Sejak ulang tahun itu...yang seharusnya jadi malam paling bahagia—justru berubah jadi sesuatu yang... menggantung dan sejak malam itu juga...hubungan Marcha dan Deven ikut berubah
Marcha sadar.
Dia memang bilang ke Deven untuk "pikir dulu." tapi...pikir itu bukan berarti menghilang, bukan berarti tiba-tiba jadi dingin, bukan berarti... menghindar. Marcha menghela napas pelan. Dia bisa menerima Deven apa adanya. Pekerjaannya. Keluarganya. Semua tentang Deven tapi apa dia adil ke Deven?
Keluarganya menuntut terlalu banyak dan Marcha tau itu, makanya dia minta Deven berpikir bukan untuk menjauh tapi untuk benar-benar yakin. Ya, dia juga sadar. Setelah bilang "iya"—lalu mengembalikan cincin itu... itu agak keterlaluan, sangat, malah tapi Marcha juga nggak mau...tiba-tiba semua orang di rumah nanya "kapan nikah?" sementara Deven sendiri belum benar-benar siap karena meskipun Deven bilang bisa... Marcha nggak yakin dia benar-benar siap dan sekarang... yang terjadi justru ini, Deven berubah.
Hari itu, setelah pulang—Deven cuma pamit, singkat tanpa banyak kata dan malam itu...dia nggak balas chat Marcha padahal biasanya Belum ditanya pun dia sudah laporan, Sekarang? Dibalasnya... besok pagi, itu pun singkat, dingin
Hari-hari berikutnya... lebih parah, balasan makin jarang, kalimat makin pendek, telepon? Hampir nggak pernah diangkat, Marcha mulai gelisah.
Dia tau jadwal Deven, tau kapan dia sibuk, tau kapan dia seharusnya sudah istirahat dan... dia yakin—beberapa telepon itu dilakukan di waktu yang tepat tapi tetap...nggak diangkat, biasanya...Deven yang lebih dulu menelepon, Sekarang? Diam, seolah-olah...Marcha lagi di-mute dari hidupnya dan itu yang paling bikin takut, bukan marah, bukan tengkar tapi...ditinggalkan pelan-pelan.
Dengan tangan sedikit gemetar, Marcha mencoba menelepon lagi.
Tersambung.
Tapi—
"Hei, Cha."
Marcha langsung duduk tegak "Kevin?" Alisnya mengerut "Kok lo yang angkat? Lo lagi sama Deven?"
"Iya," jawab Kevin santai. "Cowok lo lagi mabok."
"Hah?!" Marcha langsung berdiri. "Lo di mana? Deven di mana?!"
"Di apartnya dia sama gue," kata Kevin. "Dan... maboknya nggak lucu."
Marcha langsung ambil tas "Gue ke sana."
"Ngapain?" tanya Kevin. "Dia udah tidur. Kayak mayat... tapi masih napas."
"Vin..." suara Marcha mulai panik. "Dia nggak apa-apa kan?"
"Secara fisik? Aman," jawab Kevin. "Secara mental... kayaknya lagi berantakan."
Marcha terdiam.
Kevin lanjut "Tadi di jalan dia sempat muntah. Mobilnya masih parkir di Bart."
"Oke, mobilnya gue urus," kata Marcha cepat. "Tapi Deven beneran nggak apa-apa?"
"Gue rasa nggak kenapa-kenapa," kata Kevin. "Cuma... ya itu tadi. Kayaknya lagi ada yang dipikirin."
"Maksud lo?" tanya Marcha pelan.
Kevin menghela napas "Tadi gue tanya kenapa dia nggak angkat telepon lo..."
Marcha menahan napas "Dia bilang... 'tunggu aja sampai deringnya berhenti.'"
Deg.
Seolah ada sesuatu yang jatuh... di dalam dada Marcha jadi... selama ini...Deven sengaja? Sengaja dengerin teleponnya... tapi milih nggak angkat?
"Cha? Lo masih di sana?" suara Kevin memecah hening.
"Iya..." suara Marcha pelan. "Gue ke apartnya sekarang sekalian urus mobil."
