Refreshing (Deven)

67 7 6
                                        

Ponselnya terus bergetar. Deven sengaja mengaktifkan mode senyap—getar saja. Ia tidak sanggup mendengar nada dering yang seolah menuntutnya untuk kembali ke kenyataan. Ia hanya ingin menghindar untuk sementara saja.
Deven duduk di teras kamar hotel Ayana, Bali. Kursi rotan, meja kecil, dan hamparan laut biru yang membentang luas di depannya. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang seharusnya menenangkan. Seharusnya. Padahal rencananya, ia ingin pulang ke Lombok. Menyendiri. Menutup diri dari semua orang. Tapi mamanya menolak keras.
"Buat apa ke Lombok? Itu mah pulang kampung, bukan liburan," kata mamanya waktu itu.
Akhirnya Bali jadi pilihan—atau lebih tepatnya, paksaan yang dibungkus kemewahan. Salah satu pasien Deven ternyata pemilik saham hotel Ayana. Voucher menginap gratis, fasilitas penuh, tanpa batas. Terlalu mewah untuk ditolak. Dan mungkin... terlalu nyaman untuk melarikan diri, tak heran mamanya lebih memilih Bali daripada Lombok.
Deven berusaha menikmati momen. Berjemur di bawah pohon kelapa, menatap laut, membiarkan matanya terpejam. Kalau saja kakaknya yang super bawel itu tidak duduk di sampingnya—bersama Romeo, anaknya, yang merengek tanpa henti.
Seluruh keluarga kakaknya ikut liburan. Suami dan anaknya terbang dari Lombok ke Bali. Liburan keluarga besar—tepat di saat Deven paling ingin sendirian. Ia pura-pura tak mendengar rengekan keponakannya.
"Dek," suara Amel menyela, matanya melirik ponsel Deven. "HP lo."
"Biarin," jawab Deven singkat.
"Siapa sih yang nelpon terus?" Amel mengambil ponsel itu, melirik layarnya. "Shanna."
"Itu sebabnya gue bilang, biarin," ujar Deven dingin.
"Ngehindarin dia juga bukan solusi," kata Amel. "Ada baiknya lo hadapin dia dan—"
"Gue udah hadapin dia," potong Deven. "Setelah tunangan itu dan gue pikir udah cukup."
Amel menatapnya ragu.
"Kakak nggak tahu Shanna," lanjut Deven. "Dia bakal ngejar gue terus... sampai dia lihat gue sama cewek lain."
"Yaudah," kata Amel santai. "Cari cewek lain."
Deven terkekeh pendek. "Kakak kira cari cewek itu kayak nyari baju di lemari? Tinggal comot satu?"
"Banyak yang suka sama elo. Tinggal pilih."
Deven menghela napas panjang. "Gue nggak mau asal, Kak. Gue sadar, ngajak Shanna nikah itu juga salah satu keputusan paling gegabah gue. Pokoknya nikah. Nggak mikir panjang." Ia menatap laut, suaranya merendah "Kalau gue mau mulai sama orang lain, gue harus yakin. Serius. Bukan cuma buat nutup luka."
Amel terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, "How about Marcha?"
Deven terhenti.
"Lo free. Dia free. Dan... kalian masih saling cinta."
Deven tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang ke percakapan terakhirnya dengan Marcha—sebelum ia pergi. Waktu itu ia bilang mau ke Lombok.
"Ini bukan cuma soal gue sama lo," kata Marcha saat itu. "Ini juga soal persahabatan kita. Gue nggak mau terlihat kayak ngerebut elo dari Shanna. Semua orang tahu kita sahabatan."
"So? Mereka juga tahu gue cinta sama elo," balas Deven.
Marcha menghela napas. "Dev... gue pikir kita perlu waktu sendiri dulu. Lo baru gagal tunangan. Dan gue—gue sama sekali belum kepikiran buat hubungan serius. Kita pikirin pelan-pelan. Nanti juga ada jawabannya."
"Tapi waktu jalan terus," kata Deven waktu itu. "Dan lo bakal balik ke Paris. Gue nggak mau nyesel ngelepasin lo lagi."
"Kalau memang itu yang lo mau," jawab Marcha tenang, "lo bisa nyusul gue ke Paris. Kita bukan anak remaja. Kita bisa milih jalan hidup kita sendiri."
Itu percakapan terakhir mereka dan justru karena itu, Deven bisa pergi ke Bali dengan sedikit rasa tenang. Ia memang butuh waktu. Ia butuh berpikir—tanpa tekanan, tanpa emosi yang meledak-ledak. Ia sudah belajar satu hal: keputusan yang diambil karena emosi hampir selalu berakhir buruk.
Apakah ia benar-benar ingin bersama Marcha... setelah semua yang terjadi? Kalau ia memilih Marcha, masalahnya justru lebih rumit. Orang tua Marcha—terutama papinya. Persahabatan Marcha dengan Shanna dan satu hal yang jarang ia akui, bahkan pada dirinya sendiri: Marcha adalah segalanya. Sebagai perempuan. Sebagai karier. Sebagai status. Punya pacar konglomerat bukan perkara sederhana. Sebagai laki-laki, Deven sering merasa... kecil. Tidak berdaya. Marcha selalu selangkah—tidak, beberapa langkah—di depannya. Terlalu banyak yang harus ia pertimbangkan.
"Woy, dek! Gue nanya dari tadi!" suara Amel menyentaknya. "Malah ngelamun. Marcha gimana?"
"Kita temenan," jawab Deven singkat. "Gue sama dia masih butuh waktu."
"Jangan mikir kelamaan," Amel memperingatkan. "Begitu dia balik Paris, baru lo ngerasain kehilangan."
Deven terdiam. Ya. Itu juga yang ia takuti. Meski Marcha bilang Deven bisa menyusul ke Paris kapan saja, tidak ada satu pun yang bisa menjamin masa depan.
Dan Deven... sudah terlalu lelah untuk salah memilih lagi.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang