Deven bukan lelaki bodoh. Ia tahu betul alasan Shanna mengajaknya ke butik gaun pengantin di kencan yang—di atas kertas—terlihat mendadak ini, mungkin bagi orang lain ini spontan tapi bagi Deven, tidak. Shanna sudah merencanakannya, pacarnya itu ingin menikah dan bukan berarti Deven tidak ingin menikah. Ia pasti akan menikah—suatu hari nanti, saat hatinya benar-benar yakin.
Deven tidak pernah meragukan Shanna sebagai perempuan yang baik. Shanna mencintainya dengan cara yang utuh, tanpa setengah-setengah. Itu jelas tapi setiap kali kata pernikahan terlintas di kepalanya, selalu ada jeda.
Keraguan yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika. Why does he hesitate?
"Kenapa?" tanya Shanna akhirnya, suaranya pelan tapi menuntut.
"Pernikahan itu bukan soal satu atau dua hari kita bareng, Non," kata Deven hati-hati. "Tapi tiap hari. Seumur hidup."
Ia menatap Shanna. "Kamu yakin mau menghabiskan seluruh sisa hidupmu sama aku?"
"Yakin," jawab Shanna tanpa ragu.
Tatapan itu—mata Shanna—jujur, mantap, penuh harapan. Deven tahu. Shanna benar-benar yakin. Ia melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Shanna, menarik napas panjang.
"Well... I'm not sure enough for that."
"Apa?" Shanna menegang.
"Aku... aku belum yakin ini saatnya kita nikah."
"Apa?" suara Shanna naik. "Kenapa?"
Deven tahu ini menyakitkan. Tapi ia harus jujur.
"Aku gak yakin sama kita."
"Gak yakin kenapa?" Shanna mulai panik. "Aku kurang baik? Aku ada salah? Atau—"
"Enggak." Deven cepat memotong. "Kamu gak salah apa-apa. Ini masalah aku."
"Masalah apa, Dev?"
"Aku belum yakin... kalau kita menikah sekarang."
Shanna menatapnya lama. Lalu, dengan suara yang hampir bergetar, ia bertanya "Ini karena Marcha?"
"Marcha?" Deven mengernyit. "Apa hubungannya Marcha sama ini?"
"Lo masih cinta sama dia?" tanya Shanna, langsung, tanpa basa-basi.
Deven terdiam sepersekian detik terlalu lama lalu ia tersenyum tipis—bohong.
"Cinta sama Marcha? Kamu kepikiran kejauhan," katanya. "Aku sama dia udah lama putus. Dan ini gak ada hubungannya sama Marcha. Aku ragu karena menikah itu bukan perkara main-main."
"Tapi kamu ada pikiran nikah kan, Dev?" desak Shanna.
Deven mengangguk pelan, senyum kecil mengembang di wajahnya "Ada. Tapi gak sekarang. Aku belum siap."
Shanna memaksakan senyum "Oke. Aku tunggu sampai kamu siap."
Deven mengangguk, senyum canggung menggantung. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Aku ganti baju dulu," kata Shanna, memecah keheningan yang terasa terlalu berat.
"Iya," jawab Deven pelan.
Ia menatap punggung Shanna yang masuk kembali ke fitting room, wajahnya muram. Deven mengusap wajahnya sendiri sebetulnya pertanyaan Shanna tidak sepenuhnya salah.
Marcha... adalah salah satu dari sekian banyak alasan kenapa ia ragu. Deven menatap pintu fitting room yang tertutup. Ia sadar sepenuhnya—ia masih mencintai Marcha, bukan sekadar kenangan yang lewat. Ia merasakannya. Ia ikut sakit saat melihat Marcha menangis. Ia ikut bahagia saat melihat Marcha tertawa dan itu...adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia rasakan bersama Shanna bahkan setelah hampir dua tahun bersama.
Shanna wanita yang baik tapi soal perasaan—tak pernah ada yang menyentuh hatinya seperti Marcha. Deven menelan ludah, putus dengan Shanna... apakah itu pilihan sekarang? Dengan alasan apa? Tidak cinta?, dan Marcha—orang tuanya jelas belum menerima Deven. Blokir email, blokir nomor. Semua itu terlalu nyata. Deven tidak mau menjalani hubungan yang tidak direstui.
Lalu Shanna—ironisnya—juga tidak sepenuhnya disetujui orang tua Deven. Terutama mamanya. Penyanyi. Sorotan media. Masa lalu Deven dengan Anneth masih jadi bayangan dan kalau putus? Ia bisa membayangkan mamanya langsung panik, menjodohkannya ke sana kemari.
Kencan buta. Perjodohan. Ribet.
Mungkin...memang sudah takdirnya bersama Shanna meskipun belum cinta—mungkin nanti bisa tumbuh. Shanna keluar dari fitting room.
"Sudah?" tanya Deven.
"Sudah." Shanna menatapnya datar. "Buat apa nyoba lagi kalau kamu gak mau nikah?"
Deven berdiri, mendekat, memegang kedua lengan Shanna, mengelusnya pelan "Aku bukan gak mau nikah. Aku belum siap."
"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu siap, Dev?" tanya Shanna, lirih.
Deven tersenyum kecil—kosong. Ia sendiri tidak punya jawabannya.
"Kamu gak perlu ngapa-ngapain," katanya akhirnya. "Biarkan waktu yang bawa kita ke sana."
Shanna diam. Deven mengangkat wajah Shanna, mengusap pipinya lembut.
"Non... ini bukan akhir dunia. Senyum dong."
Shanna menatap matanya lalu ia tersenyum dan memeluk Deven erat.
"Kamu tahu kan aku cinta banget sama kamu?" bisiknya. "Aku takut kehilangan kamu."
Deven mengangguk pelan. Ia tahu. Ia hanya tidak tahu bagaimana mencintai Shanna dengan cara yang sama.
"Aku tahu," jawab Deven lirih
Beberapa hari kemudian. Agak aneh, sebenarnya. Deven sudah tidak pernah lagi bertemu Marcha di rumah sakit padahal biasanya, cepat atau lambat, mereka pasti berpapasan—entah di koridor, ruang tunggu, atau sekadar saling sapa singkat.
"Marcha tukar jadwal jaga sama gue, Kak," kata Ingvar sambil merapikan berkas di meja. "Dia lagi sibuk banget sama kerjaan."
"Kerjaan bokap?" tanya Deven.
Ingvar mengangguk. "Gue gak bisa handle urusan perusahaan bokap. Mau gak mau kak Marcha yang turun tangan. Dua perusahaan besar, Kak. Kebayang kan ribetnya?"
Deven menghela napas pelan "Tapi lo pastiin kakak lo tidur, kan, Var?"
Ingvar mengernyit. "Tidur dong, Kak. Kok Kak Dev bisa mikir kak Marcha gak tidur?"
"Gue pernah lihat di tas dia ada botol obat tidur. Buat insomnia."
Ingvar terdiam.
"Kak Marcha... insom?" ulangnya pelan, kaget.
"Lo gak tahu?" Deven balik bertanya, sama bingungnya.
Ingvar menggeleng. "Kak Marcha emang berubah, Kak. Tapi satu yang gak pernah berubah—dia gak pernah mau kelihatan lemah di depan siapa pun."
"Ya tapi lo adiknya," Deven mengernyit. "Masa iya dia gak pernah cerita ke lo?"
Ingvar tersenyum miring, ada pahit di sana "Kak Deven... sejak kak Marcha di Paris, apalagi lima tahun lalu waktu dia mulai ngerintis karier di fashion, dia hampir gak pernah kontak keluarga."
Deven terdiam.
"Kalau gak ditelpon, dia gak akan nelpon. Kadang ditelpon pun gak diangkat. Jadi kalau dia sakit, kekurangan uang, atau bahkan kelaparan—kita gak pernah tahu." Ingvar mengangkat bahu. "Sekarang kalau kak Deven berharap kak Marcha cerita soal sakitnya, soal capeknya, soal hidupnya... itu kayak berharap matahari terbit tengah malam."
Deven menarik napas panjang. Rasanya seperti disiram air mendidih, panas, perih dan menyakitkan.
"Sekarang dia di Indo," kata Deven pelan. "Dia dekat sama kalian. Lo bisa, kan, lebih perhatiin dia, Var? Gimanapun dia kakak lo. Kesehatan itu penting. Obat tidur gak baik dikonsumsi terus."
Ingvar mengangguk kecil "Gue mau, Kak. Tapi Kak Dev juga tahu sifat kak Marcha."
"Iya, tapi—"
Kalimat Deven terputus saat ponselnya bergetar. Ia melirik layar. Mama.
"Sebentar ya, Var. Mama gue nelpon."
"Okay, Kak."
Deven keluar dari kamar papi Marcha dan mengangkat telepon.
"Halo, Ma," sapa Deven lembut.
"Halo, Dev. Kamu lagi sibuk?" suara mamanya terdengar cerah.
"Enggak, Ma. Kenapa?"
"Kamu kapan ada waktu pulang ke Lombok?" tanya mama. "Mama mau ngomongin soal lamaran sama keluarga Shannon."
Deven berhenti melangkah "Lamaran?" ulangnya. "Kapan Deven bilang mau nikah, Ma?"
"Kamu memang gak pernah bilang," jawab mama cepat. "Tapi habis kak Amel nikah, kamu juga harus punya rencana. Tetangga kita si Roy aja sekarang udah tunangan. Kamu nunggu apa lagi?"
"Ma," Deven menghela napas, "nikah itu soal hidup Deven. Deven gak mau asal."
"Ini juga bukan asal," mama menekan. "Kamu sama Shannon udah hampir dua tahun pacaran. Nunggu apa lagi? Kecuali kamu gak serius sama dia."
"Deven serius, Ma," jawab Deven. "Tapi Deven belum siap."
"Dok—"
Suara suster tiba-tiba muncul di belakangnya. Deven menoleh.
"Hm... Ma, Deven ada pasien. Nanti kita ngomong lagi ya."
"Eh... ya udah. Bye."
Telepon ditutup. Deven berdiri diam beberapa detik. Kenapa sih semua orang begitu terobsesi sama pernikahan? Iya, dia tahu umurnya sudah pantas tapi menikah itu bukan soal umur, bukan soal siapa duluan, bukan soal tuntutan sekitar.Itu soal hati dan entah kenapa...hati Deven belum juga sampai ke sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
