Pergi tuk kembali (Marcha)

69 4 0
                                        

Kepala Marcha terasa berdenyut hebat. Ia memegangi sisi kanan kepalanya sambil terbatuk pelan. Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya masih buram, tapi sosok yang duduk di samping ranjang itu perlahan menjadi jelas.
"Deven..." panggilnya lirih.
Deven menghela napas. Ia mengambil segelas air dan sebutir obat, lalu menyerahkannya kepada Marcha "Obat sakit kepala. Kebanyakan minum," katanya datar. "Minum."
Marcha menatap obat itu beberapa detik sebelum menerimanya. Ia menegakkan tubuh, bersandar pada kepala ranjang, lalu menelan obat tersebut.
Setelah meletakkan gelas di meja samping ranjang, tatapannya berubah tajam "Lo ngapain di sini?"
"Shannon sama Kevin minta gue nemenin lo." Deven tetap tenang. "Shannon besok kerja, jadi gue yang jagain lo."
"Gue gak perlu dijagain."
"Mungkin lo gak merasa perlu." Deven menatapnya. "Tapi gue gak mungkin ninggalin lo sendirian di hotel dalam keadaan begini."
"Lo bukan cowok gue lagi, Dev."
Tatapan Deven turun ke tangan Marcha ke cincin pertunangan yang masih melingkar di jari manisnya. Marcha menyadarinya. Seketika ia menutup cincin itu dengan tangan satunya.
"Kita teman, kan?" tanya Deven pelan. "Lo masih mau temenan sama gue, Cha?"
"Teman?" Marcha mendengus "Waktu kemarin lo gak nganggep gue. Lo dingin banget."
"Lo waktu itu keluarga pasien gue." Deven menarik napas. "Gue merasa gak etis kalau terlalu banyak ngobrol sama lo."
"Waktu kita pacaran dulu gak ada masalah etis-etisan."
"Dulu kita pacaran." Suara Deven tetap tenang "Sekarang kita cuma teman jadi menurut gue, sikap gue masih wajar."
"Lo bahkan gak mau lihat muka gue."
Deven terdiam, untuk pertama kalinya, Marcha benar-benar melihat kelelahan di wajahnya, ia tahu Deven juga hampir tidak pernah berhenti bekerja sejak mereka putus sama seperti dirinya. Mereka berdua sama-sama sibuk berlari, mungkin hanya supaya tidak sempat berhenti dan mengingat bahwa orang yang selama ini mereka cintai sudah tidak berada di samping mereka.
"Cha..." Deven menghela napas. "Kita udah putus. Lo gak mungkin berharap gue memperlakukan lo seperti waktu kita pacaran."
"Gue gak berharap begitu." Marcha menahan air matanya "Tapi sebagai teman pun... lo gak harus memperlakukan gue seperti orang asing."
Deven menunduk sebentar "Kalau menurut lo gue kasar, gue minta maaf."
Marcha mengalihkan wajah "Sebaiknya lo pergi."
Deven menatapnya.
"Kalau kita teman, seharusnya kita gak perlu berada di kamar hotel yang sama seperti ini. Gue gak mau orang lain berpikir kita masih bersama."
"Gue cuma peduli sama lo sebagai teman."
"Banyak cara buat peduli sama teman." Marcha menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca "Dan menurut gue, cara ini bukan salah satunya."
Deven perlahan berdiri "Lo yakin udah gak apa-apa?"
"Pergi, Dev." Jawaban itu terdengar dingin.
Tapi Deven tahu, jawaba sebenarnya adalah: tidak, Ia menghela napas panjang.
"Ya udah." Deven berbalik, langkahnya baru dua kali ketika suara Marcha menghentikannya.
"Setelah papi gue operasi..." Deven berhenti, Marcha menatap punggungnya dengan mata penuh luka "Gue harap kita gak ketemu lagi."
Beberapa detik berlalu.
Deven tidak langsung menjawab "Ya." Suaranya terdengar sangat pelan "Gue ngerti." Ia tetap membelakanginya "Gue akan menghilang dari hidup lo, Cha."
Lalu pintu kamar tertutup dan untuk beberapa saat, Marcha hanya menatap pintu itu. Seolah berharap Deven akan kembali membukanya tapi tidak.
Itulah kali terakhir Marcha melihat Deven secara langsung.
Dua bulan berlalu sejak operasi papi Marcha, Operasinya berjalan lancar dan pada suatu hari, Marcha kembali melihat Deven, tentu saja sebagai bagian dari tim dokter. Mereka hanya saling menyapa sewajarnya, tidak lebih namun kali ini Deven menatapnya...Lama, terlalu lama untuk sekadar tatapan seorang teman, untuk sesaat, jantung Marcha kembali berdebar. Ia sempat berpikir...Mungkin dia berubah pikiran, mungkin dia mau kembali tapi Deven akhirnya mengalihkan pandangan dan Marcha tahu, tidak ada yang berubah. Deven masih memegang prinsipnya.
Sekali lagi, Marcha merasa ditinggalkan tapi kali ini ia tidak mengejarnya, harga dirinya tidak mengizinkan meskipun hatinya berteriak sebaliknya. Dua bulan tanpa Deven terasa jauh lebih menyakitkan daripada masa-masa LDR mereka dulu. Dulu, setidaknya mereka masih punya harapan. Sekarang? Tidak ada. Marcha tetap bekerja, tetap menghadiri rapat, tetap tertawa di depan keluarga dan teman-temannya, tetap terlihat seperti Marcha yang semua orang kenal tapi semuanya terasa setengah. Shanna adalah satu-satunya orang yang benar-benar tahu, ia bahkan sesekali memberi kabar tentang Deven, tentu saja hanya informasi yang ia dengar dari Kevin karena Deven sendiri sudah jarang berkumpul dengan Kevin, Friden, ataupun Gogo seperti dulu.
Katanya sibuk.
Marcha tahu itu hanya alasan. Deven memang sibuk tapi dulu, sesibuk apa pun, selalu ada waktu untuk mengajaknya makan malam, selalu ada waktu untuk sekadar menelepon, selalu ada waktu untuk mencintainya, mungkin sekarang Deven tahu... Selama informasi itu masih datang dari Kevin, Marcha masih bisa mengetahui bagaimana keadaannya dan mungkin... itulah satu-satunya alasan Deven masih membiarkan orang lain bercerita tentang dirinya tapi pada akhirnya, mereka tetap akan bertemu.
Pesta pernikahan Kevin dan Shanna sudah semakin dekat.
Pesta pertunangan mereka berlangsung secara privat. Beberapa hari setelahnya, Shanna sempat bercerita kepada Marcha bahwa ia terpaksa mengundang Mami Anneth.
"Gue undang sebagai keluarga," kata Shanna. "Tapi dia gak datang."
Marcha menatapnya "Lo sedih?"
"Enggak." Shanna mengangkat bahu. "Yang sedih malah mama gue tapi setidaknya sekarang mama gue mulai ngerti orang seperti apa dia" Shanna menghela napas "Munafik. Dengki dan entah kenapa selalu punya masalah sama cowok yang gue pilih."
"Husshh..." Marcha menegur pelan. "Gitu-gitu dia tetap tante lo, Shan."
"Ya, tapi dia gak pernah ngasih restu sama cowok yang gue pilih. Dulu Deven, sekarang Kevin." Shanna mendengus. "Kayaknya semua cowok yang gue pilih selalu salah di mata dia. Orang kayak gitu masih bisa gue anggap tante?"
Marcha terdiam. Nama Deven. Sesederhana itu disebutkan, tapi tetap saja dadanya terasa sesak, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Besok gladi bersih jam berapa?"
"Jam sembilan pagi. Gue sama Kevin cuma bisa besok. Besok lusa udah mulai sibuk." Shanna tiba-tiba menatap Marcha ragu "Tapi... lo beneran gak apa-apa kalau Deven jadi groomsman dan nanti gandengan sama lo?"
Marcha memutar bola matanya "Lo udah nanya ini seratus kali, Shan."
"Gue cuma memastikan."
"Gak apa-apa."
"Serius?"
"Serius." Marcha tersenyum tipis. "Gue dulu emosi waktu bilang gak mau ketemu dia lagi. Lagian ini pernikahan lo. Masa gue gak datang cuma karena ada Deven?"
Shanna mengangguk pelan "Gue juga udah bilang begitu ke Kevin tapi dia tetap khawatir."
"Bilang sama Kevin, gue gak keberatan."
"Okay."
Marcha tersenyum "Sekarang berhenti khawatir. Itu pernikahan lo, bukan pemakaman hubungan gue."
Shanna terdiam sebentar lalu terkekeh "Gue gak tahu harus ketawa atau prihatin."
"Ketawa aja."

Esok harinya... Untuk pertama kalinya setelah enam bulan, Marcha akan bertemu Deven. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, gaun yang dikenakannya sederhana, tapi tetap elegan. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya terlihat tenang setidaknya dari luar.
Marcha memejamkan mata, gue bisa.
Ia menarik napas dalam-dalam. Ini cuma Deven tapi hatinya langsung membantah, bukan... buat Marcha, Deven tidak pernah hanya "Deven". Ia adalah cinta pertamanya. Laki-laki yang tumbuh bersamanya sejak SMA. Laki-laki yang pernah ia bayangkan akan berdiri di sampingnya di altar dan sekarang... Ia hanya akan berdiri sebagai tamu di pernikahan orang lain.
Marcha membuka mata "Udah," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan lebay."
Ia mengambil tas lalu berangkat menuju hotel tempat gladi bersih pernikahan Kevin dan Shanna akan dilaksanakan. Begitu tiba, Kevin dan Shanna sudah terlihat sedang berbicara dengan beberapa anggota EO.
"Hey..." Kevin langsung menoleh "Eh, Cha! Lo udah datang."
"Selalu Miss On Time," goda Shanna.
Marcha baru saja tersenyum ketika pandangan Shanna tiba-tiba bergeser ke belakangnya.
"Eh... halo, Dev."
Jantung Marcha seolah berhenti, Ia perlahan menoleh. Deven berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Hey, Vin. Shan." Suara itu. Suara yang selama enam bulan terakhir hanya bisa Marcha dengar dalam ingatannya.
Kevin menghampirinya.
"Thanks udah datang, bro."
"Yang lain mana?" tanya Deven.
"Baru lo sama Marcha."
Deven kemudian menoleh, mata mereka bertemu, hanya beberapa detik tapi bagi Marcha, rasanya seperti enam bulan yang tiba-tiba runtuh sekaligus.
Deven terlihat berbeda. Ia mengenakan kemeja putih dengan jas hitam tanpa dasi, rapi , sederhana tapi sangat tampan, terlalu tampan dan Marcha membenci kenyataan bahwa setelah enam bulan, jantungnya masih bereaksi sama seperti dulu.
Deven tersenyum kecil "Hallo."
Marcha membalas dengan senyum tipis "Hai."
Shanna memperhatikan mereka berdua, lalu tiba-tiba menyeringai "Wah... kalian kembaran."
Marcha baru sadar pakaian mereka memiliki warna yang hampir sama.
Deven tertawa kecil "Kebetulan."
Kevin memperhatikan Deven dari atas sampai bawah "Lo rapi banget. Habis dari mana? Jangan bilang gladi bersih jadi groomsman doang sampai pakai begini."
Deven terkekeh "Tau aja lo."
"Serius, dari mana?"
Deven melihat jam tangannya sekilas "Gue tadi dari Kedutaan Pakistan."
Kevin langsung mengernyit "Heh?"
Shanna ikut menoleh "Ngapain lo ke sana?"
Kevin menunjuk Deven "Jangan bilang lo—"
"Pak Kevin, permisi sebentar." Salah satu anggota EO tiba-tiba datang dan menyela "Maaf mengganggu, tapi ini sepertinya perlu dibicarakan sekarang."
Kevin terpaksa mengikuti orang tersebut menjauh.
Shanna menghela napas. "Gue sumpah, ngurus pernikahan sendiri lebih bikin stres daripada kerja."
Deven tersenyum kecil "Kelihatan."
"Udah, kalian istirahat dulu. Ruang tunggunya di sana. Ada makanan juga." Shanna menunjuk salah satu ruangan. "Nanti kalau yang lain datang gue panggil."
Seorang anggota EO kemudian mengantar Marcha dan Deven ke ruangan tersebut, begitu pintu tertutup, suasana mendadak jauh lebih sunyi.
Marcha duduk. Deven mengambil tempat di seberangnya. Beberapa detik mereka hanya diam sampai akhirnya rasa penasaran Marcha mengalahkan kegugupannya.
"Dev..."
"Hm?" alis Deven terangkat sebelah
"Lo tadi ke Kedutaan Pakistan buat apa?"
Deven menatapnya.
Marcha menelan ludah "Jangan bilang..." Ia berhenti sebentar "Lo mau ke sana?"

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang