Deven tersenyum sendiri menatap layar ponsel Kevin yang sudah gelap. Marcha memang manis banget bahkan waktu lagi ngambek pun masih sempat ngingetin dia makan, mandi, istirahat, dan jangan bikin masalah. Cewek itu tuh aneh—mulutnya bisa bilang capek, tapi perhatiannya gak pernah benar-benar hilang dan jujur saja, Deven lega setengah mati meskipun masalah mereka sebenarnya belum selesai, setidaknya sekarang Marcha masih mau bicara, masih mau ketawa, masih mau ngangkat teleponnya, buat Deven, itu aja udah cukup bikin napasnya terasa ringan lagi.
"Cih, senyam-senyum gak guna lo, Pon," kata Kevin sambil terkekeh geli.
Deven nyengir lalu mengulurkan ponsel Kevin "Nih, gue balikin. Thanks ya," katanya.
Kevin mengambil kembali ponselnya sambil menaikkan sebelah alis "Udah selesai masalah lo sama Marcha?"
Sebelah alis Deven ikut terangkat. Ia menyunggingkan senyum tipis "Belum," jawabnya santai. "Tapi kita udah baikan."
"Ribet banget hubungan kalian," kata Kevin sambil tertawa kecil.
Deven cuma diam sambil memasukkan tangan ke saku celana. Menurut dia, itu normal, namanya juga hubungan kalau gak pernah ribet, mungkin malah bukan hubungan—mungkin hubungan customer sama CS.
"Hhmm, ya udah pulang yuk, Vin. Gue—"
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering lagi. Deven melirik layar sekilas lalu mengernyit.
"Marcha lagi?" tanyanya curiga.
Kevin mendengus "Betrand," katanya singkat seolah bisa membaca isi kepala Deven.
"Oh."
Kevin langsung mengangkat telepon lalu berjalan agak menjauh dari Deven. Sementara itu, Deven duduk di pasir putih sambil menatap ombak yang bergerak pelan. Angin malam bikin rambutnya berantakan, tapi pikirannya justru lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir, tak lama kemudian, Kevin menoleh ke arahnya.
"Betrand mau ngomong sama lo, Dev."
"Hah?"
Deven bingung, tapi tetap mengambil ponsel itu.
"Hallo Dev," sapa Betrand dari seberang.
"Hey, what's up bro?" jawab Deven santai.
"Gue baik. Lo apa kabar?"
"Lumayan hidup," kata Deven nyengir. "Ada apa Bet?"
"Gue gak nyangka lo lagi sama Kevin," kata Betrand. "Gue mau minta tolong soal sesuatu."
Deven melirik Kevin yang sekarang sibuk mengeluarkan bungkus rokok sambil memperhatikan dia. Kevin mengangkat bungkus rokoknya sedikit, menawarkan. Deven langsung menggeleng.
"Lo mau minta tolong apa?" tanya Deven lagi.
"Anneth," jawab Betrand.
Deven langsung menghela napas panjang "Gue sama Anneth udah gak ada urusan, Bet. Lo jangan percaya media."
"Ya, gue tau," kata Betrand cepat. "Tapi dia mau ketemu elo."
Deven mengernyit bingung. Kenapa malah Betrand yang nyampein pesan beginian?
"Kenapa dia mau ketemu gue?" tanyanya.
"Gue gak tau," jawab Betrand jujur. "Dia gak bisa hubungin elo dan... ini permintaan terakhir dia sebelum masuk penjara."
Mata Deven langsung melebar "Jadi Anneth beneran masuk penjara?"
"Ya," kata Betrand pelan. "Dia melanggar kontrak kerja. Bokap gue gak mau ngelepasin dia gitu aja."
Deven mengusap wajahnya pelan. Drama lagi. Hidup dia akhir-akhir ini kenapa isinya konflik semua sih?
"Ya... gue coba ketemu dia," kata Deven akhirnya. "Tapi gue percaya sama elo ya, Bet. Gue tau sifat Anneth sama orang-orang di sekitarnya. Gue gak percaya mereka."
"Gue tau siapa yang lo maksud," jawab Betrand sambil tertawa tipis. "Keputusan tetap di tangan lo kok."
"Ya udah. Thanks ya udah kasih tau."
"No problem. Oh iya, gue masih ada perlu ngomong sama Kevin."
"Okay."
Deven menyerahkan kembali ponsel itu ke Kevin, Kevin mengambilnya sambil nyengir lalu kembali bicara sebentar dengan Betrand sebelum akhirnya sambungan terputus.
"Lo tau kenapa Betrand nyuruh gue ketemu Anneth?" tanya Deven bingung.
Kevin menggeleng.
"Mungkin rasa bersalah," katanya. "Masalah mereka sebenarnya bisa selesai pakai duit, tapi Betrand waktu itu emosi banget. Jadi ya... bisa dibilang Anneth masuk penjara karena masalah itu makin dipanjangin."
"Tapi itu gak ada hubungan sama gue," gumam Deven.
"Ya gue tau." Kevin mengangkat bahu. "Sekali lagi, terserah elo mau ketemu dia atau enggak."
Deven menghela napas panjang lalu berdiri "Ya udahlah. Gak ada salahnya juga nyari tau maunya apa."
"Gue temenin," kata Kevin santai.
Deven langsung melirik "Kenapa?"
"Karena tadi elo sendiri bilang ini bisa jadi jebakan," jawab Kevin. "Minimal kalau ada apa-apa, lo punya pengacara."
"Gue gak bayar lo buat service beginian."
Kevin terkekeh. "Marcha nanti yang bayarin."
Deven langsung ketawa geli sambil masuk ke mobil Kevin, baru saja duduk, ponselnya berbunyi. Senyumnya langsung muncul lagi.
Marcha.
Kevin yang melirik sekilas langsung mendecak.
"Dev, gue rasa ada baiknya lo kasih tau Marcha kalau lo mau ketemu Anneth."
Deven langsung menoleh dengan mata melebar "Lo mau gue tengkar lagi sama Marcha? Yang bener aja lo, Vin."
"Justru sebaliknya," kata Kevin santai sambil menyalakan mobil. "Kalau dia tau dari media duluan? Wah... selamat menikmati hidup."
Deven langsung membayangkan headline berita random.
DEVEN DAN ANNETH BERTEMU DI KANTOR POLISI.
Mati dia.
"Tapi gue baru aja baikan sama dia..." gumam Deven lemah.
Kevin melirik sambil nyengir tipis "Percaya deh sama gue. Mending lo jujur sekarang daripada nanti lo ngejelasin sambil ngos-ngosan."
Deven akhirnya menghela napas pasrah " ya udah."
Dan benar saja. Waktu Marcha menelepon habis mandi, ternyata reaksinya jauh lebih tenang dari yang Deven kira. Ada nada cemburu sedikit. Ada nada curiga juga tapi gak sampai marah besar. Setelah telepon selesai, Kevin langsung nyengir penuh kemenangan.
"Gue bilang juga apa."
Deven menyandarkan kepala ke kursi mobil sambil menghela napas.
"Cewek emang aneh," gumamnya. "Masalah kecil dibesarin, masalah gede malah tenang."
Kevin langsung tertawa keras "Lo jangan pernah ngomong kalimat itu depan Marcha kalau masih mau hidup panjang, Dev."
Deven ikut ketawa "Iya juga sih."
Deven menatap Anneth cukup lama
Baru kali ini ia melihat perempuan itu sehancur ini. Wajah Anneth pucat pasi, hampir seperti mayat hidup. Kantung matanya menghitam dan bengkak, matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari. Tubuhnya pun jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Deven melihatnya di televisi.
Rasanya aneh.
Dulu Anneth selalu tampil sempurna—cantik, penuh percaya diri, selalu tersenyum di depan kamera seperti hidupnya gak pernah berantakan tapi sekarang...Semua topeng itu seperti runtuh begitu saja.
"Neth..." panggil Deven pelan. "Lo apa kabar di dalam?"
Anneth langsung menutup mulutnya sendiri dan beberapa detik kemudian, Deven melihat bahunya bergetar pelan.
Dia menangis.
Dulu, buat Deven, air mata Anneth selalu terasa seperti senjata. Setiap mereka bertengkar, Anneth akan menangis sampai akhirnya Deven yang mengalah tapi kali ini berbeda.
Tangisan Anneth sekarang gak terasa manipulatif yang Deven lihat cuma seorang perempuan yang benar-benar kelelahan.
"Neth..." panggilnya lagi, lebih lembut.
Anneth mengusap wajahnya buru-buru "Gue minta maaf..." suaranya bergetar. "Gue minta maaf atas semua kelakuan gue ke elo."
Deven menghela napas pelan "Neth, itu udah masa lalu," katanya tenang. "Buat apa diungkit lagi?"
Anneth menggeleng cepat "Ini bukan cuma masa lalu," katanya lirih. "Pertunangan lo sama Shannon juga hancur karena gue."
Deven sedikit mengernyit "Gak ada yang nyalahin lo soal itu."
"Tapi gue sengaja mau ngehancurin hubungan kalian," kata Anneth sambil menangis lagi. "Mami gue tau Shannon itu sepupu gue... dan dia gak bisa lihat lo bahagia."
Deven diam beberapa saat. Jujur, ia cukup kaget mendengar semua pengakuan itu keluar langsung dari mulut Anneth tapi di saat yang sama...Apa gunanya marah sekarang? Hidup Deven sudah berjalan terlalu jauh untuk terus tinggal di luka lama. Ia sudah punya Marcha. Punya hidup baru. Punya masa depan yang lebih penting untuk dipikirkan dibanding kebencian lama.
"Semua itu udah lewat sekarang," kata Deven akhirnya. "Bahkan masalah gue sama Shannon juga udah selesai. Gue happy sama hidup gue sekarang, Neth."
Anneth tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang terdengar pahit.
"Lo dulu pernah bilang karir gue bakal hancur kalau gue terus pakai gimmick buat cari popularitas," katanya sambil mengusap air mata. "Waktu itu gue nganggep lo lemah karena gak berani ambil jalan itu."
Deven diam mendengarkan.
"Gue pikir lo gak bakal bisa menang kalau cuma ngandelin suara dan karya," lanjut Anneth lirih. "Tapi sekarang gue sadar... lo benar. Gue ngejar popularitas yang palsu, dan akhirnya gue dapet hidup yang palsu juga."
Deven menunduk sebentar lalu menghela napas pelan "Neth... yang penting sekarang lo belajar dari semua ini."
Anneth kembali menangis "Gue tau awal semuanya salah karena gue ninggalin elo demi Mackie," katanya. "Lo ngasih gue ketulusan... tapi gue malah balas lo dengan pengkhianatan." Suara Anneth makin bergetar "Dan setelah itu, bukannya nyesel, gue malah biarin mami gue nyerang elo. Fans gue ngefitnah elo habis-habisan... padahal gue yang selingkuh, gue yang ninggalin elo."
Deven hanya diam.
"Lo tau gak?" Anneth tersenyum pahit. "Sampai sekarang itu jadi mimpi buruk gue. Gue berkali-kali doa sama Tuhan supaya elo balik lagi ke gue... walaupun gue tau hati lo udah bukan buat gue."
"Neth," kata Deven pelan, "kalau lo ketemu gue cuma buat ngomongin ini... gue udah maafin elo."
Anneth menatap Deven dengan mata berkaca-kaca.
"Keluarga elo gak akan bisa maafin gue," katanya lirih.
Tentang itu...Deven tau Anneth benar. Mamanya masih membenci Anneth sampai sekarang dan jujur saja, Deven gak bisa memaksa keluarganya melupakan semua luka yang pernah Anneth bikin.
"Neth," katanya hati-hati, "gue gak bisa ubah prinsip keluarga gue tapi gue juga berharap lo bisa maafin mereka."
Anneth langsung menatap Deven kaget "Kenapa lo malah minta maaf soal keluarga elo?" tanyanya bingung. "Gue yang nyakitin mereka, Dev."
"Ya... tapi gue rasa ini gak sepenuhnya salah lo," jawab Deven jujur. "Lo waktu itu cuma nurutin mami lo dan management lo." Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan "Dan keluarga gue juga gak seharusnya ngehakimin lo sendirian seakan semua kesalahan ada di elo."
Air mata Anneth jatuh lagi. Ia menggigit bibirnya sendiri sambil menahan tangis "Seandainya waktu itu gue gak nurutin management dan mami gue..." katanya lirih, "kita masih bareng sampai sekarang gak, Dev?"
Deven terdiam beberapa detik lalu akhirnya ia menjawab dengan jujur "Seandainya lo gak selingkuh sama Mackie," katanya pelan tapi tegas, "mungkin semuanya beda."
Anneth langsung menunduk.
"Karena buat gue," lanjut Deven, "masalah terbesar kita bukan management lo, bukan mami lo." Tatapan Deven jatuh lurus ke Anneth "Tapi karena lo milih orang lain waktu masih sama gue."
Suasana langsung terasa sunyi.
"Live tengah malam sama Mackie, posting bucin di media sosial..." Deven menghela napas pelan. "Pengkhianatan itu yang bikin gue gak akan pernah bisa balik lagi sama lo, Neth."
Anneth menangis semakin keras dan Deven hanya bisa diam karena kadang... memaafkan seseorang bukan berarti hati kita masih bisa kembali seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
