Shanna sebenarnya nggak tahu pasti apa Deven bisa menjemputnya nanti tapi harusnya bisa. Mereka sudah beberapa hari nggak ketemu, dan entah kenapa hari ini rasa rindu itu bercampur sama gelisah yang nggak enak dijelasin apalagi setelah ucapan Kevin di mobil tadi. Shanna harus memikirkan cara supaya omongan itu nggak jadi kenyataan.
Deven dan Marcha...
Shanna tahu. Ia tahu Deven masih mencintai Marcha. Waktu pertama kali mereka bertemu—Shanna, Marcha, dan Deven berada di ruang yang sama—Shanna melihatnya dengan jelas. Tatapan Deven. Cara matanya terus mencari Marcha, seolah dunia di sekelilingnya berhenti, sedetik pun tatapan itu nggak lepas.
Cemburu? Iya tapi Shanna menyimpannya dalam-dalam, rapat-rapat di lubuk hatinya. Ia nggak mau ribut. Nggak mau terlihat lemah dan yang paling ia takutkan...Ia nggak mau kehilangan Deven., Ia nggak bisa kehilangan Deven.
"Shan... woeeee!"
Shanna tersentak, menoleh ke arah Anneth.
"Ya, Neth?" jawabnya.
"Pikiran lo ke mana sih? Ayo, nyanyi," kata Anneth sambil narik lengan Shanna.
"I-iya," Shanna mengangguk cepat, lalu kembali menatap ponselnya yang menampilkan lirik lagu. Ia menarik napas panjang sebelum mulai fokus lagi.
Setelah G.R selesai, Shanna dan Anneth jalan bareng ke backstage buat makan sambil duduk, Shanna buru-buru buka chat dan ngetik pesan ke Deven.
Shanna:
nanti kamu jemput khan yang?
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Deven :
iya, ntar aku jemput... jam berapa selesainya?
Shanna nyengir sendiri. Tuh kan... Deven masih peduli. Masih cinta. Omongan Kevin nggak terbukti.
Shanna:
jam 8 kayaknya, aku tampil di pembukaan.
Deven :
okay, see you nanti... good luck Non 😘
Shanna:
sampai ntar sayang 🤗
Shanna tersenyum lebar, hatinya langsung terasa jauh lebih ringan. Ia menoleh ke arah Anneth dengan wajah cerah.
"Ntar Deven jemput," katanya senang.
"Ya kalau nggak jemput, lo wajib marah," sahut Anneth santai.
Shanna menggeleng kecil "Gue nggak bisa marah sama dia. Dia terlalu baik," lalu suaranya melembut, "dan gue cinta banget sama Deven."
Anneth cuma tersenyum, nggak berkomentar apa-apa.
"Tapi hei, kalian jangan bucin mulu," tiba-tiba Rifan muncul. "Sebentar lagi tampil."
"Iya, Kak," jawab Anneth sambil mengangguk ke manajernya, lalu melirik Shanna. "Lo yang bucin, gue yang kena omel."
Shanna tertawa kecil, kali ini tulus.
Akhirnya selesai juga. Shanna melirik jam di ponselnya seharusnya sebentar lagi Deven sampai dan benar saja.
Mobil Audi hitam itu muncul di depan gedung. Jantung Shanna langsung menghangat—bukan karena rindu semata, tapi karena rasa puas. Dia datang. Tetap datang.
Kaca mobil turun. Deven menoleh, tersenyum. Senyum yang selalu berhasil mengacaukan nalar Shanna.
"Lama nunggunya?" tanya Deven.
Shanna menggeleng cepat. "Enggak kok. Aku juga baru selesai."
"Ayo, masuk."
Shanna menoleh ke Anneth. "Gue pulang dulu ya, Neth. Tante."
Deven ikut melirik Anneth, tersenyum sekilas. "Bye, Neth," ucapnya pelan.
Lalu—seperti biasa—ia hanya melempar senyum dingin ke arah mami Anneth. Mami Anneth membalas dengan ekspresi yang sama dinginnya. Shanna tidak mau merusak mood.Ia tidak mau waktu berdua ini tercemar siapa pun. Ia langsung masuk ke kursi sebelah pengemudi.
Mobil melaju. Shanna mengangkat tangannya, mengusap rambut Deven pelan—gesture kecil, tapi cukup untuk menandai wilayahnya.
"Baru bangun ya?" tanyanya lembut.
"Enggak. Dari tadi udah bangun," jawab Deven santai. "Tadi bikin laporan ke lab."
"Capek ya, sayang?"
"Gak juga." Deven melirik Shanna. "Sorry ya, beberapa hari ini aku sibuk di rumah sakit. Gak sempat nemenin kamu."
Shanna tersenyum manis. Selalu begitu. Minta maaf, lalu berharap dimengerti.
"Gak apa-apa," katanya lembut. "Sekarang kan kamu ada waktu."
Dan karena mereka berdua, tanpa gangguan, tanpa Marcha. Shanna tahu ia harus mengarahkannya.
"Yang... gue laper."
Deven tertawa kecil. "Mau makan dulu sebelum pulang?"
Shanna mengangguk, senyumnya manis dan penuh kemenangan.
"Kamu mau makan di mana, Non?"
"Hmmm... GI."
Deven tertawa. "Selalu deh. Oke, kita meluncur... wuzzz."
Shanna ikut tertawa, menikmati caranya Deven selalu menuruti hal kecil darinya. Di GI, mereka makan di resto favorit Shanna. Ia bercerita panjang soal lagu barunya, MV, duet pertamanya dengan Anneth, tentang penonton yang suka, tentang tepuk tangan. Deven mendengarkan, memberi dukungan seperti yang Shanna harapkan lalu giliran Deven bercerita. Rumah sakit. Teman-teman dokternya. Pasien-pasiennya.
Sampai—seperti yang Shanna sudah duga—nama itu muncul.
"Jadi masih minggu depan kemoterapinya," kata Deven.
"Marcha masih di rumah sakit sampai minggu depan?" tanya Shanna.
"Harusnya. Tapi dia sibuk banget sama kerjaannya."
"Ya wajar," jawab Shanna cepat. "Dia urus kerjaan dia sama kerjaan papinya."
"Tapi dia butuh istirahat," Deven menghela napas. "Capek banget pasti. Fisik, mental... gue penginnya dia kayak dulu, hang out sama kamu, Clarice, Anastasia."
Shanna tersenyum—tipis, lagi-lagi Marcha, padahal pacarmu duduk tepat di depanmu. Shanna tidak akan membiarkan ini berlarut.
"Dev, kamu udah selesai makan?" potongnya. "Aku udah kenyang."
Deven mengangkat alis. "Makan dikit gitu udah kenyang?"
"Udah."
"Oke. Tunggu sebentar ya, aku habisin dulu. Tadi di apartemen gak masak."
Shanna mengangguk. Ia menopang dagunya, menatap Deven makan. Ganteng dan harus jadi milik gue sepenuhnya.
Mereka berjalan menyusuri mall. Shanna memeluk lengan Deven, menyandarkan dagu ke pundaknya. Ia suka aroma Deven—wanginya bikin tenang, bikin merasa aman lalu mereka melewati butik gaun pengantin.
Mata Shanna langsung berbinar. Ini momennya.
"Waow... bagus banget," Shanna menarik lengan Deven.
Deven berhenti, melirik etalase. "Hmm... iya, bagus."
"Nanti kalau nikah, aku mau pakai gaun kayak gini," kata Shanna santai, lalu menoleh cepat. "Menurut kamu gimana, Dev?"
"Gak apa-apa. Selama kamu suka."
"Kita masuk yuk."
"Eh, Non... kita kan belum—"
"Dev." Shanna memotong. "Kita harus punya rencana. Emang kamu gak ada rencana nikah sama aku?"
"Ada... tapi lihat baju pengantin sekarang apa gak terlalu dini?"
"Aku cuma mau lihat," jawab Shanna cepat.
Deven menghela napas. Ia melihat kanan kiri—takut kamera, takut gosip. Shanna justru berharap sebaliknya. Biarlah difoto. Biarlah tersebar. Biar Marcha tahu: gue serius dan gue menang.
Di dalam butik, pegawai langsung mengenali Shanna dan menawarkan berbagai gaun lalu Shanna melihat satu gaun. Gaun yang membuatnya yakin. Ini. Gue mau ini. Gue mau Deven.
"Dev, gue coba yang ini ya."
"Non... serius? Kita belum ngomong nikah—"
"Kita lagi ngomong sekarang," potong Shanna. "Dan aku cuma nyoba."
"Bisa dicoba, Bu. Lagi promo," kata pegawai.
Shanna menoleh tajam ke Deven "Dev."
Deven menyerah. "Ya udah. Terserah kamu."
Shanna tersenyum puas. "Saya coba, Mbak."
Di ruang fitting, Shanna menatap pantulannya lama, Gue bisa bikin dia yakin, Gue harus, beberapa menit kemudian, Shanna keluar.
Gaun putih sederhana itu membingkai tubuhnya sempurna.
"Gimana, Yang?"
Deven menoleh—dan langsung berdiri.
"Waow..." Deven mendekat, tangannya di pinggang Shanna. "Kamu cantik banget, Non."
"Beneran?"
Deven mengangguk, membelai rambutnya, lalu mencium keningnya "Beneran."
"Nikah yuk, Dev."
Deven terdiam. Keningnya mengernyit "Kamu mau nikah sekarang?"
"When you're ready, I'm ready," kata Shanna cepat, senyumnya penuh harap—dan tuntutan.
Deven menghela napas "But... I'm not ready yet."
Dunia Shanna seperti berhenti. Belum siap? Kenapa? Apa karena Marcha?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
