Ingkar janji (Deven)

79 9 5
                                        

Deven tiduran di ranjang lamanya, satu tangan di belakang kepala, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Plafon yang sama. Lampu yang sama tapi rasanya... beda.
Ia melirik ke ponselnya di samping bantal. Sunyi. Nggak bergetar. Nggak bunyi. Siapa lagi yang ia tunggu kalau bukan Marcha? Beberapa hari di Bali kemarin rasanya seperti mimpi kepanjangan. Deven bahagia sampai lupa satu fakta kecil tapi nyebelin: setiap liburan pasti ada ending-nya dan ending itu bernama pulang dan berpisah.
Marcha. Perempuan luar biasa yang bisa bikin dia kagum dan ketawa dalam waktu bersamaan yang humornya suka belok ke mana-mana, tapi entah kenapa selalu nyantol. Sekarang? Sudah tiga hari sejak Deven pulang ke Lombok dan Marcha balik ke Jakarta.
Awalnya chat mereka rame. Telepon panjang. Ketawa-ketawa nggak jelas tapi sejak Marcha ketemu Shanna...Chat masih ada. Cuma balasannya lama dan pendek kayak lagi diet kata.
Kalau ditelepon, kadang diangkat. Kadang... ya nggak, Deven menaruh lengannya di atas mata, nutupin cahaya yang terasa terlalu terang buat suasana hatinya. Ia menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang dan meraih ponselnya.
Ia ngetik.
Deven:
Cha, lo sibuk banget ya? Chat gue kok nggak dibales?
Deven menatap layar beberapa detik lalu menghapusnya, pesan di atasnya... pertanyaannya sama dan belum dibales juga.
"Yaudah," gumamnya. "Telepon aja."
Nada sambung terdengar. Satu. Dua. Tiga, nggak diangkat "Marcha ke mana sih..." Tadi katanya ada urusan penting di kantor. Meeting, katanya. Habis itu? Hilang.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Deven malas.
"Kakak lo yang cantik," jawab suara di luar.
Deven nyengir miring. "Masuk, Kak."
Pintu terbuka. Amel masuk sambil bawa bungkusan plastik "Gue beliin donat," kata Amel santai.
"Wah," Deven berdiri, nyelipin ponselnya ke saku. "Timing lo pas banget buat orang yang lagi rapuh."
Amel mendengus. "Makanya dikasih gula."
Mereka keluar kamar. Deven langsung nyomot satu donat.
"Nah," kata Amel, melirik. "Jadi gimana? Lo udah jadian belom sama Cha-Cha?"
Deven geleng pelan. Ekspresinya muram sambil terus makan.
"Lama banget lo, Dek," komentar Amel.
"Marcha nyuekin gue, Kak," jawab Deven jujur.
"Hah? Kalian tengkar?" Amel langsung bingung.
"Setau gue enggak," Deven mengangkat bahu. "Entahlah... gue ngerasa dia ngejauhin gue sejak ketemu Shanna."
"Lo mikir Shanna yang nyuruh Marcha ngejauhin elo?" Amel menaikkan alis.
Deven diam. Nggak mengiyakan. Nggak menyangkal.
"Shanna mungkin cinta sama lo," lanjut Amel, "tapi dia nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu ke Cha-Cha. Shanna itu cewek baik, Dek. Cuma... keluarganya aja yang memang agak ribet."
Deven menghela napas panjang "Ya mungkin cuma perasaan gue aja," katanya akhirnya, lalu menggigit donat lebih keras dari perlu.
Amel mengangguk pelan sambil senyum tipis. "Galau tuh emang bikin semua terasa lebih ribet."
Dari dapur, suara Mama terdengar.
"Mel, itu nanti sop bawang Mama bikinin buat Romeo, kamu bawa pulang ya. Mama masak banyak, jadi Prince sama kamu bisa makan" Mama melirik Deven. "Adek, belum makan kok udah donat."
"Tenang, Ma," kata Deven sambil mengunyah. "Sop-nya nanti adek habisin. Donat ini cuma... pengantar luka batin."
Amel ketawa. Mama cuma geleng-geleng kepala dan Deven? Masih berharap satu getaran kecil dari ponselnya
Lalu terdengar suara dering telepon. Deven refleks merogoh saku celananya. Layar ponsel menyala.
Marcha.
Akhirnya... Deven tersenyum lebar, cepat-cepat memutar layar ke arah Amel.
"Cha," bisiknya penuh harap.
Amel ikut tersenyum, mengangkat jempol kecil seolah bilang: akhirnya.
"Hei, Cha. Lo ke mana aja sih?" suara Deven langsung cerah. "Gue cariin dari tadi."
"Sorry, Dev. Tadi gue sibuk," jawab Marcha. "Ini gue lagi di bandara."
Deg.
Senyum di wajah Deven berhenti di tengah jalan.
"Ban—bandara?" Deven mengulang pelan, nadanya goyah. "Lo mau ke mana? Ke Lombok? Nyamperin gue?"
Hening, terlalu lama untuk sekadar cari jawaban. Perasaan nggak enak langsung naik ke dada. Deven berdiri, berjalan menjauh, kembali masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, genggaman tangannya mengencang di ponsel.
"Gue balik ke Paris," kata Marcha akhirnya. Suaranya pelan. Serak.
Itu dia yang paling Deven takuti.
"Cha..." suara Deven turun. "Lo kan janji sama gue kalau—"
"Sorry, Dev." Marcha memotong cepat. "I can't give you another chances."
"K—kenapa?" napas Deven terdengar pendek. "Lo bilang lo cinta gue. Lo bilang kita selesain masalah kita dan—"
"Tapi masalah kita emang nggak ada penyelesaiannya," jawab Marcha lirih.
"Maksud lo... nggak ada penyelesaian gimana?" tanya Deven, hampir berbisik.
"Aku harus balik ke Paris. Kerjaan, karier, mimpi gue ada di sana," kata Marcha. "Dan lo... lo bukan alasan yang cukup kuat buat gue tetap tinggal di Indo."
Kata-kata itu jatuh satu-satu. Berat. Tanpa ampun.
"Apa gue nggak pernah ada di dalam impian lo?" tanya Deven.
Sunyi lalu Marcha bicara lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Gue nggak pernah ngebayangin lo bakal ninggalin karier dokter lo... dan ikut gue ke Paris."
"Kita bahkan nggak pernah bener-bener diskusi soal itu," suara Deven bergetar.
"Kita diskusi juga nggak bakal nemu jalan keluarnya," jawab Marcha.
Deven berkedip dan air itu jatuh. Diam-diam. Nggak minta izin.
"Okay..." Deven tertawa kecil, hambar. "Gue paham sekarang." Ia mengusap wajahnya kasar. "Gue emang nggak sepenting itu buat lo dan gue akhirnya ngerti..." suaranya pecah, "...lo nggak pernah bener-bener cinta sama gue kalau ujung-ujungnya lo ninggalin gue kayak gini."
"Sorry, Dev," suara Marcha terdengar retak.
"Thanks ya," kata Deven datar. "Lo udah dateng lagi ke hidup gue... cuma buat pergi lagi." Ia menarik napas panjang. Sakit "Thanks juga atas semua rasa cinta palsu yang lo tunjukin ke gue beberapa hari kemarin."
"Dev... gue—"
"Jangan ada kata maaf lagi di antara kita," potong Deven cepat. "Gue nggak butuh maaf dari lo."
Hening sejenak.
"Bye, Cha."
Deven menutup telepon sebelum Marcha sempat menjawab.
Detik berikutnya, ponsel itu melayang dari tangannya.
Brak...!!!!,
Layar pecah menghantam lantai, kaca berserakan ke segala arah dan untuk pertama kalinya sejak lama, Deven berdiri di tengah kamarnya—
sendirian tanpa harapan dan dengan dada yang terasa kosong tapi nyeri.
Pintu kamar Deven terbuka tanpa diketuk.
"Ada apa, Dek?" tanya Amel pelan, begitu melihat wajah adiknya yang kusut dan mata merah.
Deven menoleh. Rahangnya mengeras, lalu ia duduk di tepi ranjang "Nanti aja Kak ketawain gue," katanya lirih. "Sekarang... gue cuma mau cerita."
Amel langsung duduk di sampingnya. Deven mulai bercerita. Tentang Marcha yang menelepon dari bandara. Tentang Paris. Tentang kalimat-kalimat yang rasanya seperti ditarik keluar dari dadanya satu-satu.
"Di Bali," suara Deven serak, "dia janji sama gue. Dia bilang kalau masalah kita udah selesai. Dia bilang gue dapet kesempatan lagi." Deven menggeleng pelan, tertawa hambar "Ternyata masalah yang dia maksud bukan Shanna... tapi jarak. Paris sama Indonesia."
Amel mendengarkan tanpa memotong.
"Gue ngerasa dibohongin, Kak," lanjut Deven. "Gue pikir semuanya udah beres. Gue pikir... gue cukup."
Amel menarik napas panjang "Gue kenal Marcha," katanya pelan. "Dia bukan tipe orang yang ninggalin seseorang setelah janji kayak gitu tanpa alasan."
"Alasan apa?" Deven menatap kakaknya. Matanya kosong.
"Lo tadi bilang sendiri," ujar Amel. "Sikap Marcha berubah sejak ketemu Shanna. Mungkin... ada sesuatu yang mereka omongin. Terus Marcha mutusin balik ke Paris dan ngerasa harus ingkar janji sama elo."
Deven terdiam. Ia nggak kepikiran ke arah itu. Sejak tadi yang ada di kepalanya cuma satu: Marcha ninggalin gue.
"Tapi ini Shanna, Kak," suara Deven melemah. "Cewek yang hatinya kayak bidadari. Masa iya dia minta Marcha ngejauhin gue?"
Amel menatap Deven lama "Nggak ada yang bener-bener tau isi hati manusia, Dek. Bahkan orang yang wajahnya kayak malaikat pun... hatinya belum tentu seindah itu." Amel menyenggol ringan bahu Deven "Lo inget mantan lo yang satu lagi, kan?"
Deven menelan ludah "Iya..."
"Lo harus cari tau sendiri apa yang sebenernya terjadi."
Hening. Kalau kata kakaknya benar... lalu sekarang Deven harus apa? Marcha, dia pasti marah. Marah banget, setelah Deven ngomong sekasar itu. Terus... harus hubungi Shanna dulu? Tapi nanya apa? Ngomong apa?
'Masa iya gue nanya, 'lo ngapain ngomong sama Marcha?' gumam Deven frustrasi.
Kepalanya penuh. Hatinya lebih penuh. Deven menunduk, mengambil ponselnya dari lantai. Layar LCD-nya retak parah. Sekarang bahkan benda kecil itu pun nggak bisa dia andalkan.
"Hebat," gumamnya. "Hp gue aja ninggalin gue."
Lalu ia teringat sesuatu. Hp lamanya. Deven bangkit, mengambil ponsel lama dari laci, mengganti kartu dan menyalakannya. Sementara Deven sibuk, Amel menatap layar ponselnya sendiri.
"Nah," kata Amel pelan. "Ini dia."
"Apa?" Deven menoleh.
"Gue juga nggak tau kenapa gue yakin," lanjut Amel, "tapi gue tau ada sesuatu antara Marcha sama mantan tunangan lo."
"Kok bisa?" Deven mengernyit.
"Shanna jumpa pers lagi," kata Amel. "Dia klarifikasi. Dia bilang pertunangan kalian batal bukan karena pihak ketiga, tapi karena salah paham..."
Deven membeku.
"Dia bahkan bilang," Amel menambahkan, "kalau dia sama Marcha itu temenan jadi nggak mungkin Marcha nusuk dia dari belakang."
"Hah?"
Deven langsung merampas ponsel Amel. Di layar, Shanna duduk rapi di depan wartawan, wajah tenang, suara terkontrol. Itu... ini? Jadi ini alasan Marcha balik ke Paris? Shanna membersihkan nama Marcha sekaligus nama Deven dan Deven... malah menuduh Marcha tanpa tau apa-apa. Dadanya sesak. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata.
"Gue salah," katanya lirih. "Gue harus minta maaf sama Marcha."
"Hp gue jangan lo banting juga ya, Dek," celetuk Amel cepat, melihat tangan Deven mencengkeram ponselnya dengan emosi.
Deven menatap kakaknya, tersenyum miring "Iya, Kak. Sorry."
Ia mengembalikan ponsel itu.
"Jadi," tanya Amel hati-hati, "apa yang bakal lo lakuin sekarang?"
Deven mengangkat wajahnya. Matanya masih basah, tapi tatapannya lebih tegas "Gue susul Marcha ke Paris, Kak," katanya mantap. "Emang ada pilihan lain?"
Amel menggeleng pelan. "Visa, Dek. Persiapan. Itu nggak bisa instan." lalu  ia menatap Deven serius "Gue pikir lo beresin dulu urusan lo sama Shannon di sini. Baru setelah itu lo ke Paris."
"Kenapa?" Deven bertanya cepat.
"Biar pas lo ketemu Marcha," kata Amel, "lo dateng bukan cuma bawa rasa cinta... tapi juga jawaban. Karena gue yakin, tanpa masalah lo sama Shanna selesai, Marcha nggak akan bisa terima elo."
Deven terdiam lalu mengangguk pelan.
"Kasih tau gue, Kak," katanya lirih tapi mantap "Gimana caranya gue nyelesain ini semua?"

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang