On Off (Deven)

68 7 1
                                        

Badan Deven rasanya remuk.
Harusnya hari ini dia off, tidur cantik—eh, ganteng—di apartemen sambil nonton series gak jelas. Tapi hidup memang suka bercanda. Tiga operasi mendadak masuk sekaligus, dan semuanya cuma bisa ditangani dia jadilah sekarang punggungnya pegal, lehernya kaku, kepala cenat-cenut seperti habis dipukul rame-rame pakai map rekam medis tapi di tengah capek yang nyaris bikin otaknya blank, ada satu hal yang gak berhenti dia pikirin.
Marcha.
Deven bahkan gak pernah berhenti ngechat atau nelepon Marcha di sela-sela kerja. Masalahnya, sekarang justru Marcha yang menghindar dan itu lebih bikin Deven stres daripada ruang operasi penuh alarm bunyi.
Mereka LDR.
Kalau Marcha menghilang begini, Deven bahkan gak bisa langsung nyamperin dan maksa ngobrol baik-baik.
Maju salah.
Mundur? Dia gak mau.
Deven udah sejauh ini sama Marcha. Dari masa SMA, salah paham bertahun-tahun, balikan lagi, sampai hampir nikah, mana mungkin dia nyerah sekarang? Kalau perlu jungkir balik demi hubungan ini, dia bakal lakuin, asal Marcha mau ngomong sama dia dulu.
Deven memijat pelipisnya sambil merebahkan badan di kasur apartemen. Matanya baru merem beberapa menit ketika suara ponselnya berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
"Siapa sih..." gumamnya serak.
Dengan mata masih setengah tertutup, Deven meraba ponsel di samping bantal lalu mengangkat telepon itu.
"Halo..." suaranya berat karena ngantuk.
"Halo. Kamu tidur?"
Mata Deven langsung terbuka sempurna, suara Marcha, reflek dia langsung duduk.
"Eh... kamu telepon, Cha..." katanya cepat, bahkan suara ngantuknya langsung hilang setengah.
Di seberang sana, Marcha menghela napas pelan "Ya. Kamu kenapa sih? Kata Kevin kamu lagi pusing, ada masalah, stres?" tanyanya terdengar khawatir.
Deven langsung menutup mata sambil mengusap wajahnya. Kevin lagi.
"Pusing? Stres?" ulangnya bingung.
"Iya. Katanya kamu mau keluar dari kerjaanmu di rumah sakit sekarang," kata Marcha. "Kenapa kamu keluar?"
Deven menghela napas panjang, sumpah, suatu hari Kevin bakal dia cekik pakai stetoskop.
"Aku memang ada rencana keluar, tapi bukan sekarang juga, Cha," jawabnya pelan.
"Kamu ngomong apa sama Kevin?"
"Aku bilang itu masih rencana, Ke—"
"Kamu sekarang udah mulai berani bohong-bohong sama aku ya?"
Kalimat itu langsung bikin Deven diam.
"Kamu tau gak aku marah sama kamu kenapa?" lanjut Marcha.
"Kamu cemburu sama Shannon," jawab Deven spontan.
"Hah?" Nada Marcha naik satu oktaf "Ngapain aku cemburu sama Shannon? Aku juga bukan gak percaya sama kamu, tapi aku marah karena kamu bohong!" kata Marcha kesal. "Satu kebohongan belum selesai, kamu bohong lagi. Masalah kita yang kemarin belum kelar, kamu tambahin masalah baru. Kamu maunya gimana sih sama hubungan ini?"
Deven langsung mengusap wajahnya kasar "Cha, aku bohong karena aku gak mau kamu salah paham sama Shannon," katanya cepat. "Aku gak mau kita tengkar terus."
"Lebih baik kamu jujur daripada bohong," balas Marcha tegas. "Kalau memang ketemu Shannon, bilang aja. Jelasin alasannya. Kamu hibur dia karena dia lagi ada masalah sama Anneth dan Kevin. Aku juga tau Shannon lagi ada masalah."
Deven membuka mulut, tapi Marcha belum selesai.
"Masa iya aku langsung cemburu cuma gara-gara itu?"
"Kemarin kamu cemburu," gumam Deven pelan.
"Aku gak cemburu!" protes Marcha cepat. "Aku cuma nanya soal Anneth buka aib keluarganya sendiri di media. Kamu bedain dong orang nanya sama orang cemburu."
Deven langsung nyender ke headboard kasur dalam hati dia pengin bilang: Iya iya salah, Yang Mulia tapi kalau diucapin sekarang, kemungkinan besar dia langsung diputusin live on call.
"Aku kemarin udah minta maaf," katanya akhirnya. "Kalau sekarang aku bikin kamu marah lagi... aku minta maaf, Cha."
"Kamu pikir maaf itu cukup?"
Waduh, nada itu. Nada CEO mode aktif.
"Kamu bohong, minta maaf. Bohong lagi, minta maaf lagi. Maaf, maaf, maaf," kata Marcha. "Apa artinya maaf kalau kamu masih ngelakuin hal yang sama?"
Deven langsung terdiam karena kali ini... Marcha benar.
"Jadi kamu maunya gimana, Cha?" tanyanya pelan. "Apa ngehindarin aku juga solusi?"
"Aku bukan menghindar," jawab Marcha lebih tenang. "Aku cuma mau kamu mikir salah kamu apa kalau aku gak diem, kamu gak bakal sadar aku marah."
"Tapi aku cuma bohong masalah sepele..."
"Bohong itu tetap bohong, Dev," potong Marcha cepat. "Entah itu kecil atau besar kalau hal sepele aja kamu bisa bohong, gimana hal besar?"
Kalimat itu nusuk banget sampai Deven gak bisa jawab apa-apa, dia sadar... Awalnya dia cuma mau menghindari pertengkaran tapi justru kebohongan kecil itu bikin masalah mereka makin besar.
"Udah," kata Marcha akhirnya. "Aku mau tidur. Udah tengah malam di sini."
Deven menunduk sambil memainkan ujung selimut.
"Kalau kamu capek, tidur sana," lanjut Marcha. "Jangan ngomong ngelantur cuma supaya aku telepon kamu kalau kamu terus bohong kayak gini... kapan aku bisa percaya lagi?"
Deven menelan ludah.
"Ya, Cha..." katanya lirih. "Tapi kalau aku chat atau telepon, balas ya. Gimana aku mau nunjukin kalau aku berubah kalau kamu gak mau komunikasi sama aku?"
Marcha diam beberapa detik, sunyi itu bikin Deven makin tegang sampai akhirnya Marcha menghela napas pelan.
"Ya udah," katanya. "Kalau kamu memang sadar salah kamu dan mau berubah... oke."
Deven langsung memejamkan mata lega, rasanya kayak baru lolos operasi tanpa komplikasi "Ya udah kalau gitu..." katanya sambil tersenyum kecil. "Aku mau tidur lagi. Beberapa hari ini aku gak bisa tidur."
"Kenapa gak bisa tidur?" tanya Marcha, nadanya langsung berubah lebih lembut.
"Aku kepikiran," jawab Deven jujur. "Hubungan kita bakal bertahan gak kalau terus begini? Masalah kita sebelumnya aja belum selesai."
"Kamu mau ngakhirin hubungan ini?" tanya Marcha cepat.
"Hah? Enggak!" Deven langsung duduk tegak. "Aku gak bilang gitu. Aku cuma takut..." Dia mengusap wajahnya frustrasi "Aku takut kita capek sendiri."
Marcha terdiam cukup lama "Ya... aku ngerti," katanya akhirnya. "Kalau hubungan kita terus kayak gini, mungkin lebih baik putus."
"Cha." Nada Deven langsung serius "Aku mau kita berjuang. Bukan nyerah segampang itu."
"Tapi kita beda, Dev," kata Marcha lirih. "Cara pikir kita beda. Cara kita lihat masalah juga beda."
"Kita belajar," balas Deven cepat. "Pelan-pelan."
Marcha diam lagi dan Deven rasanya mau lompat dari lantai dua saking tegangnya nunggu jawaban.
"Aku cinta kamu, Cha," katanya pelan. "Aku gak bakal ngelepasin kamu gitu aja."
Suara Marcha terdengar lembut setelah itu "Aku gak mau kamu berubah demi aku, berubah lah karena kamu memang mau jadi manusia yang lebih baik, buka  karena takut kehilangan aku."
Kalimat itu bikin dada Deven menghangat "Aku akan berubah," katanya pelan. "Buat diriku sendiri... dan buat masa depan kita."
"Hm."
Deven bisa membayangkan Marcha lagi senyum kecil di sana.
"Ya udah," kata Marcha akhirnya. "Kita sama-sama usaha jadi manusia lebih baik."
Deven langsung menghela napas lega panjang "I love you," katanya lembut.
Marcha tertawa kecil di ujung telepon "I love you too."
Senyum Deven langsung lebar banget sampai pipinya pegal sendiri "Ya udah sana tidur," katanya. "Besok bangun kabarin aku."
"Iya," jawab Marcha. "Bye."
"Bye, sayang."
Telepon terputus.
Deven menjatuhkan tubuhnya lagi ke kasur sambil menatap langit-langit kamar. Capeknya belum hilang, masalahnya juga belum selesai tapi setidaknya sekarang... dia masih punya Marcha dan setidaknya sekarang mereka udah ngomong lagi tanpa saling ancam putus setiap lima menit sekali, itu perkembangan bagus, belum sempat Deven rebahan lagi, ponselnya berdering.
Kevin.
Deven langsung memijat pelipisnya Deven dan Kevin ngobrol lumayan lama setelah telepon ditutup, Deven kembali menatap layar ponselnya.
Kalender. Abu Dhabi.
Gak lama lagi dia harus berangkat ke sana untuk konferensi medis sekaligus kerja sama rumah sakit. Deven mengusap wajahnya pelan, dia gak tau kapan Marcha pulang ke Indonesia yang dia tau cuma satu—dia pengin cepet ketemu, kangen banget bahkan cuma lihat wajah Marcha lewat video call sekarang rasanya udah gak cukup.
Deven menatap wallpaper lockscreen ponselnya, foto Marcha lagi senyum sambil nyipit karena silau matahari.
Cantik, nyebelin, keras kepala dan tetep jadi perempuan yang paling dia mau.
Deven tersenyum kecil, mau nanti masalahnya apa pun, mau nanti mereka tengkar berapa kali pun, dia tetep pengin hidup sama Marcha kalau perempuan lain mungkin Deven masih bakal ragu tapi Marcha beda.
Marcha bikin dia gak cuma ngelihat perempuan itu sebagai seseorang yang luar biasa... tapi juga bikin Deven pengin jadi versi terbaik
dirinya sendiri karena Deven baru sadar cinta ternyata bisa bikin orang pengin tumbuh.
Deven meletakkan ponselnya di samping bantal sambil masih memandangi wajah Marcha di layar, senyumnya gak hilang.
"Ya ampun, gue bucin banget," gumamnya sendiri sambil ketawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir...Deven tidur nyenyak.

Saat bangun, langit di luar jendela sudah mulai berubah warna.Deven meraba ponselnya sambil mengucek mata.
Empat jam lebih. Lumayan lama buat ukuran tidur siang dokter yang hidupnya biasanya cuma kenal tidur model "merem bentar pas lift turun."
Deven membuka chat, belum ada pesan dari Marcha, sedikit kecewa? Jelas tapi ada chat lain masuk.
Shanna:
Dev, thanks ya udah ngomong sama Kevin... kita ketemu besok lusa.
Deven tersenyum kecil, hubungan Kevin dan Shanna pelan-pelan balik lagi ke titik normal walaupun Deven pribadi masih yakin dua manusia itu sebenernya tinggal tunggu salah satu sadar kalau mereka saling suka, masalahnya dua-duanya keras kepala.
Kevin sok santai.
Shanna sok takut.
Cocok sih. Sama-sama bikin orang emosi.
Deven berjalan keluar kamar lalu menjatuhkan diri ke sofa ruang tamu. TV langsung dia nyalakan buat ngusir sunyi dan... kesalahan besar karena yang muncul lagi-lagi berita tentang Anneth, berikut drama turunannya.
Shanna. Kevin dan tentu saja—dirinya sendiri.
Deven menatap layar TV dengan wajah datar "Ini media kurang kerjaan banget apa gimana sih..." gumamnya.
Narasinya makin lama makin ngawur yang paling bikin dia pengin lempar remote adalah saat host acara gosip itu ngomong dengan penuh semangat "Apakah ini pertanda cinta lama Deven dan Shanna kembali bersemi?"
Deven langsung menatap TV tidak percaya "Bersemi pala lo," gerutunya.
Belum lagi muncul foto dirinya sama Shanna kemarin, sudutnya dramatis banget, padahal kenyataannya? Shanna nangis kayak habis ditinggal dunia, dan Deven cuma nolongin tapi media bikin seolah mereka habis syuting poster sinetron jam tujuh malam.
Deven sudah mau mengganti channel ketika tiba-tiba layar menampilkan sosok yang membuat ekspresinya berubah.
Mami Anneth.
Deven langsung diam.
Wanita itu duduk tenang di acara wawancara, lengkap dengan ekspresi paling tersakiti sedunia dan beberapa detik kemudian
"Semua berita itu tidak benar."
Deven mengernyit.
"Saya juga tidak tau kenapa ada surat seperti itu beredar. Itu bukan tulisan anak saya."
Mata Deven langsung melebar. Hah?
"Ada pihak tertentu yang sengaja menggiring opini publik. Dan saya curiga semua ini ada hubungannya dengan Deven."
Deven langsung duduk tegak "Apa?!"
Bahkan host acaranya sampai keliatan kaget tapi tante Debby lanjut ngomong dengan wajah penuh air mata.
"Deven sejak dulu memang tidak menyukai keluarga kami..."
Deven langsung tertawa pendek saking gak percayanya "Ya iyalah gak suka, orang hidup gue dihancurin," gumamnya.
Namun semakin lama wawancara itu berjalan, semakin panas dada Deven karena tante Debby gak cuma membela diri, dia memutarbalikkan semuanya seolah Anneth hanyalah korban dan Deven adalah dalang, surat pengakuan Anneth itu palsu atas suruhan dirinya.
Deven menatap layar TV tanpa berkedip, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang lama sekali sudah dia kubur pelan-pelan...Naik lagi ke permukaan. Sakit hati. Marah. Muak. Semua rasa yang dulu pernah bikin hidupnya hancur sekarang muncul lagi begitu saja hanya karena melihat wajah wanita itu dan yang paling membuat Deven kesal—dia sebenarnya sudah mau keluar dari semua drama ini. Dia cuma pengin hidup tenang sama Marcha. Nikah. Kerja. Pulang. Berantem kecil soal hal receh kayak odol gak ditutup atau siapa yang habisin es krim terakhir tapi keluarga Anneth terus menariknya balik ke masa lalu dan kali ini... Deven gak yakin dia masih bisa diam aja.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang