Shanna menatap layar ponselnya terlalu lama, di layar itu, unggahan terbaru Marcha terpampang jelas—sebuah boneka Doraemon, itu boneka lama, boneka yang begitu ia kenal, sebuah tangan memeluk boneka itu erat, wajah sengaja tak diperlihatkan.
Caption singkatnya berbunyi: my simple happiness 😘
Shanna menelan ludah. Ia tahu boneka itu. Doraemon pemberian Deven, bertahun-tahun lalu, untuk Marcha dan tangan itu—ia bahkan tak perlu menebak—itu tangan Deven.
Berarti Deven sudah sampai di Paris, berarti mereka sudah bersama lagi.
Dua bulan.
Selama dua bulan ini, Shanna masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Deven tak jadi ke Paris. Ia lupa—atau mungkin pura-pura lupa—bahwa mengurus visa memang butuh waktu dan waktu, rupanya, berpihak pada mereka bukan pada dirinya.
Selama dua bulan itu pula, Shanna mencoba menghubungi Deven. Telepon. Pesan. Email. Hasilnya selalu sama. Nol besar dan ia baru benar-benar sadar—saat Deven pergi, bukan hanya Deven yang hilang, teman-temannya ikut lenyap. Clarice dan Anastasia, yang tahu persis cerita hari pertunangan itu, memutuskan berdiri di pihak Marcha, bagi mereka, Shanna bukan korban—Shanna penjahat. Perempuan yang memfitnah, yang memelintir cerita.
Bukan hanya mereka. Kevin. Gogo. Friden, semua orang yang dulu bisa menjadi jembatan antara Shanna dan Deven, semuanya memilih Marcha kecuali nitijen di media sosial, tentu saja, mereka yang tak tahu apa-apa, yang hanya mendengar satu versi cerita—versi Shanna. Ia tak kehilangan penggemarnya tapi... apakah tepuk tangan virtual cukup untuk mengisi lubang di dadanya?
Terlebih setelah melihat unggahan itu, mungkin sudah waktunya Shanna mengakui satu hal yang selama ini ia hindari: Hubungannya dengan Deven sudah tidak punya masa depan dan Deven—bersama Marcha—pasti jauh lebih bahagia sekarang.
"Kalau dia bahagia... kenapa aku harus sedih?" Pertanyaan itu selalu berputar di kepalanya. Setiap malam. Tanpa jawaban.
Shanna berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri—mata yang lelah, senyum yang dipaksakan, dan nama besar yang terasa asing.
Shanna Shannon Siswanto...
Siapa sebenarnya dia sekarang?, kenapa semua orang begitu mudah membencinya?, apakah mencintai seseorang memang sebuah kesalahan?
Dulu, ia punya banyak teman, satu telepon—mereka datang. Sekarang? Yang tersisa hanya keluarga... dan manajernya, baru sekarang Shanna benar-benar memahami kata-kata Deven dulu bahwa di dunia ini, tak ada yang lebih penting dari keluarga karena di saat seperti ini—
Saat ia terpuruk oleh kesalahannya sendiri—Keluarga adalah satu-satunya tempat di mana ia masih bisa dimaafkan. Diterima. Meski ia telah melukai Deven dan Marcha.
Namun Shanna mengangkat dagunya perlahan. Ia belum bisa menyerah. Deven dan Marcha belum menikah.
"Shan, ayo. Waktunya tampil." Suara Dicky, manajernya, memecah lamunannya.
"Iya, Kak." Shanna mengangguk, lalu berdiri.
Langkahnya pelan menuju panggung. Lampu sorot menyilaukan mata, musik mulai mengalun.
Ia bernyanyi. Entah di acara apa. Entah untuk siapa. Kariernya tak lagi terasa penting. Ia menerima semua pekerjaan yang datang, menyanyi sebaik yang ia bisa—bukan karena ambisi, tapi karena itulah satu-satunya cara untuk bertahan.
Suara Shanna memenuhi ruangan tapi di dalam hatinya...ia bahkan tak tahu lagi, untuk siapa lagu itu dinyanyikan
Sesampainya di panggung, Shanna bernyanyi seperti biasanya. Profesional. Rapi. Tanpa cela namun di tengah lagu, matanya menangkap satu tatapan yang membuat napasnya tercekat.
Mata tajam itu.
Kevin Kahuni.
Kevin berdiri di antara para tamu. Tatapannya terkunci pada Shanna selama beberapa detik—dingin, penuh penilaian—lalu perlahan ia memalingkan wajahnya, seolah Shanna tak pernah ada. Shanna memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam. Ia memaksa dirinya tetap fokus bernyanyi, menelan rasa sesak yang mendadak naik ke dada.
Lagu itu akhirnya selesai. Tepuk tangan terdengar. Pekerjaannya tuntas. Setidaknya di atas panggung, ia masih bisa berpura-pura utuh. Selesai bernyanyi, Shanna sebenarnya ingin menemui Kevin. Bicara. Bertanya. Menyelesaikan sesuatu namun lelaki itu tampak sibuk—dikelilingi orang-orang, tertawa, berbincang, seolah dunia Shanna bukan urusannya lagi.
"Shan, nanti jangan pulang dulu ya," kata Dicky. "Yang punya acara mau ajak kamu makan."
Shanna yang sejak tadi melamun tersentak "Makan, Kak?" tanyanya bingung.
"Iya. Cepat ganti baju," jawab Dicky sambil nyengir.
"Jadi nggak makan kotak-an nih?" gumam Shanna.
Dicky terkekeh sambil menggeleng. "Ayooo, cepat."
Shanna mengangguk patuh. Ia berganti baju secepat mungkin tak lama kemudian, mereka tiba di salah satu restoran favoritnya dan di sanalah kejutan itu menunggunya.
Kevin.
"Lo kok di sini?" tanya Shanna refleks.
Kevin mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Dicky."Bro... jangan bilang lo belum tahu?"
"Hei," Dicky buru-buru menyela, "acara hari ini kan acara pembukaan firma hukum bapak Kevin. Dia yang punya."
Shanna terpaku. "Sebentar... jadi tadi gue nyanyi di acara pembukaan firma hukum... punya Kevin?"
Wajah Dicky memerah. Ia menoleh kikuk ke Kevin "Maaf ya, Pak—eh, Kevin—saya tadi udah jelasin ke Shanna tapi—"
Kevin menepuk pundak Dicky santai. "Panggil Kevin aja. Nggak usah formal. Gue juga kenal sama talent lo." lalu ia menatap Shanna, senyumnya tipis. "So... apa kabar, Shan? Sering linglung sekarang?"
"Kenapa lo ngundang gue?" potong Shanna. "Banyak artis lain di luar sana yang nggak kalah bagus. Kenapa gue?"
"Bukan gue," jawab Kevin tenang. "Marcha."
Jantung Shanna berdegup lebih keras. "Apaan maksudnya?" Shanna tertawa pendek, hambar. "Mau nyukurin gue?"
"Enggak." nada Kevin datar. "Dia khawatir sama lo dan gue nggak nyangka pikiran lo ke dia masih se-negatif itu."
"Deven udah sama Marcha," kata Shanna dingin.
"Iya. Tapi lo perlu tahu—Marcha sempat ragu buat balikan." Kevin menatapnya lurus. "Gue yang bilang ke dia kalau lo baik-baik aja, dia cuma mau tahu kabar lo. Makanya dia minta gue undang lo." Kevin menghela napas "Padahal gue sempat kepikiran ngundang sepupu lo. Pikirannya lebih waras daripada elo."
"Jangan pernah bilang Anneth itu sepupu gue," sentak Shanna. "Kalau sampai media tahu—"
"Karier lo habis. I know," sambung Kevin sambil terkekeh.
"Lo udah lihat sendiri," kata Shanna menahan emosi. "Gue baik-baik aja."
"Iya," Kevin mengangguk pelan. "Gue lihat dan gue bisa bilang ke Marcha supaya dia nggak perlu khawatir lagi."
Shanna mendengus kesal. "Segitunya ya dia? Jalan aja sama Deven, ngapain sok perhatian sama hidup gue?, Hidup gue nggak berakhir cuma karena mereka balikan, gue bahkan bisa ngerebut Deven balik kalau gue mau."
Kevin menarik napas panjang. "Marcha itu naif. Dia dan Deven masih memandang lo terlalu tinggi, mereka masih berharap lo adalah Shanna yang mereka kenal waktu SMA—teman. Kevin menatapnya tajam "tapi lihat diri lo sekarang. Shanna Shannon Siswanto... dengan ego dan gengsi setinggi langit."
"Gue nggak gitu," suara Shanna melemah. "Kalian yang bikin gue jadi kayak gini."
"Enggak ada yang maksa lo," jawab Kevin tegas.
Shanna menoleh ke Dicky. "Kak, aku boleh pergi kan? Aku nggak mau makan sama Kevin."
"Lo yakin?" Kevin menyela. "Lo udah tahu rasanya nggak punya teman. Lo mau ngerasain itu berbulan-bulan lagi?"
"Shan..." Dicky menahan tangannya.
"Gue nggak punya waktu," kata Shanna getir. "Kalau tujuan lo cuma pamer kebahagiaan Deven sama Marcha."
Kevin berdiri tepat di hadapannya. "Ngapain gue pamer?, Wake up, Shan. Kalau lo terus kayak gini, lo bakal jatuh sendirian." nada suaranya melunak. "dan gue nggak mau lihat lo jatuh, bahkan Deven pun nggak mau ini terjadi."
"Kalau Deven nggak mau," suara Shanna bergetar, "kenapa dia balikan sama Marcha? Dia tahu gue cinta sama dia. Dia tahu gue—"
"Shan." Kevin memotong pelan tapi tajam. "Itu ego. Bukan cinta."
Shanna terdiam.
"Kalau lo bener-bener cinta," lanjut Kevin, "lo bakal bahagia lihat dia bahagia. Kayak Marcha dulu—yang ikhlas lihat lo sama Deven."
"Terus sekarang dia sama Deven," Shanna tertawa pahit. "Itu bukan munafik?"
"Lo berani bilang Marcha munafik?" Kevin menahan emosinya. "Lo kenal dia lebih lama dari gue, dia sahabat lo dan sekarang lo bilang dia munafik cuma karena satu Deven?"
"Gue—"
Kata-kata itu menggantung, di lubuk hatinya, Shanna tahu. Marcha memang peduli. Selalu dan apa yang ia punya dengan Deven... tak pernah seberharga persahabatannya dengan Marcha. Deven tidak mencintainya, ia hanya merasa kasihan tapi Marcha—dia menyayanginya. dulu, sekarang dan mungkin selalu.
Cinta atau sahabat? Shanna tahu jawabannya.
"Udah waktunya lo nyerahin ego dan gengsi," kata Kevin lembut. "Lo butuh keluarga tapi lo juga butuh teman, jangan sampai lo cuma jadi penyanyi linglung." Ia tersenyum tipis. "Yuk... jadi Shanna Shannon Siswanto yang hatinya kayak malaikat lagi."
"Mereka nggak akan maafin gue," bisik Shanna.
"Kalau gue aja bisa," jawab Kevin, "kenapa yang lain nggak?, Minta maaf itu bukan cuma kata-kata tapi tindakan."
Shanna menatap Kevin lama.
"You'll help me?" tanyanya lirih.
Kevin tertawa kecil "Masih perlu ditanyain?,gue ngundang lo ke sini buat apa, Shan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
