Batal (Deven)

71 7 13
                                        

Deven menatap mamanya dengan mata membelalak. Ia belum pernah—seumur hidupnya—melihat amarah seperti ini. Wajah mamanya memerah gelap, urat di pelipis menegang, tubuhnya bergetar hebat seolah menahan letupan yang siap meledak kapan saja.
"Kamu gak bisa nikah sama perempuan ini!" jerit mama Deven histeris, jarinya teracung tajam ke wajah Shanna. "Gak bisa!"
"Ma, ada apa sih?" suara Deven gemetar, bingung.
"Tante... Shanna salah apa?" tanya Shanna, suaranya bergetar tapi berusaha tetap berdiri.
Mama Deven tertawa pendek—pahit, penuh amarah "Dia mau nipu kamu, Dev. Sama kayak saudara dia dulu nipu kamu!"
"Saudara?" Shanna mengerutkan kening. "Maksud tante?"
Mama Deven menunjuk Anneth dengan wajah penuh kebencian. Deven dan Shanna saling menatap. Kebingungan berubah jadi sesuatu yang lebih dingin.
"Anneth?" Shanna menggeleng. "Hubungannya apa, Tan? Anneth cuma rekan kerja aku dan—"
"Shan..." potong Anneth pelan, suaranya serak. "Kita sepupu."
Ruangan itu seakan membeku.
"Sepupu?" Deven dan Shanna mengucapkannya bersamaan, nyaris tak percaya.
"Iya," Anneth mengangguk. "Mami gue dan mama lo itu saudara. Mami gue adiknya mama lo."
"Itu bohong," Shanna refleks menolak. "Mami gue gak punya adik lagi dan—"
Kata-kata itu mati di tenggorokannya. Deven tahu persis kenapa Shanna berhenti bicara. Beberapa minggu lalu, mama Shanna pernah bercerita tentang seorang adik yang diusir keluarga. Menghilang bertahun-tahun. Tak pernah kembali.
Dunia Shanna runtuh perlahan.
"Kamu gak bisa nikah sama Shannon," bentak mama Deven. "Mama gak setuju! Dasar penipu... keluarga penipu!"
"Ma!" Deven mencoba menahan. "Shanna gak tahu soal ini—"
"Mama gak peduli!" teriak mamanya. "Mama gak mau satu keluarga sama orang-orang yang pernah menghina dan memfitnah kamu!"
"Tante, tolong," Shanna mencoba bicara. "Ada tamu di luar, ada media—kita bisa bicara baik-baik—"
"Kamu pikir tante peduli media?" Mama Deven mendekat, suaranya mengguntur. "Ayo, Deven. Kita pergi!"
Ia menarik tangan Deven dengan kasar.
"Ma!" Deven menahan lengannya. "Dengerin aku dulu—"
"Kamu mau tunangan sama keluarga orang yang ngebully kamu bertahun-tahun?" suara mama Deven pecah. "Mereka menghina kamu, memfitnah kamu! Kamu lupa semua itu?!"
"Shanna dan Anneth beda orang, Ma!" bentak Deven balik. "Mereka bahkan baru tahu sekarang!"
"Kalau kamu tetap mau tunangan sama dia," suara mama Deven mendadak dingin, kejam, "kamu pilih: jadi anak mama... atau jadi tunangan Shanna."
Wajah Deven memucat
"Ma... jangan gini..." suaranya nyaris tak terdengar.
"Kamu tahu apa yang bakal kamu hadapi nanti?" mama Deven terus menyerang. "Anneth ninggalin kamu demi karier! Siapa yang jamin Shanna gak akan ngelakuin hal yang sama?! Mereka saudara, Dev! Menikah itu bukan main-main—putus itu cerai, dan cerai itu neraka!"
Deven menoleh ke Shanna. Kata-kata mamanya membuka luka lama—hinaaan, fitnah, kebencian publik. Semua kembali menghantam kepalanya tanpa ampun.
Lalu suara lain menyela.
"Ini berlebihan," kata mami Anneth tajam. "Kami gak pernah menghina kalian. Kalian aja yang salah paham. Dan kalau mau jujur, semua masalah itu salah Deven—"
"Cukup!" Deven meledak. "Kalau mau ngomong masa lalu, tante mau Deven buka aib tante sekarang?!"
"Dev!" Anneth membela. "Masalah kita udah selesai—"
"Lo denger apa yang mami lo bilang?!" bentak Deven. "Untung dulu gue gak laporin mami lo ke polisi. Jangan mulai sama gue, Neth!"
"Diam!" mama Shanna akhirnya bersuara, gemetar. "Di luar ada tamu—"
"Persetan!" potong mama Deven. "Pertunangan ini batal. Mama gak setuju."
"Dev... jangan tinggalin aku," Shanna terisak. "Kita bisa—"
"PILIH, DEVEN!!" jerit mama Deven sambil menghentakkan kaki. "MAMA ATAU SHANNA?!"
Deven memejamkan mata. Kepalanya berdengung. Shanna tidak salah. Tapi keluarganya... tak akan pernah menerima ini dan Deven tahu—ini bukan dendam yang bisa sembuh.
"Kalau kamu tetap sama Shanna," kata mama Deven dingin, "jangan panggil mama lagi. Selamanya."
Deven membuka mata. Hancur.
"Ayo," kata mama Deven ke suami dan anaknya. "Kita keluar."
Deven berjalan mengikuti mereka, langkahnya berat.
"Dev..." Shanna menahan lengannya.
Deven menoleh, napasnya tertahan "Kita gak bisa lanjut," katanya lirih. "Aku gak mau jalan tanpa restu keluarga."
"Dev... kamu cinta aku, kan?" Shanna menangis, eyeliner-nya luntur, suaranya patah.
"Aku cinta keluarga dan cintaku lebih besar untuk mereka," jawab Deven getir. "Pasangan bisa dicari lagi. Tapi mama, papa, kakak—gue cuma punya satu."
Ia melepaskan tangan Shanna. Tatapannya sempat menyapu Anneth dan mamanya—tajam, penuh luka—lalu ia berbalik dan pergi, di luar, mama Deven menghadapi media.
"Pertunangan ini batal," katanya lantang. "Silakan pulang."
"Ma, sudah," kata Deven menahan. "Biar Shanna yang jelasin."
"Biar dia bohong lagi?" mama Deven menyala.
"Ma," suara Deven lelah. "Omongan media gak penting. Kita tahu kebenarannya." Ia menatap mamanya, senyum pahit terukir "Ayo... kita pergi."
Deven dan keluarganya berjalan cepat, hampir berlari, menerobos lautan wartawan yang berdesakan. Kilatan kamera menyambar tanpa henti, suara pertanyaan saling tindih, memekakkan telinga.
"Dev! Dev! Ini benar batal?"
"Pak Deven, apa alasannya?"
"Shanna tahu soal ini?!"
Langkah Deven tiba-tiba terhenti. Seseorang meraih tangannya dengan kuat.
"Dev... jangan tinggalin aku."
Suara itu membuat dadanya menegang. Deven menoleh. Shanna berdiri di belakangnya, wajahnya basah oleh air mata, riasannya luntur, matanya memerah. Tangannya gemetar mencengkeram lengan Deven seolah itu satu-satunya penopang yang tersisa.
"Aku akan lakuin apa pun," kata Shanna terisak. "Apa pun yang kamu mau. Aku janji. Asal kamu tetap di sini... dan kita lanjutin semua ini."
Deven menelan ludah. Kameramen semakin mendekat. Mikrofon nyaris menyentuh wajah mereka.
"Non..." suara Deven sangat pelan, nyaris kalah oleh hiruk-pikuk. "Ini bukan salah kamu." Ia menatap Shanna dalam-dalam "Dan gak ada yang bisa kita ubah sekarang. Salahin aku... karena aku gak bisa nepatin janji aku ke kamu."
Shanna menggeleng keras. "Kita masih bisa cari jalan, Dev. Tolong—"
Deven tahu. Ia tahu setiap detik ini sedang diabadikan. Besok, wajah hancur Shanna dan kegagalannya akan memenuhi berita tapi pilihannya sudah direnggut darinya. Ia dipaksa memilih—dan ia memilih keluarganya dan dengan rahang mengeras, Deven melepaskan genggaman Shanna.
Gerakannya kasar. Menyakitkan. Shanna terhuyung selangkah ke belakang. Deven tak berani menoleh lagi. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar. Saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu mobil—
"Dev!"
Suara lain menghentikannya. Deven menoleh.
Marcha berdiri tak jauh dari sana, mengenakan gaun merah menyala, rambutnya terurai panjang. Wajahnya dipenuhi kebingungan—dan sesuatu yang langsung berubah saat melihat ekspresi Deven. Untuk sesaat, Deven lupa bernapas. Ia tahu seharusnya ia tidak memikirkan apa pun selain kehancuran barusan. Tapi di tengah kekacauan itu, kehadiran Marcha terasa seperti jeda yang menyakitkan.
"Kenapa?" tanya Marcha pelan. "Bukannya acaranya udah mulai?"
Deven menatapnya, matanya kosong, suaranya patah "Pertunanganku sama Shanna... batal."
Kata itu jatuh begitu saja. Pendek namun beratnya seperti menghantam dada semua orang yang mendengarnya.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang