Bingung khan lo!!! (Kevin)

53 5 4
                                        

Kevin menatap lurus ke jalan, tangan mencengkeram setir begitu kuat sampai knalpot mobil bergetar. Dia tidak sanggup menoleh ke Shanna, tidak berani menanyakan apakah ini benar. Hatinya terasa perih, sesak, seperti terbakar dari dalam.
Kenapa Shanna tidak bilang sendiri...? Kevin bertanya dalam hati. Di mobil yang sama... duduk di sampingku... tapi aku yang harus dengar dari orang lain?
"Ow, yaaa... kalau mereka memutuskan mau nikah, lo sama gue nasibnya sama," Kevin mendengus, suara serak, penuh kemarahan. "Lo tau dari siapa kabar ini, Cha?"
"Gue denger dari Deven," jawab Marcha singkat, tanpa ragu.
Kevin menegakkan punggungnya. Itu bukan rumor, bukan gosip—ini nyata. Shanna akan menikah dengan Deven.
"Ya udah, Cha. Ntar gue ketemu lo," katanya akhirnya, suaranya dingin. "Gue nyetir dulu balik ke Jakarta."
"Okay, Vin," kata Marcha, menutup telepon.
Kevin menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak menoleh ke Shanna.
"Jadi tadi Deven memang bilang mau nikah sama gue," kata Shanna akhirnya, suaranya ringan tapi pasti, seolah tidak menyadari badai di sisi Kevin.
"Lo mau?" tanya Kevin, akhirnya menoleh. Matanya tajam, penuh amarah yang disembunyikan rapat-rapat.
"Ya... gue memang cinta sama Deven, dan..." Shanna mulai menjelaskan, nada keras kepala.
"Deven gak cinta sama elo, Shan," Kevin memotong, nadanya seperti ledakan yang terpendam.
"Kalau dia gak cinta sama gue, kenapa dia ngajak gue nikah?" Shanna membalas, suaranya meninggi.
"Karena Marcha gak mau jadi orang ketiga di hubungan kalian," kata Kevin, tegas. "Itu alasan Deven ngajak lo nikah."
"Ya, gue gak peduli Deven cinta ama gue atau enggak. Yang penting, pada akhirnya dia jadi suami gue," kata Shanna keras kepala, menatap lurus ke jalan di depan mobil.
Kevin menggeleng, napasnya berat. "Shan... lo yakin mau menghabiskan hidup lo menikah dengan orang yang gak cinta ama lo?" Suaranya menahan api yang berkobar di dada.
"Deven akan mencintai gue pada akhirnya!" kata Shanna tegas, hampir menantang.
Kevin menekan setir lebih keras. "Kita drive thru aja. Gue gak mood buat makan dan ngobrol sama elo."
"Lo gak mood karena gue nolak elo dan milih bareng sama Deven? Childish banget lo, Vin!" Shanna menatapnya, kesal tapi tak mundur.
"Siapa yang lo bilang childish?" Kevin meledak, akhirnya kehilangan kesabaran.
"Elo! Cuman karena gue lebih milih Deven daripada elo, terus elo gak mood pergi makan ama gue!" Shanna membalas, nada tinggi.
"Gue bukan marah karena lo lebih milih Deven!" Kevin menahan kemarahan agar tidak meledak. "Gue marah karena lo mempertaruhkan kebahagiaan lo sama cowok yang hatinya udah buat cewek lain!"
"Gue gak peduli cinta Deven buat siapa, yang penting dia nikah sama gue!" Shanna keras kepala, menatap lurus.
Kevin menepuk setir dengan keras, suara logam beradu. "Lo denger omongan lo barusan gak, Shan? Lo denger ego lo sendiri gak?"
"Yang penting gue yang dapetin Deven. Bodoh amat lo bilang gue ego," Shanna menantang.
Kevin menutup mata sebentar, menahan amarah, kemudian menarik napas panjang. "Okay... fuck that up. We go back to Jakarta now."
Api kemarahan berkobar di dada Kevin. Ini bukan soal kalah atau menang. Ini soal melihat Shanna—wanita yang ia pedulikan—menikah dengan orang yang tidak mencintainya, dan ia tidak bisa menolongnya. Kevin tetap diam sepanjang perjalanan, menahan kata-kata yang ingin ia lontarkan. Sampai akhirnya mobil keluar tol dan sampai di rumah Shanna.
"It is what it is. It's over," kata Kevin, dingin. "This is the last time I'll talk to you."
"Lo gak harus kayak gini, kan? Sekalipun gue gak jadi sama elo... kita masih bisa temenan, kayak lo sama Marcha," kata Shanna bingung, menatap Kevin.
"Marcha gak seegois elo. Gue juga gak butuh temen egois yang cuma mementingkan kebahagiaan dia tanpa peduli hal lain," Kevin meledak, suara serak tapi penuh luka. "Gue selama ini salah banget nilai elo sebagai manusia, Shan!"
"Lo gak bisa nilai gue cuma dari satu keputusan yang gue ambil," balas Shanna, suaranya gemetar tapi tegas.
"Gue cukup tau sifat elo dari satu keputusan lo buat kebahagiaan lo," Kevin menjawab, menatap Shanna tajam.
Shanna menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. "Gue tau kita akan ketemu lagi."
"Well... I'm not your friend anymore when we meet again. Get out of my car now!" Kevin bersuara keras, tak bisa menahan kecewanya lagi.
Shanna menarik napas panjang, menurunkan kaca pintu mobil, dan keluar perlahan.
Kevin menoleh sebentar, matanya menyala kecewa. Ia kecewa karena Shanna memilih Deven—pria yang jelas tidak mencintainya—di atas dirinya sendiri. Kevin tidak tahan melihat wajah Shanna sekarang. Ia menahan diri, menahan kemarahan, menahan kata-kata pedas yang seharusnya bisa ia lontarkan. Diam. Hanya diam, dan rasa sakit itu mengisi mobil yang sepi.
Kevin menyalakan mobil dan melajukan kendaraan ke kantor Marcha.
Begitu sampai... kosong. Ini cewek kemana lagi nih? Kevin menggerutu, lalu mengangkat telepon.
"Cha, lo dimana?" tanyanya.
"Gue ada di Skye," jawab Marcha, nada terdengar santai tapi... Kevin sudah curiga.
"Jangan bilang sama gue kalau lo minum," Kevin memperingatkan.
"Gue minum kok... cocktail aja," kata Marcha, terkekeh.
"Okay... lo tunggu gue di sana," Kevin menghela napas, menahan muka kesal.
"Okay, Vin! Gue udah siapin tempat buat lo juga minuman kesukaan lo," kata Marcha, suara penuh semangat.
Kevin menahan godaan untuk berkata kasar. "Cha, lo mabuk?"
"Kalau gue mabuk, gue gak akan bisa ngomong ama lo sekarang," kata Marcha, terkekeh aneh.
"Ya... tapi cara ngomong lo kayaknya..." Kevin mulai bingung, mata melirik ke kaca spion.
"Cara ngomong gue kenapa?" Marcha bertanya.
Kevin menyerah. Sahabatnya ini jelas mabuk.
"Gue segera ke tempat lo, lo jangan kemana-mana," kata Kevin.
"Ya, gue bisa kemana lagi?" Marcha tertawa melengking, membuat Kevin menutup telepon sambil menggeleng.

Kevin tiba di bar Skye, dan... ada Dylan.
"Hai Vin, gue seneng lo datang!" Dylan mengelus dada dramatis. "Tadi gue ditelepon sama Penny. Dia bilang Marcha sama Monique di sini, mabuk, dan karena Penny  sibuk kerja, dia minta gue kesini."
"Kenapa lo yang ditelepon Penny?" Kevin mengernyit.
"Mana gue tau... mungkin karena Penny pikir gue pacar Marcha kali," Dylan menjawab santai. "Tapi gue kesini karena Monique, bukan Marcha.Penny bilang Marcha pergi sama Monique ke Skye."
"Marcha sama Monique?" Kevin mengulang, setengah terkejut.
"Yah, gue khawatir sama Monique aja," kata Dylan. "Gue gak nyangka Monique dijemput bokapnya, jadi..."
"Lah, terus Marcha?" Kevin bertanya penasaran.
"Nah, itu dia... dia manggil-manggil nama Deven terus. Sampe gue dikira Deven! Deven itu pacar Shanna, kan?" Dylan terkekeh.
Kevin menghela napas panjang, menatap Marcha yang terbenam di lengan Dylan. Ini... pingsan atau mabuk ya?
"Dia pingsan, mabuk apa gimana?" Kevin bertanya serius.
"Ya mabuk dulu baru pingsan, Vin. Mana ada pingsan dulu baru mabuk?" Dylan terkekeh lagi.
"Terus gimana sekarang?" Kevin mulai frustasi.
"Lah lo tanya gue, gue juga gak ngerti mesti gimana. Lo kan pengacara, gue cuma kesini karena Monique," Dylan tersenyum lebar. "Udah deh, gue cabut dulu, urusin Monique."
Kevin mengangguk, membiarkan Dylan pergi. Ia membayar semua minuman Marcha dan Monique, mencatatnya rapi di buku bon. Nanti gue tagih tuh Marcha, enak aja minum mahal-mahal. Kevin memapah Marcha ke mobil. Gadis itu tidak sadar sama sekali, hanya sesekali mengeluh manggil Deven sambil ngelindur. Kevin menatap jam, geleng kepala. Gila nih... dia gak mungkin baru minum sebentar. Dari siang kali ya? Proyek kerjaannya banyak-banyaknya. Dan dia ninggalin kerjaan buat mabuk?
Dia menahan senyum. Kalau situasinya bukan Marcha... Kevin juga mungkin ikut minum. Tapi melihat sahabatnya seperti ini... ide buruk banget
Tak lama kemudian, Kevin sampai di rumah Marcha dan Deven berdiri di depan pintu pagar, terlihat galau, seperti bingung mau masuk atau enggak.
"Dev!" Kevin membuka kaca mobil.
Deven menoleh, wajahnya kaget. "Oe, Vin."
"Lo nyari Marcha?" Kevin bertanya.
Deven mengangguk, sedikit kikuk.
"Lo ngapain nyari Marcha? Lo kan udah ajak Shanna nikah?" Kevin menyipitkan mata.
"Hah? Lo tau darimana gue ajak Shanna nikah?" Deven bingung.
"Marcha," jawab Kevin, ikut bingung.
"Gue gak pernah bilang siapa pun, apalagi Marcha! Gue mau hubungan gue sama Shanna lebih private... Wait, Shanna ngasih tau Marcha?" Deven mengerutkan kening. Kevin mengangguk kaku, tak bisa menjelaskan lebih banyak. Tiba-tiba terdengar suara lembut tapi ngelindur dari dalam mobil:
"Chaaa!!!!" Deven menoleh, terkejut. Mata Marcha setengah tertutup, tubuhnya masih terhuyung di lengan Kevin.
"Ah... ini... ini gila," Kevin menggerutu sambil menahan tawa dan kekesalan sekaligus.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang