Harapan yang Terlalu Tinggi
Shanna sempat berpikir semuanya akan membaik setelah ia berbaikan dengan Kevin, setelah Deven pulang dari Paris—Shanna yakin, setidaknya sekali saja, Deven akan menemuinya, tidak perlu lama, tidak harus berdua, makan siang sebentar pun cukup namun hampir dua minggu berlalu sejak Deven kembali dan lelaki itu tak juga datang.
Kevin bilang pekerjaan Deven menumpuk, jadwalnya padat, nyaris tak punya waktu bernapas. Shanna mempercayainya. Ia tahu Deven memang sibuk. Tapi... bertemu sebentar, bukankah itu tak perlu waktu berjam-jam?, dulu, Deven selalu menyelipkan waktu untuknya, walau hanya sebentar, walau sekadar duduk berdua tanpa banyak bicara.
Sekarang?
Shanna menghela napas panjang, menatap layar ponselnya yang kembali menyala. Pesan dari Kevin masuk—hari ini ia juga sibuk. Shanna tersenyum pahit kalau begitu, ia harus makan siang dengan siapa? Anneth mungkin bisa tapi Shanna langsung menepis pikiran itu, ia tak mau terlalu dekat dengan Anneth, terlalu berisiko, ia tak ingin media berspekulasi tentang hubungannya dengan Anneth dan kalau sampai mereka tahu Anneth adalah sepupunya?
Shanna tahu betul apa yang akan terjadi.
Hubungannya dengan Anneth pasti akan diseret-seret, disambungkan dengan Deven. Kebohongan Shanna akan terbongkar. Masa lalu Deven dan Anneth—yang penuh luka—akan dikorek lagi. Luka itu akan semakin dalam, Deven kembali jadi sasaran bully, dan hubungan Shanna dengan Deven bisa jadi jauh lebih buruk dari sekarang.
Semuanya akan kacau balau. Shanna tidak mau itu terjadi, ia hanya ingin mereka semua—ia, Deven, Anneth—bisa kembali berteman, begitu juga dengan Marcha meski Shanna sendiri tak yakin apakah Marcha benar-benar tulus memaafkannya, seperti yang Kevin bilang tapi Shanna masih berharap, persahabatan itu belum sepenuhnya hancur.
Soal Deven dan Anneth... Shanna bahkan tak berani berharap banyak. Setelah kejadian kemarin, apakah hubungan mereka masih bisa disebut pertemanan? Mereka bertengkar lagi. Kali ini bukan hanya mereka berdua—mama Deven dan mami Anneth ikut terseret.
Ini payah. Sangat payah.
Shanna kembali menghela napas, menatap ponselnya sekali lagi. Ia ingin menelepon Clarice. Atau Anastasia tapi mereka semua menganggap Shanna sebagai orang jahat—orang yang membuat Marcha kembali ke Paris, ia melengos, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.
"Shan, hari ini kamu nggak ada acara?" suara mama Shanna terdengar dari ambang pintu.
Shanna menggeleng pelan. "Nggak ada, Ma. Besok."
"Kamu bisa temenin mama ketemu aunty kamu?" tanya mama Shanna lagi.
"Aunty yang mana?" Shanna menoleh.
"Aunty Debby."
Shanna langsung duduk di tepi tempat tidur. "Ma... jangan deket-deket sama aunty Debby dulu. Kalau sampai ketahuan media—"
"Debby itu adik mama," potong mama Shanna, heran. "Kenapa mama nggak boleh dekat sama adik mama sendiri? Mama juga pengin tahu kehidupan dia sekarang. Mama bahkan nggak kenal Alvaro, keponakan mama, adiknya Anneth."
"Ma..." suara Shanna melemah. "Shanna lagi berusaha memperbaiki hubungan sama teman-teman Shanna. Termasuk Deven. Kalau sampai media tahu hubungan mama sama maminya Anneth—"
"Itu urusan kamu sama teman-teman kamu," kata mama Shanna tegas. "Dan kenapa kamu harus pusing mikirin media? Kamu seharusnya senang bisa kenal aunty dan sepupu kamu, Shan."
"Ya, tapi Ma—"
"Nggak ada tapi-tapian," potong mama Shanna. "Sekarang kamu berdiri, mandi, terus kita pergi."
Shanna menarik napas dalam-dalam. Tanpa membantah lagi, ia berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke arah lemari, membawa serta beban pikirannya yang tak juga ringan
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Anneth.
Shanna turun lebih dulu, refleks menoleh ke kanan dan kiri. Matanya waspada, mencari kemungkinan terburuk—wartawan, orang asing, siapa pun yang bisa jadi masalah. Tapi halaman itu lengang, aman dan ia menghembuskan napas lega sebelum mengikuti mamanya masuk ke dalam rumah.
Anneth yang menyambut mereka. Senyumnya tipis, hangat tapi lelah. Sementara itu, dari ruang tengah terdengar suara tinggi—marah, tajam, penuh tekanan. Shanna melirik ke arah suara itu. Seorang remaja lelaki berdiri tertunduk di depan mami Anneth yang sedang mengomel tanpa jeda.
"Adik gue, Alvaro," kata Anneth pelan, seolah menjelaskan tanpa perlu ditanya.
Shanna tersenyum masam. Pandangannya menyapu rumah Anneth—rapi, bersih, tertata dengan baik. Andai saja suasananya juga setenang itu. Kemarahan dan teriakan terasa menempel di dinding-dinding rumah.
Setelah omelan panjang itu berakhir, Alvaro mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam—langsung mengarah ke Shanna. Ada sesuatu di matanya, entah marah, entah kesal. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan masuk ke ruangan lain.
"Eh, kamu datang, Kak Indri," sapa mami Anneth begitu melihat mama Shanna.
"Halo, Dek Deb," jawab mama Shanna ramah.
"Hai, Shanna. Apa kabar?" tanya mami Anneth, kini menatap Shanna.
"Baik," jawab Shanna singkat, disertai senyum tipis.
"Ayo duduk. Mau minum apa?"
Mama Shanna langsung larut dalam obrolan dengan mami Anneth—tentang keluarga, tentang hal-hal yang terdengar ringan tapi sebenarnya berat. Shanna memilih diam, matanya berkeliling memperhatikan sudut-sudut rumah.
"Shan, ke kamar gue yuk," ajak Anneth sambil menarik tangan Shanna pelan.
Shanna melirik ke arah dua ibu yang masih tenggelam dalam percakapan mereka, lalu mengangguk dan mengikuti Anneth.
Kamar Anneth rapi, terlalu rapi, segalanya tertata, nyaris tanpa hiasan berlebihan tapi justru itu yang membuat kamar ini terasa... sunyi.
"Boneka lo bagus," kata Shanna, menunjuk boneka koala biru di sisi ranjang.
"Itu dari Deven," jawab Anneth ringan.
"Deven?" Shanna menoleh cepat. "Lo masih simpan barang dari Deven?"
"Ya... beberapa," Anneth nyengir kecil.
Shanna baru menyadari—bukan cuma koala itu. Di meja belajar, ada foto Anneth bersama teman-temannya. Dan Deven ada di sana, berdiri di antara mereka. Shanna melangkah mendekat, menatap foto itu lebih lama.
"Itu foto kita waktu masih kecil," kata Anneth.
"Kalian nggak pernah kumpul lagi?" tanya Shanna.
Anneth menghela napas. "Kita sama-sama dewasa, sama-sama sibuk apalagi sejak gue sama Deven pisah... kita semua kayak orang asing."
"Padahal kalian sahabat, kan?"
"Dulu," kata Anneth pelan. "Sekarang? Mau bilang temenan aja, gue nggak yakin, kita beda dunia, di foto itu semua bisa nyanyi tapi nggak semuanya milih hidup jadi penyanyi."
"Oh..." Shanna mengangguk. "Jadi karena itu hubungan kalian putus?"
"Banyak faktor tapi awalnya memang karena hubungan gue sama Deven yang berakhir."
"Hubungan lo sama Deven sekarang gimana?" tanya Shanna hati-hati. "Maksud gue... setelah kejadian kemarin."
"Gue nggak tahu," jawab Anneth jujur. "Kita udah nggak pernah kontak, gue ketemu dia cuma kalau dia bareng elo. Selebihnya... nggak ada apa-apa."
"Lo mau kayak dulu lagi? Jadi sahabatnya Deven?"
Anneth tersenyum, lalu menggeleng. "Teman aja cukup, sahabat itu terlalu..." ia berhenti sejenak. "Gue malu banget sama dia."
"Kalau sahabat, nggak perlu ada kata malu," kata Shanna. "Apalagi kalian dulu pernah sedekat itu, gue juga bikin salah, tapi—"
Shanna terdiam karena kalau dipikir-pikir, yang benar-benar memaafkannya bukan Deven... tapi Marcha. Deven? Sampai sekarang, setiap kali diajak bertemu, alasannya selalu sama—sibuk. Entah benar-benar sibuk, atau sekadar menghindar.
"Kenapa, Shan?" tanya Anneth.
"Enggak," Shanna tersenyum kecil. "Gue cuma baru sadar... gue sendiri belum bisa dibilang temenan lagi sama Deven."
"Emang lo salah apa sampai bikin Deven marah?" Anneth bertanya, lalu wajahnya berubah seolah baru mengerti. "Ah... Marcha. Lo bikin nama Marcha dan Deven jelek di media."
"Gue nggak bermaksud," bela Shanna. "Gue cuma mau Marcha balik ke Paris dan nggak gangguin Deven sama gue. Dan—"
"Terus Deven tahu. Dan dia marah sama lo," sambung Anneth.
Shanna memiringkan mulut, lalu mengangguk pelan.
Anneth menghela napas. "Well, cerita gue lebih parah dari cerita lo. Deven pasti maafin lo, Shan. Kasih dia waktu."
"Thanks, Neth."
"Lo sepupu gue. Gue nggak mau lo salah jalan kayak gue."
"Hm," Shanna mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi ada baiknya lo juga minta maaf sama Marcha," lanjut Anneth. "Gue tahu lo ngerasa nggak perlu, tapi dia sahabat lo dan sahabat sejati itu lebih penting dari apa pun—even cowok."
"Marcha udah maafin gue," Shanna nyengir. "Dan... ya, dia emang cocok buat Deven, bukan cuma cantik wajahnya, tapi hatinya juga. Gimana gue nggak iri?"
Anneth tertawa kecil. "Setiap wanita punya kecantikannya sendiri, Shan, kita nggak perlu iri sama wanita lain."
"Deven lebih suka Marcha," gumam Shanna.
"Mungkin Marcha yang bisa nyentuh hati Deven," kata Anneth lembut. "Tapi itu nggak berarti kita nggak cantik, nanti akan ada seseorang yang lo sentuh hatinya—dan di mata dia, lo bakal jadi wanita paling cantik di dunia."
"Lo udah ketemu orang itu?" tanya Shanna. "Betrand?"
Anneth hanya tersenyum, tak menjawab tapi Shanna menangkap sesuatu di matanya, ada beban, ada rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan—bahkan padanya. Shanna mengira perasaan itu akan tetap jadi misteri... sampai tanpa sengaja ia mendengar percakapan dua ibu di dapur saat ia hendak mengambil minum.
"Aku bukan nggak setuju Anneth sama Betrand," kata mami Anneth pelan tapi tegas. "Tapi mau sampai kapan dunia hiburan ini? Kamu tahu kan suamiku, Kak Indri... pendapatannya nggak tentu. Aku nggak mau Anneth punya nasib yang sama kayak aku."
"Ya, tapi kalau anak kamu cinta—" sahut mama Shanna.
"Kalau aja aku tahu Deven bakal jadi dokter sukses..."
"Deven bukan cuma sukses," potong mama Shanna. "Dia salah satu dokter terbaik di Indonesia."
"Kalau aja Anneth masih sama Deven," gumam mami Anneth lirih.
Shanna membeku, punggungnya menempel di tembok, keningnya berkerut dalam, apa maksudnya itu barusan...?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
