Shanna nyaris tersenyum lebar saat Deven akhirnya mengangkat teleponnya. Bahkan sebelum Deven selesai bicara, harapannya sudah melompat terlalu jauh. Mereka sepakat bertemu di salah satu kafe favorit Shanna—tempat yang selalu ia yakini membawa keberuntungan.
Di kepalanya, Shanna sudah menyusun kemungkinan terbaik. Mungkin... hati Deven akhirnya terbuka. Mungkin... sekarang Deven sadar kalau Marcha bukan perempuan terbaik untuknya.
Marcha pergi. Meninggalkan Deven demi karier sama seperti Anneth dulu dan Shanna yakin—hal seperti itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa Deven maafkan karena ia tau betul bagaimana luka lama Deven bekerja.
Deven masih bisa dihubungi tapi Kevin? Sejak hari di bandara, sejak Marcha terbang kembali ke Paris, Kevin menghilang begitu saja.
Telepon tak pernah diangkat. Pesan tak pernah dibalas dan jujur saja—kalau ada Deven, untuk apa Kevin? Shanna tidak butuh semua pria di dunia. Ia hanya butuh satu. Pangerannya. Deven.
Shanna tiba di kafe lebih dulu... lalu melihatnya. Deven sudah duduk di sana. Ia mengenakan jas rapi dengan kemeja biru muda.
Masih setampan yang ia ingat—hanya terlihat sedikit lebih berisi bukan mengurangi pesonanya, justru membuatnya tampak... nyata.
Shanna menarik napas kecil. Perasaannya terasa ringan, hampir terlalu optimis. Ia berjalan mendekat dan duduk di depan Deven,
dengan senyum yang penuh harapan—tanpa tau, percakapan ini akan berjalan jauh dari yang ia bayangkan.
"Hai, Dev. Udah nunggu lama?" tanya Shanna sambil tersenyum.
Deven menggeleng pelan. "Nggak. Lo mau pesen apa, Non?"
"Kayak biasanya aja."
Deven memanggil pelayan, memesan minuman mereka. Setelah itu, ia menautkan jari, menatap Shanna lurus.
"Jadi," katanya tenang, "lo ngajak gue ketemu... mau ngomong apa?"
Shanna menarik napas kecil. "Lo tau Marcha balik ke Paris?"
"Iya," jawab Deven datar. "Dia telepon gue waktu di bandara."
"Terus?" Shanna menyipitkan mata.
"Terus kenapa?" Deven balik bertanya.
"Dia ninggalin elo dan—"
"Dia ninggalin gue karena elo," potong Deven.
Mata Shanna membesar. "Apa?"
"Marcha cerita ke lo? Dia bohong, Dev. Gue—"
"Marcha bilang ke gue dia sibuk sama kariernya," ujar Deven. "Tapi gue tau alasan aslinya... dari Kevin."
"Ke–Kevin?" suara Shanna naik satu oktaf.
"Iya." Deven menghela napas. "Dia ceritain semuanya. Tentang lo. Tentang Marcha."
Shanna terdiam. Wajahnya pucat. Ia tidak pernah menyangka Kevin akan bicara. Ia pikir Kevin... ada di pihaknya.
"Jangan mikir buruk soal Kevin," lanjut Deven dingin. "Ini bukan karena dia pengen campur tangan. Gue yang minta dia jujur."
Shanna langsung berdiri setengah badan. "Well, Kevin bohong! Dia mau ngerusak hubungan kita, Dev. Marcha itu temen gue!"
Deven menutup mata sesaat, menahan sabar.
"Gue ngajak lo ketemu karena gue berharap lo jujur," katanya pelan tapi menusuk "Gue pengen lo cerita apa yang sebenernya terjadi sama Marcha. Terus minta maaf." Ia menatap Shanna tanpa berkedip "Tapi ternyata... lo masih milih ego lo."
"Gue—" Shanna hendak menyela.
"Ternyata bener," potong Deven "Apa yang Kevin bilang beberapa minggu lalu. Lo udah bukan Shanna yang hatinya kayak malaikat yang gue kenal waktu SMA." Nada Deven turun. Kecewanya terasa jelas "Lo tau seberapa kecewanya gue? Semua ini cuma karena lo pengen bersaing sama Marcha."
"Gue nggak bersaing!" Shanna hampir berteriak. "Gue cuma nggak mau kehilangan elo!"
"Lo udah kehilangan gue," kata Deven dingin, "waktu lo mutusin buat ngusir Marcha balik ke Paris."
"Gue nggak ngusir dia!" Shanna cepat membela diri. "Dia pergi karena kerjaannya di Paris!"
"Really?" Deven membuka mata, menatapnya tajam.
"Iya!"
Pelayan datang meletakkan minuman. Deven meraih ponselnya. Lalu—suara rekaman terdengar. Suara Marcha. Suara Shanna. Wajah Shanna langsung berubah. Shock. Panik.
"Lo lupa ya," kata Deven pelan, "Kevin itu pengacara." Ia menatap Shanna tanpa belas kasihan "Dia tau apa yang bakal lo omongin. Rekaman itu buat jaga-jaga. Karena Marcha sempet mikir buat nuntut lo."
Shanna gemetar.
"Marcha tau soal rekaman ini," lanjut Deven "Tapi dia tetep milih pergi. Karena dia masih nganggep lo temennya. Dan dia nggak mau masalah ini makin besar." Deven mendekatkan ponsel "Lo bayangin kalau ini bocor ke media. Menurut lo... karier lo masih aman?"
"Dev, gue—"
"Cukup minta maaf," potong Deven. "Gue maafin tapi hubungan kita berhenti di sini."
"Itu editan!" Shanna panik. "Gue nggak pernah ngomong kayak gitu!"
"Editan?" Deven mengerutkan kening.
"Iya!" Shanna memaksa tenang. "Kevin masih suka sama gue. Dia mau hancurin hubungan kita!"
Deven malah nyengir kecil.
"Oke," katanya pelan. "Kalau lo yakin ini editan, kita cek ke ahli telematika."
Shanna terdiam.
"Kalau hasilnya bukan editan," lanjut Deven, "lo minta maaf ke Marcha dan Kevin."
"Ya udah," Shanna gelagapan. "Gue bisa panggil temen gue—"
"Stop," potong Deven "Biar adil. Kita pakai orang yang nggak kita kenal. Gue telepon Gogo sekarang."
Deven menekan layar. Shanna langsung menahan tangannya.
"Maaf, Dev," katanya cepat. Wajahnya merah "Itu... bukan editan."
Deven menarik napas panjang "Kenapa?"
"Kalau dia pergi," suara Shanna pecah, "lo bisa balik sama gue. Kayak dulu."
"Lo tau alasan gue sama lo nggak bisa bareng itu bukan karena Marcha," kata Deven.
"Tapi kalau kita putus, lo bakal sama dia," Shanna memaksa. "Iya kan, Dev?"
"Gue nggak tau apakah gue dan Marcha bakal bareng," jawab Deven jujur "Bahkan sampai detik terakhir, dia masih nggak bisa nerima gue... karena elo." Ia menatap Shanna lurus "Tapi gue nggak akan nyerah. Marcha cewek baik dan gue cinta sama dia."
"That's stupid," kata Shanna pahit.
"You call me stupid?" Deven menyeringai tipis "Coba lo tanya diri lo sendiri. Semua yang lo lakuin sekarang... nggak lebih bodoh?"
"Gue cinta sama lo, Dev. Jadi cinta itu bodoh?" tanya Shanna.
"Gue cinta sama Marcha," jawab Deven kejam "Lo jawab sendiri sisanya."
Deven menghabiskan minumannya sekali teguk, lalu berdiri "Gue yang bayar."
"Lo mau ke mana?" tanya Shanna panik.
"Ke Paris," jawab Deven pelan "Gue mau minta maaf."
"Gue nggak akan nyerah," suara Shanna bergetar.
Deven menoleh sebentar "Silakan. Tapi kita udah selesai."
Ia pergi meninggalkan Shanna sendirian Rencananya hancur. Bukan oleh Marcha. Bukan oleh Deven tapi oleh satu orang yang ia kira takkan pernah mengkhianatinya.
Kevin.
Shanna menatap ponselnya lama. Ingin menelepon Kevin, memakinya tapi apa gunanya? Deven sudah terbang mengejar Marcha. Shanna hanya bisa berharap satu hal: semoga Marcha menolak Deven tpi jauh di dalam hati, Shanna tau—kalau ia jadi Marcha, lelaki setulus Deven... siapa yang sanggup menolak?
Shanna menatap ponselnya lalu ia chat ke orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini
Shanna:
Lo dapet apa cerita ke Deven soal gue sama Marcha? Marcha bayar lo berapa?
Pesan terkirim. Tidak dibalas. Seperti biasa.
Shanna diam di kafe itu. Matanya tertuju pada segelas milkshake strawberry di depannya. Esnya mulai mencair. Sama seperti sesuatu di dadanya. Ia bahkan tidak suka milkshake apalagi strawberry. Minuman itu ada di sana karena Marcha suka dan selama ini, Shanna mencoba menjadi Marcha—tertawa seperti dia, memilih seperti dia, berharap Deven akan mencintainya dengan cara yang sama.
Sekarang Shanna paham. Marcha adalah Marcha dan ia tak pernah bisa menjadi itu.
Ia menunduk. Pacar—tidak ada. Teman—hilang. Cinta—habis.
Air mata jatuh pelan, tanpa suara. Shanna duduk sendirian, dengan minuman yang tidak ia suka dan hati yang tidak tahu harus pulang ke mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Hayran KurguBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
