Dr D (Deven)

459 14 24
                                        

Gelap pekat menyelimuti ruangan kecil itu.
Hanya ada satu suara yang terdengar—dengkuran pelan, teratur, datang dari sudut ranjang. Jika diperhatikan lebih saksama, suara itu berasal dari seorang pria yang tertidur pulas, tubuhnya tenggelam dalam kelelahan yang bahkan mimpi pun tak sempat datang. Tiba-tiba, keheningan malam itu pecah. Bunyi instrumen keras dari sebuah benda kecil yang menyala di sisi ranjang berdering nyaring. Ponsel.
Pria itu bergerak pelan, seperti enggan berpisah dengan sisa-sisa tidur yang belum sempat ia nikmati. Tangannya meraba, lalu meraih ponsel tersebut.
"Hallo..." suaranya serak, berat oleh kantuk. "Hmmm... iya, gue baru juga istirahat." Satu matanya masih terpejam saat mata yang lain berusaha fokus menatap layar ponsel "Gue baru selesai shift empat jam yang lalu. Baru tidur tiga jam, woe..." Ia menghela napas panjang. "Ya udah deh... oke. Gue balik. Tunggu setengah jam lagi."
Telepon ditutup.
Pria itu duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu meja di samping tempat tidurnya. Cahaya redup langsung menyorot wajah lelahnya. Ia mengusap wajah, menguap lebar, lalu menarik napas dalam-dalam—seperti mengumpulkan tenaga yang bahkan belum sempat pulih.
Namanya Deven Christiandi Putra.
Ups—salah.
Lebih tepatnya: Prof. Dr. D. C. Putra, S.Ked., M.P.H., Ph.D (D. C. itu singkatan dari Deven Christiandi, kalau masih ada yang lupa.)
Ya, Deven bukan dokter biasa. Ia profesor. Gelar masternya ia ambil di Amerika, begitu pula gelar profesornya. Dokter top—seperti yang dulu pernah ia janjikan pada Marcha. Bahkan lebih dari sekadar dokter. Hanya saja... Marcha tidak lagi ada dalam hidupnya.
Deven sudah bertahun-tahun tak tahu kabar gadis itu. Satu-satunya yang ia dengar hanyalah bahwa Marcha sempat mengikuti ajang Miss Universe mewakili Indonesia.
Marcha tidak menang, namun bagi Deven, itu tidak pernah penting. Bagi dunia, mungkin itu hanya sebuah pencapaian. Tapi baginya, Marcha tetap kebanggaan—Indonesia boleh saja tidak membawa pulang mahkota, tapi Deven tahu, gadis itu sudah menang dengan caranya sendiri.
Deven berdiri dari tepi ranjang, melangkah menuju lemari pakaian. Deretan kemeja dengan berbagai warna tersusun rapi. Ia memejamkan mata, meraih satu secara asal, lalu berbalik menuju kamar mandi.
Tak ada waktu untuk memilih.
Dokter Deven adalah sosok yang disegani banyak orang. Bukan hanya karena kepintarannya, tapi karena dedikasinya. Jam berapa pun, kapan pun, satu panggilan saja cukup untuk membuatnya kembali ke rumah sakit. Padahal, sebagai profesor, ia tak harus turun tangan langsung. Ia bisa memilih hidup lebih tenang, membiarkan dokter-dokter lain menangani sisanya. Tapi Deven tidak pernah begitu.
Ia membantu. Selalu. Dokter muda, baik hati, dan nyaris terlalu pintar untuk ukuran usianya.
Tak lama kemudian, Deven tiba di rumah sakit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang loker, mengenakan jas dokter putihnya, lalu bergabung dengan tim.
Malamnya mungkin baru saja berakhir tapi bagi Deven, tugas—dan panggilan hidup—baru saja dimulai.
Seorang suster bernama Tatik menyerahkan selembar laporan pada Deven. Tangannya bergerak cepat, suaranya pun tak kalah cepat—jelas, situasinya genting.
"Dok, ada tiga pasien kritis. Dua gawat darurat, satu kondisinya fluktuatif."
Deven menarik napas dalam, matanya menyapu laporan itu dengan teliti. Nama, usia, diagnosis sementara—semuanya ia cerna dalam hitungan detik. Siapa yang paling butuh tangannya sekarang? Keputusan harus diambil, tanpa ragu.
"Hubungi Dokter Surya. Suruh dia ke ruang 1114," kata Deven tegas. "Gue ke 1576."
Tatik mencatat cepat. "Kalau pasien di 1218, Dok?"
"Kasih penenang dulu. Stabilkan sebisanya. Habis dari 1576, gue langsung ke 1218."
"Baik, Dok."
Tatik bergegas pergi. Di ruang 1576, Deven langsung bergerak. Instruksi meluncur cepat, tangannya sigap memberi pertolongan pertama. Detik demi detik berlalu dalam ketegangan yang nyaris tak bernapas dan akhirnya—monitor menunjukkan respons yang stabil.
Selamat.
Deven baru saja menghembuskan napas lega ketika suara Tatik kembali terdengar dari ambang pintu.
"Dok... 1218."
Deven menoleh, memberi senyum singkat pada keluarga pasien. "Kami lanjutkan perawatannya, ya." Ia berpamitan cepat, lalu melangkah hampir berlari menuju ruangan berikutnya. Di lorong, Tatik kembali menyebutkan beberapa nomor kamar lain yang perlu dikontrol. Padahal, tak satu pun pasien itu berada di bawah tanggung jawab langsung Deven. Ia hanya membantu—menganalisis kasus, memberi arahan, mengisi kekosongan. Tapi karena terlalu sering membantu, semua orang akhirnya bergantung padanya.
"Dokter Surya belum selesai?" tanya Deven sambil berjalan cepat.
Tatik menggeleng. "Belum, Dok."
"Yang lagi shift siapa aja?"
"Dokter Citra, Dokter Arif, sama Dokter Ricky."
"Dokter Reina?"
"Baru selesai shift, Dok."
Deven menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak—entah karena kelelahan, atau karena malam yang tak memberi jeda. Namun kakinya tetap melangkah, kembali mengurus pasien yang sama-sama kesulitan bernapas. Seperti dirinya sendiri.

Akhirnya, jeda itu datang juga.
Deven menuju kantin rumah sakit, membeli semangkuk mie ayam—menu yang hampir selalu sama setiap kali ia kelelahan. Ia duduk di kursi kosong di sudut, sendirian Lalu—
"Marcha Sharapova Rusli."
Nama itu membuat Deven refleks mendongak. Televisi di sudut kantin menampilkan wajah yang begitu ia kenal. Wanita Indonesia Paling Inspirasional 2030, begitu judul beritanya.
Marcha.
Cantik. Anggun. Bersinar dengan caranya sendiri. Deven tak terkejut ketika reporter menyebutkan bahwa Marcha masih menetap di Paris. Ia tengah memperkenalkan lini busana rancangannya—desain yang kini digandrungi artis Hollywood dan selebritas lokal Prancis. Tatapan Marcha pada kamera, senyumnya pada sang reporter—
Deven menunduk pelan. Ia rindu. Teramat rindu tapi ia tak tahu... apakah Marcha pernah merasakan hal yang sama. Ia tak pernah paham kenapa Marcha tiba-tiba menghilang. Chat terakhir mereka baik-baik saja. Tak ada pertengkaran. Tak ada kata pamit.
Deven mengeluarkan ponselnya. Ia punya dua. Yang baru—untuk pekerjaan, untuk dunia yang sekarang. Yang lama—untuk masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Jarumnya selalu kembali ke satu nama. Marcha. Pesan-pesan lama masih ada. Tapi pesan baru tak pernah terkirim. Telepon pun tak pernah tersambung. Tak aktif. Apa Marcha memang sudah tak bisa dijangkaunya lagi? Jarinya bergeser ke galeri. Foto SMA. Foto terakhir mereka semua—lingkar pertemanan yang kini tercerai. Mereka tertawa, melempar topi ke udara, seolah dunia akan selalu baik-baik saja.
Swipe. Foto Deven dan Marcha berdua di Dufan. Deven terkekeh pelan. Ia masih ingat semangat Marcha saat mencoba wahana adrenalin pertamanya. Teriakan ketakutannya. Tawanya setelah turun. Tawa mereka berdua. Deven tahu, bersama Marcha adalah masa paling indah dalam hidupnya. Masa yang tak akan pernah terulang.
Setelah Marcha, tak ada satu pun perempuan yang mampu membuatnya merasa sebahagia itu.

Kabar dari teman-teman lama pun semakin jarang. Hanya beberapa yang masih tak pernah putus—Gogo dan Friden
Kevin?
Bukan Deven tak mencoba mencari. Tapi seperti Marcha, Kevin juga menghilang. Terakhir kali ia mendengar kabar, Kevin menangani kasus mafia narkoba di Amerika. Kasus besar. Kasus terkenal. Setelah itu—sunyi Lalu Shanna. Deven juga sempat kehilangan kabar darinya. Sejak peristiwa Marcha dulu, Shanna menjaga jarak. Hingga tiga tahun lalu. Saat Deven pulang ke Indonesia, di sela kesibukannya menyiapkan disertasi Ph.D, ia menyempatkan diri menjadi relawan medis di sebuah panti asuhan di Bogor. Di sanalah ia bertemu Shanna.
Shanna bernyanyi untuk anak-anak, mengajar bahasa Inggris, dan rutin menjadi sukarelawan.  Dari pertemuan itu, mereka bertukar nomor. Awalnya hanya membahas kesehatan anak-anak. Lama-lama—hal lain. Hubungan mereka tumbuh. Serius. Skenario yang dulu hanya kebohongan... kini menjadi nyata. Deven serius dengan Shanna. Seperti dulu ia serius dengan Marcha namun satu hal tak pernah berubah—perasaannya pada Marcha.
Ia masih berharap, setidaknya, bisa bertemu lagi. Kini Deven paham kenapa itu tak pernah terjadi. Marcha masih di Paris. Mengejar karier yang dulu justru ia dorong sendiri. Menyesal? Untuk saat ini, tidak. Shanna wanita baik. Bijaksana. Hangat. Bersama Shanna, hidup terasa tenang—nyaris sama seperti dulu bersama Anneth. Sama-sama penyanyi, hanya Shanna juga seorang aktivis. Mungkin suatu hari ia akan terjun ke politik. Arah ke sana sudah ada, meski waktunya belum jelas.
Deven kembali menatap foto Marcha. Jarinyanya menyentuh layar, tepat di wajah gadis itu. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa getir yang tiba-tiba menyeruak. Janji memang mudah diucapkan tapi tak pernah mudah ditepati.
Tak pernah.
Ponsel barunya bergetar. Nama Shanna muncul di layar.
"Hallo, Non," sapa Deven pelan, suaranya melembut.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang