Ajakan Shanna (Kevin)

78 8 9
                                        

"Lo pulang ke Indo harus banget mendadak gini, Cha? Maksud gue, sekalipun mau kasih surprise ke Deven, lo kan bisa ngasih tau gue dulu," protes Kevin sambil bersandar di meja kerja Marcha, gaya sok tersinggung.
Marcha bahkan nggak nengok. "Lo cowok. Mana bisa nyimpen rahasia? Pasti ember ke Deven."
Kevin mendengus. "Ember gue nggak bakal ke Deven."
"Iya, paling ke Gogo sama Iden," balas Marcha santai. "Sama aja, ujung-ujungnya sampai juga."
Kevin ngakak. "Fitnah publik."
Marcha akhirnya berdiri, merapikan blazer-nya. "Oke, semua dokumen udah lengkap, kan? Besok lusa gue cuma perlu hadir doang?"
"Lo bosnya, semuanya udah diurus," jawab Kevin, angkat bahu.
"Bagus, gue cabut sekarang." Marcha meraih tasnya. "Kalau lo masih mau stay, silakan, Vin... jaga kantor baik-baik."
Kevin menyipitkan mata. "Mau ke mana? Kencan lagi sama Deven? Nggak bosen tiap hari kencan melulu?"
"Enggak lah. Deven kerja sampai besok pagi, dia shift malam." Marcha tersenyum tipis. "Gue dinner sama Clarice, Anastasia, Aza, sama Nadine... Ladies night."
"Shanna nggak ikut?" Kevin bertanya, kali ini nadanya lebih hati-hati.
Marcha berhenti sebentar. "Gue nggak tau, tadi Clarice nggak nyebut nama Shanna."
Kevin menatapnya. "Lo masih marah sama Shannon, Cha?"
"Marah? Marah kenapa?" Marcha balik tanya, pura-pura bingung.
Kevin menghela napas. "Karena dia bikin nama lo jelek. Lo nggak ada sangkut paut sama batalnya pertunangan dia sama Deven, tapi gara-gara dia lo dihujat nitijen."
Marcha terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas pelan. "Kalau bisa marah, gue pengen marah, Vin tapi gue nggak bisa marah sama Shanna, dia punya alasannya sendiri waktu ngelakuin itu."
"Tapi alasan apa pun, yang dia lakuin ke lo itu jahat, Cha."
"Gue nggak apa-apa," potong Marcha lembut. "Dan tolong, jangan ngomong kayak gini di depan Deven."
Kevin mengernyit. "Maksud lo?"
"Gue tau sampai sekarang Deven belum maafin Shannon apalagi setelah kejadian Anneth datang ke apart dan gue makin dihujat di medsos. Sekalipun gue bilang gue nggak apa-apa... he still can't forgive them."
Kevin menggeleng. "Tapi Deven berhak marah, Cha."
"Berhak," angguk Marcha. "Tapi gue nggak mau Deven jadi cowok pendendam gara-gara gue."
Kevin menatapnya lekat. "Kalau lo nggak marah, kenapa lo nongkrong sama Clarice dan Anastasia nggak ajak Shanna?"
"Acara ini bukan gue yang bikin," jawab Marcha tenang. "Dan meskipun gue nggak marah... gue sama Shannon udah bukan temen lagi, Vin. So..."
"Lo bilang nggak marah."
"Gue bukan manusia naif," potong Marcha, menatap Kevin langsung. "Gue nggak marah tapi buat balik sahabatan kayak dulu? Gue nggak bisa. Setiap orang punya batas dan gue udah sampai batas gue."
"Jadi maksud lo?"
"Kita strangers," ucap Marcha pelan. "It's the best way to keep my heart at peace."
Kevin terdiam sesaat, lalu berkata pelan, "Berarti lo belum bener-bener maafin dia."
Marcha tersenyum tipis, tapi matanya lelah. "Vin, seandainya maaf itu semudah diucapin."
Kevin menghela napas panjang. "Gue nggak nyangka persahabatan kalian waktu SMA bisa berubah kayak gini, gue tau Shanna salah tapi semua orang pernah salah, Cha. Semua orang layak kesempatan kedua. Lo aja kasih Deven kesempatan kedua."
"Deven nggak pernah salah sama gue," jawab Marcha tegas. "Kita cuma salah paham. Shanna? Dia ngusir gue demi cowok dan waktu itu, meskipun sekarang kita jarang ngobrol, gue nganggep dia saudara... lo bisa bayangin rasanya diusir sama saudara lo sendiri?"
Kevin terdiam.
"Maafin orang yang kita sayang itu beda, Vin," lanjut Marcha pelan. "Beda sama maafin orang yang cuma sekadar kita kenal."
"Jadi lo nggak akan maafin Shanna?"
"Gue akan," jawab Marcha tanpa ragu. "Tapi gue butuh waktu buat maafin dia... dan buat maafin diri gue sendiri apalagi dengan keadaan sekarang."
Kevin mengangkat alis. "Tapi lo berharap Deven maafin Shannon, sementara lo sendiri belum bisa?"
Marcha menggeleng pelan. "Gue cuma berharap Deven nggak jadi pendendam. Itu aja, soal dia mau maafin atau nggak... itu pilihan dia."
Kevin menatap Marcha beberapa detik, lalu mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Gue nggak ikut campur lagi tapi kalau lo tiba-tiba nangis di ladies night, jangan salahin gue."
Marcha menyeringai. "Tenang aja. Kalau gue nangis, itu paling karena bill-nya mahal."
Kevin tertawa keras. "Nah, itu baru Marcha yang gue kenal."
Kevin belum selesai. "Tapi lo bisa kan bilang ke Clarice sama Anastasia buat nggak ngejauhin Shanna? Maksud gue, yang ada masalah sama Shannon itu lo, mereka kan notabene nggak ada apa-apa sama dia."
Marcha menyandarkan pinggulnya ke meja, menatap Kevin dengan tatapan lelah tapi tetap waras. "I already tried, Vin. Gue udah bilang berkali-kali kalau itu urusan gue. Tapi mereka bilang mereka nggak nyaman ngajak Shannon hang out kayak dulu. Dan jujur... gue juga nggak tau alasan pastinya apa." Ia mengangkat bahu kecil. "I can't control what they do or think."
Kevin terdiam, mau bantah juga susah. Marcha nggak salah. Clarice dan yang lain juga punya perasaan masing-masing dan kalau jujur, Kevin sendiri masih kesel sama Shannon bukan cuma karena kejadian itu, tapi karena efeknya kemana-mana. Ke Marcha. Ke Deven. Ke semuanya.
"Gue cuma nggak enak aja," gumam Kevin akhirnya. "Rasanya kayak lingkaran pertemanan lo retak gara-gara satu orang."
Marcha tersenyum tipis. "Lingkaran yang gampang retak berarti dari awal udah ada retaknya, Vin."
Kevin mendengus. "Ih, lo kalau ngomong kayak motivator TikTok."
"Bayar dulu kalau mau lanjut," balas Marcha cepat.
Kevin tertawa kecil.
Marcha melirik jam di pergelangan tangannya lalu membulatkan mata. "Ya ampun, gue telat! Gara-gara lo ngajak debat panjang."
"Lah, salah gue? Lo yang jawabnya kayak sidang skripsi," protes Kevin.
"Ayooo, Vin!" Marcha sudah berjalan cepat ke arah pintu.
Kevin menggeleng sambil menyambar kunci mobil. Mereka keluar dari kantor bersamaan.

Kevin menghela napas panjang. Di mejanya, tumpukan dokumen kasus bulan ini sudah seperti skripsi satu angkatan.
"Kenapa klien gue hobi banget bikin masalah di bulan yang sama sih..." gumamnya.
Ia mengusap hidungnya yang sebenarnya nggak gatal—cuma refleks orang stres—lalu melirik ponselnya.
Notifikasi masuk.
Shanna.
Alis Kevin langsung terangkat sebelah. Tumben.
Shanna:
Vin, lo ngapain?
Kevin:
Kerja, Shan. Napa?
Shanna:
Jalan yuk, gue bosen di rumah.
Kevin menatap layar beberapa detik.
Kevin:
Sekarang?
Shanna:
Iya lah sekarang. Emang kapan lagi? Tahun depan?
Kevin tersenyum tipis.
Kevin:
Gue lagi kerja. Ntar agak malem dikit gimana?
Shanna:
Malem jam berapa? Ini udah malem kali.
Kevin:
Ini baru jam 6. Satu jam lagi deh.
Shanna:
Ya udah. Satu jam lagi.
Kevin bersandar di kursinya. Bukan ajakan kencan. Dia tahu itu. Shannon cuma... butuh keluar rumah, ia melirik lagi tumpukan dokumen di depannya. Lima belas menit kemudian, laptopnya sudah mati.
"Integritas kerja bisa ditunda satu jam," gumamnya sambil merapikan berkas.

Di mobil, Kevin menelepon.
"Gue udah di jalan. Lima menit lagi sampai depan rumah lo."
Tak lama, pintu mobil terbuka. Shanna masuk dengan hoodie besar dan wajah setengah bosan.
"Boring lo?" tanya Kevin sambil mulai jalan.
Shanna tersenyum samar. "Ya gitu deh. Gue sama nyokap doang di rumah."
"Ya pergi sama nyokap lah, Shan."
"Setiap hari gue pergi sama nyokap," balas Shanna. "Gue bingung sendiri mau ke mana lagi."
Kevin meliriknya sekilas. Ia tahu setelah semua drama keluarga, media heboh soal hubungan Shanna dan Anneth, kolaborasi ini-itu, follower naik drastis... hidup Shannon justru makin sempit. Fans banyak. Teman? Hampir nol.
"Lo dari tadi mikir apa sih?" tanya Shanna tiba-tiba.
"Hah?"
"Lo muter-muter doang ini. Mau ajak gue ke mana?"
Kevin mendengus. "Lah lo yang ngajak gue jalan. Gue nunggu lo ngomong mau ke mana."
"Ya lo dong yang mutusin. Gue pikir lo punya rencana."
"Ini gue sekarang lagi ngomong sama lo," balas Kevin datar.
Shannon berpikir sebentar. "Hmmm... ke Grand Indonesia aja yuk. Gue udah lama banget nggak ke sana. Pengen minum kopi Vietnam di Olivier."
Kevin meliriknya. "Nggak takut sianida?"
Shannon memukul lengan Kevin pelan. "Dih! Ada-ada aja lo."
"Itu café favorit gue sama anak-anak," lanjut Shannon. "Makanannya juga enak banget. Lo nggak pernah makan di sana?"
"Pernah."
Alis Shannon langsung naik dua-duanya. "Sama siapa? Cowok? Cewek?"
Kevin berdecak. "Pertanyaan lo kayak istri nanya suaminya habis lembur."
Shannon tertawa. "Ya pengen tau aja. Gue kenal nggak?"
"Klien."
"Ohhh." Shannon mengangguk. Lalu wajahnya berubah serius. "Ngomong-ngomong soal klien... lo bener jadi pengacara Betrand buat nuntut Anneth?"
Kevin meliriknya tajam. "Lo liat muka gue setor tiap hari di medsos sama TV, kan?"
"Vin... Anneth itu sepupu gue."
"Betrand yang bayar gue," potong Kevin tenang. "Dan menurut gue apa yang dia lakuin ada dasarnya. Jangan campurin kerjaan sama urusan pribadi, Shan. Ruwet."
"Tapi—"
"Lo mau tengkar sama gue?" Kevin menoleh sekilas.
Shannon menggeleng cepat. "Enggak."
"Ya udah."
Mobil kembali hening. Tegang, tapi tipis. Seperti kabel yang belum putus, cuma ketarik terlalu kencang.

Grand Indonesia ramai seperti biasa. Lampu terang, suara orang, wangi kopi, begitu masuk ke Olivier, Kevin baru sadar semesta lagi kurang ajar, di salah satu meja, Marcha, Clarice, Anastasia, Aza, dan Nadine sedang tertawa.
Kevin refleks berhenti melangkah. Oh, jangan sekarang...
Ia belum sempat bilang apa-apa ketika Shannon juga melihat ke arah yang sama, wajah Shanna langsung berubah tanpa peringatan, Shannon melangkah cepat.
"Shan—" Kevin mencoba menahan, tapi terlambat.
Shannon sudah berdiri di depan meja itu, tawa di meja Marcha langsung berhenti.
Marcha menoleh, kaget. "Shan?"
Tapi Shannon tidak menjawab, tangannya terulur, menarik lengan Marcha berdiri—Dan— Plak. Suara tamparan itu jelas. Keras. Memantul di antara denting sendok dan bisik-bisik pengunjung.
Satu detik.
Dua detik.
Semua orang diam. Kevin membeku di tempatnya. Marcha terpaku, wajahnya menoleh ke samping, bekas tamparan mulai memerah, ketegangan menggantung di udara dan untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada yang terasa lucu lagi.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang