Deven terus mencoba menelepon Marcha sejak berita dirinya dengan Shanna mulai heboh di media sosial. Nama mereka kembali jadi bahan pembicaraan. Foto-foto dirinya dan Shanna tersebar di mana-mana, lengkap dengan narasi berlebihan yang seolah-olah mereka akan kembali bersama. Deven membaca semua itu sambil menghela napas panjang, ia sama sekali tidak menanggapi para shipper maupun fans yang kembali heboh mendukung dirinya dan Shanna.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya melihat foto, lalu membuat cerita sendiri bahkan banyak komentar yang bilang kalau Deven dan Shanna memang "takdir yang tertunda". Deven sampai memijat pelipisnya sendiri membaca semua itu.
"Takdir apaan..." gumamnya pelan frustrasi.
Tapi yang paling membuatnya pusing bukan media melainkan Marcha. Sejak berita itu muncul, Marcha sama sekali tidak membalas chat ataupun mengangkat teleponnya, berapa kali pun Deven mencoba menghubungi, hasilnya tetap sama, tidak dijawab. Hubungan mereka yang sebelumnya memang sedang bermasalah sekarang malah ditambah masalah baru dan Deven sadar... kali ini memang salahnya, ia seharusnya jujur dari awal kalau Shanna datang ke apartemennya tapi waktu itu Deven memilih diam karena ia tahu Marcha sempat cemburu saat nama Shanna dibahas. Deven berpikir semuanya tidak perlu dibesar-besarkan karena baginya itu memang bukan apa-apa, ia juga sama sekali tidak menyangka ada orang yang memfoto dirinya dan Shanna lalu menyebarkannya ke media.
Sekarang semuanya terlanjur kacau. Marcha sulit dihubungi dan Deven cuma bisa menunggu balasan chat yang entah kapan datangnya.
Deven
Cha, kita telepon ya... aku perlu ngomong sama kamu
Chat itu hanya dibaca.
Beberapa jam kemudian, akhirnya ada balasan masuk.
My Cha
sibuk
Cuma satu kata. Singkat. Dingin dan justru itu yang membuat dada Deven terasa makin sesak, ia tahu Marcha memang sibuk, tapi tidak mungkin selama itu tidak punya waktu sedikit pun untuknya. Biasanya, sesibuk apa pun Marcha tetap akan mengabari, sekedar bilang lagi makan. Foto kopi. Cerita meeting hari itu atau curhat soal bisnisnya sambil minta pendapat Deven. Hubungan jarak jauh mereka selama ini bahkan terasa seperti tidak benar-benar LDR karena Marcha selalu berusaha hadir tapi sekarang berbeda.
Marcha benar-benar menjauh.
Deven menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya kembali mengetik.
Deven
aku mau jelasin tentang Shannon, please
Chat itu langsung dibaca tapi tidak dibalas lagi. Deven mengusap wajahnya frustrasi, bukannya Marcha yang menelepon atau membalas chat, justru Kevin yang tiba-tiba menghubunginya.
Deven langsung mengangkat telepon itu.
"Halo, Dev," sapa Kevin dari seberang sana.
"Hei, Vin..." jawab Deven lesu.
Kevin langsung menyadari nada suara sahabatnya itu.
"Ada apa sama lo?" tanyanya. "Suara lo kayak pasien kurang darah."
Deven tertawa hambar "Lebih parah dari kurang darah kayaknya."
Kevin menghela napas kecil sebelum akhirnya berkata, "Kita bisa ketemu? Gue mau ngomong soal Shannon."
Mendengar nama itu, Deven langsung memejamkan mata sejenak.
"Ya..." jawabnya pelan. "Gue lagi di rumah sakit, tapi hari ini gak ada operasi."
"Kalau lo mau ketemu, kesini aja. Gue di kantor."
"Lo kenapa sih, Dev?" tanya Kevin lagi. "Lemes banget."
"Gak apa-apa, Vin," jawab Deven lirih. "Gue tunggu lo disini ya."
"Okay, mas bro."
Telepon terputus. Deven menatap layar ponselnya dalam diam, ruangan kantornya terasa terlalu sepi, ia kembali membuka chat Marcha, masih belum ada balasan. Jarinya sempat mengetik sesuatu lagi... lalu dihapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Untuk pertama kalinya, Deven benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi Marcha.
Karena biasanya, semarah apa pun Marcha, perempuan itu tetap mau mendengarkan penjelasannya tapi sekarang...Marcha memilih diam. Deven mendengar ketukan di pintu ruangannya. Ia bahkan sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Masuk aja, Vin," katanya lesu tanpa mengangkat kepala.
Pintu terbuka, lalu muncullah Kevin dengan kopi di tangan dan wajah santai khas manusia yang hidupnya minim drama—setidaknya dibanding Deven.
"Hei..." Kevin duduk di kursi depan meja kerja Deven sambil mengamati sahabatnya dari atas sampai bawah. "Tumben dokter ganteng satu ini gak sibuk. Rumah sakit lagi diskon pasien?"
"Ya orang sakit memang banyak," jawab Deven sambil menyandarkan badan ke kursi. "Tapi mereka gak mungkin sakit dua puluh empat jam penuh juga kali, Vin."
Kevin mengangguk sok bijak "Benar juga. Kadang pasiennya sehat... dokternya yang tumbang."
Deven mendelik malas "Gue gak tumbang."
"Muka lo pucet kayak abis donor darah tiga liter."
Deven mengusap wajahnya kasar lalu menghela napas panjang "Gue pusing."
Kevin langsung mencondongkan badan "Sakit beneran?"
Deven menggeleng pelan "Bukan sakit fisik. Gue pusing mikirin Marcha." Ia menjatuhkan kepala ke sandaran kursi. "Kayaknya dia masih marah gara-gara masalah Shannon."
"Ya gak Marcha doang yang marah," sahut Kevin cepat. "Gue juga."
Deven langsung mendongak "Hah? Lo marah sama gue kenapa?"
Kevin menatapnya datar "Lo bilang mau bantuin gue sama Shannon." Ia menunjuk Deven pakai telunjuk "Tapi kenapa ujung-ujungnya lo malah bawa Shannon ke apartemen lo?"
Deven refleks mengangkat kedua tangan "Eh, tunggu dulu. Lo salah paham."
"Coba jelaskan, Yang Mulia."
Deven mendesah panjang "Shannon itu kebetulan ketemu gue di jalan. Dia sendirian, nangis, stres gara-gara masalah Anneth. Terus dia mau minta tolong supaya bisa baikan sama lo."
Ia menatap Kevin serius "Gue masa tega ninggalin dia nangis di tengah jalan?"
Kevin masih belum luluh "Terus kenapa harus ke apartemen?"
"Masa gue nenangin dia di trotoar? Nanti gue dikira buka layanan konseling gratis."
Kevin menahan tawa, tapi tetap memasang wajah galak "Tapi lo bohong sama Marcha."
"Nah itu..." Deven langsung memijat pelipisnya. "Gue tuh sebelumnya udah tengkar sama Marcha gara-gara Shannon. Gue gak mau nambah masalah lagi."
Kevin menggeleng pelan "Masalahnya sekarang malah jadi paket kombo."
Deven mengerang frustrasi "Gue gak nyangka ada yang motoin gue sama Shannon. Mana angle-nya kayak sinetron reuni mantan lagi."
"Dev..." Kevin menatapnya serius sekarang. "Shannon itu penyanyi terkenal. Lo juga terkenal. Mantan lo ada dua, dua-duanya artis besar, terus lo hampir tunangan sama salah satunya." Ia mengangkat alis "Hidup lo tuh makanan favorit akun gosip."
Deven menutup wajahnya dengan kedua tangan "Jangan bahas Anneth sama Shannon lagi deh. Kepala gue makin cenat-cenut."
Kevin malah nyengir "Seru padahal."
"Seru buat lo. Buat gue mau mati."
Kevin tertawa kecil sebelum akhirnya bertanya "Lo takut Marcha minta putus?"
Deven diam beberapa detik sebelum mengangguk pelan "Dia pernah ngomong gitu."
Kevin langsung menegakkan badan "Hah? Serius?"
"Iya." Deven tertawa hambar. "Sebelum masalah Shannon ini muncul, kita udah sempat ribut besar."
"Wah..." Kevin bersiul pelan. "Berarti hubungan kalian memang lagi sensitif."
"Makanya gue makin pusing."
Ruangan mendadak hening beberapa detik sampai Kevin akhirnya bersandar di kursi.
"Lo mau gue bantuin?" tanyanya.
Deven menggeleng cepat "Gak usah, Vin. Gue gak bisa nyusahin lo terus buat urusan gue sama Marcha."
Kevin mendecak "Padahal gue pengacara premium."
"Bayaran lo mahal."
"Bisa dicicil."
Deven akhirnya ketawa kecil untuk pertama kalinya hari itu "Tapi serius," lanjut Deven pelan, "Shannon kasihan banget sekarang. Dia benar-benar hancur gara-gara keluarganya sendiri."
Kevin menunduk sebentar sebelum menghela napas "Gue tau. Dia hubungi gue terus."
"Terus?"
"Gue belum siap ketemu dia."
"Karena lo suka sama dia?"
Kevin langsung melotot "Dokter juga ternyata hobinya nusuk pasien ya."
Deven nyengir tipis "Jawab aja."
Kevin mendesah "Dia tau perasaan gue bukan sekadar temen. Tapi dia gak pernah kasih kejelasan." Ia menatap Deven lelah "Gue umur segini udah males main tebak-tebakan hubungan."
Deven mengangguk pelan "Tapi ngilang juga bukan solusi."
Kevin terdiam.
"Lo liat gue sama Marcha," lanjut Deven. "Hubungan kita sekarang berantakan karena komunikasi kacau. Padahal kalau ngomong baik-baik, masalahnya gak bakal sepanjang ini."
Kevin mengusap wajahnya kasar lalu akhirnya menyerah "Yaudah... nanti gue coba ketemu Shannon."
Deven tersenyum tipis "Nah gitu dong."
"Tapi sekarang balik ke masalah lo." Kevin menunjuk Deven lagi. "Lo sama Marcha mau gimana?"
"Maksudnya?"
"Ya masa lo mau didiemin terus?"
Deven langsung duduk tegak "Kalau dia masih gak mau respon..." Ia menyipitkan mata penuh tekad "Gue samperin."
"Ke Paris?"
"Dia lagi di Amerika."
Kevin mengangkat bahu "Yaudah ke Amerika."
"Gue samperin kemanapun dia ada."
Kevin terkekeh "Wah bucin internasional."
Deven nyengir tipis "Gue serius, Vin. Gue gak bakal nyerah sama Marcha."
"Nah, itu baru bagus." Kevin mengangguk puas. "Karena percaya gak percaya... Marcha juga pasti masih sayang sama lo."
Deven terdiam sebentar sebelum akhirnya bertanya pelan "Dia cerita sesuatu ke lo?"
Kevin batuk kecil "Sebenernya..."
Deven langsung curiga"Apa?"
Kevin nyengir bersalah "Gue yang ngirim berita lo sama Shannon ke Marcha."
Deven langsung melotot "LO?!"
"Iya..."
"Pantes hidup gue makin hancur!"
Kevin ngakak sambil mengangkat tangan defensif "Eh gue cuma mau konfirmasi! Mana gue tau dia bakal ngamuk karena lo bohong."
"Gue gak bohong!" protes Deven.
"Menurut lo gak. Menurut cewek?" Kevin menunjuk langit-langit. "Itu bohong tingkat dewa."
Deven menjatuhkan badan ke kursi lagi dengan pasrah "Ya Tuhan..."
Kevin akhirnya merasa bersalah juga "Yaudah, gue bantuin."
"Gak usah."
"Udah terlanjur dosa, sekalian tobat."
Sebelum Deven sempat membalas, Kevin sudah mengetik cepat di ponselnya.
Kevin
Cha, gue lagi di kantor Deven di rumah sakit. Lo mau telepon?
Tak lama kemudian balasan masuk.
Nyonya Boss
gue sibuk
Deven melirik layar itu lalu mendesah "Tuh kan. Sama aja kayak balasan dia ke gue."
Namun beberapa detik kemudian ponsel Kevin berbunyi lagi.
Nyonya Boss
ngapain lo ke kantor Deven? Deven sakit?
Kevin langsung menoleh ke Deven sambil nyengir lebar "Masih perhatian tuh."
"Ya tapi chat lo dibales," gerutu Deven. "Gue kagak."
Kevin makin senyum kemenangan sebelum mengetik lagi.
Kevin
gw tanya dia soal Shannon. ternyata Shannon cuma minta tolong Deven buat nyambungin ke gw. sorry gw salah paham sama cowok lo Cha
Balasan Marcha datang cepat.
Nyonya Boss
lo juga sih. apaan sih lo sama Shannon? jangan kayak anak kecil Vin
Deven langsung bergumam pelan sambil manyun "Dia sendiri juga kayak anak kecil."
Kevin cepat-cepat menahan tawa "Udah, jangan komentar. Ntar malah ribut lagi."
"Kalau lo gak ikut campur, gue juga gak ribut."
"Ya maaf..." Kevin mulai merasa bersalah lagi.
Tak lama kemudian chat baru muncul.
Nyonya Boss
Deven ngapain? dia gak sibuk?
Kevin melirik Deven sebentar sebelum membalas.
Kevin
dia nungguin lo bales chat atau telepon dia balik Cha
Beberapa detik kemudian balasan masuk lagi.
Nyonya Boss
gue sibuk
Ruangan langsung hening. Deven menatap layar itu lama, lalu menghela napas panjang sambil menjatuhkan kepala ke meja.
"Nah," katanya pasrah. "Sekarang gue harus gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
