End This (Marcha)

62 5 3
                                        

Marcha mengembuskan napas panjang sambil menatap cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya, cincin yang dulu dipakaikan Deven dengan senyum lebar dan mata berbinar "Jangan dilepas lagi. Aku nggak terima retur-an." Saat itu Marcha hanya tertawa tapi sekarang... Tatapannya tidak lepas dari cincin itu. Apa yang harus ia lakukan? Marcha tahu selama ini papi tidak pernah benar-benar mendukung hubungannya dengan Deven dan Marcha juga bukan orang bodoh, ia tahu banyak masalah yang muncul dalam hubungan mereka selama bertahun-tahun selalu berhubungan dengan papinya, dari masa SMA, saat ia dan Deven menjalani hubungan jarak jauh ketika kuliah sampai sekarang, ketika mereka sudah bertunangan dan sedang mempersiapkan pernikahan.
Namun keadaan sekarang berbeda, papinya sakit, sangat sakit dan untuk pertama kalinya, keinginan papinya terdengar begitu sederhana, hanya ingin lebih banyak waktu bersama putrinya, hanya ingin Marcha menunda pernikahannya dengan Deven.
Marcha tidak tahu sampai kapan. Sebulan? Setahun? Atau lebih lama? Ia tidak tahu, yang lebih membuatnya takut adalah pertanyaan lain yang terus muncul di kepalanya. Apakah ia benar-benar siap menikah? Ia mencintai Deven, sangat mencintainya, tidak pernah ada keraguan soal itu tapi menikah dalam keadaan seperti sekarang... Dengan masalah keluarga, dengan kondisi papinya, dengan pertengkaran mereka akhir-akhir ini....Marcha tidak yakin itu keputusan yang tepat.
Ponselnya tiba-tiba berdering, nama Deven muncul di layar....Marcha menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo, Cha," sapa Deven ceria.
Marcha bisa membayangkan senyum laki-laki itu di seberang sana "Halo, Dev."
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor papi."
"Oh." Deven terdengar heran. "Belum pulang?"
"Belum."
"Hmm..." Deven berdeham pelan. "Aku mau ngajak kamu nonton."
Marcha mengangkat alis "Nonton?"
"Iya. Film Marvel yang baru keluar kemarin."
Marcha tersenyum tipis "Kalau film baru pasti jadwal bagusnya malam atau bahkan midnight, Dev."
"Nah, justru itu." Deven terdengar antusias. "Sesekali kita kencan midnight. Seru, kan?"
Marcha menghela napas pelan "Besok pagi aku harus ke rumah sakit."
Deven langsung diam.
"Papi masih dirawat."
"Hmm..."
Hanya satu gumaman pendek tapi Marcha bisa mendengar kekecewaan yang berusaha disembunyikan Deven.
"Kita makan malam aja," kata Marcha akhirnya. "Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Makan malam?"
"Iya."
Deven menghela napas "Oke. Aku selesai shift jam delapan."
"Nggak apa-apa."
"Yakin? Malam banget loh."
"Aku juga masih lembur hari ini."
"Oh..." Nada suara Deven kembali cerah. "Kalau gitu cocok."
Marcha tersenyum kecil "Ya."
"Ya udah, nanti aku jemput."
"Oke."
"Kabari kalau udah selesai kerja."
"Iya."
"Balik kerja dulu ya, sayang."
Ada jeda sesaat sebelum Marcha menjawab "Dadah, Dev."
Telepon pun terputus. Marcha menurunkan ponselnya perlahan lalu kembali menatap jendela besar di ruang kerja papinya padahal semua pekerjaannya sudah selesai sejak satu jam lalu, ia hanya belum siap pulang, belum siap menghadapi percakapan yang harus dilakukan malam ini karena ia tahu, cepat atau lambat, ia harus membicarakan keinginan papinya kepada Deven dan Marcha benar-benar tidak ingin percakapan itu berubah menjadi pertengkaran.
Ia ingin semuanya tenang.
Dewasa.
Baik-baik saja.
Namun, seperti banyak hal lain dalam hidupnya akhir-akhir ini... Apa yang direncanakannya tidak pernah berjalan sesuai harapan dan malam itu, kenyataan yang menunggunya ternyata jauh lebih buruk dari apa pun yang sempat ia bayangkan.
Malam itu.
"Bu Marcha, Pak Deven sudah di sini."
Marcha melirik jam di meja kerjanya, baru pukul tujuh padahal biasanya Deven baru selesai sekitar jam delapan.
"Oh ya? Suruh masuk, Pen."
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian pintu kantor terbuka.
Deven masuk dengan jeans gelap dan kaus hitam polos. Sederhana, tapi tetap berhasil membuat jantung Marcha berdebar seperti biasa dan itu yang menyebalkan karena bahkan di tengah semua kekacauan ini, Marcha masih mencintainya.
"Thanks, Penny," ujar Deven.
"Sama-sama, Pak," balas Penny sambil tersenyum jahil sebelum menutup pintu.
Begitu hanya mereka berdua yang tersisa, Deven langsung menatap Marcha "Belum selesai kerja?"
Marcha memaksakan senyum "Kamu datang lebih cepat."
"Aku selesai lebih awal. Pasienku hari ini baik semua." Deven tersenyum lebar. "Jadi aku kabur buat jemput tunanganku."
Marcha tertawa kecil dan untuk sesaat rasa sesak di dadanya semakin bertambah karena Deven terlihat sangat bahagia sementara ia datang membawa sesuatu yang mungkin akan menghancurkan kebahagiaan itu.
"Kamu nggak keberatan nunggu bentar?"
Deven menggeleng lalu membungkuk dan mengecup pelan pipinya "Aku bisa nunggu kamu seharian kalau perlu."
Marcha langsung memalingkan wajah, bukan karena malu tapi karena dadanya mendadak sakit.
"Sepuluh menit lagi."
"Take your time."
Deven berjalan ke sofa lalu mulai memainkan ponselnya sementara Marcha sama sekali tidak bisa fokus, beberapa kali ia diam-diam melirik ke arah Deven, laki-laki itu terlihat santai.. Sesekali bahkan tersenyum sendiri membaca sesuatu di layar lalu tiba-tiba Deven mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu "Kenapa?"
"Hah?"
"Kamu ngeliatin aku terus dari tadi."
Marcha langsung salah tingkah "Ge-er."
Deven tertawa kecil "Iya deh. Aku ge-er."

Satu jam kemudian mereka sudah duduk di Le Bridge, tempat yang sama, tempat Deven dulu menyatakan perasaannya dan sekarang justru menjadi tempat yang membuat Marcha ingin kabur.
"Kamu kenapa sih?" tanya Deven akhirnya.
Marcha tersadar "Hmm?"
"Dari tadi bengong."
Marcha menghela napas panjang lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Deven langsung duduk lebih tegak "Cha?"
"Aku mau ngomong sesuatu." Nada suara Marcha membuat senyum Deven perlahan menghilang.
"Masalah besar?"
Marcha mengangguk pelan.
"Untuk kita... iya."
Deven terdiam sesaat "Pernikahan?"
Marcha kembali mengangguk "Tapi bukan soal pesta."
Kening Deven berkerut "Lalu?"
Marcha menggenggam kedua tangannya erat "Papi minta aku menunda pernikahan kita."
Sunyi beberapa detik, tidak ada reaksi, tidak ada pertanyaan.
sampai akhirnya Deven bertanya pelan "Sampai kapan?"
Marcha menunduk dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Wajah Deven perlahan berubah "Sampai kapan, Cha?"
"Aku nggak tahu."
Untuk pertama kalinya malam itu, Deven tertawa kecil tapi tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawa itu.
"Aku nggak tahu." Marcha merasakan dadanya semakin sesak "Dev..."
"Jadi kamu setuju?"
"Aku cuma..."
"Kamu setuju?"
Marcha memejamkan mata "Aku merasa bersalah sama papi."
Deven mengangguk pelan seolah sedang berusaha mencerna sesuatu yang sulit diterima "Jadi selama ini aku nunggu."
"Dev..."
"Aku nunggu kamu siap."
Marcha langsung mengangkat kepala "Tapi aku siap."
"Nggak." Suara Deven tetap tenang dan justru karena terlalu tenang, rasanya jauh lebih menyakitkan "Nggak, Cha."
"Aku cinta sama kamu."
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
Deven tersenyum hambar "Karena cinta sama siap menikah itu dua hal berbeda."
Marcha membeku.
Deven menatapnya lurus "Aku pikir setelah semua yang kita lewatin... akhirnya kamu memilih aku."
"Aku memilih kamu."
"Tapi selalu ada syaratnya."
Marcha langsung menggeleng "Itu nggak adil."
"Adil?" Deven tertawa pelan. "Aku nunggu bertahun-tahun."
Marcha diam.
"Waktu LDR, waktu kamu di Paris, waktu kamu balikin cincin itu, waktu kita berkali-kali hampir putus, waktu keluarga kita bikin masalah, aku selalu nunggu." Suara Deven mulai serak "Dan sekarang aku disuruh nunggu lagi."
Marcha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat "Ini soal papi."
"Aku tahu."
"Aku nggak mungkin ninggalin papi sekarang."
"Aku juga nggak pernah minta kamu ninggalin papi."
"Lalu?"
"Lalu aku cuma pengen sekali aja..." suara Deven melemah, "...sekali aja kamu milih kita tanpa ragu."
Marcha merasa matanya mulai panas tapi ia tetap menahannya "Aku nggak pernah nggak milih kamu."
Deven menatapnya lama lalu perlahan menggeleng "Kalau memang begitu..." Ia melirik cincin yang masih melingkar di jari Marcha, cincin yang dulu ia pasangkan dengan begitu bahagia "Kenapa rasanya aku selalu jadi pilihan yang bisa ditunda?"
Marcha langsung kehilangan kata-kata karena untuk pertama kalinya... Ia tidak tahu bagaimana membantahnya.
Deven mengembuskan napas panjang, matanya terlihat lelah....Seolah seluruh perjuangan bertahun-tahun akhirnya mencapai ujung.
"Kalau kamu nggak cinta aku, bilang aja."
"Jangan bilang gitu."
"Kalau kamu nggak siap menikah, bilang aja."
"Aku siap..."
"Nggak, Cha." Suara Deven memotong pelan. "Tolong jangan bohong sama aku."
Marcha menunduk dan itu membuat hati Deven benar-benar hancur karena perempuan yang selalu punya jawaban untuk segala hal...Kini bahkan tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri.
Deven tersenyum tipis "As you wish."
"Dev..."
"Aku capek."
Marcha langsung mengangkat kepala dan untuk pertama kalinya malam itu, matanya melihat luka yang selama ini disimpan Deven, luka yang tidak pernah benar-benar ia tunjukkan.
"Aku capek nunggu." Suara Deven nyaris berbisik "Aku capek berharap."
"Dev, jangan..."
"Aku cinta kamu, Cha." Kalimat itu keluar begitu pelan, begitu tulus dan justru karena itulah terasa menghancurkan "Aku cinta banget sama kamu."
Mata Marcha mulai berkaca-kaca.
"Tapi aku juga manusia." Deven menarik napas panjang lalu menatapnya untuk terakhir kali malam itu "Dan mungkin..." Suaranya pecah hanya sedikit tapi cukup untuk membuat dada Marcha terasa diremas "...lebih baik kita berhenti sampai di sini."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang