A Family (Marcha)

50 7 9
                                        

Kevin pergi begitu saja. Langkahnya cepat, mobilnya menghilang, dan kata-katanya—kata-kata terakhir itu—masih menggantung di udara, menghantam Marcha dengan cara yang tidak langsung menyakitkan... tapi membuka sesuatu. Bukan kaget. Lebih seperti... tersadar.
Marcha berdiri terpaku sesaat, lalu menoleh. Shanna berdiri di dekat pagar, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Tangisnya pecah tanpa ditahan.
Bertengkar karena Deven. Sekilas, itu terdengar sepele. Drama lama. Cerita lama. Tapi... apakah benar sepele? Ini Deven. Nama itu tidak pernah kecil di hidup Marcha. Namun kenyataannya tetap sama: Deven sudah melamar Shanna.
Terlambat.
Marcha menarik napas dalam-dalam. Apa pun yang ia rasakan—penting atau tidak—tidak lagi punya tempat. Ia tidak bisa egois. Tidak bisa merusak kebahagiaan Shanna, apa pun yang pernah atau belum pernah terjadi di masa lalu. Ia melangkah mendekat. Tanpa berkata apa-apa, Marcha memeluk Shanna. Pelukan itu kaku di awal—canggung, ragu—seperti dua orang yang lama tidak saling menyentuh. Tapi pelan-pelan, Shanna membalasnya. Tangisnya pecah lebih keras di bahu Marcha.
Mereka sudah lama tidak benar-benar berbincang. Tidak lagi sedekat dulu. Tapi rasa itu... tidak pernah sepenuhnya pergi. Marcha masih menyayangi Shanna. Seperti dulu. Seperti di SMA dan masa SMA itu bukan hanya tentang Deven—tapi tentang persahabatan mereka. Tentang tertawa tanpa beban, tentang rahasia kecil, tentang menjadi muda dan percaya semuanya akan baik-baik saja.
Kenangan itu berharga. Sangat berharga. Lebih dari apa pun.
"Udah, Shan," bisik Marcha lembut. "Gue gak marah sama lo."
Shanna menggeleng di bahunya, suaranya serak "Tapi Kevin... dia nyuekin gue."
Marcha menutup mata sejenak, menahan sesuatu di dadanya.
"Nanti gue ngomong sama Kevin," katanya pelan tapi tegas "Lo tenang aja. Gak ada masalah yang gak bisa diselesain."
Shanna memeluk Marcha lebih erat. Tangisnya kembali pecah, lebih keras, lebih jujur—seolah semua yang ia tahan akhirnya menemukan tempat aman dan Marcha membiarkannya.

Akhirnya Marcha pulang ke rumah. Sejak papi-nya keluar dari rumah sakit, ada satu ritual yang tidak pernah ia lewatkan: langsung ke kamar papi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah lelaki yang kini terlihat jauh lebih kurus dari ingatannya.
"Gimana hari ini, Pi?" tanya Marcha pelan. "Ada yang sakit? Pusing? Sesak?"
Papi tersenyum, menggeleng santai "Enggak. Hari ini lumayan enakan kok." Lalu matanya menyipit usil. "Kamu gimana? Tadi acara di panti?"
"Seru, Pi," jawab Marcha, ikut tersenyum. "Anak-anaknya aktif semua. Capek tapi ketawa terus."
Papi menghela napas panjang. Marcha langsung siaga.
"Kenapa, Pi? Ada yang gak enak badan?"
"Bukan." Papi menoleh ke langit-langit. "Kamu tadi bilang anak-anak... papi jadi kepikiran cucu."
Nah. Datang juga. Marcha tersenyum tipis—senyum profesional, senyum orang dewasa yang sudah hafal topik ini.
"Papi tidur aja ya," katanya ringan. "Nanti kita ngobrol lagi."
"Kamu marah sama papi gara-gara papi ngomongin cucu?" tanya papi polos.
Marcha menggeleng "Enggak, Pi. Buat apa marah?" suaranya melembut. "Marcha tau kok maksud papi." Ia berdiri perlahan "Marcha ke kamar dulu ya. Masih ada yang harus dikerjain."
"Kamu jangan kerja keras terus, Cha," kata papi mengingatkan. "Duit gak akan habis dicari. Kesehatan kamu yang penting."
Marcha mengangguk "Iya, Pi. Marcha ngerti."
Ia melangkah keluar, lalu berhenti di ambang pintu kamar papi. Menarik napas panjang. Cucu. Topik langganan keluarga. Bukan cuma papi—mami juga sama. Seolah-olah cucu itu barang diskon yang tinggal diambil asal niat. Marcha mendesah kecil. Dia bisa apa kalau sampai sekarang belum ketemu lelaki yang cocok? Standarnya juga gak tinggi. Cuma... ya... kayak Deven. Sederhana. Pintar. Tenang, dan—sialnya—tidak tersedia.
Oke, Marcha. Stop. Lelaki itu terlarang. Sudah dikasih tanda "Do Not Touch" lengkap dengan alarm dan satpam.
Ia memejamkan mata sejenak. Tidak semua hal di dunia ini bisa ia dapatkan. Tidak semua hal bisa dibeli—bahkan dengan uang, usaha, atau niat baik. Cinta, waktu, dan takdir punya aturan sendiri dan Tuhan... jelas bukan tipe yang bisa ditawar-menawar.
Marcha tersenyum kecil, pahit tapi jujur. Tidak apa-apa. Untuk sekarang, ia masih punya karier. Punya mimpi. Punya tujuan. Itu cukup. Harus cukup.
Ia berjalan ke kamarnya. Begitu masuk, Marcha menguap lebar dan ia langsung bekerja lalu menatap jam dinding. Hampir jam dua pagi. Mantap. Besok pagi harus ke proyek pembangunan universitas, ketemu arsitek, pura-pura segar, pura-pura hidup teratur. Ia menutup laptop, merebahkan tubuh ke ranjang, lalu meraih botol obat tidur di laci samping.
Beberapa pil jatuh ke telapak tangannya. Marcha menatap pil-pil itu...dan entah kenapa, wajah Deven muncul di kepalanya—cemberut, sok bijak.
"Obat tidur itu gak baik buat kesehatan."
Marcha mendengus pelan "Ya lo juga gak baik buat kesehatan mental gue, Dev."
Ia memejamkan mata sejenak. Deven. Lagi. Lagi. Lagi. Oke. Cukup. Marcha memasukkan kembali pil-pil itu ke dalam botol, menutupnya rapat. Ia berbaring, menarik selimut, memejamkan mata. Kali ini ia akan mencoba tidur... tanpa obat. Tanpa kenangan. Tanpa membuka mata lagi.

Marcha baru saja membaringkan tubuhnya di tempat tidur ketika suara teriakan mami memecah rumah.
"Cha—!"
Marcha tersentak. Jantungnya langsung berdegup liar. Ia meloncat turun dari ranjang, membuka pintu kamar, lalu berlari menuruni tangga tanpa sempat berpikir.
"Ada apa, Mi?" suaranya gemetar.
Mami berdiri di depan kamar papi, wajahnya pucat, tangannya bergetar hebat "Papi kamu... papi..."
Marcha mendorong pintu kamar itu—dan dunia seolah berhenti. Papi terbaring dengan tubuh berkeringat dingin. Darah mengalir deras dari hidungnya, napasnya terputus-putus, erangannya memenuhi ruangan.
"Papi!" Marcha mendekat, lututnya hampir runtuh.
"Badannya dingin terus, mimisan, dan dia kesakitan," suara mami pecah. Ingvar sudah berdiri di samping Marcha, wajahnya sama tegangnya.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, Mi," kata Ingvar cepat.
Mami menggeleng keras "Enggak, Var. Mami gak mau ke rumah sakit." Tangannya mencengkeram lengan baju sendiri. "Mami trauma. Kalau ke sana, pasti disuruh rawat inap lagi. Berapa lama kita harus di sana?"
Marcha menatap mami—ia paham. Terlalu paham. Hening sekejap, hanya teriakan papi yang terdengar.
"Ya udah," kata Marcha akhirnya, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku telepon Deven."
Ingvar menoleh kaget "Ini udah hampir jam dua pagi, Kak. Masa Kak Deven masih bangun?"
"Kalau gak dicoba, kita gak akan tau," jawab Marcha. Tangannya sudah gemetar saat meraih ponsel.
Ia menatap nama itu di layar. Tidak ada pilihan lain. Nada sambung terdengar. Detik demi detik terasa panjang.
"Hallo, Cha."
Deg.
Jantung Marcha seperti jatuh ke lantai.
"Dev... Dev..." suaranya langsung pecah. "Lo bisa ke rumah gue gak? Papi gue—"
"Cha," potong Deven tenang, tapi waspada. "Tenang dulu. Papi lo kenapa?"
Marcha menjelaskan cepat, suara mami yang panik ikut terdengar di belakangnya.
"Ya udah," kata Deven tanpa ragu. "Lo tenang. Gue ke rumah lo sekarang."
"Dev, ini tengah malam," Marcha terisak. "Gue ngerepotin lo."
"Gak apa-apa. Papi lo butuh pertolongan sekarang," suaranya lembut tapi tegas. "Gue berangkat. Lo tenang aja."
Marcha terdiam. Dadanya terasa penuh "Thanks, Dev."
"It's my job, Cha. Gak usah mikir apa-apa," jawab Deven. "Sampai ketemu."
Telepon terputus.
"Gimana, Kak?" tanya Ingvar.
"Dia datang," jawab Marcha. "Sekarang."
"Sekarang?" Ingvar ternganga.
"Deven baik banget," gumam mami lirih.
"Itu karena Kak Marcha yang minta tolong," sahut Ingvar. "Kalau orang lain, belum tentu. Kak Deven itu masih sayang banget sama Kak Marcha."
"Dia temen aku," kata Marcha cepat. "Dan dia mau tunangan."
"Tunangan sama orang lain bukan berarti cintanya hilang," jawab Ingvar pelan.
Marcha diam. Ia kembali ke sisi papi. Dengan tangan gemetar, ia menutup hidung papi dengan tisu, berusaha menahan darah yang terus mengalir.
"Pi, tahan ya, Pi... bentar lagi," bisiknya.
Air matanya menggantung, tapi ia menahannya mati-matian. Ingvar menggenggam tangannya. Marcha menatap adiknya, menelan ludah. Tenggorokannya perih, dadanya sesak. Lalu— Bel pintu berbunyi. Marcha berdiri terlalu cepat, hampir terjatuh, lalu berlari ke arah pintu. Saat pintu terbuka, ia melihat Deven berdiri di sana dan entah kenapa, semua kekuatannya runtuh.
Marcha memeluk Deven erat, tangisnya pecah di pundaknya "Tolongin bokap gue, Dev... tolongin bokap gue."
Deven mengelus punggungnya, menahan tubuh Marcha yang gemetar "Cha... sabar. Gue liat keadaannya dulu."
Marcha melepaskan pelukan perlahan, air mata masih mengalir tanpa bisa ditahan.
Deven mengusap air mata itu dengan jarinya "Please, jangan nangis, Cha. Gue sakit hati liat air mata lo."
Marcha mengangguk, mengusap wajahnya dengan lengan.
"Ayo," kata Deven lembut. "Ke kamar bokap lo."
Deven menyandarkan kepala Marcha ke dadanya sambil berjalan.
"Tante... Ingvar," sapa Deven pelan.
"Kak Dev, tolongin papi gue," suara Ingvar bergetar.
"Tolongin suami saya," pinta mami.
"Ya," jawab Deven. "Tante, Ingvar, Marcha—kalian tunggu di luar sebentar." Ia menatap Marcha "Percaya sama gue."
Marcha mengangguk pelan "Iya, Dev."
Mereka keluar dari kamar. Pintu tertutup. Marcha bersandar ke tembok. Lututnya lemas, tubuhnya hampir jatuh. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap mami dan Ingvar yang berpelukan. Tidak. Ia tidak boleh jatuh. Ia harus kuat. Demi mereka. Di saat seperti ini, Marcha baru benar-benar sadar—betapa rapuhnya hidup manusia. Betapa tipis jarak antara ada dan tiada dan  betapa berharganya keluarga. Satu-satunya hal yang tak pernah bisa digantikan oleh apa pun

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang