Ponsel Kevin bergetar nyaring di atas meja samping tempat tidur. Kevin tetap memejamkan mata. Baru dua... atau tiga jam lalu—itu pun setelah bernegosiasi panjang dengan insomnia—akhirnya ia tertidur dengan mata setengah terpejam, Kevin meraba jam weker.
Ia menyipitkan mata.
Jam 3 pagi.
"Bener, kan..." gumamnya. "Jam setan."
Siapa manusia tidak berperikemanusiaan yang menelepon jam segini? Kevin meraih ponselnya, membuka mata sedikit—dan langsung menghela napas panjang.
Marcha. Oh, iya. Ia lupa. Ia memang punya teman—sekaligus klien—gila yang tidak mengenal konsep waktu antara jam kerja dan jam tidur. Meski jelas tidak sopan, telepon dari Marcha tidak mungkin diabaikan. Kalau perempuan itu menelepon jam tiga pagi, besar kemungkinan dunia sedang hampir runtuh... atau setidaknya satu perusahaan.
"Halo," sapa Kevin dengan suara khas orang yang jiwanya masih tertinggal di kasur.
"Vin," suara Marcha terdengar tegas, tanpa basa-basi. "Ke kantor bokap gue sekarang."
"Sekarang?" Kevin menatap jam lagi, seolah berharap waktunya berubah. "Jam tiga pagi, Cha. Kantor bokap lo sekarang jadi supermarket 24 jam?"
"Kalau gak penting, gue gak akan nyuruh lo ke sini," balas Marcha datar.
"Ini tentang apa?" Kevin menguap. "Bisnis baru? Ide dadakan? Atau lo lagi iseng pengin lihat gue mati kurang tidur?"
"Gue gak akan nyuruh lo dateng jam tiga pagi cuma buat bahas bisnis baru," potong Marcha. "Pokoknya lo ke sini dulu. Gue jamin... lo bakal tertarik."
Kevin terdiam sejenak, lalu menghela napas pasrah. Masalahnya, segala sesuatu yang melibatkan Marcha memang selalu menarik dan biasanya... juga selalu berbahaya bagi kesehatan mental.
"Ya udah," kata Kevin akhirnya. "Alamat kantor bokap lo di mana?"
Marcha menyebutkan alamatnya cepat dan jelas, lalu langsung menutup telepon tanpa pamit. Kevin menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
"Gila," gumamnya sambil bangkit dari tempat tidur. "Satu-satunya orang yang bisa bikin gue mandi jam tiga pagi tanpa dosa."
Ia melangkah ke kamar mandi, masih setengah sadar, sambil bertanya-tanya—kali ini, kekacauan apa lagi yang sedang disiapkan Marcha.
"Jadi..." Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Marcha lekat-lekat.
"Ini semua ulah bokap lo? Lo gak pernah chat atau kontak Deven karena bokap lo minta dua perusahaan ini ngeblokir nomor HP dan email lo—dua arah?"
Marcha mengangguk pelan. "Parah, kan?" Ia mengusap wajahnya frustrasi. "Tapi gue gak bisa marah sama bokap gue yang gue gak habis pikir perusahaan itu. Mereka keterlaluan. Jadi gue putuskan... gue juga mau keterlaluan."
Kevin langsung tegak. "Tunggu. 'Keterlaluan' versi lo itu level apa, Cha? Keterlaluan nyebelin atau keterlaluan masuk berita?"
Marcha mendorong sebuah map ke arahnya. "Gue mau ngehancurin dua perusahaan ini. Can we do it?"
Kevin membuka map itu perlahan, alisnya langsung naik "Cha... ini perusahaan sehat. Keuangannya stabil. Pemegang sahamnya banyak. Ini bukan warung kopi yang bisa lo banting meja terus tutup."
"Gue mau beli sahamnya," kata Marcha santai, "terus gue pecah jadi berkeping-keping."
Kevin menelan ludah. "Cha... itu sadis."
"Gue cuma mau tau," lanjut Marcha tenang, "ada konsekuensi hukumnya atau enggak?"
Kevin menarik napas panjang, seperti orang mau ceramah tapi sadar yang diajak bicara batu "Secara hukum, sih... beli lalu jual saham itu sah. Tapi cara lo—ini kejam, Cha."
Marcha menoleh tajam. "Vin, gue gak minta opini moral elo. Gue minta elo lakuin kerjaan elo."
Tatapan itu membuat Kevin otomatis menunduk. Aura CEO mode penuh. Nyali pengacara langsung ciut setengah.
"Jadi?" Marcha menyilangkan tangan.
Kevin kembali menatap map itu. "Gak ada masalah hukum. Tapi tetap aja... sadis."
Marcha menoleh ke asistennya "Pen, telepon Reynold. Suruh dia urus semuanya."
"Cha," Kevin mengeluh, "lo gak denger ya? Ini sadis."
Marcha menatapnya dingin "Lo pikir apa yang mereka lakuin ke gue gak sadis?, Ngebikin gue salah paham sama Deven. Gue benci dia bertahun-tahun karena gue pikir dia ninggalin gue." Marcha mendekat sedikit "dan Vin... kalau komunikasi gue sama Deven gak diputus, nasib hubungan lo sama Shanna juga gak bakal kayak sekarang."
Kevin terdiam. Ia mengerti. Terlalu mengerti, dalam kepalanya, Kevin membayangkan—kalau Marcha dan Deven gak pernah putus komunikasi... Mungkin sekarang mereka yang sudah menikah dan hubungan dia dan Shanna juga akan berlanjut dan tidak kandas.
"Tapi..." Kevin mengusap wajahnya. "Karyawan di dua perusahaan itu gimana?"
Marcha menoleh malas. "Kenapa lo sibuk mikirin kerjaan orang lain? Lo sendiri masih punya kerjaan, Vin."
Ia berjalan anggun ke meja kerjanya, melipat tangan. Kevin memperhatikannya lalu menggeleng.
"Sekarang gue paham," gumam Kevin, "kenapa Deven jadi sama Shanna dan bukan sama kita berdua."
Marcha berhenti. "Maksud lo?"
"Ya jelas," kata Kevin. "Lo sadis jadi business woman. Dendam pribadi lo bawa ke kantor dan lo balas dendam tanpa perasaan."
"Ini bukan sekadar dendam," balas Marcha santai sambil membuka laptop "Ini juga bisnis. Lo tau gak kalau gue beli mahal, gue pecah, gue jual... untungnya berapa?"
"Lo duit sebanyak itu mau diapain, Cha?" Kevin menghela napas. "Duit juga gak lo bawa mati."
"Emang enggak." Marcha menatap layar. "Duit itu mau gue pake buat hal yang lebih berguna."
"Kayak apa?" tanya Kevin skeptis.
"Gue mau bikin universitas desain di sini."
Kevin mengernyit. "SMK?"
Marcha menoleh tajam. "Lo denger gue ngomong 'universitas' gak, Vin?"
"Oh," Kevin nyengir. "Maaf, kuping gue masih level ngantuk jam tiga pagi."
"Universitas kayak di Paris," lanjut Marcha, "tapi fokus desain."
"Tapi keuntungan dari jual saham dua perusahaan ini aja udah cukup buat bangun universitas," kata Kevin.
"Gue punya bisnis lain yang mau gue kembangin," jawab Marcha. "Dan lo tau gue gak pernah main ilegal."
Kevin menarik napas dalam, memejamkan mata sebentar.
"Thanks ya," kata Marcha datar, "udah dateng jauh-jauh cuma buat ngecek ini ilegal atau enggak."
"Bukan ilegal," sahut Kevin bangkit. "Cuma... gak manusiawi."
Marcha diam. Fokus ke laptopnya.
"Ya udah," kata Kevin sambil melangkah ke pintu. "Gue pulang. Gue mau lanjut tidur. Dunia lo terlalu kejam buat jam segini."
"Okay," jawab Marcha tanpa menoleh. "Bye."
Kevin berhenti sejenak di depan pintu, mengusap ujung hidungnya.
"Serius ya, Cha," gumamnya "Kalau neraka buka cabang bisnis... lo pasti direktur utamanya."
Marcha tersenyum samar dan pintu tertutup pelan
Kevin baru saja sampai di depan mobilnya ketika ponselnya kembali berdering. Jangan bilang ini Marcha lagi... batinnya lelah. Ia melirik layar. Bukan Marcha.
Beberapa jam kemudian...
"Hallo, Shan," sapa Kevin ramah saat ia tiba di panti asuhan.
Namun senyum lebarnya perlahan memudar. Tatapan Shanna tajam, nyaris menusuk. Kevin langsung paham—hari ini sepertinya memang bukan hari yang ramah bagi kaum perempuan, tadi Marcha. sekarang Shanna, ditambah kurang tidur, kombinasi yang sangat tidak bersahabat bagi kesehatan jiwa.
"Jadi Pak Edwin memang mau menjual rumah ini dan mengambil alih bangunannya?" tanya Lestari, pengurus panti, dengan nada cemas.
Kevin mengangguk kecil, berusaha tetap profesional "Ya, Bu. Saya di sini hanya mewakili pihak keluarga."
"Tapi anak-anak ini tinggal di mana?" potong Budi, ketua panti. "Mana mungkin kami bisa cari tempat baru dalam waktu satu bulan."
Kevin menarik napas. "Soal tempat tinggal... saya bisa membantu."
"Membantu?" Budi mengulang, bingung.
"Iya," kata Kevin. "Saya kebetulan teman Shanna. Kemarin saya sudah ajak dia lihat satu tempat untuk anak-anak panti."
"Tempat itu punya siapa?" tanya Budi lagi.
"Punya saya, Pak," jawab Kevin tenang. "Kalau Bapak berkenan, saya bisa ajak Bapak lihat langsung. Shanna juga pernah ke sana."
Budi menoleh ke arah Shanna "Benar itu, Shanna?"
"Benar, Om," jawab Shanna mantap. "Tapi daripada kita buru-buru cari tempat baru, bukankah seharusnya kita tidak menyerah begitu saja dengan apa yang sudah ada?"
Kevin meliriknya. Oh-oh... mode serius aktif.
"Ini bukan soal menyerah atau tidak," kata Kevin. "Bangunan ini milik keluarga Pak Ridwan."
"Betul," sahut Shanna cepat. "Tapi Om Budi menyewa bangunan ini, dan pemutusan dilakukan sebelum masa sewa berakhir. Ada masalah hukum perdata di situ."
Kevin menatap Shanna, kagum. Hukum sewa-menyewa bukan topik populer—bahkan di kalangan orang berpendidikan tapi Shanna mengatakannya dengan tenang dan tepat.
"Jadi... kita bisa memenjarakan Pak Edwin?" tanya Budi panik.
"Perdata, Om. Bukan pidana," Shanna buru-buru menenangkan. "Jadi tidak sampai penjara. Kita hanya bisa menuntut ganti rugi."
"Ganti rugi untuk apa?" Budi terlihat bingung. "Maksud Om..."
"Untuk keadilan," jawab Shanna tegas "Jumlah uangnya mungkin tidak seberapa. Tapi ini soal keadilan. Pak Edwin membuat kontrak, setuju rumahnya dijadikan panti, lalu justru dia sendiri yang melanggar. Tidak salah, kan, kalau kita menuntut keadilan? Apalagi ini menyangkut anak-anak panti. Anak-anak yang tidak punya orang tua."
Kevin menatap Shanna cukup lama. Wow...
"Kenapa dulu lo gak ambil jurusan hukum, Shan?" gumam Kevin. "Lo bisa jadi pengacara yang lebih galak dari gue."
Shanna menopang dagunya, menatap Kevin datar.
"Kita bisa ketemu di pengadilan nanti tanpa gue jadi pengacara," katanya. "Kita lihat aja, lo bisa ngalahin gue atau enggak."
"Lo nantangin gue?" Kevin terkekeh, kaget tapi tertarik.
"Menurut lo?" balas Shanna singkat.
Kevin tertawa kecil "Kalau lo mau ketemu gue di pengadilan, gue sih siap. Tapi balik lagi—Pak Budi setuju gak, Pak?"
Budi menghela napas berat "Saya sebenarnya gak mau memperpanjang masalah."
Kevin mengangguk, lalu berkata tenang "Sebagai pengacara dari pihak Pak Ridwan, saya menyarankan masalah ini diselesaikan tanpa konflik panjang. Tapi sebagai teman Shanna..." Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum "Saya setuju dengan yang dia bilang. Bapak berhak menuntut Pak Edwin. Ini bukan soal uang, tapi soal keadilan."
Kevin mengedipkan sebelah matanya ke arah Shanna. Shanna mendengus pelan dan untuk pertama kalinya hari itu, tatapannya tidak lagi setajam tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictieBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
