Deven menatap Marcha yang sengaja memalingkan wajah. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Kenapa dia marah ke gue? Bukannya justru gue yang pantas marah—chat, telepon, email... semuanya tak pernah dibalas.
Tapi satu hal tak bisa ia bantah.
Marcha Sharapova Rusli kini menjelma menjadi wanita yang... berbahaya. Cantik dalam cara yang dewasa. Tajam. Berani. Deven menelan ludah saat menatapnya dari balik pintu sebelum masuk ke kamar dan ketika akhirnya berdiri tepat di depannya—dia kalah.
Tatapan Deven turun perlahan: alis tebal, bulu mata lentik, mata dingin penuh keberanian, hidung mancung, bibir—Stop.
Deven memalingkan wajah. Ini rumah sakit. Ini pasien. Ini bukan masa lalu. Tangan Shanna menggenggam lengan Deven. Ia menoleh. Baru tersadar—ia punya pacar dan ia seharusnya tidak menatap wanita lain seperti itu tapi Marcha...seperti malaikat hidup yang dikirim Tuhan khusus untuk menguji iman manusia.
Ponsel Marcha berbunyi.
Deven melihatnya melirik layar, menghela napas kesal, lalu memasukkan ponsel kembali ke tas.
"Siapa?" tanya Deven spontan.
"Apa?" Shanna ikut bingung, menarik lengannya.
Marcha menoleh perlahan.
"Gue nanya ke Marcha," kata Deven jujur. "Siapa yang nelpon? Kenapa gak lo angkat?"
Alis Marcha terangkat. Tatapannya membeku "Lo siapa gue?" suaranya dingin, nyaris menusuk "Harus lapor sama lo sekarang siapa yang nelpon gue?"
Dada Deven mengeras "Gue juga lo abaikan, kan?" balasnya tajam. "Jadi gue pengin tau—siapa korban lo berikutnya?"
Marcha terkekeh pendek. Sinis "Korban?" Ia menatap Deven sejenak "Ngaca dong, Dev." Lalu ke Shanna, senyum tipis tapi berbahaya "Hati-hati ya, Shan."
Belum sempat Deven membalas, ponsel Marcha berbunyi lagi. Ia menatap layar—wajahnya makin masam. Deven tanpa sadar melirik nama yang muncul.
Parker James. Cowok.
Marcha melirik Deven, jelas sadar sedang ditatap. Tanpa peduli, ia melangkah keluar sambil mengangkat telepon.
"What do you want?" bentaknya dingin.
Deven terpaku. Ia tak pernah melihat Marcha semarah itu. Apalagi kepada pria lain. Pintu menutup. Marcha menghilang dari pandangan.
"Jadi gimana ini, Dev?" suara Mami terdengar
Deven diam. Matanya masih terpaku ke pintu.
"Dev?, Deven!" Shanna menarik lengannya keras.
Deven tersentak. "Hah? Ya, Shan?"
"Kamu ngeliatin apa sih? Dari tadi aku ngomong," kata Shanna kesal.
"Enggak... maaf. Ada apa?" Deven mengusap wajah.
"Ini gimana? Pemeriksaan Papi Marcha dilanjutin?" tanya Shanna.
"Kita tunggu Marcha selesai telepon," jawab Deven. "Keputusan tetap di dia."
"Iya," kata Mami Marcha. "Marcha yang mutusin."
Deven kembali menatap pintu.
"Lo gak perlu ngeliatin dia segitunya," Shanna menegur. "Kayak lo masih berharap. "I'm here," tambahnya dingin.
Deven menoleh. "Aku gak berharap," jawabnya tenang. "Aku cuma lihat dia capek."
"Terus?" Shanna menyilangkan tangan.
"Dia pucat. Harusnya istirahat."
"Kak Marcha tadi udah istirahat," celetuk Ingvar.
"Masih jet lag," sahut Deven. "Kelihatan."
Pintu terbuka, Marcha masuk dengan wajah dingin, aura sebal setebal kabut.
"Ada apa?" tanya Ingvar.
"Nothing," jawab Marcha datar. "Just my ex being annoying."
"Ex?" Deven spontan. "Mantan lo?"
Marcha tak menjawab. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Deven tajam "How was my dad?" tanyanya singkat. Tegas. Menutup topik.
"Keadaannya stabil," jawab Deven profesional. "Setelah pemeriksaan lanjutan, kita tau langkah selanjutnya."
Marcha mengangguk kecil. "That's it?"
Mami ikut bicara, "Kalau sudah diperiksa, bisa dirawat di rumah?"
"Kita lihat hasilnya dulu, Tante," jawab Deven.
Mami mengangguk.
"Ya udah," kata Marcha dingin. "Mami pulang aja. Gue yang jaga Papi."
"Kamu sama Ingvar pulang aja Cha," sambung Deven. "gue bantuin jaga om Berto."
Shanna langsung menoleh. "Dev, kamu dokter. Gak harus fokus ke satu pasien."
"Cuma satu hari," jawab Deven. "Mereka masih jet lag."
"Gue gak butuh bantuan," potong Marcha. "Gue bisa jaga Papi sendiri."
"Aku gak sibuk," balas Deven cepat.
"Dev," suara Shanna meninggi, "kamu gak anterin aku pulang?"
"Kamu bisa pulang sama Gogo dan Kevin," kata Deven. "Aku masih ada kerjaan."
"Aku gak mau dianter mereka. Kamu janji."
"Ini kerjaan," jawab Deven tegas.
"Jagain Papi Marcha itu kerjaan?" Shanna menekan.
"Dia pasienku."
"Gak perlu," kata Marcha dingin. "Lo anterin pacar lo aja."
Deven menatap Marcha lama. Ia ingin bilang: gue cuma peduli. Tapi ia tahu—Marcha tak akan menerimanya.
"Okay," Gogo memecah suasana. "Gue duluan. Ada janji sama Jane."
Satu per satu mereka pamit dan Marcha tetap berdiri di sana—dingin, tajam, dan tak memberi celah sedikit
Begitu mereka keluar dari kamar Papi Marcha, langkah Deven langsung terhenti. Ia menoleh ke arah Shanna "Lo kenapa sih harus manja banget? Sampai mesti gue yang anterin pulang?" suara Deven mulai meninggi.
"Gue—" Shanna hendak bicara.
"Gue ada kerjaan," potong Deven tegas. "Kevin juga searah sama rumah lo."
"Dev," suara Shanna bergetar, "lo itu pacar gue."
"So?" Deven tertawa sinis. "Kalau pacar, gue wajib jadi sopir pribadi lo? Antar-jemput tiap saat? Enggak, kan?"
Shanna terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue anterin, Shan," Kevin maju, mencoba menengahi.
Tapi Shanna menatap Deven tajam "Lo sebenernya mau di sini karena Marcha, kan?"
Deven tidak mengelak "Iya," jawabnya jujur. "Gue memang mau di sini karena Marcha."
Wajah Shanna runtuh.
"Jangan lihat gue kayak gitu," kata Deven cepat, nada suaranya keras seolah menahan emosi sendiri "Cuma gara-gara gue gak anterin lo pulang. Gue benci cewek cengeng."
"Tapi gue cewek lo," bisik Shanna.
"Dan gue pacar lo yang lagi kerja," balas Deven dingin.
"Udah, Shan," Kevin menarik napas panjang. "Gue anterin lo."
Shanna mendengus, menahan amarah "Oke. Gue pulang sama Kevin."
Ia berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
"Tolong ya, Vin," kata Deven pelan sambil menepuk bahu Kevin.
Kevin mengangguk, lalu menyusul Shanna. Deven berdiri sendirian beberapa detik, lalu kembali melangkah ke arah kamar Papi Marcha.
⸻
Marcha duduk di sisi ranjang, membuka majalah, tapi jelas matanya tidak benar-benar membaca. Deven berhenti di depan pintu. Dari pantulan kaca, ia melihat bayangan Marcha. Cantik. Masih sama seperti sepuluh tahun lalu.
Tak ada yang berubah—kecuali caranya menatap dunia.
Deven mengetuk pelan. Marcha menoleh. Matanya langsung membesar.
"Lo gak anterin Shannon?" tanyanya tajam.
"Dia pulang sama Kevin," jawab Deven santai.
"Apa-apaan sih lo?" Marcha berdiri cepat "Kenapa lo gak anterin pacar lo? Ntar dia salah paham lagi sama kita."
"Gak apa," jawab Deven. "Gue udah jelasin. Ini kerjaan gue."
Ia melangkah masuk.
"Lo pulang aja, Cha. Biar gue yang jagain bokap lo."
Marcha mendengus, menutup majalah dengan suara keras "Lo kenapa sih harus kayak gini?"
"Maksud lo?" Deven bingung.
"Gue bisa jaga bokap gue sendiri," suara Marcha dingin, tajam "Tanpa lo."
"Gue dokter bokap lo," balas Deven tegas "Udah seharusnya gue di sini. Lo capek. Jet lag. Lo butuh tidur."
Marcha menatapnya lama. Lalu tertawa kecil—tanpa humor "Lo siapa gue, sampai berani ngatur gue pulang?" Ia berdiri, menatap Deven dari atas sampai bawah "Dan satu lagi—"Nada suaranya merendah, penuh tekanan "Gue sekarang males satu ruangan sama elo."
Marcha berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh. Pintu tertutup. Deven berdiri terpaku. Ia tersenyum kecil—lelah, tapi lega. Tak apa Marcha marah. Tak apa Marcha membencinya. Yang penting— Marcha pulang. Marcha istirahat. Itu sudah cukup buat Deven.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
