Big Famz (Kevin)

59 6 0
                                        

"Hmm... ya, ya... gue ngerti, Bet," kata Kevin sambil menatap deretan email permohonan kasus yang memenuhi layar laptopnya. "Gue jamin Anneth cuma bakal dapat efek jera."
Di ujung telepon, Betrand menghela napas panjang "Gue nggak mau hidup dia jadi susah gara-gara gue, Vin. Meskipun gue tahu dia yang salah."
Kevin tersenyum tipis "Lo masih cinta sama dia?"
"Ck." Betrand mendengus pelan. "Kasihan bukan berarti cinta."
Kevin tertawa kecil.
"Gue sekarang udah nemu cewek baik yang bisa nerima gue apa adanya."
"I know. Gue baca beritanya." Kevin menyandarkan tubuh ke kursinya. "Jadi lo beneran balikan sama Alifah?"
Kali ini tawa Betrand terdengar lebih ringan "Iya. Kita balikan."
"Hmm?"
"Dan... kita lagi nyusun rencana nikah."
Mata Kevin langsung membesar "Wah! Serius?"
"Serius."
"Congrats ya, Bet."
"Makasih." Betrand tertawa. "Lo juga kan mau nikah sama Shannon?"
Kevin melirik jam di pojok layar laptopnya, masih ada tiga jam lagi sebelum ia menjemput Shanna dan menghadiri pertemuan kedua keluarga.
"Masih proses," jawab Kevin sambil nyengir.
"Nah, sama dong."
Kevin tertawa "Ya udah deh, gue masih banyak kerjaan. Ntar kita ngobrol lagi."
"Masalah Anneth..." suara Betrand kembali terdengar ragu.
"Ntar gue yang urus."
"Vin..."
"Tenang aja."
"Tapi jangan sampai bokap gue tahu apalagi media."
Kevin menggeleng sambil tersenyum "Ya kali gue kasih jumpa pers."
Betrand tertawa "Anjir."
"Udah sana. Fokus ngurus calon istri."
"Lo juga."
"Bye, Bet."
"Bye."
Telepon pun terputus. Kevin meletakkan ponselnya di meja lalu kembali menatap laptop, belum sempat menyentuh keyboard, layar ponselnya kembali menyala dan seperti yang sudah ia duga...
Shanna.
Kevin tersenyum kecil sebelum membuka chat mereka.
Non:
Vin, nanti kamu jemput kan?
Kevin :
Iya. Jam 5 aku jemput.
Balasan langsung muncul kurang dari satu menit.
Non:
Lama banget balas chatnya?
Kevin terkekeh pelan.
Kevin:
Tadi Betrand telepon.
Non:
Oh...
Lalu muncul pesan berikutnya.
Non:
Kamu nggak sibuk kan?
Kevin bisa membayangkan wajah panik Shanna saat mengetik pesan itu.
Kevin:
Kerjaan aku selesai sebelum jam 5. Kamu tenang aja.
Beberapa detik kemudian.
Non:
Ya udah. Nanti kabarin lagi ya.
Kevin:
Siap, Nona Panik.
Non:
Aku nggak panik.
Kevin:
Bohong.
Non:
Kevin.
Kevin tertawa kecil.
Kevin:
😁
Tidak ada balasan lagi dan itu berarti Shanna sedang cemberut di depan layar ponselnya, membayangkannya saja sudah cukup membuat Kevin tersenyum, ia meletakkan ponsel kembali di meja.
Oke. Sekarang waktunya menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, lalu bertemu klien setelah itu...Menghadapi pertemuan keluarga yang mungkin jauh lebih menegangkan daripada semua kasus hukum yang pernah ia tangani

Kevin sedang menyetir mobil yang membawa Shanna, kedua kakaknya, dan orang tua Shanna menuju rumah keluarganya, suasana di dalam mobil awalnya santai sampai Moses tiba-tiba membuka percakapan.
"Jadi lo tinggal sendiri?" tanyanya.
Kevin mengangguk sambil tetap fokus pada jalan "Iya, Kak."
"Kenapa? Bukannya lebih enak tinggal sama orang tua?" sambung Samuel dari kursi belakang.
Kevin tersenyum tipis "Ya... gue kan udah dewasa, Kak. Nggak enak juga kalau masih numpang terus sama orang tua."
"Udah berapa lama?" tanya Moses.
"Kira-kira tujuh tahun." Kevin berpikir sejenak. "Dulu gue sekolah di luar negeri. Pas balik ke Indonesia juga nggak tinggal sama orang tua lagi. Paling sesekali nginep."
"Kalau nanti nikah sama adik gue, kalian tinggal di mana?" tanya Moses lagi.
Kevin melirik sekilas ke arah Shanna yang duduk di sampingnya, Shanna pura-pura sibuk melihat jalanan, padahal jelas sedang mendengarkan.
"Ya di apartemen lah, Ses," sahut Samuel. "Kevin kan punya apartemen."
"Gue tahu." Moses mengangguk. "Tapi setahu gue dia juga punya beberapa rumah buat investasi."
Kevin nyaris tersedak ludahnya sendiri. Wah.... ternyata penyelidikan keluarga Shanna cukup mendalam juga.
"Kalau soal tinggal di mana, terserah Shannon aja," jawab Kevin santai. "Mau di apartemen oke, mau di rumah juga oke yang penting dia nyaman."
Dari kaca spion Kevin melihat Moses dan Samuel saling pandang. Shanna yang menyadarinya langsung menahan senyum, diam-diam ia menyenggol lengan Kevin. Kevin membalas dengan senyum kecil, untunglah interogasi sementara berakhir.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah keluarga Kevin, kedua keluarga saling menyapa dengan ramah dan sopan, awalnya semua berjalan sangat lancar. Mereka membahas hubungan Kevin dan Shanna, rencana pertunangan, pernikahan, pesta, hingga berbagai detail lainnya.
Sampai akhirnya...
Papa Kevin membuka topik yang membuat suasana sedikit berubah "Ada satu hal lagi yang menurut kami penting untuk dibahas," kata beliau.
Semua orang menoleh "Perjanjian pranikah."
Hening.
Mama Shanna sampai berkedip beberapa kali "Maaf?" tanyanya pelan. "Perjanjian pranikah?"
Papa Kevin mengangguk. "Ya. Kami merasa itu perlu."
Raut wajah keluarga Shanna langsung berubah sedikit lebih serius.
"Apakah memang perlu membahas hal seperti itu?" tanya Mama Shanna hati-hati.
"Menurut kami perlu," jawab Papa Kevin tenang. "Ini untuk menghindari masalah di kemudian hari apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
Mama Shanna menatap Kevin lalu keluarganya "Apakah kalian sudah berasumsi pernikahan anak-anak kita tidak akan berjalan baik?"
Kevin langsung angkat bicara sebelum suasana menjadi salah arah "Bukan begitu, Tante."
Semua mata beralih kepadanya.
"Profesi Kevin pengacara. Buat kami, perjanjian pranikah itu bentuk kesepakatan dan perlindungan untuk kedua belah pihak." Kevin menggenggam tangan Shanna "Kevin sama sekali nggak pernah berpikir untuk berpisah dari Shannon." Tatapannya beralih ke wanita di sampingnya "Kevin sangat mencintai Shannon."
Shanna yang masih sedikit kesal karena belum diberi tahu soal ini, tetap tidak bisa mengabaikan kesungguhan di mata Kevin.
"Tapi pernikahan itu sesuatu yang serius," lanjut Kevin. "Kalau suatu hari ada masalah, Kevin nggak mau masalah terakhir yang diperdebatkan justru soal harta."
Keluarga Shanna terdiam beberapa saat lalu Mama Shanna mengangguk pelan.
"Kalau begitu... kami perlu mendiskusikan ini dulu sebagai keluarga."
"Tentu saja," jawab Kevin ramah. "Silakan dipikirkan dulu."
Setelah itu suasana kembali mencair, kedua keluarga mulai membahas pekerjaan, keluarga besar, hingga cerita-cerita ringan lainnya, di tengah obrolan itu,
Shanna menarik pelan ujung lengan Kevin "Kamu nggak pernah bilang soal pranikah ini ke aku."
Suaranya pelan agar tidak terdengar orang lain.
Kevin ikut merendahkan suara "Aku kira kamu udah tahu."
"Dari mana?"
"Dulu kamu hampir tunangan sama Deven."
Shanna memandang Kevin tidak percaya "Vin, keluarga Deven nggak pernah bahas hal beginian."
"Oh..."
Kevin baru sadar "Aku nggak tahu."
"Nah." Shanna mendesah. "Tapi kamu tahu dong kalau keluargamu kemungkinan besar bakal ngebahas ini?"
Kevin mengangguk "Iya."
"Dan kamu tetap nggak bilang apa-apa ke aku?"
"Aku nggak nyangka Papa bahasnya hari ini."
Shanna memejamkan mata sesaat "Great."
"Non..."
"You make me feel like a clown."
Kevin langsung meringis "Segitunya?"
"Iya."
Shanna menatapnya tajam "Aku duduk di sana kayak orang paling nggak tahu apa-apa."
Kevin menghela napas "Oke. Itu salah aku."
"Tentu aja salah kamu."
"Maaf."
"Vin, nikah itu serius."
"Aku tahu."
"Pranikah juga serius."
"Aku tahu."
"Kamu harusnya ngomong dulu ke aku."
Kevin mengangguk pasrah "Maaf ya, Non."
Shanna hanya menggeleng sambil menghela napas panjang, belum sempat melanjutkan omelan berikutnya, ponselnya tiba-tiba bergetar, Shanna melirik layar lalu mengernyit.
"Siapa?" tanya Kevin.
"Marcha."
"Wah." Kevin terkekeh. "Sekarang Marcha nyarinya kamu ya, bukan aku lagi."
Shanna mendelik "Aku udah bilang ke dia kalau lagi ada pertemuan keluarga."
"Kalau Marcha telepon biasanya penting," kata Kevin. "Angkat aja."
Shanna mengangguk "Tunggu ya. Pembahasan kita belum selesai."
Kevin langsung pasang wajah pasrah "Iya, Bu Guru."
Shanna mendecak sebelum berjalan ke arah teras.
Beberapa menit kemudian. Saat Kevin sedang mengobrol dengan Samuel dan Moses mengenai pekerjaannya sebagai pengacara, Samuel tiba-tiba bertanya,
"Jadi... lo memang belum pernah cerita soal pranikah ke adik gue?"
Kevin menggeleng "Menurut gue lebih baik dibahas langsung sama keluarga."
Samuel justru mengangguk "Gue nggak masalah."
Kevin agak kaget "Serius?"
"Iya. Yang penting jelas dari awal."
Kevin tersenyum lega.
"Makasih, Kak."
Samuel menunjuk Kevin dengan jari telunjuk "Tapi satu hal."
"Apa?"
"Gue dukung siapa pun yang dipilih adik gue."
Kevin mengangguk.
"Tapi kalau lo nyakitin dia..." Samuel tersenyum "...gue yang pertama nyari lo."
Kevin tertawa "Tenang, Kak. Gue serius sama Shannon."
"Bagus."
Samuel mengangguk puas "Cowok itu yang dipegang komitmennya."
"Siap."
Baru saja obrolan mereka kembali santai, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah teras. Shanna muncul, wajahnya pucat... jauh lebih pucat dibanding beberapa menit lalu.
Kevin langsung berdiri "Non?"
Shanna menatap Kevin lalu menelan ludah "Vin..."
Nada suaranya membuat jantung Kevin mendadak tidak enak "Kenapa?"
Shanna menarik napas panjang "Deven sama Marcha putus."
Kevin membeku "Apa?"
"Deven yang minta putus."
Kali ini bukan hanya Kevin. Samuel, Moses, bahkan Papa Kevin yang kebetulan mendengar ikut menoleh dan untuk beberapa detik berikutnya, seluruh ruangan menjadi sunyi karena tidak ada satu orang pun yang menyangka kabar itu akan datang hari ini.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang