"Iya, makasih... sama-sama," ujar Shanna sambil tersenyum lebar, menyalami satu per satu remaja yang menghadiri acara open house universitas. "Kejar mimpi kalian, ya. Jangan setengah-setengah. Semangat semuanya."
Para remaja itu mengangguk antusias sebelum berpencar. Shanna menghela napas pelan—lega, puas, dan bahagia. Senyumnya tak juga pudar sejak pagi.
"Kak Shanna," panggil seorang remaja perempuan, mendekat ragu-ragu. "Dokter Deven mana, ya?"
"Iya, Kak," sahut yang lain, matanya berbinar. "Kak Shanna kan pacarnya dokter tampan itu, ya?"
Shanna terkekeh kecil. Ya, siapa sih yang nggak tahu? Deven terkenal. Shanna juga. Mereka bahkan sering jadi bahan obrolan infotainment—pasangan paling hits, paling serasi. Sama-sama bersuara bagus, sama-sama punya jiwa sosial.
"Deven lagi di rumah sakit," jawab Shanna ramah.
"Nanti Kak Deven jemput, nggak?" tanya remaja lain, tak kalah penasaran.
"Mungkin," kata Shanna sambil tersenyum. "Kalau shift-nya udah selesai."
"Waow..." Salah satu remaja langsung berseru. "Kita tungguin di sini aja, ya. Pengen lihat langsung."
"Kalian nggak pulang?" Shanna mengernyit heran.
"Yang ini sih," kata seorang remaja sambil menunjuk temannya, "Rena. Devenatic dari zaman bahula, Kak. Dia mah rela nungguin daun jatuh sampai kering, asal bisa ketemu pacarnya Kak Shanna."
Shanna tertawa lepas. Belum sempat ia menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara serempak.
"Waaaoowww..."
Shanna refleks menoleh ke belakang dan di sanalah Deven berdiri—tinggi, rapi, dengan senyum hangat khasnya. Di tangannya, sebuket mawar segar.
"Hallo," sapa Deven ramah sambil menyerahkan bunga itu pada Shanna.
"Hei, kamu..." Shanna menyeringai senang. "Datangnya pagi banget?"
"Shift-ku udah selesai," jawab Deven. "Kamu gimana? Udah kelar atau masih ada acara?"
"Udah sih... tapi..." Shanna melirik ke samping.
Seorang remaja perempuan di sebelahnya berdiri kaku, mulutnya terbuka lebar seperti patung yang lupa bernapas.
"Tapi apa?" tanya Deven, alisnya terangkat bingung.
"Mereka mau foto sama kamu," kata Shanna sambil menoleh ke arah para remaja yang kini saling sikut penuh harap.
Deven ikut menoleh, lalu tersenyum ramah. "Boleh, kalau mau foto."
Seketika suasana pecah. Sorakan kecil, tawa, dan ponsel yang terangkat ke udara memenuhi area itu. Foto demi foto diambil—bukan hanya dengan Deven, tapi juga bersama Shanna. Beberapa merekam video. Beberapa hanya tersenyum kaku karena terlalu gugup. Hingga akhirnya, sesi foto dan video dadakan itu pun berakhir, meninggalkan wajah-wajah puas dan kenangan yang akan lama diceritakan ulang.
Shanna menatap Deven sambil tersenyum kecil. Hari itu, entah kenapa, terasa ringan.
Di dalam mobil, Shanna memeluk buket mawar pemberian Deven. Wajahnya cerah, matanya berbinar, meski bibirnya tetap melontarkan protes kecil.
"Kamu ini boros banget, deh," katanya sambil nyengir senang. "Beliin bunga terus."
Deven melirik sekilas. "Emang kamu nggak suka?"
"Bukan nggak suka," Shanna menggeleng. "Tapi boros. Di kamarku udah penuh bunga dari kamu."
"Iya, tapi dulu kamu bilang suka bunga, kan, Shan?" Nada Deven terdengar sedikit bingung.
"Iya, suka. Tapi kan nggak harus setiap kali," jawab Shanna lembut.
Deven terdiam. Tangannya kembali fokus memegang setir, matanya lurus menatap jalan di depan. Shanna meliriknya, lalu cepat-cepat mengganti topik.
"Oh iya... soal tadi sama anak-anak itu," katanya hati-hati. "Foto-foto segala. Kamu nggak marah, kan?"
Deven menoleh sekilas. "Kenapa aku harus marah?"
"Ya... kamu kan trauma sama dunia showbiz, sama shipper dan ekspos media. Kamu juga nggak mau hubungan kita terlalu disorot publik."
"Iya," kata Deven pelan, "tapi tadi itu fans kamu, Shan. Beda sama media." Ia menghela napas kecil. "Kalau media, mereka suka goreng-goreng berita yang nggak bener. Jadi... nggak, aku nggak marah."
Shanna tersenyum lega. Deven memang sebaik itu—bahkan lebih dari semua bayangan Shanna tentang sosok pasangan ideal. Meski Shanna tahu... di hati Deven masih ada Marcha.
Marcha.
Shanna berbohong kalau bilang ia tak tahu kabar sahabatnya itu. Seperti Deven, Shanna juga pernah merasakan Marcha menghilang begitu saja. Chat tak dibalas. Email tak dijawab. Telepon tak pernah diangkat. Seolah lenyap ditelan dunia yang Shanna tahu, Marcha sempat mengikuti Miss Universe mewakili Indonesia. Tak menang, tapi namanya justru melambung. Cantik. Berbakat. Dielu-elukan.
"Oh iya," suara Deven memecah lamunan Shanna. "Tadi aku lihat Marcha di berita TV."
Shanna menoleh cepat. "Oh ya? Berita apa?"
"Dia di Paris," jawab Deven. "Sekarang jadi desainer terkenal." Senyumnya tipis, pahit. "Dia berhasil dapetin semua yang dia mau."
"Bagus, kan?" kata Shanna, berusaha tetap positif.
"Mungkin," Deven mengangguk pelan. "Tapi aku nggak nyangka dia bakal ngilang dan ninggalin kita semua. Seolah kita ini... penghalang mimpinya."
"Dev," kata Shanna lembut, "kamu sendiri yang dulu nyuruh dia ke Paris. Ngejar mimpinya. Harusnya kamu senang dengan pencapaian dia sekarang."
"Aku senang," jawab Deven jujur. "Tapi mengabaikan semua orang... itu bukan Marcha yang aku kenal."
Shanna diam.
Kabar Marcha di Paris bukan hal baru baginya. Clarice dan Anastasia sudah lebih dulu bercerita—tentang kesuksesan Marcha yang luar biasa. Brand M.S.R yang tokonya tersebar di berbagai negara. Pendapatannya bahkan melampaui penghasilan ayahnya semasa di Indonesia. Belum lagi bisnis kulinernya—La March—restoran Indo-Prancis yang terkenal di Eropa dan Amerika. Tahun ini, kabarnya, semua bisnis itu akan masuk ke Indonesia.
Artinya... Marcha mungkin akan pulang.
Entah kabar pasti atau sekadar isu. Karena kenyataannya, Marcha bahkan tak pernah mengunjungi semua cabang tokonya sendiri. Kemungkinan dia kembali ke Indonesia—kecil. Setidaknya, itu yang Shanna yakini demi menenangkan diri.
Ia melirik Deven diam-diam.
Shanna tahu, jika Marcha benar-benar kembali, Deven bisa saja pergi dari hidupnya. Secepat itu. Ia sadar betul, di relung hati Deven yang paling dalam, masih ada satu nama—nama sahabatnya sendiri. Itulah alasan Shanna tak pernah menghubungi Marcha. Selama akhirnya ia yang bersama Deven, ia tak masalah berbagi ruang di hati pria itu. Shanna sudah mendorong hubungan mereka ke tahap berikutnya—pernikahan dan Deven tampak setuju.
Bagi Shanna, menikah dengan Deven hanya soal waktu dan diam-diam, ia berharap itu terjadi sebelum Marcha kembali ke Indonesia karena itu pula, Shanna tak pernah memberi tahu Deven soal kemungkinan kepulangan Marcha.
Ia tak ingin kalah lagi. Tak ingin kehilangan Deven.
Tiba-tiba ponsel Deven berdering.
Ia melirik layar. "Gogo nelpon. Ada apa, ya?"Deven mengangkatnya dan menyalakan speaker "Hallo, Go," sapa Deven santai.
"Lo di mana, Dev?" tanya Gogo cepat.
"Di jalan. Mau anter Shannon pulang. Ada apa?"
"Kevin... Steven ketemu Kevin," kata Gogo. "Dia sekarang di Jakarta, Pon."
Deg.
"Kevin Kahuni?" tanya Deven memastikan.
"Iya lah. Kevin siapa lagi?" sahut Gogo.
Deven melirik Shanna. Shanna memeluk buket bunganya lebih erat.
"Oh... yaa," Deven berusaha terdengar biasa. "Dia ngajak ketemu?"
"Gue yang ngajak," kata Gogo. "Sama Steven juga. Kita ngeband lagi, Pon."
Deven tertawa kecil. "Emang Kevin mau?"
"Kayaknya mau. Dia lagi OTW. Kita mau makan bareng. Lo ke sini, ya."
"Di mana?"
Gogo menyebutkan tempat makan favorit mereka.
"Oke. Gue ke sana."
"Sip. Sampai nanti."
Telepon ditutup. Deven menoleh ke Shanna. "Kamu mau ikut aku ketemu Kevin?"
Shanna terdiam. Ada dorongan dalam dirinya untuk ikut... tapi juga ketakutan yang sama besarnya. Statusnya sekarang—harus ia jelaskan bagaimana?
"Kalau kamu nggak mau ikut, nggak apa-apa," kata Deven santai.
"Bukan nggak mau," jawab Shanna ragu. "Tapi... kita jelasin ke Kevin gimana?"
"Jelasin apa?" Deven malah bingung.
"Status kita, Dev."
"Oh, itu?" Deven tersenyum kecil. "Ya jelasin aja. Emangnya kenapa?"
"Aku dulu sama Kevin kan..." Shanna menggantung kalimatnya.
"Shan," Deven menimpali lembut, "itu udah bertahun-tahun lalu. Mana mungkin Kevin masih mikirin itu. Bisa aja sekarang dia udah punya pacar."
Shanna menghela napas. "Aku nggak ikut aja, ya. Aku nggak mau bikin masalah."
"Masalah apa?" Deven terkekeh. "Kamu sama Kevin dulu juga temenan."
"Tapi, Dev..."
"Udah. Nggak apa-apa," kata Deven mantap. "Kalau ada apa-apa, aku yang maju."
Mobil berbelok arah. Menuju tempat pertemuan. Shanna menatap ke luar jendela, dadanya terasa sesak. Ia ragu bertemu Kevin—karena dalam kisah ini, justru dialah yang menghentikan segalanya. Bukan Kevin yang menghilang... tapi ia yang melepaskan dan semua itu karena Deven. Kini, masa lalu yang ia kubur rapi perlahan kembali membuka pintunya. Dan Shanna tak tahu...apakah ia siap menghadapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
