Luka (Marcha)

71 8 2
                                        

"Lo nggak apa-apa, Cha?" Azalea sudah setengah berdiri, matanya nyaris menyala lihat pipi Marcha yang mulai merah.
Marcha masih memegang pipinya, lalu meringis kecil. "Harusnya nggak apa-apa... cuma harga diri gue tadi bunyinya lebih kenceng dari tamparannya."
Clarice langsung berdiri. "Gue sumpah ya—"
"Duduk," potong Marcha cepat. "Kalau lo berdiri kayak gitu, orang-orang pikir kita mau bikin season dua."
Anastasia menatap pipi Marcha cemas. "Itu merah banget."
"Iya, dan gue nggak bisa pulang dengan keadaan kayak gini," keluh Marcha. "Nyokap gue bisa histeris belum tentu nanya dulu, langsung telepon pengacara keluarga."
"Lo pulang ke tempat Deven aja," saran Anastasia.
Marcha mendengus pelan. "Gue nggak tau deh. Deven bisa lebih histeris dari nyokap... bedanya, kalau nyokap cerewet, Deven bisa langsung cari orang."
Mereka terdiam.
"Gue nggak mau bikin masalah lebih besar lagi antara Shanna sama Deven," lanjut Marcha, lebih pelan.
Clarice masih kesal. "Tapi parah sih. Maksud dia apa nampar lo di depan umum kayak tadi?"
Marcha menarik napas. "Dia nggak punya temen, La. Kevin bilang gitu."
Keempat sahabatnya saling pandang.
"Kalian juga..." Marcha menatap mereka satu-satu. "Harusnya kalian ajak Shanna nongkrong. Gue nggak masalah kok."
Anastasia mengernyit. "Cha... kita udah nggak pernah ajak Shanna ngumpul sejak pertunangannya sama Deven batal dan itu bukan cuma karena lo. Jujur aja... sikapnya akhir-akhir ini beda. Nggak enak."
"Iya," sambung Nadine pelan. "Bukan kita jahat tapi capek juga kalau tiap ketemu vibes-nya tegang."
Marcha menggeleng kecil. "Mungkin dia depresi atau nggak bisa beresin masalahnya sendiri jadi meledaknya ke orang yang paling gampang."
"Dan orang itu lo?" tanya Azalea, alisnya naik.
Marcha nyengir tipis. "Gue kan magnet masalah dari dulu."
Clarice mendecak. "Jangan bercanda mulu deh, Cha."
"Serius," lanjut Marcha. "Kalau kalian jauhin dia, dia pikir gue yang hasut kalian, dia pikir gue nyuruh kalian ninggalin dia."
Anastasia bersandar, berpikir. "Bisa jadi sih..."
Clarice masih terlihat kesal. "Ya udah kalau dia minta maaf ke lo soal hari ini, kita ajak dia jalan lain kali."
Marcha mengangguk pelan. "Itu udah lebih dari cukup."
Azalea kembali menatap pipi Marcha. "Sekarang yang penting muka lo dulu. Sakit nggak sih?"
"Sakitnya sih nggak seberapa," jawab Marcha jujur. "Yang repot itu konsekuensinya."
"Jadi lo beneran ke apart Deven?" tanya Nadine.
Marcha mengangguk. "Gue nggak punya pilihan mending diomelin Deven daripada diinterogasi nyokap, terus bokap ikut-ikutan, belum lagi Ingvar komentar nggak penting."
Clarice mengangkat alis. "Tapi tadi lo bilang nggak mau bikin masalah antara Deven sama Shanna?"
"Iya," Marcha menghela napas. "Ntar gue coba ngomong sama Deven, gue nggak mau dia makin benci Shanna gara-gara ini."
Anastasia menatapnya lama. "Lo tuh aneh ya."
"Kenapa?"
"Ditampar tapi masih mikirin orang yang nampar."
Marcha tersenyum tipis. "Gue cuma nggak mau semua orang jadi musuhan selamanya."
Clarice tiba-tiba terlihat bersalah. "Harusnya gue nggak ajak kalian ke sini ya, gue nggak nyangka bakal ketemu Shanna."
"Lah ini tempat nongkrong favorit kita, La," balas Marcha cepat. "Bonyok gue aja suka ke sini, masa kita harus pindah tongkrongan gara-gara satu orang?"
Azalea tertawa kecil. "Iya juga sih."
"Udah," kata Marcha sambil menarik napas panjang. "Kita jangan bahas Shanna lagi. Malam ini harusnya ladies night, bukan sidang etik."
Nadine langsung menyambar topik. "Oke. Jadi, lanjut. Gimana rencana nikah lo sama William, La? Jadi pakai konsep garden atau ballroom?"
Clarice langsung berubah mode panik. "Jangan mulai!"
Suasana perlahan mencair. Tawa kecil mulai terdengar lagi. Obrolan pindah ke kerjaan, ke cowok, ke drama random yang lebih aman dibahas.
Sementara Marcha tersenyum dan ikut tertawa, tangannya sesekali masih menyentuh pipinya yang memanas.
Sakitnya mungkin cuma lima menit tapi dampaknya? Itu yang belum tentu selesai semudah es kopi Vietnam di atas meja mereka.

Satu per satu sahabatnya pulang—dijemput pacar, tunangan, suami. Pelukan, lambaian tangan, suara "chat yaaa!" bersahut-sahutan, tinggal Marcha sendirian di Grand Indonesia, ia menatap gelasnya yang sudah kosong. Pulang ke rumah? Nyari mati. Nyokap bisa langsung konferensi pers keluarga. Ke apartemen Deven? Itu juga nyari mati. Versi dokter bedah. Masa iya nginep di hotel? Kalau ketahuan, dua-duanya bisa ngamuk bareng.
Marcha memejamkan mata. "Oke. Pilihan paling minim korban: apart Deven."
Ia menghela napas lalu menelepon.
"Hallo," suara Deven lembut di ujung sana.
"Hallo Dev... kamu sibuk?"
"Nggak. Baru selesai operasi, ada apa, Cha?" Nada suaranya langsung waspada.
Marcha menggigit bibir. "Aku... malem ini boleh tidur di apart kamu nggak?"
Deven terdiam sebentar. "Malem ini aku shift... aku di rumah sakit, kamu udah tau kan?"
"Iya, aku tau," jawab Marcha cepat. "Aku cuma mau tidur aja kok, boleh kan?"
Hening lagi.
"Kamu sekarang di mana?" tanya Deven.
"Di GI. Habis nongkrong sama anak-anak."
"Oh. Mau aku jemput?"
Marcha panik kecil. "Eh, nggak usah. Aku bisa naik taksi."
"Nggak apa-apa. Aku lagi istirahat, aku jemput kamu bentar."
Marcha menatap langit-langit mall. Bohongnya barusan kurang meyakinkan.
"Alasannya apa?" tanya Deven pelan. "Kenapa tiba-tiba mau tidur di apartku padahal aku nggak ada?"
"Ehmm... dari GI ke rumah macet. Apart kamu lebih deket. Besok aku ketemu investor di deket situ." Bohong level presentasi investor.
"Itu aja?"
"Iya."
"Ya udah. Aku jemput."
Dan telepon pun ditutup sebelum Marcha bisa menambah drama. Langkah pertama: cari masker. Langkah kedua: pilih yang nutup pipi sampai setengah muka. Langkah ketiga: pura-pura jadi orang sehat tapi batuk. Ia hampir lari kecil ke lobby.
Benar saja, mobil Deven sudah terparkir rapi di depan. Marcha masuk ke kursi penumpang.
"Kamu napa pakai masker? Sakit?" tanya Deven sambil melirik.
"Iya... agak batuk," jawab Marcha cepat.
Deven mengerutkan kening, lalu menempelkan tangan ke dahi Marcha. "Nggak panas."
"Ya kan cuma batuk doang," balas Marcha santai palsu.
Deven menatapnya lama, terlalu lama, tiba-tiba ia menarik masker itu.
"Dev—"
Terlambat.
Marcha refleks menutup pipinya.
"Apa itu?" Suara Deven berubah.
"Nothing..." Marcha meringis.
"Cha." Deven memegang pergelangan tangannya pelan tapi tegas. "Lepas."
Marcha menelan ludah. "Aku kasih tau... tapi kamu janji nggak marah."
"Aku nggak akan marah," jawab Deven lembut.
Marcha perlahan menurunkan tangannya, bekas tamparan itu masih samar kemerahan.
Rahang Deven mengeras.
"Itu kayak bekas cakaran, siapa yang nyakar kamu?" Suaranya naik sedikit.
"Dev... tadi kamu janji."
"Aku cuma tanya siapa."
Marcha menghela napas panjang lalu menceritakan semuanya.
"Shanna?" Deven hampir nggak percaya. "Dia nampar kamu di depan umum?"
"Dia marah, dia pikir aku yang ngajak anak-anak ninggalin dia," jelas Marcha cepat. "Udah selesai kok."
"Udah selesai gimana? Dia nggak boleh sembarangan nampar orang." Deven mengusap pipi Marcha dengan sangat hati-hati.
"Ya udah. Biarin aja. Aku nggak apa-apa."
"Kalau dia ulangin lagi?"
"Aku nggak bakal ketemu dia lagi tadi cuma kebetulan."
Deven menghela napas berat. "Ini harus dikasih obat, aku nggak mau ada bekas."
Marcha tersenyum kecil. "Dokter banget."
"Kamu pikir aku apa? Barista?"
"Barista kan bikin kopi Vietnam enak," gumam Marcha.
Deven hampir tersenyum tapi masih menahan kesal.
"Kalau sampai dia berani sentuh kamu lagi, aku laporin polisi," katanya pelan tapi tegas.
"Dev, jangan," Marcha cepat-cepat menoleh. "Kita nggak bisa balas kekerasan dengan kekerasan cukup sampai sini aja."
"Tapi Cha—"
"Udah. Go." Marcha menunjuk kaca depan mobil sambil tersenyum cerah, secerah mungkin.
Deven menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menjalankan mobil.

Sesampainya di apartemen, Marcha pikir Deven akan langsung balik kerja ternyata Deven menelepon rumah sakit.
"Saya kembali agak terlambat sekitar satu jam... iya, terima kasih."
Marcha menatapnya. "Kamu bisa langsung pergi, Dev... aku nggak apa-apa."
"Aku oles obat dulu."
"Aku bukan anak kecil."
"Diem."
Marcha langsung duduk manis. Deven mengambil kapas dan obat, lalu mengolesnya dengan sangat pelan.
"Kalau sakit bilang," katanya lembut.
Marcha menelan ludah. Sakitnya hampir nggak terasa. Yang terasa justru hangatnya perhatian itu.
Setelah selesai, Deven berdiri. "Sekarang tidur."
"Aku mau cek email Deca dulu—"
"T i d u r," ulang Deven tegas.
"Bossy banget sih."
"Kamu kalau nggak diginiin ngeyel."
Ia mendorong pelan bahu Marcha ke arah kamar.
"Kamu nggak nemenin aku tidur kan?" tanya Marcha sambil duduk di tepi ranjang.
"Temenin. Aku lihat kamu tidur dulu baru pergi."
"Kerjaanmu?"
"Kamu lebih penting., semakin cepat kamu tidur, semakin cepat aku balik kerja."
Marcha menyerah. Ia masuk ke dalam selimut. Beberapa detik kemudian ia merasakan Deven mendekat dan mencium keningnya pelan.
"Jangan bikin aku khawatir lagi," bisik Deven.
Marcha tadinya mau pura-pura tidur tapi entah kenapa, dengan bau parfum Deven di bantal dan rasa aman yang menenangkan itu... ia benar-benar tertidur.
Keesokan paginya, ia terbangun sendirian, tempat di sebelahnya kosong tapi di meja samping ranjang ada secarik kertas kecil:
Obat oles lagi pagi ini. Jangan bandel.
Marcha tersenyum. Dokter cinta 1 memang rese tapi juga... rumah paling aman.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang