Marcha dan Dylan memang sudah saling kenal sejak lama. papa Dylan adalah sahabat baik papi Marcha, kedekatan mereka bukan hanya karena kesamaan minat di dunia bisnis, tapi juga karena masa lalu yang sama—mereka pernah kuliah di Paris, belajar bertahan hidup di kota asing, dan pulang dengan mimpi masing-masing. Hari itu, Dylan sebenarnya hanya ingin menjenguk papinya dan lapar membuat mereka singgah di restoran dekat rumah sakit.
Marcha sama sekali tidak berharap bertemu Deven apalagi Shanna.
Namun hidup memang suka mempertemukan orang di waktu yang paling tidak siap dari balik meja, Marcha melirik ke arah Deven dan Shanna. Ia bukan tidak sadar—tatapan Deven beberapa kali tertuju padanya, meski Shanna jelas sedang mengajak bicara. Marcha melihatnya. Merasakannya dan tetap saja... sakit.
Kalau saja kesalahpahaman itu tidak pernah terjadi, kalau saja komunikasi mereka tidak terputus, maka yang duduk berhadapan dengan Deven hari ini seharusnya adalah dirinya bukan Shanna.
"Cha."
Marcha menoleh. Dylan sedang menatapnya, ekspresinya serius tapi hati-hati.
"Lo... sama Deven deket ya?" tanyanya pelan.
"Dulu," jawab Marcha sambil tersenyum tipis. "Agak aneh sih... tapi gue mantan pacarnya."
"Oh..." Dylan mengangguk pelan "Pantes. That's why he keeps looking at you." Ia tersenyum miring. "Je pense qu'il est jaloux."
"Ngaco," Marcha tertawa kecil—getir "Deven sama Shanna."
"Tapi matanya selalu ke lo," kata Dylan "Lo nggak ngerasa?"
"Percuma juga cemburu," jawab Marcha pelan "Punyaku aja dia bukan."
Dylan terdiam sejenak, lalu berkata hati-hati "Gue denger rumor... Shanna mau nikah sama Deven."
Kata-kata itu jatuh seperti bara.
"Oh..."
Marcha merasa dadanya panas, seolah ada api kecil yang membakar dari dalam. Deven tidak pernah bilang apa-apa tapi memang—Deven tidak punya kewajiban menjelaskan hidupnya pada Marcha apalagi tentang betapa seriusnya hubungannya dengan Shanna. Marcha menunduk, menahan getar di dadanya, begini rasanya mendengar cinta pertama—orang yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati dan ketulusan—akan menikah dengan perempuan lain. Perempuan yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Sakitnya bukan di kepala tapi di ulu hati. Mereka terdiam beberapa saat, sampai Dylan memecah keheningan.
"Kita udah selesai makan. Lo mau lanjut di sini atau pergi?"
"Gue sih udah," jawab Marcha pelan. "Lo?"
"Udah juga." Dylan tersenyum "Oh ya... soal obrolan kita tadi, tentang universitas yang lo bangun—gue tertarik. Gue ikut nanam modal."
Marcha menatapnya, lalu tersenyum tulus "Thanks, Dy. You always help me."
"C'est à ça que servent les amis," jawab Dylan sambil mengedipkan mata.
Marcha tertawa kecil "Ayo. Gue harus gantiin adik gue jaga bokap."
Mereka bangkit dan berpamitan dengan Deven dan Shanna. Marcha sempat bingung ketika Deven memastikan,
"Nanti kita ketemu lagi di rumah sakit."
Ya... itu sudah pasti. Untungnya, percakapan tidak berlanjut, begitu keluar dari restoran, Dylan menoleh ke Marcha.
"Lo mau tahu Deven masih cemburu atau nggak?"
Marcha menatapnya bingung. Dylan tersenyum, lalu meletakkan tangan di pundak Marcha—sekilas, ringan. Matanya melirik ke arah meja Deven dan Shanna.
"Yes," katanya pelan "He's still jealous."
Marcha membalas dengan senyum kecil. Siapa yang tidak tahu? Marcha sudah mendengar sendiri dari Deven—bahwa Deven masih mencintainya bahkan lebih dari pacarnya sendiri tapi... apa gunanya kata-kata?
Jawabannya sederhana: tidak.
Cinta yang hanya diucapkan tanpa keberanian untuk membuktikan,pada akhirnya hanya menjadi gema dan Marcha tidak pernah berharap Deven putus dengan Shanna. Ia hanya belajar satu hal pahit: cinta yang tak dipilih, seberapa dalam pun rasanya, tetap bukan milik kita.
Marcha tiba di rumah sakit saat malam mulai turun.
Ia menggantikan Ingvar menjaga papinya yang terlelap, sementara lampu kamar berpendar redup. Di kursi kecil dekat ranjang, Marcha membuka tablet dan mencoba kembali bekerja—menggambar beberapa desain baju yang tadi sempat ia tinggalkan.
Tangannya bergerak tapi pikirannya tidak. Kabar tentang Deven yang akan menikah dengan Shanna terus berputar di kepalanya, seperti jarum jam yang tak mau berhenti.
Marcha sempat yakin ia sudah menerima kenyataan itu. Ia pikir hatinya cukup kuat. Nyatanya, tidak. Ia menekan dahinya, menatap sketsa di layar. Garis-garisnya terasa asing. Kain apa yang cocok? Tekstur apa yang ia bayangkan kemarin? Semua ide yang semalam terasa begitu hidup... hilang. Menguap, entah ke mana.
Ponselnya bergetar.
Deca.
Marcha mengangkatnya "Halo."
Ternyata ada masalah dengan pekerjaannya di Paris. Ia seharusnya segera kembali, tapi keadaan papinya membuat hal itu mustahil. Marcha tak punya pilihan selain menjadwalkan rapat daring dengan manajemen. Ia berbicara serius, fokus—atau setidaknya berusaha. Saat itu pintu kamar terbuka. Marcha mengira Ingvar sudah kembali ternyata Deven.
"Kita perlu ngomong," kata Deven.
Marcha mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Deven diam. Ia mempercepat pembicaraannya dengan Deca, menutup rapat itu secepat mungkin.
Setelah panggilan berakhir, Marcha menatap Deven "Ada apa?"
"Mana Dylan?" tanya Deven langsung.
"Dylan udah pulang."
"Lo pacaran sama dia?"
"Kita temenan."
"Temenan pegang pundak segala?" nada Deven meninggi.
"Itu bukan urusan lo, Dev."
"Itu urusan gue!"
"Gue nggak mau bahas Dylan sama lo," kata Marcha tegas.
"Kalau lo ke sini cuma mau ngomongin dia, gue harus pergi. Gue masih ada rapat penting."
"Lo ngehindarin gue, kan?" Deven mendekat "Lo nggak mau jawab soal Dylan!"
Marcha menatap Deven, matanya mulai panas "Kalau Dylan pacar gue, kenapa? Kalau dia temen gue, kenapa? Lo nggak berhak marah sama gue. Status kita cuma temen, Dev!" Suaranya bergetar. "Lagian... lo mau nikah sama Shanna, kan?"
"Nikah sama Shanna?" Deven terkejut "Siapa yang bilang?"
"Dylan. Dia denger dari temennya Shanna," jawab Marcha pahit.
"Lo ngapain marah sama gue kalau gue deket sama cowok lain, sementara lo sendiri udah punya komitmen? Jangan jadi buaya tanpa gigi, Dev. Lo nggak bisa gigit siapa-siapa kalau lo nggak berani."
"Gue nggak ada rencana nikah sama Shanna," kata Deven pelan.
"Tapi lo jalan ke sana, kan?" potong Marcha "Kalau nggak, mana mungkin Shanna ngomong kayak gitu?"
"Gue—"
"Hubungan lo sama Shanna pasti ujungnya nikah," suara Marcha meninggi "Jadi lo ngapain marah sama gue?"
Deven menghela napas panjang, lalu memegang kedua lengan Marcha.
"Cha..." Ia berusaha menatap mata Marcha. "Gue—"
Marcha menatap balik dan hatinya runtuh.
"Udah, Dev," ia menggeleng "Gue nggak bisa ngomong sama lo sekarang. Gue harus pergi. Gue nggak sanggup ngadepin lo."
Deven memeluknya tiba-tiba "Gue takut kehilangan lo," katanya lirih "Gue takut."
Marcha memejamkan mata.Ini salah, Semua ini salah. Ia melepaskan diri.
"Lo nggak bisa ngkhianatin Shanna," kata Marcha gemetar "dan gue nggak bisa nusuk dia dari belakang. Ini salah, Dev, Cinta ini... salah."
Marcha berlari keluar dari kamar. Ia tak bisa satu ruangan lagi dengan Deven—kalau tidak, mereka akan semakin jauh terseret ke arah yang tak seharusnya. Deven mengejarnya, menarik lengan Marcha.
"Jadi lo mau gue nikah sama Shanna?"
"Lepasin, Dev!"
"Gue lepasin kalau lo jawab," Deven menahan.
"Bilang kalau lo nggak cinta sama gue."
"Dev, sakit!"
"Jawab gue, Cha!"
"Ya!" Marcha akhirnya berteriak "Lo harus nikah sama Shanna, dan cinta kita selesai! Lepasin!"
Deven menatapnya, memastikan "Jadi lo berharap gue nikah sama Shanna?"
"Iya!" Marcha menangis "Dia pacar lo!"
"Lo nggak cinta gue?" suara Deven pecah.
"Lo punya Shanna," jawab Marcha lirih tapi tegas "Lo nggak bisa bilang cinta ke gue sambil jalan sama cewek lain."
Sekali lagi Deven bertanya, hampir memohon "Lo mau gue nikah sama Shanna?"
"Iya," kata Marcha keras "Kasih dia komitmen. Dan berhenti kasih harapan palsu ke gue."
Cengkeraman Deven melemah. Marcha melihat kekecewaan di mata Deven—dalam, hancur dan tak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk memperbaikinya.
"Gue harus pergi," katanya pelan.
Deven melepaskan tangannya.
"Go," ucapnya lirih "Kita selesai di sini."
Ia memalingkan wajah, lalu membalikkan tubuh. Marcha ingin mengatakan sesuatu—apa saja tapi ia tak punya keberanian untuk jujur pada perasaannya sendiri.
Mungkin... ini yang terbaik. Ia menatap punggung Deven yang menjauh, memejamkan mata, lalu pergi menuju kantornya untuk rapat yang menunggunya. Malamnya, Marcha pulang ke rumah. Ia menatap jam tangannya. entah kenapa, sebagian hatinya masih berharap tapi Deven tidak datang, hujan turun deras malam itu—dan air mata Marcha jatuh tanpa suara,sama derasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
