ikut kesal. "Kalau lo memang gak mau lanjutin kontrak ini, jangan nyari-nyari alasan lain. Kita gak mau masalah ini melebar lebih dari sekadar kontrak kerja."
"Gue gak mau ada masalah hukum," kata Anneth. "Gue cuma mau itu."
"Justru karena itu lo harus ketemu manajemen lo," jawab Kevin tegas. "Sekalipun Betrand gak nuntut lo, sponsor dan label tetap bisa nuntut lo."
Betrand menatap Anneth tajam.
"Gue bakal nuntut lo," katanya pelan tapi dingin. "Kalau lo mau gue yang bayar semua ganti rugi, gue bakal nuntut lo."
Anneth langsung kesal "Kenapa sih lo bikin perpisahan kita jadi ribet, Bet?"
"Gue gak ngomongin hubungan kita di sini!" kata Betrand. "Ini murni soal kerjaan!"
Shanna cuma bisa diam. Dia tahu... semua ini memang berawal dari Anneth tapi di sisi lain, dia juga tahu ini semua ada campur tangan maminya Anneth.
"Lebih baik kalian pulang dulu," kata Kevin akhirnya, dia menatap Shanna, lalu Anneth. "Lo harus ngomong sama manajemen lo, kita cari jalan tengah yang paling aman."
Anneth berdiri "Ya udah. Gue sama Shanna pulang dulu," katanya dingin. "Dan Bet... lo pikirin baik-baik kalau lo mau bikin masalah sama gue, media gak bakal diam."
"Gue gak takut media," jawab Betrand. "Justru lo yang harusnya takut kalau sampai masa lalu lo sama Deven dulu kebongkar lagi, lo pikir karier lo bakal tetap di puncak?"
"Lo ngancem gue?" tanya Anneth.
Betrand tersenyum tipis "Gue gak ngancem, gue cuma ngingetin."
Anneth langsung berdiri dan berjalan keluar tanpa pamit.
Shanna buru-buru berdiri "Permisi, Om... Bet..." katanya pelan. Lalu dia menoleh ke Kevin.
"Nanti call ya."
Kevin cuma nyengir. "Pasti."
Shanna langsung keluar mengikuti Anneth.
⸻
Anneth sudah duduk di dalam mobil, wajahnya masih tegang. Shanna masuk ke kursi sebelahnya.
"Neth, gue kira lo ke sini mau nyelesain ini baik-baik," kata Shanna pelan.
"Lo lihat sendiri kan sikap Betrand sama bokapnya?" jawab Anneth kesal. "Gimana gue mau ngomong baik-baik kalau mereka juga begitu?"
"Yang mereka bilang masuk akal, Neth," kata Shanna. "Ini bukan cuma soal lo putus sama Betrand. Ini soal kontrak kerja kalau lo gak selesain, lo bisa kena masalah serius."
Anneth menghela napas panjang "Gue harus ngomong ke manajemen gue... tapi nyokap gue pasti gak setuju."
"Setuju atau enggak, lebih baik itu daripada lo kena masalah hukum," kata Shanna. "Lo lihat tadi Om Ruben sampai semarah itu."
Anneth menatap ke depan, lalu berkata pelan, "Gue juga keterlaluan tadi, Shan."
Shanna tidak menjawab. Dia cuma diam.
"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Shanna akhirnya.
"Gue bentar lagi ada acara offline," jawab Anneth. "Gue anterin lo pulang dulu ya, gak apa-apa kan?"
"Iya, gak apa-apa."
Mobil kembali melaju di jalanan Jakarta yang macet, Shanna menatap ke luar jendela dalam hati dia mulai khawatir kalau maminya Anneth tetap keras kepala, masalah ini bisa jadi makin besar, Shanna cuma berharap Kevin masih bisa membantu tapi dia sendiri juga gak yakin... apakah kali ini Kevin benar-benar bisa menolong Anneth.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
