Family Dinner (Deven)

70 12 6
                                        

Deven berdiri di depan cermin ruang tamu apartemennya, merapikan jasnya untuk kesekian kali. Alisnya sedikit berkerut, seolah setiap lipatan kecil di pakaiannya adalah masalah besar.
"Aku gimana?" tanya Deven akhirnya, menoleh ke arah Marcha.
Marcha yang sejak tadi memperhatikan sambil bersandar di meja, berjalan mendekat tanpa banyak komentar, ia langsung membetulkan dasi biru muda cerah Deven dengan gerakan telaten lalu ia mundur setengah langkah, menatap Deven dari atas sampai bawah dan nyengir lebar.
"Sudah rapi."
Deven mengerutkan kening "Emang tadi gak rapi?"
"Rapi sih rapi..." Marcha mengangkat bahu santai. "Tapi aku kan perfeksionis. Jadi ya... harus dirapikan lagi sedikit, demi ketenangan batinku."
Deven menghela napas pendek, setengah pasrah "Papi kamu juga sama perfeksionisnya kayak kamu, kan?"
Marcha tidak menjawab langsung, ia malah melangkah lebih dekat, memeluk pinggang Deven lalu menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.
"Kamu ini gak perlu setegang itu kalau ketemu papiku," gumamnya santai. "Biasanya juga kamu sering ketemu dia."
Deven menatap langit-langit sebentar. "Iya... tapi biasanya statusnya beda. Aku ketemu papi kamu sebagai dokternya." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Marcha. "Sekarang..."
"Sebagai calon mantu," potong Marcha cepat sambil tertawa.
Deven menutup mata sebentar, lalu ikut tertawa kecil "Kamu ini ya... orang lagi deg-degan malah diketawain."
Marcha melepaskan pelukannya. Kedua tangannya naik memegang pipi Deven, membuat lelaki itu sedikit membungkuk supaya mata mereka sejajar.
"Kamu itu orang yang aku pilih," kata Marcha serius, walau masih ada senyum kecil di sudut bibirnya. "Satu-satunya cowok yang aku pilih buat ketemu keluargaku." ia menepuk pipi Deven pelan "Aku suka sama kamu dan aku yakin mereka juga bakal suka sama kamu."
Deven tersenyum tipis, tapi masih ada sedikit cemas di matanya. "Ya... tapi dulu papi kamu gak suka sama aku," katanya jujur. "Jadi aku mau berusaha bikin beliau suka."
Marcha mengangguk kecil.
"Dan aku yakin papi bisa lihat kamu berusaha." Ia menatap Deven hangat. "Kamu dokter terbaik di Indonesia..." Marcha berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada dramatis "...dan lelaki terbaik di hatiku."
Deven tertawa kecil, lalu memeluk Marcha lagi "Apapun yang terjadi," katanya, "aku bakal bikin papi kamu suka sama aku."
Marcha mengangguk di pelukannya "Aku tahu, kita berusaha bareng." Ia lalu melepaskan pelukan itu tiba-tiba dan menolehkan wajahnya "Eh bentar."
Deven berkedip.
Marcha menunjuk pipinya sendiri "Sekarang lihat pipiku. Udah gak kelihatan kan lukanya?"
Deven langsung menatap wajah Marcha dengan serius. Ia memiringkan kepala ke kiri, lalu ke kanan, seolah sedang mendiagnosis pasien di ruang operasi, keningnya makin berkerut.
"Luka yang kemarin... dimana ya?" tanya Deven bingung.
Marcha langsung tertawa "Ya udah kalau kamu aja gak inget, berarti udah sembuh total." Ia meraih tangan Deven dan menariknya "Ayo pergi!"
Deven menghela napas panjang, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. Ia menggenggam tangan Marcha erat.
"Gak apa-apa, Dev... tenang aja," kata Marcha sambil berjalan menuju pintu.
Pintu apartemen terbuka dengan langkah yang masih sedikit tegang dari Deven dan langkah santai penuh percaya diri dari Marcha, mereka berdua akhirnya keluar dari apartemen itu.

Beberapa hari terakhir, Marcha tinggal di apartemen Deven dan jujur saja, bagi Deven rasanya agak seperti mimpi. Bangun pagi ada Marcha di dapur. Pulang kerja ada Marcha di sofa sambil cerita ini-itu bahkan hal kecil seperti mendengar suara langkah Marcha di apartemen saja sudah cukup membuat tempat itu terasa berbeda, kadang Deven sampai membayangkan...bagaimana kalau Marcha benar-benar jadi istrinya. Masakan Marcha ternyata enak sekali, bukan cuma enak tapi juga penuh eksperimen aneh, pernah sekali Marcha mencoba membuat pasta sambil bilang itu "fusion cuisine", padahal rasanya lebih mirip percobaan laboratorium tapi Deven tetap makan, demi cinta... dan demi keselamatan dirinya.
Selain makan bersama, mereka juga sering duduk lama di ruang tamu sambil mengobrol dan tentu saja mereka tidak cuma membicarakan hal manis seperti pasangan muda yang sedang kasmaran.... mereka bicara banyak hal, tentang pekerjaan Deven di rumah sakit, tentang bisnis Marcha yang tersebar di beberapa negara, tentang masa depan mereka. Marcha sempat mengatakan kalau ia sedang memikirkan cara agar sebagian besar bisnisnya bisa dijalankan secara online.
"Tapi aku tetap harus ke Paris sama Amerika sebulan atau dua bulan sekali," katanya waktu itu.
Deven sebenarnya tidak keberatan hanya saja Marcha yang justru khawatir.
"Aku takut kamu gak puas punya istri yang sering bolak-balik negara," katanya.
Deven cuma tertawa waktu itu selain soal masa depan, mereka juga sempat membahas satu hal yang sempat heboh beberapa hari terakhir, video saat Marcha ditampar oleh Shanna, media memberitakan kejadian itu besar-besaran apalagi setelah muncul berita kalau Shanna juga sempat merusak kamera wartawan saat kejadian itu, Marcha bahkan sampai menelepon Kevin dan menyuruhnya membantu Shanna menyelesaikan masalah itu, Deven yakin sebenarnya tanpa disuruh pun Kevin pasti akan menolong Shanna tapi Deven sendiri sama sekali tidak peduli karena menurutnya itu memang kesalahan Shanna, menampar orang di tempat umum, apalagi dia seorang selebriti, jelas tindakan yang bodoh. Seharusnya dia bisa menjaga emosi dan mengontrol dirinya yang membuat Deven bingung justru satu hal... kenapa Marcha masih peduli dengan Shanna? Padahal bagi Deven, masalah sebenarnya justru ada di keluarga Marcha karena akhirnya keluarga Marcha tahu juga kenapa Marcha menginap di apartemennya selama beberapa hari. Ya... karena menyembunyikan luka di pipinya, walaupun Marcha bersikeras mengatakan luka itu tidak serius, maminya adalah tipe orang yang sangat teliti bahkan dari video wartawan yang kualitasnya tidak terlalu bagus pun, maminya bisa melihat ada goresan di pipi Marcha, untungnya Marcha berhasil menenangkan maminya dengan mengatakan bahwa lukanya sudah sembuh tapi maminya tetap kesal bahkan sempat memaki Shanna karena berani menampar anaknya dan untuk bagian itu... Marcha hanya diam saja karena jujur saja, dia juga tidak tahu bagaimana harus membela Shanna.

_____

Mobil Deven akhirnya berhenti di depan rumah besar keluarga Marcha, Marcha menatap rumah itu sebentar sambil menghela napas.
"Sebenarnya lebih enak makan di restoran," gumamnya. "Tapi papi suka banget makan di rumah."
Deven tersenyum samar "Ya kalau makan di rumah lebih terasa rasa keluarganya, Cha."
Marcha mengangguk kecil. "Iya sih... ya udah, ayooo."
Deven turun dari mobil, lalu berjalan ke sisi Marcha, begitu mereka berjalan menuju pintu rumah, Marcha langsung memeluk lengan Deven bukan karena romantis saja. Sedikit... sebagai penyangga mental juga.
Pintu dibuka oleh pembantu rumah, di ruang tamu, mami Marcha sudah menunggu bersama papi Marcha yang duduk di kursi roda.
"Deven, Marcha... sudah ditunggu dari tadi," kata mami Marcha dengan wajah senang.
"Tante, om," sapa Deven sopan.
"Pi, mi," kata Marcha santai.
Deven berjalan mendekati papi Marcha. "Gimana keadaannya om? Sudah lebih baik?"
Papi Marcha menatapnya sambil mengangkat satu alis. "Baik tapi kamu kesini bukan buat cek kesehatan om kan, Deven?"
Deven tersenyum sedikit canggung. "Ehm... bukan, om."
Papi Marcha kemudian melirik ke arah Marcha yang masih memeluk lengan Deven.
"Om sudah tahu kalian balikan," katanya tenang. "Mami Marcha cerita."
Marcha pura-pura batuk kecil.
"Ya sudah. Ayo ke ruang makan," lanjut papi Marcha. "Nanti makanannya dingin."
"Iya om," jawab Deven.
Mami Marcha mendorong kursi roda papi Marcha menuju ruang makan, Deven dan Marcha berjalan di belakang mereka... Marcha menoleh sedikit ke arah Deven dan tertawa pelan.
"Aku bilang juga apa. Gak apa-apa kan, Dev?"
Deven berbisik gugup "Iya... tapi kita belum makan."
Marcha menepuk pelan pundaknya "Kamu tenang aja."

Di meja makan sudah lengkap keluarga mereka, ada papi Marcha, mami Marcha, dan Ingvar yang baru saja dipanggil keluar kamar oleh pembantu.
"Hey kak Deven!" sapa Ingvar sambil menepuk pundak Deven.
"Hey Var."
Mami Marcha mulai membuka percakapan.
"Jadi pekerjaan di rumah sakit sibuk ya, Deven? Tante sudah lama bilang ke Marcha supaya kamu makan ke sini."
"Khan bukan Deven aja yang sibuk, mi," sela Marcha. "Marcha juga sibuk jadi kita cari waktunya."
Papi Marcha tiba-tiba langsung masuk ke topik utama. "Papi dengar dari mami... kamu dan Deven serius mau menikah?"
Meja makan tiba-tiba terasa sedikit lebih sunyi, Marcha dan Deven saling melihat.
"Ya... kita serius, pi," kata Marcha. "Tapi kita masih membicarakan waktu dan tempat tinggal."
"Tempat tinggal?" ulang papi Marcha.
"Ya papi tahu kan kerjaan Marcha banyak di Eropa sama Amerika. Marcha gak mungkin lepas semua itu," jelas Marcha. "Banyak orang kerja di perusahaan Marcha."
Mami Marcha langsung menimpali "Tapi kalau kamu menikah, kamu harus ikut suami, Cha." lalu ia menoleh ke Deven "Iya kan, Deven?"
Deven tiba-tiba merasa seperti mahasiswa yang disuruh menjawab pertanyaan dosen dadakan.
"Hmm... ya tante..."
Papi Marcha mengangguk "Deven benar, kamu harus tinggal di Indonesia bukan cuma kamu yang punya karyawan, Cha. Deven juga punya pasien."
Deven sedikit bingung tadi dia sudah siap mental dimarahi tapi papi Marcha malah seperti... mendukungnya?
"Ya... Marcha juga mikir tinggal di Indonesia," kata Marcha. "Apalagi Deven sudah beli rumah di sini buat masa depan kita."
Papi Marcha langsung menoleh. "Rumah? Kamu beli rumah dimana, Deven?"
"Di kompleks perumahan ini om," jawab Deven sambil menyebutkan bloknya. "Tapi masih tanah belum dibangun."
"Oh... sudah beli rumah ternyata." Papi Marcha mengangguk pelan. "Padahal papi punya rencana untuk kalian berdua setelah menikah."
Marcha langsung mengerutkan kening. "Rencana apa, pi?"
"Salah satu syarat kalau Deven benar-benar mau menikah dengan kamu."
Marcha langsung menatap papinya dengan curiga "Syarat apa? Sejak kapan nikah sama Marcha ada syaratnya?"
Papi Marcha mendengus. "Sejak kamu bertahun-tahun gak mau pulang ke Indonesia."
"Marcha gak pulang karena kerjaan!" bantah Marcha kesal. "Papi sama mami juga tahu kalian sering ke Paris. Marcha cuma bisa nemenin sebentar."
"Cha... sudah," kata Deven lembut sambil memegang punggung tangan Marcha. "Sekarang bukan waktunya debat soal itu."
"Tapi Dev—"
"Cha."
Nada suara Deven pelan... tapi cukup membuat Marcha berhenti, papi Marcha memperhatikan mereka, lalu tersenyum kecil.
"Keras kepala dan ego anak perempuan om ini," katanya. "Kelihatannya cuma kamu yang bisa mengendalikan dia, Dev. Bahkan papi saja kadang tidak bisa."
Deven hanya tersenyum kecil.
"Sebetulnya syarat om tidak sulit," lanjut papi Marcha. "Dan om yakin kamu bisa melakukannya."
Semua orang menunggu.
"Om cuma ingin satu hal." Papi Marcha menatap Deven "Setiap kali Marcha pulang ke Indonesia... om ingin bisa melihat dia." Ia berhenti sebentar, lalu berkata dengan tenang, "Jadi setelah kalian menikah... apa kamu bersedia tinggal satu rumah dengan om, tante, dan Ingvar?"
Deven langsung menatapnya kaget. Jadi... Dia diminta tinggal di rumah keluarga Marcha? Deven berusaha memastikan.
"Jadi maksud om... setelah menikah, saya dan Marcha tinggal di sini?" tanya Deven hati-hati.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang