Boss galak🔥 (Deven)

101 8 4
                                        

Sore itu Deven kembali ke rumah sakit. Ia sudah menduga, hari ini ia akan kembali berhadapan dengan Marcha dan seluruh keluarganya. Hari penentuan—apakah papi Marcha akan tetap dirawat di sini atau diterbangkan ke Singapura untuk pemeriksaan ulang. Di ruang tunggu, hampir semua sudah lengkap. Tinggal satu orang.
"Tadi kak Marcha ketiduran, jadi datangnya telat," kata Ingvar pelan. "Maaf ya, Kak Deven."
Deven tersenyum tipis sambil menggeleng. Ia tahu betul kondisi Marcha. Siang tadi wajahnya jelas kelelahan. Bukan tipe capek karena nonton drama sampai subuh, tapi capek karena kerja—kerja lintas benua, beda zona waktu, dan kepala yang tak pernah benar-benar istirahat. Belum lagi urusan bisnis dua perusahaan itu. Belum lagi... segalanya.
Pintu kamar papi Marcha terbuka. Marcha muncul.
Mata sedikit bengkak, lingkar hitam samar yang disamarkan eye shadow dan eyeliner. Orang lain mungkin tak sadar, tapi Deven—yang sering memperhatikan detail—langsung tahu.
"Hallo," sapa Deven lebih dulu.
Marcha menatapnya sekilas, lalu menyunggingkan senyum tipis. Senyum formal. Versi aman. Oke. Masih ada sisa-sisa dingin.
"Jadi," Deven membuka pembicaraan, profesional, "keputusannya bagaimana? Perawatan di sini atau ke Singapura buat cek ulang?"
"Kita lanjut di sini," jawab Marcha tenang. "Kemoterapi papi mulai sekarang."
Ingvar refleks menoleh. "Kak... kak Marcha nggak mau cek ulang dulu?"
Marcha melirik Deven sekilas—hanya sepersekian detik—lalu memalingkan wajah "Gue percaya sama Deven."
Deven sedikit terkejut "Lo yakin?" tanyanya. "Nggak mau second opinion?"
"Lo ragu sama analisa lo sendiri?" balas Marcha cepat.
"Bukan gitu. Tapi bukannya beberapa hari lalu elo justru nggak percaya sama gue?"
Marcha menatapnya datar. "Percaya sama lo salah. Nggak percaya sama lo juga salah. Jadi... maunya lo apa sih, Dev? Paket komplit bingung gitu?"
Deven menghela napas kecil. "Harusnya gue yang nanya. Kenapa sekarang lo percaya?"
"Karena lo dokter," jawab Marcha simpel. "Dan dokter boleh bikin gue stres, tapi nggak bakal bohong soal nyawa orang."
Deven mengangguk pelan. Jawaban itu... jujur, tapi tetap menampar.
"Mami nggak masalah, kan?" tanya Marcha pada maminya.
"Mami ikut kamu aja," jawab sang mami sambil tersenyum lelah.
"Kapan kemoterapinya bisa mulai?" Marcha kembali menoleh ke Deven.
"Secepatnya. Nanti gue atur jadwalnya."
Marcha mengangguk, lalu langsung berdiri. "Oke. Nanti kabarin jadwal kemonya. Gue harus pergi—kerjaan gue numpuk kayak cucian anak kos."
"Cha, tunggu," panggil maminya.
Marcha berhenti. "Kenapa lagi, Mi?"
"Mami sebenernya nggak suka suasana rumah sakit. Kalau papi dirawat di rumah aja, kamu setuju nggak?"
"Tante," Deven menyela halus, "selama kemoterapi, kondisi om akan lemah. Lebih aman kalau di rumah sakit dulu."
"Kemoterapi sebulan berapa kali?" tanya Marcha cepat.
"Bisa sebulan sekali, atau dua bulan sekali. Tergantung kondisi."
"Kalau gitu kan bisa bolak-balik rumah sakit," kata Marcha. "Kita nggak ngontrak kamar ICU juga."
"Masalahnya sekarang meningitis-nya dulu," jawab Deven. "Dan terapi bicaranya juga rutin."
"Seminggu dua kali, kan? Kita sanggup bolak-balik."
Deven menatapnya lama. Menilai. Memastikan "Sampai meningitisnya sembuh, menurut gue om tetap di rumah sakit."
Marcha menatap balik. Tajam. Seolah sedang membaca maksud tersembunyi di balik kalimat itu.
"Kalau meningitisnya sembuh," tanyanya perlahan, "papi gue boleh pulang?"
"Boleh."
Marcha mengangguk. "Oke. Kita ikutin kata dokter, Mi. Nanti kalau papi udah mendingan, kita bawa pulang."
"Ya udah," kata maminya pasrah.
"Tante tenang aja," kata Deven lembut. "Nggak lama kok. Om pasti membaik."
"Iya, makasih ya, Dev."
Marcha melirik jam. "Gue harus cabut."
Lalu menoleh ke Deven. "Dok, nanti kabarin jadwal kemoterapi bokap gue."
"—Tunggu," Deven menyipit. "Lo manggil gue apa?"
"Dok."
"Kenapa nggak Deven?"
"Ini rumah sakit," jawab Marcha datar. "lo dokter. gue keluarga pasien yang stres. kita profesional."
"Berarti kalau gue ke kantor lo, gue manggil lo Bu Boss?"
Marcha mengerutkan kening. "Gue nggak bercanda."
"Gue juga," balas Deven.
Marcha mendengus. "Udah. Males debat. Var, ikut gue ke kantor bokap. Ada yang mau gue bahas soal bisnis."
"Tapi mami sendirian—"
"Nanti Om Antony datang. Gue juga nggak lama."
Deven menatap Marcha. "Lo balik ke sini lagi?"
"Kenapa?"
"Gue shift malam," jawab Deven, terlalu cepat.
Alis Marcha naik sebelah. "So?"
"Ya... gue cuma info."
"Jam delapan atau sembilan," jawab Marcha santai.
Deven tersenyum—dan dia sendiri nggak tahu kenapa.
Marcha menggeleng kecil, lalu menoleh ke Ingvar "Ayo."
"Ya udah, gue pergi dulu ya, Kak Deven, Mi," kata Ingvar sambil berdiri. "Nggak lama kok."
"Mi, aku duluan ya. Permisi, Dok," kata Marcha singkat.
"Siap, Bu Boss," jawab Deven ringan.
Marcha berhenti melangkah. "Ini bukan kantor gue."
"Ya nggak apa-apa, kan? Hak asasi gue manggil Bu Boss semau gue," kata Deven santai sambil senyum lebar. "Bu Boss."
Marcha hanya nyengir masam, lalu melengos keluar kamar papi-nya. Begitu pintu tertutup
Deven malah ketawa sendiri "Anak itu..." gumamnya pelan.
Saat ia menoleh, mami Marcha sedang mengamatinya dengan alis berkerut—tatapan khas ibu-ibu yang sudah kebanyakan pengalaman hidup.
"Jadi, Deven," kata mami Marcha sambil tersenyum tipis, "kamu masih suka ya sama anak tante?"
Kedua alis Deven langsung naik. "Hah? Enggak, Tan. Deven sama Marcha kan... temenan."
"Temenan tapi kok senyumnya lebarnya beda?" goda sang mami.
Deven terkekeh canggung. "Itu... refleks wajah, Tan. Bawaan lahir."
"Beneran nggak suka?" kejar mami Marcha.
Belum sempat Deven menjawab, ponselnya bergetar. Shanna.
Deven menunjuk ponsel. "Sebentar ya, Tan."
Ia keluar kamar, lalu mengangkat telepon.
"Hallo, Non," sapa Deven.
"Hei... kamu masih marah?" tanya Shanna hati-hati.
"Marah?" Deven mengernyit. "Marah kenapa?"
"Ya... kemarin."
Deven mikir keras. "Aku kemarin marah? Kok aku nggak dapet notifikasi marahnya ya?"
Shanna terkekeh kecil. "Ya udah deh. Kamu lagi di rumah sakit?"
"Iya. Ada apa?"
"Kamu bisa nemenin aku nanti?" tanya Shanna.
"Nemenin ke mana?"
"Ulang tahunnya Dylan..."
Deven menghela napas. "Gue nggak bisa. Gue shift malam."
"Lah, bukannya kamu dari semalam juga shift?" Shanna bingung.
"Iya," kata Deven jujur. "Pagi tadi pulang, tidur sebentar, terus balik lagi. Hidup gue sekarang isinya kopi dan pasien."
"Oh... pantes."
"Pantes apa?"
"Aku chat banyak tapi nggak kamu bales."
"Hah? Masa sih?" Deven refleks membuka chat.
"Oh," katanya pelan. "Bener juga."
"Ya udah," kata Shanna santai. "Aku pergi sama Anneth aja. Kamu jangan capek-capek ya, nanti kamu yang masuk UGD."
Anneth? Deven nyengir kecil. Oke, Deven tau maksud Shanna
"Iya, kamu juga jangan pulang malam-malam."
"Cerewet," kata Shanna, tapi jelas terdengar senang.
"Ya udah, gue kerja dulu. Ntar chat."
"Okay. Bye, Dep."
"Bye, Non."
Deven menutup telepon sambil senyum tipis, lalu mengetik cepat.
Deven:
sorry ya, tadi nggak liat hp... sibuk ngurus pasien 😅
Shanna:
iya, gapapa 😊 kamu jangan capek-capek ya
Deven
iya 😘 ntar kalo shift selesai aku kabarin 😉
Shanna :
okay, miss you luv 💕💕💕
Deven:
😘

Deven sudah mau memasukkan ponselnya ke saku ketika satu notifikasi baru muncul. Dan...
Marcha:
pak dokter, jadwal kemoterapi bokap gue tolong di-update SECEPATNYA ya!!! gue mau atur jadwal kerja 😠
Deven senyum miring, lalu membalas.
Deven:
siap, Bu Boss 😑 hari ini gue kabarin. baru juga ketemu udah nyariin. lo kangen gue ya? 🙄
Marcha🍭:
KANGEN PALA LO!!! 😩
Deven ngakak kecil.
Lalu dengan penuh kepuasan, ia mengganti nama kontak Marcha di ponselnya: Boss Galak 🔥
Deven menatap layar sebentar, lalu mengangguk puas "Cocok." Mood Deven langsung naik seribu persen, ternyata... chat Boss Galak punya efek samping yang cukup menyenangkan.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang