Jalan pintas (Deven)

63 8 2
                                        

Deven keluar dari kamar papi Marcha.
Di luar, Marcha berdiri bersandar pada tembok, wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Beberapa langkah dari sana, Ingvar memeluk maminya erat, berusaha menenangkan—padahal tubuhnya sendiri gemetar. Begitu mata Marcha menangkap sosok Deven, lututnya seakan kehilangan tenaga. Tubuhnya condong ke depan, nyaris jatuh.
"Cha—"
Deven langsung bergerak cepat, menangkapnya tepat waktu. Satu tangannya menahan punggung Marcha, yang lain menggenggam tangannya erat.
"Cha..." suara Deven rendah, menenangkan.
Marcha menelan ludah, matanya berkaca-kaca "Papi gue gimana, Dev?" suaranya bergetar, penuh cemas.
Deven tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
"Papi lo udah gak apa-apa," katanya pelan.
Marcha menatapnya, seolah mencari celah kebohongan di wajah Deven "Beneran?"
"Iya. Tadi gue sempat kasih suntikan buat bantu sementara," jawab Deven. Lalu ia menghela napas. "Tapi... sebaiknya besok pagi papi lo tetep ke rumah sakit buat pemeriksaan lanjutan."
Kening Marcha mengernyit "Bukannya kemarin lo bilang kemoterapinya berhasil ngurangin sel kanker papi gue, Dev?"
"Iya, Cha. Itu bener," jawab Deven lembut. "Tapi kalau kondisinya kayak tadi... gue saranin dicek lagi. Gak ada salahnya."
Marcha terdiam. Kata-kata Deven menggantung di udara, berat.
Mami Marcha menatap Deven dengan mata sembab "Tapi kalau diperiksa... nanti harus nginep lagi di rumah sakit?"
Deven segera menggeleng "Kalau tante gak mau, gak apa-apa. Gue bisa datang ke rumah, sama suster, buat periksa dan kontrol kondisi om."
Marcha menoleh cepat "Gak ngerepotin, Dev? Gue—"
Deven tersenyum sambil menggeleng pelan "Enggak, Cha. Sama sekali enggak," katanya lembut. "Lo tenang aja."
Mata Marcha yang basah menatap Deven dan di saat itu, dada Deven serasa dihantam berkali-kali. Sakit. Terlalu sakit. Sampai rasanya bernapas pun berat. Ia menggenggam tangan Marcha lebih erat.
"Thanks ya, Dev," kata Marcha, tersenyum samar—senyum yang nyaris pecah.
"Makasih ya, Dok," ujar mami Marcha lirih.
"Thanks, Kak Dev," tambah Ingvar.
Deven hanya mengangguk, membalas tatapan mereka satu per satu "Kalian bisa balik tidur. Untuk sekarang, om aman."
Marcha dan keluarganya mengangguk. Wajah mereka mulai terlihat lebih tenang. Orang luar mungkin akan mengira Marcha yang paling kuat. Tapi Deven tahu—justru dia yang paling hancur. Tidak semua kesedihan butuh air mata. Ada yang diam-diam merobek dari dalam.
"Gue anterin Deven ke depan ya, Var," kata Marcha lembut. "Lo temenin mami ke kamar."
Ingvar mengangguk. Marcha dan Deven menunggu sampai Ingvar membawa mami Marcha ke kamar. Kamar papi memang terpisah, tapi letaknya berdekatan.
"Ayo, Dev," kata Marcha pelan.
"Gak usah, Cha. Lo balik tidur aja," jawab Deven.
"Gak apa-apa. Cuma ke depan doang."
Deven mengangkat bahu, lalu berjalan ke arah pintu bersama Marcha.
"Oh iya," kata Marcha tiba-tiba. "Masalah biaya lo ke sini, nanti gue transfer. Chat aja nomor rekening lo."
"Gak perlu, Cha. Gue cuma bantu suntikan doang."
"Ya tapi lo dateng subuh-subuh gini."
"Cha—"
"Kasih nomor rekening lo," potong Marcha sambil membuka pintu.
Hujan deras dan halaman depan kosong—tidak ada mobil Deven seperti biasanya.
Marcha menoleh bingung "Lo ke sini naik apa?"
"Motor. Kondisinya darurat, lebih cepet," jawab Deven santai.
"Lo gak bisa pulang hujan gini."
"Ya gue nunggu aja di ruang tamu sampai hujannya reda."
Marcha menatapnya, rasa bersalah jelas di wajahnya "Sorry ya, Dev. Gue ngerepotin."
Deven menghela napas pelan "Lo ngomong apa sih, Cha? Ngerepotin dari mana? Bokap lo lagi sakit."
"Iya sih, tapi—"
"Udah," potong Deven sambil nyengir tipis. "Gue tidur di ruang tamu aja."
"Ada kamar tamu, Dev. Sebelah kamar gue."
Deven mengangguk "Ya udah, di situ aja."
"Beneran gak apa-apa?"
Deven tersenyum sambil menggeleng "Gak apa."
Marcha mengangguk "Ya udah. Gue siapin bantal, guling, sama selimutnya."
Deven tersenyum dan untuk sesaat, di tengah hujan dan kelelahan, ada rasa hangat yang diam-diam bertahan.

Deven mengikuti langkah Marcha menuju kamar tamu. Marcha membuka pintu. Kamar itu bersih, rapi—terlalu rapi. Semua serba putih. Tempat tidur, lemari, meja, kursi. Putih yang dingin, tenang, dan sunyi.
Deven menoleh pelan, matanya mengamati sekeliling "Lo yang ngatur interior kamar ini?"
Marcha menoleh cepat "Kok lo tau?"
Deven mendengus kecil "Tau lah. Putih semua."
Marcha tertawa pendek "Lo masih inget aja gue suka warna putih."
Deven menatapnya lama "Gue inget semua kesukaan lo, Cha. Dari dulu. Sampai sekarang."
Senyum Marcha membeku sebentar "Eh... lo santai dulu di sini ya. Gue ambilin bantal, guling, sama selimutnya."
"Ambil di mana?" tanya Deven.
"Di lemari atas," jawab Marcha sambil menunjuk.
"Biar gue aja," kata Deven. "Lo balik ke kamar lo."
Tanpa menunggu jawaban, Deven membuka lemari. Selimut, bantal, dan guling tersusun rapi—tinggi, terlalu tinggi. Ia melompat sedikit, berhasil meraih bantal. Lompat lagi—guling. Untuk selimut, Deven berjinjit, ujung jari kakinya menegang. Selimut hampir tergapaiTubuhnya oleng. Ia menabrak Marcha dan semuanya terjadi terlalu cepat.
Mereka jatuh bersamaan ke atas tempat tidur. Selimut terlepas, menutupi mereka sesaat, lalu meluncur jatuh di punggung Deven. Deven berada di atas Marcha. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Napas Marcha terengah, hangat, tidak beraturan. Deven bisa merasakan detak jantungnya—cepat, kacau, sama seperti jantungnya sendiri.
Mata itu. Mata Marcha menatapnya... dan Deven membeku. Seluruh tubuhnya menghangat hanya karena tatapan itu. Tangannya menahan berat badannya di sisi kepala Marcha, tapi rasanya ia lupa cara bergerak.
Pandangan Deven turun—ke bibir Marcha.
"Dev..." suara Marcha nyaris bergetar. Tangannya menyentuh pundak Deven, seperti ingin mendorong... atau menahan. Ia sendiri tak tahu.
Tanpa berpikir, Deven menurunkan wajahnya.
Bibir mereka bertemu. Singkat. Salah. Tapi nyata.
Marcha sempat membalas—sepersekian detik yang terasa terlalu jujur. Tubuh Deven bergetar. Semua terasa ringan, hangat—terlalu nyaman untuk sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Tiba-tiba—Marcha mendorong pundaknya.
"Ini salah, Dev."
Deven tersentak. Ia bangkit berdiri. Selimut yang tadi menutupi mereka jatuh ke pundaknya. Ia mengusap wajahnya, napasnya berat "Maaf. Gue... gue—" suaranya terputus. Ia sendiri bingung. Ia tidak pernah kehilangan kendali seperti ini sebelumnya. Tidak pernah.
"Gue juga salah," kata Marcha. "Harusnya gue gak nelepon lo dan—"
"Bokap lo sakit, Cha," potong Deven cepat.
"Iya. Tapi tetep..." suara Marcha melemah. "Gue gak enak sama Shanna. Gue rasa... setelah ini kita kurangin ketemu. Bahkan mungkin... kita gak seharusnya ketemu lagi."
Kata-kata itu seperti pukulan.
"Gak ketemu?" Deven menatapnya. "Cha, gue tau tadi gue salah. Gue kehilangan kontrol."
"Bukan cuma lo," jawab Marcha lirih. "Gue juga."
"Jangan gak ketemu," kata Deven cepat. "Lo bakal balik ke Paris. Setelah itu kita hampir gak mungkin ketemu lagi. Gue—"
"Dev," potong Marcha. "Lo udah ngelamar Shanna. Lo bakal nikah sama dia."
"Ya, tapi—"
"Kita gak bisa," Marcha menggeleng. "Ini salah."
"Kita cukup jaga jarak," suara Deven merendah. "Tapi jangan gak ketemu. Gue... gue udah cukup puas cuma ngeliat lo dari jauh."
"Dev..."
"Kita gak bisa bareng, gue paham," lanjut Deven lirih. "Bahkan kalau lo nyuruh gue nikah sama Shanna, gue paham. Tapi ngehukum gue dengan gak boleh ketemu lo sama sekali... Cha, apa itu gak keterlaluan?"
Marcha terdiam "Kalau kita ketemu terus dan kejadian barusan keulang," suaranya pecah, "gue gak sanggup, Dev."
"Gue gak akan nyentuh lo lagi," kata Deven cepat. "Gue gak akan ngedeketin lo lagi kalau itu yang lo mau. Gue cukup... cukup ngeliat lo dari jauh. Senyum lo aja udah cukup. Jangan larang gue buat ketemu lo."
Marcha menunduk lama.
"Cha," panggil Deven pelan.
"gue juga gak tau gimana ngehindarin lo," kata Marcha akhirnya. "Lo dokter bokap gue."
Deven tersenyum kecil—lega, meski pahit.
"Tapi kita tetep harus jaga jarak," lanjut Marcha. "Lo bakal jadi suami Shannon. Dan gue... gue cuma sahabat kalian yang seharusnya dukung kalian."
Deven menghela napas panjang "Gue tau."
"Lupain gue, Dev," kata Marcha pelan. "Cinta kita gak punya masa depan."
Deven menggeleng "Gue gak akan bisa lupain lo, Cha. Bahkan kalau gue mau. Terlalu banyak rasa bahagia... mana mungkin gue hapus semua itu?"
"Dev..."
"Gue janji gak ngedeketin lo," katanya lirih. "Tapi hati gue... selalu ada di dekat lo. Suka atau enggak, lo harus nerima itu."
Deven tahu ia bersalah pada Shanna tapi untuk pertama kalinya, ia sadar—ada hal yang tidak bisa diatur oleh logika, janji, atau niat baik, termasuk hati.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang