Shanna menatap layar ponselnya sejak tadi. Berita tentang Betrand dan Anneth masih memenuhi media sosial. Headline demi headline terus bermunculan. Betrand memenangkan gugatan. Anneth resmi ditahan. Pengacara Betrand banjir pujian publik dan nama Kevin...ada di mana-mana.
Shanna sebenarnya tidak kaget kalau soal menang atau kalah—dia sudah tau dari awal Kevin kemungkinan besar akan memenangkan kasus itu. Kevin terlalu pintar untuk kalah dan Anneth memang melakukan kesalahan tapi justru karena itulah semuanya jadi makin rumit. Shanna memeluk lututnya di atas sofa sambil menatap kosong layar HP.
Sekarang...
rasanya makin sulit untuk sekadar berteman dengan Kevin bukan cuma karena masalah Anneth dan Betrand tapi juga karena dirinya sendiri karena kata-kata yang dia ucapkan malam itu. Shanna memejamkan mata pelan, dia masih ingat jelas nada suara Kevin waktu itu. Kecewa. Lelah dan... sakit hati.
Shanna tau dia sudah menyakiti Kevin tapi waktu itu dia benar-benar panik. Hubungannya dengan Anneth sedang ramai dibahas media, fans-fansnya mulai ikut campur, komentar jahat ada di mana-mana dan di tengah semua itu—Kevin malah terseret.
Padahal...Shanna belum siap menjalani hubungan serius lagi. Gagalnya pertunangannya dengan Deven masih meninggalkan bekas yang besar dalam hidupnya. Dia belum siap membuka hati sepenuhnya apalagi untuk Kevin. Seseorang yang terlalu penting untuk dia kehilangan karena kalau hubungan itu gagal... Shanna takut dia bukan cuma kehilangan calon pasangan tapi juga kehilangan sahabat terbaiknya dan sekarang...bahkan status sahabat pun rasanya sudah tidak tersisa di antara mereka.
Kevin benar-benar menghilang. Semua jalur komunikasi Shanna diblok. Chat tidak terkirim. Telepon langsung ditolak bahkan media sosialnya tidak bisa lagi diakses. Shanna sempat datang ke kantor Kevin tapi dia hanya berhasil bertemu sekretaris Kevin yang terlihat canggung dan yang lebih memalukan—satpam sampai mengantarnya keluar dengan tatapan kasihan.
Saat itu Shanna baru sadar, Kevin benar-benar marah dan itu membuat dadanya terasa sesak. Shanna pikir pertengkaran mereka lewat telepon waktu itu sudah jadi yang terburuk, ternyata belum karena sekarang Anneth ditahan polisi dan mami Anneth marah besar. Beliau menyalahkan Kevin sepenuhnya, menurut beliau, kalau saja Betrand tidak memakai Kevin sebagai pengacara—Anneth tidak akan sampai ditahan dan sebagai keponakannya...Shanna dilarang berhubungan dengan Kevin bahkan sekadar berteman. Shanna menghela napas panjang sambil menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa.
Lucu ya...padahal tanpa larangan itu pun hubungannya dengan Kevin sudah hancur duluan. Dia bahkan tidak tau harus mulai memperbaikinya dari mana, tatapan Shanna perlahan jatuh ke layar ponselnya lagi. Ada satu nama yang terus muncul di pikirannya.
Marcha.
Shanna menggigit bibir bawahnya pelan, dia ragu, sangat ragu. Dia baru saja berbaikan dengan Marcha, hubungan mereka memang sudah membaik tapi belum benar-benar kembali seperti dulu. Mereka masih sering canggung. Chat juga tidak sesering dulu dan sekarang...Shanna mau datang membawa masalah lagi?
Shanna memejamkan mata sambil berpikir keras. Apa tidak ada cara lain?, Apa dia benar-benar harus melibatkan Marcha? Tapi semakin dipikir...semakin Shanna sadar, Marcha mungkin satu-satunya orang yang masih bisa bicara dengan Kevin tanpa ditolak.
Shanna menunduk menatap jemarinya sendiri. Jujur saja...bahkan kalau nanti dia berhasil berbaikan dengan Kevin—dia masih belum benar-benar mengerti perasaannya sendiri. Bagaimana kalau mereka pacaran lalu bertengkar? Bagaimana kalau mereka putus? Apa hubungan mereka akan lebih buruk dari sekarang? Apa mereka akan jadi asing selamanya?
Shanna takut, ia takut mengambil langkah yang salah lagi tapi di sisi lain...hari-harinya terasa berbeda tanpa Kevin. Kosong. Aneh dan terlalu sepi.
Kevin selalu ada. Waktu dia senang. Waktu dia jatuh. Waktu semua orang menjauh bahkan hubungannya dengan Marcha membaik pun karena Kevin yang mendorong semuanya.
Kevin sudah melakukan banyak hal untuk hidupnya dan mungkin...kali ini giliran Shanna yang harus berusaha.
Shanna menarik napas panjang lalu mengambil ponselnya perlahan. Jarinya sempat berhenti beberapa detik di atas nama Marcha. Ragu. Takut. Malu tapi akhirnya—Shanna menekan tombol panggil itu juga bahkan sebelum Shanna sempat berkata "hallo"—
"Dev..." panggil suara di ujung sana cepat.
Shanna langsung tertawa kecil "Hallo Cha, gue Shanna... bukan Deven."
"Hah?" Marcha langsung terdengar panik kecil. "Oh my God, sorry Shan. Gue kira Deven yang nelepon."
Shanna makin geli "Ya gue paham sih," katanya sambil nyengir sendiri. "Nada dering gue kalah romantis dibanding cowok lo."
Marcha tertawa pelan di sana "Sorry ya."
"Santai," kata Shanna. "Ehm... Cha, lo lagi sama Kevin nggak?"
"Kevin?" ulang Marcha bingung. "Enggak. Dia sekarang lagi sibuk banget sama kasusnya Betrand."
"Oh..." Shanna menunduk pelan. "Jadi dia nggak ke tempat lo?"
"Hari ini enggak," jawab Marcha. "Kenapa?"
"Kapan dia biasanya ke tempat lo?"
"Hm..." Marcha terdengar berpikir. "Harusnya sih besok lusa. Gue sama dia ada urusan kerjaan. Emang kenapa, Shan?"
Shanna menggigit bibir bawahnya sebentar "Gue sama Kevin tengkar..." katanya pelan. "Terus dia ngeblok semua jalur komunikasi gue."
Marcha langsung diam sebentar "Hm... gue tau."
Shanna mengernyit "Kevin cerita?"
"Iya."
"Apa katanya?" tanya Shanna cepat.
Marcha menghela napas kecil "Dia bilang... lo main-main sama perasaannya."
"Apa??" Shanna langsung duduk tegak. "Cha!"
"Ya itu yang dia rasain," jawab Marcha tenang. "Dia bilang dia udah berusaha banget supaya lo bisa lihat ketulusannya." Marcha berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Dan menurut dia... pada akhirnya lo lebih milih fans lo, popularitas lo, dibanding perasaannya sebagai cowok."
Shanna langsung memejamkan mata.
"Cha..." gumamnya lemah.
"Dia bahkan bilang," lanjut Marcha pelan, "sikap lo ke dia mirip kayak dulu sikap Anneth ke Deven."
"Loh kok jadi nyambung ke situ?!" protes Shanna cepat. "Cha, lo tau khan Kevin itu pengacaranya Betrand dan sekarang Betrand lagi masalah sama Anneth sedangkan Anneth itu sepupu gue."
"I know."
"Gue bukan mau mempermainkan Kevin," lanjut Shanna cepat. "Gue cuma... masih bingung sama perasaan gue sendiri."
Marcha terdiam beberapa detik "Gue ngerti," katanya akhirnya. "Tapi Shan... lo juga udah gantungin dia lama."
Shanna langsung nyender lemas ke sofa "Alasan dia ngeblok gue tuh apa sih?" gerutunya. "Emang gue debt collector sampai harus diblok semua?"
Marcha malah ketawa kecil "Kevin bilang dia mau move on dari lo."
Deg.
Kalimat itu langsung bikin dada Shanna sesak.
"Dia bilang dia mau melupakan semua tentang lo," lanjut Marcha pelan. "Dan mulai hidupnya lagi sebelum lo muncul lagi."
Shanna menunduk, tangannya perlahan menggenggam erat ponsel jadi...Kevin benar-benar mau pergi? padahal selama beberapa bulan terakhir—Kevin selalu ada, waktu dia nangis, waktu dia dihujat, waktu dia sendirian dan sekarang...cowok itu malah mau menghilang dari hidupnya.
"Dia mau selesai sama gue?" tanya Shanna lirih.
"Kalian aja belum mulai," jawab Marcha ringan. "Mau selesai gimana?"
"Lo belain dia ya sekarang?" gumam Shanna.
"Gue nggak belain siapa-siapa," jawab Marcha santai. "Tapi lo memang harus tegas sama perasaan lo sendiri, Shan."
"Gue pengen jadi temennya dulu..."
"Lo tau dia nggak mau cuma jadi temen."
"Ya tapi—"
"Shan," potong Marcha lembut, "Kevin itu udah nunggu lo lama."
Shanna langsung mengacak rambutnya frustrasi "Ya ampun... kenapa hidup gue ribet banget sih."
Marcha malah ketawa kecil. "Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri."
"Lo paling masalah kerjaan."
Terdengar tawa pelan dari Marcha "Gue juga lagi ada masalah sama Deven."
Shanna langsung diam.
"Lah?" katanya kaget. "Kalian berantem?"
"Makanya tadi gue langsung manggil 'Dev' waktu angkat telepon," jawab Marcha lelah. "Gue pikir dia akhirnya nelepon."
"Ada apa emang?"
"Gue nggak tau Deven di mana," kata Marcha pelan. "HP-nya mati dari kemarin pagi."
"Hah?"
"Gue bahkan telepon rumah sakit," lanjut Marcha. "Operator bilang dia sibuk operasi tapi..."
"Ngilang satu hari?" sambung Shanna.
"Iya."
Shanna langsung meringis.
"Cha..." katanya hati-hati. "Lo nggak di-ghosting khan?"
Marcha menghela napas panjang "Gue sama Deven memang lagi ada masalah," katanya lirih. "Tapi dia janji nggak bakal ngehindarin gue."
"Tapi?"
"Tapi..." Marcha terdiam sebentar. "Mungkin gue bakal putus sama Deven."
"PUTUS?!" Shanna hampir teriak. "Yang bener aja lo, Cha?! Itu cowok cinta mati sama lo!"
Marcha tertawa kecil, tapi terdengar pahit "Kadang cinta aja nggak cukup, Shan."
Kalimat itu langsung membuat Shanna ikut diam karena jauh di dalam hati—dia paham banget maksud Marcha.
"Lo lagi ngapain sekarang?" tanya Marcha mengalihkan topik.
"Di rumah," jawab Shanna malas. "Nyokap nggak ngebolehin gue keluar gara-gara kasus Anneth."
"Masih rame di media?"
"Banget," keluh Shanna. "Belum lagi maminya Anneth marah-marah terus."
"Marah sama lo kenapa?"
"Ya karena Kevin," jawab Shanna. "Katanya gue nggak boleh dekat sama cowok yang bikin sepupu gue masuk penjara."
Marcha langsung ketawa kecil "Ribet juga keluarga lo."
"Lah keluarga lo emang nggak ribet?"
"Oh iya juga," jawab Marcha cepat.
Mereka malah sama-sama ketawa dan anehnya...obrolan itu terasa nyaman lagi seperti dulu.
"Eh Cha..." Shanna kembali serius. "Tolongin gue dong ketemu Kevin."
Marcha langsung diam sebentar.
"Lo udah tau mau ngomong apa ke dia?"
"Kurang lebih..."
"Kurang lebih itu biasanya tanda orang belum siap," celetuk Marcha.
"Yaelah."
"Tapi ya udah," lanjut Marcha. "Nanti gue coba lihat situasi Kevin dulu."
"Please Cha..."
"Tapi gue nggak janji ya," kata Marcha jujur. "Kevin belum tentu mau ketemu lo."
"Ya setidaknya kita usaha dulu."
Marcha menghela napas kecil "Iya. Akan gue usahain."
Shanna tersenyum tipis "Thanks ya, Cha."
"Jangan bilang thanks dulu," jawab Marcha cepat. "Gue belum berhasil bantu apa-apa."
Shanna terdiam sebentar sebelum berkata pelan "Setelah semua yang gue lakuin ke lo... gue baru sadar lo tulus banget sama gue."
Marcha tertawa kecil. "Jangan mellow gitu dong, gue takut."
Shanna ikut tertawa "Tapi serius..."
"Hm?"
"Thanks ya."
Marcha tersenyum kecil meskipun Shanna tidak bisa melihatnya.
"Kalau lo butuh temen curhat," kata Shanna lagi, "gue ada kok buat lo."
Marcha tertawa pelan. "Gue tau," katanya lembut. "Nggak ada sahabat sebaik lo di dunia gue."
"Same here."
"Ya udah sana tidur," kata Marcha. "Muka lo pasti udah kayak zombie galau."
"Eh enak aja."
"Bye Shan."
"Bye Cha... kabarin gue ya soal Kevin."
"Iya."
Telepon pun terputus dan selama beberapa jam...Shanna terus berharap, ia berharap Marcha bisa jadi keajaiban kecil buat hubungannya dengan Kevin tapi malam harinya—chat dari Marcha masu
Sorry Shan... Kevin marah banget dan dia nggak ngebolehin gue ikut campur urusan kalian.
Shanna menatap layar ponselnya lama lalu perlahan merebahkan tubuhnya ke sofa.
Kosong.
Sekarang dia benar-benar nggak tau harus gimana lagi kalau bahkan Marcha pun nggak bisa membantu...terus siapa lagi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
