Marcha sudah diberi tahu Deven sejak awal. Foto mereka makan di Jimbaran, foto-foto kecil yang terlihat "keluarga banget", tawa yang terlalu jujur—semuanya pasti akan menyebar ke internet.
"Gak apa-apa," kata Deven santai "Kita temenan. Dan kalaupun ada yang mau berspekulasi—" Deven menyeringai. "Kenapa? Gue kan memang lagi ngejar elo. Lo aja yang susah banget ditangkep. Lari mulu kayak cicak abis disemprot Baygon."
Marcha tertawa. Tawa yang ringan... tapi ada jeda di ujungnya. Ia diam karena ia bohong kalau bilang ia tidak berharap apa-apa. Bagaimana mungkin tidak berharap, kalau selama di Bali ini Deven—dan seluruh keluarganya—menyambutnya dengan hangat? Tanpa jarak. Tanpa canggung. Tanpa beban. Namun Marcha tahu batas. Ia datang ke Bali bukan untuk liburan, melainkan untuk bisnis.
Setiap pagi sampai sore, ia keluar hotel. Meninjau sektor-sektor potensial, bukan cuma kuliner—karena Lemarch sudah eksis di Bali. Denpasar. Ubud. Kuta. Klungkung. Kintamani. Setelah berhari-hari berkeliling, rencana bisnisnya mulai matang.
Sampai suatu pagi—beberapa hari sebelum kepulangannya— Marcha ingin tahu: sampai kapan Deven liburan di Bali? Ia membuka ponsel dan langsung membeku.
Namanya ada di mana-mana. Bukan dalam konteks bisnis. Bukan prestasi Tapi... gosip. Apa-apaan ini, Shanna? Konferensi pers? Dari kata-kata yang beredar, Shanna seolah menuduh Deven berselingkuh dengannya.
Ketukan terdengar di pintu kamar.
"Ya?"
"Cha, ini gue. Buka pintunya," suara Deven terdengar dari luar.
Marcha menghela napas, lalu membuka pintu. Deven berdiri di sana—kaus putih polos, celana pendek kotak-kotak, rambut masih acak-acakan.
"Hei," sapa Deven "Lo udah bangun? Gue gangguin gak?"
"Kalau gue belum bangun," Marcha menggeleng sambil menahan tawa "gue gak mungkin bukain pintu. Dan jujur aja, Dev—lo tuh selalu gangguin gue tiap pagi. Hari ini alasannya apa?"
"Jahat banget," Deven cemberut pura-pura "Gue kangen."
"Kita ketemu tiap hari. Kamar aja sebelahan."
"Ya udah kalau gitu," kata Deven sok tersinggung. "Gue pergi."
Ia berbalik. Marcha spontan menarik tangannya. "Eh—gitu doang ngambek?"
Deven nyengir "Emang cewek doang yang boleh ngambek?"
"Cowok ngambek boleh," jawab Marcha santai "tapi lo yang ngambek tuh...gue geli."
"Geli?" Deven tertawa. "Geli ya gue?"
"Iya."
"Lebih geli mana sama ini?"
Deven langsung menggelitik pinggang dan perut Marcha.
"DEV—BERHENTI!"
Marcha lari keliling kamar sambil tertawa keras, Deven mengejar. Akhirnya mereka sama-sama tumbang di tempat tidur, kehabisan napas.
"Lo itu selalu—!" Marcha terengah "Kalau gak bikin capek, bikin sakit perut!"
"Sakit perut?" Deven langsung panik. "Yang mana? Sejak kapan? Kok lo gak bilang—"
Marcha tertawa lagi "Gue sakit perut karena ketawa, Dev, Bukan sakit perut yang itu."
"Oh..." Deven menghela napas lega "Kirain."
Marcha hanya menggeleng, masih tertawa kecil.
Deven lalu mengusap rambut panjang Marcha dengan lembut. "Cha... gue minta maaf."
Marcha menoleh, alisnya terangkat "Minta maaf kenapa? Habis bikin gue ketawa?"
"Shanna," jawab Deven singkat.
Tawa Marcha meredup, berubah jadi senyum tipis "Itu bukan salah lo," katanya pelan "Gue gak nyalahin elo."
Deven duduk di tepi tempat tidur, menatap layar TV yang mati. Wajahnya muram.
Marcha ikut duduk, memegang pundaknya "Gue beneran gak nyalahin lo, Dev."
"Ya tapi lo jadi dihujat karena ada hubungannya sama gue," kata Deven lirih "Dulu waktu gue sama Anneth juga gitu...dan ujung-ujungnya gue gak bisa ngelindungin siapa pun."
"Dev," Marcha tersenyum kecil "lo tuh bukan Tuhan. Gak semua hal bisa lo kontrol—apalagi perasaan manusia."
Deven menatapnya "Lo gak nyalahin gue...tapi lo nyalahin Shanna?"
Marcha menghela napas "Awalnya gue marah tapi tiap kali gue mau nyalahin orang lain, gue juga ngaca, gue juga gak sepenuhnya bener."
"Salah lo apa?"
"Gue terlalu deket sama lo," jawab Marcha jujur "Padahal lo baru putus dan batal tunangan. Gak ada cewek yang siap ngeliat mantannya dekat sama orang lain secepat itu."
Deven terdiam.
"Jadi ini bukan seratus persen salah Shannon. Bukan juga seratus persen salah lo. Dan... gue juga punya andil." lanjut Marcha
"Lo dewasa banget," gumam Deven kagum.
Marcha terkekeh "Bukan dewasa. Gue cuma males jadi orang yang nyakitin orang lain tanpa sadar."
Deven mengangguk. "Jadi sekarang gimana? Gue mau klarifikasi ke media biar nama lo bersih."
"Ngapain?" Marcha mengangkat bahu "Nama gue gak luka dan reputasi gue gak hidup dari gosip."
"Tapi—"
"Ini bukan cuma masalah gue sama elo," potong Marcha lembut "Ini juga masalah gue sama Shanna kalau lo mau nyelesain urusan lo sama dia, silahkan tapi jangan bawa gue. Masalah gue sama Shannon... gue selesain sendiri."
Deven tersenyum "Kalau gitu... masalah kita?"
"Masalah kita?" Marcha mengulang.
Deven menggenggam tangannya "Lo tahu perasaan gue gak pernah berubah, gue cuma minta satu kesempatan lagi."
Marcha menarik napas panjang "Dev... kita beresin yang kusut dulu. Nanti baru ngomongin hati."
"Lo janji?" Deven menatapnya serius.
Marcha mengangguk—meski di dalam hati, ia belum yakin apa yang menantinya setelah ini.
Beberapa hari kemudian, Marcha kembali ke Jakarta. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi Shanna. Sejujurnya, Marcha tidak ingin datang dengan membawa Kevin. Ia ingin ini jadi urusan pribadi—dua perempuan, satu percakapan jujur tapi ini bukan lagi sekadar urusan perasaan. Ini sudah menyentuh pencemaran nama baik.
Marcha tidak punya pilihan.
Di kantor Marcha, ketegangan langsung terasa sejak Shanna melangkah masuk. Ironis. Bertahun-tahun hampir tak pernah berbincang— dan sekali akhirnya duduk berhadapan, mereka justru bertengkar...karena seorang laki-laki.
Shanna menatap Marcha tajam, tanpa basa-basi.
"Lo balik atau enggak," suara Marcha akhirnya pecah "masalah lo sama Deven itu cuma soal waktu!" Dadanya naik turun. "Yang ngehancurin hubungan lo sama Deven itu bukan gue, tapi lo sendiri dan ego lo!"
"Ego gue?" Shanna tertawa sinis "Atau ego lo?" Ia maju selangkah "Kalau gak ada niat ngerebut Deven, ngapain lo nyusul dia ke Bali?"
"Gue gak nyusul Deven!" Marcha membalas cepat "Gue ke Bali buat kerja. Lo bisa tanya Kevin."
"Masalah gue sama Deven itu urusan gue!" Shanna meninggi "Lo gak usah ikut campur! Lo tahu Deven suka sama elo, Cha dan lo manfaatin itu. Lo sengaja ada di sekitar dia, nunggu hubungan gue hancur—supaya dia balik ngejar lo!" Suaranya bergetar "Kalau lo masih nganggep gue temen, lo gak akan ngelakuin itu!"
Marcha mengepalkan tangan "Gue gak pernah mikirin balikan sama Deven," katanya keras "Justru karena gue ngeliat elo!, dan sampai detik ini—gue sama Deven cuma temenan!"
"Temenan?" Shanna menyeringai pahit "Lo pikir gue bego? Foto lo meluk Deven ke mana-mana di medsos! Mau bohong apa lagi, Cha?"
"Itu bukan pelukan!" Marcha membalas, emosinya pecah "Itu dansa! Satu tarian, di tempat umum, dengan orang yang gue kenal lama!" Ia menarik napas "Lo mau gue ngapain lagi supaya lo percaya? Mau gue sumpah di atas Alkitab? Atau lo mau gue potong tangan gue?"
Shanna terdiam sesaat. Lalu berkata pelan, menusuk "Lo tinggalin Deven."
Marcha menatapnya, tak percaya. "Maksud lo?"
"Lo balik ke Paris," Shanna menegaskan "Dan berhenti gangguin hidup Deven di Indonesia."
"Cha, itu gak masuk akal—bokap lo sakit—" Kevin mencoba masuk.
"Fine," Marcha memotong, suaranya dingin "I'll go back to Paris."
Shanna mengangkat dagu, seolah menang.
"Tapi satu hal," lanjut Marcha, matanya mengunci Shanna "Lo klarifikasi ke media. Bilang hubungan lo sama Deven berakhir bukan karena gue." Suaranya bergetar, tapi tegas "Gue gak peduli nama gue hancur tapi gue gak mau Deven dicap sebagai cowok tukang selingkuh."
"No problem," jawab Shanna cepat "Yang penting lo pergi. Tinggalin Deven."
Marcha mengangguk pelan. "Baik," katanya lalu dengan suara rendah, dingin, tanpa emosi berlebih—justru itu yang paling menyakitkan "One thing you should know. After I go back to Paris and this mess is over...you're not my friend anymore."
Ruangan itu sunyi dan untuk pertama kalinya, Shanna tidak membalas apa pun karena Marcha merasa persahabatan mereka sudah berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
ФанфикшнBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