"Sebenernya lo nggak perlu ke sini," kata Kevin. "Dia lagi tidur dan percayalah... posisi tidurnya tidak manusiawi."
Marcha hampir ketawa... tapi gagal "Gue perlu ngomong sama dia, Vin."
Kevin diam sebentar "Lo sama dia ada masalah?"
Marcha menarik napas panjang "Menurut lo... kalau dia nggak angkat telepon gue, itu bukan masalah?"
Kevin mengangkat alis, meski tak terlihat "Ya... valid sih." Dia menambahkan pelan "Ngomongnya santai aja ya, Cha. Gue nggak ikut campur."
"Sorry ya, Vin..." suara Marcha melemah. "Gue bener-bener bingung sekarang."
"Gue ngerti," kata Kevin. "Percaya deh... lo nggak sendirian."
Marcha langsung nangkep maksudnya "Shannon?" tanyanya pelan.
Kevin langsung mendengus kecil "Lo beresin dulu Deven lo. Baru lo bahas hidup gue."
Marcha tersenyum tipis "Ya udah... gue ke sana sekarang. Thanks ya, Vin."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Tut.
Telepon ditutup. Kamar terasa tiba-tiba sepi, Marcha berdiri diam beberapa detik, pikirannya penuh kalau nanti ketemu Deven...dia harus ngomong apa?
Marah?
Tanya?
Atau... pura-pura biasa aja?
Marcha menghela napas panjang "Kenapa sih jadi kayak gini..." gumamnya pelan. Dia mengambil tas, keluar kamar lalu pamit ke papi dan maminya—menuju apart Deven.
Dengan satu perasaan yang terus mengganggu: takut... kalau semuanya sudah berubah.
Sepi.
Ya jelas.
Kevin pasti sudah pulang
Marcha melangkah pelan ke arah kamar Deven,lampunya mati. Gelap tapi entah kenapa... dalam gelap itu, wajah Deven tetap terlihat jelas di matanya.
Mungkin karena dia sudah terlalu hafal.
Marcha mendekat, duduk di tepi tempat tidur. Deven terbaring dengan mata terpejam, bau alkohol masih kuat, bajunya sudah dilepas—tinggal celana jeans. Pasti Kevin yang bantuin, Marcha menghela napas pelan lalu mengulurkan tangan...menyentuh wajah Deven dengan lembut.
Hangat.
Nyata.
Suara napas Deven terdengar berat lalu—
"Aku tau kamu bakal datang..." Suara serak itu pelan... tapi jelas.
Marcha langsung sedikit kaget "Eh... kamu bangun?"
"Hm..." jawab Deven pelan. "Tadi ke kamar mandi... muntah."
Marcha langsung mengernyit "Kamu minum berapa?"
Deven diam sebentar, seperti berpikir "Lupa."
Marcha menggeleng pelan "Kamu jangan gini lagi ya," katanya lembut. "Minum dikit nggak apa-apa... tapi jangan sampai mabok. Nggak baik buat badan kamu."
"Iya..." jawab Deven singkat.
Matanya tetap terpejam dan dari situ saja...Marcha sudah tau. Deven... nggak mau ngobrol
Marcha menarik napas pelan "Kamu kenapa nggak angkat telepon aku?" tanyanya pelan. "Dan jarang balas chat aku?"
"Kita bahas besok aja, Cha..." jawab Deven.
Marcha menatapnya "Kamu nggak angkat telepon aku... nggak balas chat aku... terus tiba-tiba mabok kayak gini..." suaranya mulai bergetar "Kalau kamu ada masalah sama aku... ngomong, Dev."
Hening.
"Kamu yang minta aku mikir, Cha," kata Deven pelan "Kamu maunya apa?"
Marcha menahan napas. "Aku minta kamu mikir... bukan ngehindarin aku," katanya. "Dan kamu tau kenapa aku minta itu."
Deven membuka mata perlahan "Syarat dari papi kamu, kan?"
Marcha mengangguk pelan "Iya, aku—"
"Aku setuju," potong Deven.
Marcha terdiam.
"Aku mau," lanjut Deven. "Aku terima."
Marcha langsung menggeleng.
"Kamu setuju karena aku," katanya pelan. "Aku nggak mau itu."
Deven mengernyit.
"Kalau kamu nikah sama aku... kamu masuk ke keluargaku, Dev. Kamu harus terima semuanya. Bukan cuma aku."
"Aku terima," jawab Deven tegas. "Aku udah bilang dari kemarin."
"Kemarin kamu keberatan soal saham," balas Marcha pelan.
"Aku bukan keberatan," kata Deven. "Aku cuma mikir... biar nggak ada konflik sama om dan tante kamu." Dia menatap Marcha "Tapi kalau itu tetap jadi syarat... aku nggak peduli. Aku tetap mau nikah sama kamu."
Marcha terdiam.
"Aku cuma mau kamu benar-benar mikir tentang ini," katanya pelan "Kamu nggak bisa menghindari konflik nanti. Kamu bakal berhadapan sama keluargaku. Kamu yakin?"
Deven perlahan duduk, mendekat lalu menggenggam tangan Marcha, matanya menatap dalam.
"Aku yakin," katanya pelan. "Nikah sama kamu berarti aku terima semuanya tentang kamu."
Marcha menatapnya.
"Bahkan kalau itu berarti... aku harus hadapin keluarga kamu ke depannya."
Marcha menghela napas.
"Dev... kamu belum kenal mereka," katanya lirih. "Om, tante... sepupu-sepupuku... mereka nggak mudah."
"Cha," potong Deven pelan. "Aku sudah memutuskan. Kita hadapi bareng."
Marcha menggeleng "Aku mau hadapi ini bareng kamu," katanya. "Tapi... bukan dengan cara kamu tutup mata."
Deven diam.
"Cha... Percaya sama gue," lanjut Deven pelan.
Marcha menatapnya lama.
"Aku percaya kamu," katanya akhirnya. "Tapi ini bukan cuma tentang kamu."
Hening.
"Ini tentang dua keluarga." Marcha menatap lebih dalam "Kamu sudah bilang ke keluargamu?"
Deven langsung diam. Pandangan matanya turun. Marcha sudah tau jawabannya.
"Kamu fokus ke aku dan keluargaku..." kata Marcha pelan. "Tapi kamu belum bawa ini ke keluargamu sendiri."
Deven mengusap wajahnya "Kamu mau aku kasih tau sekarang?" tanyanya. "Aku bisa telepon mereka."
Marcha menggeleng pelan "Bukan cuma bilang kamu melamar aku," katanya "Tapi semua syarat dari papi aku juga."
Deven terdiam lagi. Terlihat ragu. Marcha mendekat sedikit. Memegang pundaknya.
"Kamu pikirkan ini baik-baik," katanya lembut "Bukan cuma buat kita... tapi buat semua."
Deven menarik napas panjang "Mereka pasti setuju..." gumamnya.
Marcha tersenyum tipis "Mungkin," katanya "Tapi tetap... kamu harus dengar langsung dari mereka." Dia menatap Deven hangat "Setelah itu... kita bisa bicara lagi."
Hening sejenak.
Deven melirik ke arah meja samping, membuka laci, mengambil kotak kecil itu. Cincin, dia membukanya. Biru aquamarine itu berkilau redup di cahaya kamar.
"Terus... ini gimana?" tanya Deven pelan.
Marcha menatap cincin itu, lama... lalu tersenyum lembut.
"Kamu simpan dulu," katanya.
Deven menatapnya.
"Kalau kamu sudah bicara sama keluargamu... mereka menerima... dan kamu sudah benar-benar yakin..." Dia menatap Deven. "Aku nggak punya alasan untuk nggak pakai cincin itu lagi."
Hening.
Marcha menghela napas pelan "Dan satu lagi..."
Deven mengangkat wajahnya.
Marcha menatapnya dalam "Jangan ngehindarin aku lagi." Suaranya lembut... tapi tegas "Aku minta kamu mikir... bukan menjauh."
Kali ini...Deven tidak menjawab tapi genggamannya di tangan Marcha...sedikit mengerat, Seolah akhirnya—dia mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
